SIAPAKAH ENGKAU ?

SIAPAKAH ENGKAU ?
Yohanes 1:19-28

Pendahuluan :

Tapi kalau kita menyimak biografi Yohanes Pembaptis, ia sama sekali tidak memiliki “tanda-tanda” yang termasuk dalam kategori di atas. Ia dilahirkan dalam keluarga imam yang sederhana, ia tidak mempunyai bisnis apapun, tidak punya harta gono-gini, karena ia tidak mempunyai peternakan, dan tidak mempunyai rumah pribadi. Ia juga tidak mempunyai jabatan politis atau kesempatan untuk menjadi terkenal.
Tapi mengapa Tuhan Yesus menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis adalah orang yang terbesar? “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.” Dengan kata lain, Yohanes ini dipromosikan sebagai orang yang lebih besar daripada Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf. Ia lebih besar daripada Musa, Daud atau semua hamba Allah yang tercatat di dalam Perjanjian Lama. Ia lebih besar dari raja, kaisar, filsuf, presiden atau pemimpin militer manapun yang pernah ada di salam sejarah manusia. Mengapa?

Di sinilah letak keunikan dari sosok Yohanes Pembaptis, segala sesuatu yang berkaitan dengannya adalah unik dan menakjubkan, dalam kelahirannya, pola hidupnya, berita yang ia sampaikan, lokasi pelayanannya, baptisannya, kerendahan hatinya dan bahkan kematiannya yang kepalanya disemayamkan di sebuah talam.

Penjelasan :

Biografi Singkat mengenai Yohanes Pembaptis :
1. Keunikan kelahirannya

Ia adalah putra dari sebuah generasi keluarga imam, orang tuanya bernama Zakharia dan Elisabet (yang mandul) tetapi kemudian Allah membuka kandungan Elisabet untuk mempersiapkan anaknya menjadi pembuka jalan Juruselamat dan sekaligus sepupu Yesus sendiri. Ketika ia masih dalam kandungan Elisabeth, ia telah dipenuhi oleh Roh Kudus, dan dicatat didalam Alkitab: “Ia adalah besar di mata Allah, karena ia akan menjadi pelopor jalan bagi sang Mesias, tugasnya adalah mengumumkan dan menyiapkan orang-orang akan kedatangan Mesias yang telah dijanjikan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama.” Ketika ia mulai menginjak dewasa, ia segera meninggalkan orang tuanya untuk berdiam di padang belantara yang berada di Yudea, ia hidup asetik seperti seorang petapa, bahkan meninggalkan status sosial dan ekonominya yang sudah amat sederhana itu.

Saya percaya bahwa sejak ia masih kanak-kanak, ia pasti berulang kali diberitahu oleh bapaknya “Anakku … ingat akan tugas dan posisimu sebagai hamba Allah.” Ia pasti berulang kali diingatkan tentang adanya pemberitahuan dari malaikat yang mengabarkan tentang kelahirannya dan tujuan kehadirannya ke dalam dunia ini. Itulah sebabnya Yohanes selalu sadar akan makna hidupnya yang sebenarnya, sehingga ia tidak pernah mencari kehormatan, kenikmatan bagi dirinya sendiri, tetapi hidupnya hanyalah untuk Seseorang yang kedatangan-Nya akan ia proklamasikan, yang jalannya akan ia luruskan. Karena misi pelayanannya sudah jauh-jauh sebelumnya dijelaskan oleh nabi Yesaya (Yes. 3:30) bahwa ia adalah “suara”, tidak lebih dari itu, untuk mempersiapkan jalan bagi sang Mesias.

2. Keunikan pelayanannya

Kalau menurut prosedur duniawi, lazimnya apabila seorang utusan raja/presiden yang diutus mendahului sang raja/presiden yang akan beranjangsana ke suatu negara tertentu, maka dalam mempersiapkan kunjungan raja/presiden ini, dia pun akan kebagian “rejeki” juga. Negara yang dia kunjungi itu pasti akan menempatkannya di hotel berbintang, menyediakan fasilitas yang wah, di kamarnya dilengkapi dengan TV, parabola, mesin faximile, komputer, ia akan mengantongi handphone agar ia bisa mengontak orang-orang dan tempat-tempat yang penting, demi kelancaran kunjungan raja/presiden dari negaranya, dan juga tak ketinggalan ada kartu kredit di dompetnya.

