TEMANKU TAKESHI

Orangnya pendiam. Perawakannya sedang-sedang saja, air mukannya sangat tenang dengan rambut hitam yang agak ikal. Semula saya menduga ia seumuran dengan saya, ternyata ia lebih tua beberapa tahun dibandingkan saya. Itulah Takeshi, seorang guru yang memukau anak-anaknya.

Takeshi mengalami masa kecil yang sulit dan berat bagi anak seumurannya. Ayahnya seorang pendeta yang tinggal di sebuah kota kecil yang hampir tidak pernah mengalami kemajuan yang berarti. Ibunya seorang pekerja keras. Menurut cerita Takeshi, ibunya menerima rupa-rupa panggilan kerja dari menjahit, menjual barang orang lain, bahkan 1001 macam kerja sudah pernah dikerjakan oleh ibunya. Tutur Takeshi dengan bangga. Sebagai anak, Takeshi bersama dengan ke tiga adiknya berusaha untuk tidak menyusahkan ke dua orang tuanya. Mereka mencoba mengali ceruk bagi mereka sendiri di belantara dunia yang teramat luas.

Suatu hari, karena keluarga ini kehabisan uang. Maka untuk mengenyangkan seluruh keluarga, ibunya memasak bubur yang penuh dengan air agar semua orang bisa kebagian dan pergi tidur tanpa perut kosong. Namun suatu malam, adik terkecilnya menangis karena lapar. Takeshi bingung, ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Tiba-tiba salah seorang adiknya yang lain berkata, “ kakak berdoa untuk dia. “ Tetapi Takeshi tidak tahu harus berdoa apa. Lalu seorang adiknya yang lain mengusulkan, “ bagaimana kalau doa Bapa kami saja. “ Kalau doa Bapa kami memang mereka hafal. Lalu mereka mengucapkan doa Bapa kami. Tetapi ketika mereka sampai pada kalimat, “ … berikanlah kami pada hari ini makanan … “ keempat anak itu tiba-tiba menangis dengan keras sampai akhirnya mereka tertidur dalam isak tangis.

Keesok harinya mereka dikejutkan oleh bunyi ketukan pintu. Ternyata ada jemaat mereka yang membawakan makanan bagi keluarga ini, begitu banyak pertolongan Tuhan terhadap keluarganya, begitu tutur Takeshi.

Mengenai kisah tersebut Takeshi berkata, “ saya tidak tahu harus berkata apa dalam doa malam itu. Walaupun begitu, Tuhan memberi apa yang kami perlukan setiap kami berlutut, menangis dan berdoa. Inilah salah satu misteri hubungan manusia dengan Allah. Di dalam menyatakan pertolongan-Nya, Allah tidak tergantung pada kata-kata yang kita ucapkan. Doa tidaklah tergantung pada perkataan kita.

Demikian cerita yang dituturkan Takeshi ketika pada suatu petang kami berada di kapal ferry yang sedang menuju ke Madura. Pemandangan alam di sepanjang perjalanan kami pada petang itu sungguh sangat indah. Matahari seolah-olah menyentuh semua warna menjadi kemerah-merahan : awan, air laut, burung-burung yang menyambar-nyambar ombak laut. Tetapi perhatian Takeshi dan saya tenggelam dalam dunia lain, yaitu dunia masa kecil kami masing-masing.

Ketika kapal ferry itu merapat di dermaga. Takeshi menekan lengan saya kuat-kuat dan penuh perasaan ia berbisik : “ we emerged from the same pot of poverty. “ ( kita muncul dari panci kemiskinan yang sama ). Saya terdiam sebentar lalu menjawab “ you’re right. “ Ayahmu dan ayahku sama-sama seorang pendeta yang membaktikan hidup seutuhnya hanya untuk Allah meskipun dalam kekurangan mereka tidak pernah lari dari panggilan untuk melayani orang-orang yang terhilang. Takeshi lalu memandang saya dan berkata, “ begitu juga dengan ibumu dan ibuku, mereka adalah kekuatan dalam keluarga kita. Sampai sekarangpun mereka masih harus bekerja keras, entah sampai kapan mereka bisa menikmati hidup di masa tua ini. Ibumu dan ibuku adalah orang-orang yang telah mengalahkan dunia ini. “

Kulihat mata Takeshi tampak basah mengenang air mata. Demikian juga mata saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s