BERDAMAI DENGAN MASA LALU

2 Korintus 5:17
Filipi 3:13
Dan 2 Petrus 1:3-11

Membicarakan pengaruh masa lalu dalam konteks kekristenan sekilas tampak sangat aneh. Sebagian dari kita mungkin sering mendengar nasehat dari sesama orang Kristen, “sudahlah, lupakan masa lalumu. Anggap saja tidak pernah ada”. Kita juga mungkin bertanya, “bukankah di dalam Kristus yang lama telah berlalu?” (2Kor 5:17) atau “bukankah Paulus mengajarkan kepada kita untuk melupakan apa yang ada di belakang dan mengarah diri ke depan?” (Flp 3:13).

Jika kita cermati secara lebih seksama, nasehat untuk melupakan masa lalu bukanlah nasehat yang Alkitabiah. Orang Kristen harus mengamini bahwa dalam segala sesuatu – termasuk masa lalu yang kelam – Allah turut mengerjakan kebaikan (Rom 8:28). Kita harus ingat bahwa semua hari yang akan kita jalani telah ditentukan Allah sebelum kita ada di dalam dunia (Mzm 139:13-16). Kalau Allah telah menentukan semua itu, maka itu pasti yang terbaik, sekalipun kita tidak mengetahui jenis kebaikan yang ada. Jadi, masa lalu bukan untuk dilupakan, tetapi disyukuri.

Dua teks di atas – 2Korintus 5:17 dan Filipi 3:13 – tidak mengajarkan untuk melupakan masa lalu. Teks pertama berbicara tentang perubahan dalam konteks sikap kita terhadap Kristus dan orang lain (band. 2Kor 5:16). Teks kedua, Filipi 3:13 justru mengajarkan respon yang tepat terhadap masa lalu, yaitu jangan sampai masa lalu menghalangi pengenalan kita dengan Kristus (Flp 3:7-11).

Jadi tidak mungkin kita bisa melupakan masa lalu kita, jadi apa yang harus kita lakukan ? Bagaimana caranya ? Mari kita membahas bagian ini satu persatu.

Pembahasan :

Kemungkinan pengaruh negatif yang muncul dari masa lalu yang negatif

Apa yang dipaparkan dalam tabel berikut ini memang didasarkan pada penelitian secara umum. Perkecualian pasti ada. Demikian pula tidak setiap pola pendidikan keluarga yang mengaktif secara otomatis membawa pengaruh negatif pula. Tuhan dapat menjaga hidup seseorang, terlepas dari apapun masa lalu dan lingkungannya. Bagaimanapun, tabel berikut menyatakan apa yang seringkali terjadi dalam masyarakat, sehingga kita tetap perlu mewaspadainya.

1. Masa lalu :
Orang tua otoriter dan keras

Pengaruh :
Takut salah => berbohong waktu salah; tidak berani mencoba sesuatu yang baru karena takut salah, takut mengambil keputusan

2. Masa lalu :
Mengalami atau menyaksikan pelecehan fisik

Pengaruh :
Membenci orang lain yang memiliki gender atau karakter yang mirip dengan pelaku pelecehan, penyimpangan seksual

3. Masa lalu :
Orang tua terlalu melindungi (over-protective)

Pengaruh :
Selalu menuntut sebagai pusat perhatian, kurang mandiri

4. Masa lalu :
Pertengkaran orang tua yang membekas

Pengaruh :
Takut mengutarakan ketidaksetujuan dengan pasangan, maupun dengan orang lain

5. Masa lalu :
Dibesarkan oleh single parent

Pengaruh :
Terlalu bergantung pada orang lain; selalu menuntut perhatian lebih; ada ikatan emosional yang kuat dengan gender orang tua (berpotensi ke arah homoseksualitas)

6. Masa lalu :
Salah satu orang tua tidak bisa menjadi teladan

Pengaruh :
Timbul penolakan terhadap semua orang yang bergender sama dengan orang tua yang dia benci atau, sebaliknya, cenderung ingin mengidentifikasi dengan orang tua lain yang menjadi korban

7. Masa lalu :
Tidak mendapat perhatian yang cukup dari orang tua

Pengaruh :
Kesulitan melihat keluarga sebagai sebuah intimasi atau relasi; “terlalu” mengasihi tetapi dengan cara yang salah
 

Belajar mengenali dan mengatasi hambatan masa lalu

Bagaimana kita bisa menghadapi masa lalu yang suram dan bertumbuh melalui semua hal yang tidak menyenangkan tersebut ?

1. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah belajar mengenali pengaruh masa lalu. Kita seringkali tidak menyadari bahwa apa yang kita lakukan sekarang adalah pengaruh dari pola pembinaan keluarga dalam keluarga kita. Kita harus secara serius mempelajari masa lalu kita, karena masa lalu berpotensi mengganggu pertumbuhan rohani kita ?

2. Selanjutnya kita harus berani menyelesaikan sisa-sisa pengaruh masa lalu yang masih ada, walaupun hal ini seringkali sangat menyakitkan. Pengaruh masa lalu bukan hanya untuk dikenali, tetapi juga diselesaikan. Kebencian dengan orang tua, pengalaman dikecewakan berulang kali, pelecehan seksual, fisik atau verbal, peristiwa traumatis masa lalu seringkali masih membekas dan perlu dibereskan. Dalam taraf ini yang diperlukan adalah kesediaan untuk menghadapinya bersama Tuhan Yesus dan berdasarkan firman-Nya.

Setelah kita bersedia dan berani menyelesaikan masa lalu, kita perlu mengenali hal-hal yang selama ini menghalangi kita untuk berani menghadapi masa lalu. Apakah masa lalu kita terlalu pahit untuk diingat? Apakah kita tidak yakin bahwa ada orang yang akan sanggup menolong kita? Apakah kita malu (arogan) kalau masa lalu kita yang kelam diungkit kembali? Apakah ada alasan lain lagi? Semua halangan ini harus harus dikenali dan direspon sesuai kebenaran firman Tuhan. Walaupun masa lalu tidak bisa diubah, tetapi kita bisa mengubah perspektif kita yang salah terhadap masa lalu.

3. Langkah selanjutnya adalah menerima masa lalu sebagai bagian dari ketetapan Allah yang indah sejak kekekalan. Kadangkala kita tidak bisa melihat kebaikan apa yang Tuhan munculkan dalam suatu penderitaan, tetapi hal itu tidak berarti bahwa Tuhan tidak baik. Kalau Tuhan berjanji mengerjakan kebaikan dalam segala sesuatu (Rom 8:28), maka Ia pasti akan melakukannya. Alkitab memberikan beberapa contoh tentang hal ini, misalya Yesus Kristus sendiri ternyata berasal dari garis keturunan keluarga yang tidak semuanya bersih. Beberapa nenek-moyang-Nya adalah orang-orang yang melakukan aib besar pada waktu mereka hidup, yaitu Yehuda-Tamar (Mat 1:3) dan Daud-Betsyeba (Mat 1:5-6).

4. Setelah kita mampu menerima masa lalu kita, kita sebisa mungkin berusaha membereskan kepahitan atau kekecewaan yang masih ada secara baik-baik degan orang tua, kakak, adik, anggota keluarga yang lain, bekas pacar, dsb. Upaya ini tidak selalu dapat dilakukan karena berbagai hal (orang tersebut sudah meninggal, tinggal di tempat yang tidak diketahui, dsb). Dalam kasus seperti ini, kita membereskan secara pribadi di hadapan Tuhan.

Ada beberapa manfaat positif yang dapat diperoleh apabila kita membereskan dengan orang lain. Dengan membereskan sesuai firman Tuhan, kita telah memberikan teladan kasih Kristus kepada orang lain. Cara ini juga memberi penyelesaian untuk dua pihak, baik kita maupun dia sendiri, karena siapa tahu dia sendiri selama ini merasa bersalah atau dendam kepada kita. Cara ini juga memberikan kelepasan secara psikologis.