Tapi gambaran tentang fasilitas kemewahan dan kemudahan seperti ini, tidaklah kita temukan dalam sisi pelayanan Yohanes Pembaptis. Lokasi utama pelayanan dan lokasi pelatihan Yohanes adalah di padang gurun. Ia malah menarik para pengikutnya menjauhi semaraknya kota Yerusalem dan Yerikho, ia menjauhi kota-kota ini untuk pergi ke padang gurun Yudea yang 20 mil jauhnya dari kota Yerusalem. Semua yang dia lakukan ini, semata-mata untuk menggenapi nubuat nabi Yesaya. Lokasi padang gurun merupakan symbol dari pelayanannya, yaitu untuk memanggil orang-orang menjauhi kejahatan, sekularisme, duniawi, kemunafikan dan kepalsuan. Berita yang ia sampaikan sangat sederhana, yang bisa diringkas dengan satu kata: “bertobatlah” yaitu harus ada perubahan yang radikal dalam kehidupan orang tersebut seutuhnya. Perubahan dalam sikap, spiritual dan moral terhadap Allah.

3. Keunikannya dalam bersandang pangan

Sosok Yohanes pastilah mengejutkan siapa saja yang melihatnya, karena selama 400 tahun tidak ada nabi yang menjadi penyambung suara Allah. Sekarang ini tiba-tiba muncul seorang yang menyatakan dirinya sebagai pembawa berita dari Allah. Orang-orang mengenalnya sebagai Yohanes, anak imam Zakaria, seharusnya ia juga menjadi imam, mengapa ia kok jadi nabi? Selain itu penampilannya nampak begitu antik, tidak seperti pemimpin agama lainnya. Tidak seperti penampilan orang Farisi, Saduki, para ahli Taurat yang begitu meyakinkan, berjubah indah, sisiran rambutnya klimis, makan makanan yang bergizi dan tubuhnya bertumbuh dengan subur, amat berpengalaman dalam hal-hal duniawi. Tapi … kalau Yohanes, tidak ada potongan untuk menjadi pemimpin agama? Figurnya kurang meyakinkan.

Yohanes sama sekali tidak merasa tersisih dengan semuanya ini. Ia tidak pusing dalam soal sandang dan pangan, ia mengenakan jubah dari bulu unta dan sabuk kulit, yang berkhasiat “three in one” cocok untuk kehidupan di padang gurun, praktis, tahan lama, meskipun bukanlah mode yang lagi ngetren, yang digandrungi kawula muda pada zaman itu. Nampaknya ia juga tidak risih dengan masalah gengsi, ia tidak takut digelari “manusia langka”, sekalipun ia tampil beda.

“Jubah bulu” pada zaman itu termasuk pakaian kasar, yang biasanya dipakai oleh masyarakat kelas bawah. Selain itu, ini merupakan pakaian tradisi nabi-nabi dalam Perjanjian Lama (Zak. 13:4). Dengan pakaian ini, Yohanes ingin mengidentifikasikan diri seperti nabi Elia, yang menjadi penyambung lidah Allah. Memang banyak orang melihat bahwa penampilan Yohanes Pembaptis mirip sekali dengan Elia (2 Raja 1:8).
Selain itu, ia juga melakukan diet ketat, menu hidangannya selalu belalang dan madu, konsumsi produk gurun. Ini sebenarnya bukan menu baru hasil penemuan Yohanes Pembaptis. Tapi bagi orang yang sudah biasa hidup di padang gurun pada zaman itu, mereka sudah terbiasa makan belalang atau serangga.
Apa maksud Yohanes di balik semua yang dilakukannya itu?

Dengan gaya hidup semacam ini, Yohanes bermaksud mengecam para pemimpin Israel – para ahli Taurat, orang Farisi, Saduki dan para imam yang selalu berjubah linen halus, sutra, yang dihiasi dengan manik-manik perak, pernik-pernik seperti emas, mereka selalu hidup dalam kemewahan, mementingkan penampilan secara lahiriah, tapi hati mereka penuh dengan kejahatan.

Saudara, saya bukan bermaksud melarang saudara mengikuti arus modernisasi, dan maksud Yohanes di sini pun bukanlah untuk mengajak orang-orang untuk hidup asetis seperti dirinya, ia tidak pernah menghimbau untuk mengikuti pola hidupnya yang demikian, bahkan kepada para muridnya sendiri, ia tidak pernah meminta mereka supaya meniru caranya bersandang pangan. Tapi satu hal yang ia tekankan adalah gaya hidupnya ini akan menjadi peringatan yang dramatis bagi orang-orang yang cinta kenikmatan dan kemewahan, mereka harus kembali mencintai Allah sebagai prioritas utama dari hidupnya.

Bagaimana reaksi orang-orang terhadap Yohanes Pembaptis?

