Kesakitan, Megafon Tuhan yang Paling Kuat

Oleh Eka Darmaputera

Kita telah membahas betapa “kesakitan” bukan saja merupakan jeritan manusia, tetapi juga teriakan Tuhan. “Megafon” atau “pengeras suara” yang dipakai Tuhan untuk menggugah kesadaran manusia. Mengapa “kesakitan”? Sebab bisikan halus saja sering diabaikan. Sedang bujukan manis sampai ancaman keras pun acap kali tidak dihiraukan.

Cuma “kesakitan”lah yang berbunyi cukup lantang untuk membuat manusia tersentak. Memaksanya menengok memeriksa diri, lalu berpaling kembali kepada Tuhan.

Sejarah umat Israel membuktikan ini. Ketika hidup mereka mulai mapan dan serba kecukupan, begitu kita baca dari Perjanjian Lama, mereka cenderung melupakan Sumber-nya. Mereka mengabaikan hukum-hukum Tuhan. Mereka melecehkan peringatan keras para nabi.

Sampai, sebagai akibatnya, mereka masuk ke lubang bencana yang mereka gali sendiri. Baru mereka menjerit kesakitan. Baru mereka berteriak minta tolong. Ternyata “kesakitan” dan “penderitaan” inilah yang mampu membuat mereka mengenali serta mengakui kejahatan-kejahatan mereka, dan menggiring mereka kembali ke pangkuan Allah. Bukan kenikmatan atau kesenangan, melainkan kesakitan dan penderitaan.

Ini tentu tidak ideal. Siapa sih yang menyukai kesakitan? Allah sendiri tidak Ia malah dengan tidak jemu-jemunya mengingatkan, ” Hati-hatilah, supaya apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak, dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan” (Ulangan 8:12-14). Ini yang ideal. Tapi sayang, hampir selalu dilupakan orang.

Yang terjadi adalah, dengan tidak jera-jeranya, manusia mengulangi dan mengulangi kesalahan yang sama. Sampai Allah mengeluh, “Lembu mengenal pemiliknya, tapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tapi umat-Ku tidak memahaminya” (Yesaya 1:3). Sehingga terpaksa, dengan “megafon”-Nya – “kesakitan” dan “penderitaan” – Allah memanggil manusia untuk kembali. Cara yang menyakitkan dan tidak ideal. Tapi perlu. Lagi pula, pilihannya ya cuma satu itu.

* * *

“KESAKITAN” dan penderitaan bukan ternyata saja “megafon” Tuhan yang paling kuat, tetapi juga paling efektif. Paling berhasil-guna. Paling “ces pleng”

Anda tidak percaya? Baik – untuk membuktikannya, saya persilakan Anda Anda pergi ke ruang tunggu Bagian “Perawatan Intensif” (ICU) di rumah sakit mana saja. Philip Yancey — dalam “Where is God When it Hurts?” yang sering saya sebut sebagai sumber inspirasi rangkaian tulisan ini — dengan amat mengesankan melukiskan apa terjadi di situ.

Di tempat itu, tulisnya, Anda akan bertemu dengan segala macam jenis orang. Campur aduk antara yang kaya, yang miskin, yang perlente, yang kumuh, yang tua, yang muda, yang intelektual, yang buta huruf, yang agamis, yang ateis – apa saja. Ruang tunggu ICU (barangkali) adalah satu-satunya tempat di bumi ini, di mana perbedaan-perbedaan tak secuilpun punya makna apa-apa.

Beraneka-ragam orang itu diikat menyatu oleh ikatan yang amat kuat, walau mengerikan. Yaitu, oleh keprihatinan akan kesakitan serta penderitaan seorang yang amat dekat, sahabat atau kerabat, yang sedang sekarat. Kesenjangan sosial-ekonomi dan perbedaan agama, serta merta menguap lenyap. Ketegangan rasial serta etnis tak setitik pun membekaskan tanda.

Tidak jarang dua orang yang sebelumnya tak saling mengenal, kini saling merangkul dan menghibur, kemudian menangis bareng tanpa malu-malu. Ada yang untuk pertama kali merasa terdorong untuk berdoa, atau memanggil pastor atau pendeta.

Semuanya dipersatukan oleh satu perasaan: alangkah berharganya, tapi juga alangkah rapuhnya kehidupan! Ketika orang berada begitu dekat dengan kematian, barulah ia menyadari betapa pentingnya kehidupan.