5. Langkah berikutnya adalah mengambil komitmen pasangan untuk berubah dan bersedia dinasehati. Kita perlu mengambil komitmen untuk bertumbuh dalam suatu “keluarga yang baru”, yaitu keluarga secara rohani di dalam Kristus (2Kor 12:26-27; Gal 3:26-28) yang bisa berbentuk kelompok jemaat lokal (gereja) atau kelompok kecil. Banyak kepahitan masa lalu terjadi dalam konteks keluarga, karena itu penyembuhan terhadap luka tersebut sebaiknya juga dilakukan dalam konteks keluarga. Kelompok seperti ini sangat diperlukan, karena berdamai dengan masa lalu biasanya (tanpa bermaksud meremehkan kuasa Roh Kudus) tidak bisa selesai dalam satu atau dua jam pertemuan. Kita perlu perlu mitra rohani, pembimbing, atmosfir kekeluargaan, penerimaan yang tulus dan relasi yang sehat untuk mempercepat proses perdamaian dengan masa lalu kita.

Perenungan :
Ilustrasi : Menceritakan kesaksian diri sebagai anak dari sebuah keluarga yang hampir bercerai serta bagaimana Tuhan menolong saya untuk berdamai dengan masa lalu diri sendiri.

Langkah untuk inner healing

1. Sebutkan dan tuliskan satu peristiwa negatif yang paling membekas dalam diri Anda sehingga Anda sempat berpikir bahwa seandainya mungkin Anda ingin menghapus peristiwa itu dari masa lalu Anda! ( contoh : benci dengan ayah yang sangat kejam dan otoriter serta sering menjelek-jelekkan saya )

2. Berdamai dengan masa lalu : caranya terima Tuhan Yesus dan berdoa untuk penyelesaian masa lalu tersebut. ( minta dalam doa untuk kita mengampuni ayah kita dan berdoa agar hubungan antara anak dan ayah bisa pulih dan mesra sebagai sebuah keluarga yang utuh ).

3. Sebutkan 3 peristiwa positif yang sangat berkesan dalam kehidupan anda yang berhubungan dengan peristiwa negatif tersebut dan apa pengaruh pengalaman itu bagi Anda? ( cari 3 peristiwa positif yang paling berkesan mengenai ayahmu )

Salah satu cara untuk menilai apakah kita sudah bisa menerima masa lalu kita secara positif sesuai firman Tuhan adalah dengan merenungkan pertanyaan berikut ini: seandainya ada mesin waktu yang dapat membawa kita kembali ke masa lalu dan menjadi bayi lagi, apakah kita menginginkan orang tua yang sama, anggota keluarga yang sama, bekas pacar yang sama, keadaan fisik yang sama, kemampuan intelektual yang sama dan masa lalu yang sama? Kalau kita masih menginginkan salah satu dari poin tersebut berubah, itu berarti kita masih belum bisa menerima masa lalu kita apa adanya.

Sebaliknya, jika kita merasa tidak perlu masuk kembali ke mesin itu karena kita ingin menjadi seperti sekarang seutuhnya, itu berarti kita sudah bisa berdamai dengan masa lalu kita. Masa lalu itu tidak kita lupakan, tetapi kita jadikan kanvas bagi lukisan Tuhan yang maha indah.
 

2 thoughts on “BERDAMAI DENGAN MASA LALU

  1. Senang Membaca artikel ini, mendapat pelajaran tentang mengampuni dan berdamai dengan masa lalu, tetapi untuk penerapan nya dalam diri sendiri sepertinya masih susah bangat karena saya 2 tahun yang lalu mengalami suatu kejadian yang tidak bisa aku memaafkan diri sendiri dan memaafkan orang itu, setiap malam saya menangis kalau mengingat kejadian itu, bahkan berdoa saja saya tidak merasa layak datang kepada Tuhan, karena merasa jijik, dan memandang ke masa depan juga saya sudah tidak ada harapan, saya menjalani hari-hari saya seperti tanpa tujuan.

    Bagaimana bisa saya berdamai dengan masa lalu, jika kejadian itu selalu terbayang setiap saat, bahkan sampai trauma.

    Thanks
    Thatha

    • Saya bisa memahami perasaan kamu Ms. Thatha, tetapi hidup kita harus tetap berlanjut, apapun kejadian yang telah menimpa kita. Mungkin sulit untuk melangkah ke depan karena pengalaman traumatik tersebut menjadikan hidup kita seperti tanpa tujuan lagi.

      Relakan hati untuk mencoba berdamai dengan masa lalu kita, jika ms. Thatha ingin berkonsultasi lebih lanjut dengan saya… silahkan email ke zoecaesar@gmail.com
      mudah-mudahan saya bisa membantu thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s