Cara Yohanes Pembaptis bersandang pangan ini juga dipandang oleh Matius, Markus memiliki makna tersendiri, sehingga dicatat di dalam kedua Injil mereka, seakan-akan hal ini mengambil peranan yang esensi dalam kesaksian Yohanes sebagai seorang hamba Tuhan. Dan memang benar, Yohanes mampu mengusik hati para ahli Taurat, orang Farisi, Saduki, dan para pemimpin agama. Mereka menjadi gusar dan segera menentang Yohanes Pembaptis.

Yoh. 1:19-28 orang Yahudi di Yerusalem segera mengutus beberapa imam dan orang Lewi untuk bertanya kepadanya: “Siapakah engkau? Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.” 21 Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!” 22 Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” 23 Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari sini :

1. Mengenal panggilan pelayanannya

Yohanes Pembaptis tidak bekerja untuk memenuhi ‘agenda’nya sendiri. Sebaliknya, ia mengerjakan apa yang telah ditugaskan Allah baginya. Panggilannya adalah untuk bersaksi kepada umat Israel bahwa Mesias sebentar lagi akan datang. Itulah sebabnya berita yang diteriakkannya adalah, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Tugasnya adalah untuk meratakan jalan bagi Mesias yang akan datang. Mempersiapkan umat-Nya dengan baptisan tanda pertobatan. Membawa orang Israel sungguh-sungguh bertobat untuk menyambut Kristus.

Yohanes mengalami tantangan dalam pelaksanaan tugasnya dari orang-orang Farisi dan kelompok Yahudi yang lain. Tetapi karena panggilan tugas, ia terus bekerja untuk Tuannya.

Session 2 :
i. Ceritakan tentang panggilan Anda di dalam Kristus (boleh berhubungan dengan panggilan dalam pelayanan ? berhubungan dengan panggilan Tuhan untuk menginjili ? Melayani orang lain ? dsb
ii. Bagaimana Anda menghidupi tugas dan panggilan itu ?

2. Menyadari posisinya

Yohanes menyadari posisinya di hadapan Kristus. Ia adalah hamba dengan posisi yang sangat rendah di hadapan Tuannya. Hal ini diekspresikan dengan ungkapan, “Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak!”
Yohanes tidak mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Dia tidak menggunakan kesempatan pelayanannya kepada orang Israel untuk mengambil kesempatan membangun popularitas. Dia menempatkan posisinya sebagai hamba Kristus. Karena sikapnya ini justru Kristus yang mempermuliakannya. Dalam sebuah kesempatan, Yesus berkata, “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis,” (Mat 11:11).

Dan di dalam kesempatan yang lain (Yoh 3:26), beberapa muridnya dan juga beberapa orang Yahudi mendatangi Yohanes Pembaptis dan berkata, “Tahukah kamu? Yesus membaptis lebih banyak orang daripada kamu. Kamu mulai dikalahkan oleh-Nya. Dia mendapat sukses yang lebih besar daripadamu. Ada apa denganmu? Kamu terus saja berkata, ‘Dia adalah Mesias, Dia adalah Orang itu,’ jadi sekarang orang banyak datang pada-Nya. Tidak ada yang mau mendengarkanmu sekarang. Kamu sudah tersingkirkan. Dulu kamu sangat berhasil dan segenap Israel datang padamu. Tetapi sekarang mereka tidak datang kepadamu; mereka pergi kepada Yesus.”

Apakah jawaban Yohanes Pembaptis? Dia berkata, “Aku bersukacita akan hal itu. Sama halnya dengan sahabat mempelai laki-laki. Aku bersukacita demi Dia. Aku bahagia mendengar suara-Nya.” Tak ada jejak kecemburuan, tak ada tanda kepahitan yang membayang pada dirinya. Dia sudah menjalankan tugasnya dengan setia, dan sekarang apa yang terjadi? Dia ditinggalkan kesepian. Namun dia melanjutkan ucapannya dengan kalimat yang terkenal ini, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Dia berkata, “Yesus harus melanjutkan sampai pada kemuliaan, namun aku, Yohanes Pembaptis, aku harus menuju titik nol dan menghilang.” Anda tahu, di saat saya membaca ucapan tersebut, air mata saya berjatuhan. Anda tidak akan mampu bersaing dengan orang seperti ini. Tak seorang pun yang pernah dilahirkan ke bumi lebih besar daripadanya! Tak ada nabi yang dapat dibandingkan dengan dia di mata Allah.

Kesimpulan :
Masa adven ini adalah saat baik untuk Kita semua sebagai hamba Kristus dengan tugas yang telah diberikanNya bagi kita masing-masing untuk mengambil waktu kembali mendedikasikan diri kita untuk menjadi pewarta kebenaran sampai Kristus datang untuk kedua kalinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s