Ideal sekali, bukan? Ya. Dan yang “ideal” itu dimungkinkan oleh realitas kesakitan dan penderitaan! Agaknya cuma “megafon kesakitan”-lah yang terdengar cukup nyaring dan bekerja cukup efektif, untuk menggiring beraneka-ragam manusia ini untuk sama-sama menekuk lutut mereka dan memalingkan hati mereka kepada Allah.

Tidak heran, kata Helmut Thielicke, yang ada ialah “pendeta rumah sakit”. Tidak ada “pendeta rumah makan” atau “pendeta rumah karaoke”.

* * *

INI tidak berarti bahwa Allah membiarkan “kesakitan”, supaya manusia berpaling kepada-Nya. Sebab kalau ini benar, wah, alangkah “egois”nya dan “kejam”nya Allah. Tega menyakiti anak-anak-Nya, sekadar supaya hasrat dan kepentingan-Nya terpenuhi. Tidak! Allah sendiri tidak menyukai “kesakitan”. “Kesakitan tidak ada dalam skenario penciptaan-Nya. Sang Putra, Yesus Kristus, harus menempuh “kesakitan” dan “penderitaan”, justru untuk membebaskan manusia dari padanya.

Tapi yang jelas, ketika “megafon kesakitan” ini berbunyi, Allah sedang mengumumkan bahwa ada sesuatu yang salah. “Sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh, dan sama-sama merasa sakit bersalin” (Roma 8:22). “Sakit bersalin” artinya, ada kesakitan tapi juga pengharapan.

* * *

JOHN DONNE adalah penyajak berkebangsaan Inggris pada abad 17. Ia secara langsung mengalami perihnya sengatan kesakitan. Bukan cuma istrinya yang amat ia cintai, Anne, mati meninggalkannya. Tapi ia sendiri, tak lama setelah itu, didapati mengidap penyakit yang tak tersembuhkan, dan yang membuat ia amat menderita.

Tapi di tengah kesakitannya itu, ia mendengar “megafon Tuhan” . Dari tempat pembaringannya, tanpa mampu lagi menulis, ia melahirkan karya-karya terindah yang pernah ditulis orang tentang makna kesakitan. Salah satunya adalah Meditation XVII, yang seperti dikutip oleh Philip Yancey, antara lain berbunyi,

“Ketika seseorang meninggal dunia, sebuah bab tidak dicabik keluar dari buku, melainkan diterjemahkan ulang ke dalam bahasa yang lebih indah. Setiap bab mesti diterjemahkan seperti itu. (Untuk ini) Allah mempekerjakan beberapa penerjemah. Beberapa bagian diterjemahkan ulang oleh usia. Beberapa oleh penyakit. Beberapa oleh perang. Beberapa oleh keadilan. Tapi tangan Tuhan ada di tiap terjemahan.

Tangan-Nya pula yang akan mengikat kembali halaman-halaman yang telah terserak-serak, untuk ditaruh di perpustakaan di mana setiap buku akan saling terbuka satu terhadap yang lain. Demikianlah lonceng (kematian) ini memanggil kita semua. Terlebih-lebih aku, yang telah dibawa begitu dekat melalui kesakitan ini”.

Untuk orang lain, kematian adalah sebuah titik; sebuah akhir kehidupan. Bagi Donne, kematian adalah sebuah tanda tanya. Apakah aku siap menghadap Dia? Pendek kata, ia menyadari betapa hidupnya – bahkan di tempat tidurnya dan di tengah erangan kesakitannya – bukan tanpa makna.

Karena itu ia mengerahkan seluruh daya yang ada padanya, memanfaatkan kesempatan khusus ini untuk melatih disiplin rohani-nya. Berdoa, mengaku dosa, menulis sebuah jurnal (yang kemudian dijadikan sebuah buku Devotions). Ia memindahkan perhatian utamanya, tidak lagi kepada diri sendiri, melainkan kepada yang lain-lain.

Dalam Devotions, Donne memperlihatkan perubahan sikap yang mencolok terhadap “kesakitan”. Ia mulai dengan doa agar kesakitan diangkat dari dirinya. Tapi ia mengakhirinya dengan doa agar “kesakitan”nya dikuduskan , dan ia dididik melauinya. Ia masih mengharapkan mujizat. Namun andaikata itu tidak terjadi, ia tahu Allah sedang me”murni”kannya melalui tanur api.

* * *

BETAPA jelas, tujuan hidup manusia bukanlah untuk sekadar merasa aman dan nyaman, bebas dari persoalan, kesakitan atau tantangan. Sekiranya kita sedikit saja mau peka terhadap realitas di sekitar kita, maka kita akan menyadari betapa mustahilnya Tuhan menciptakan dunia ini, dengan maksud agar kita berpesta ria.

Bagaimana kita dapat berpesta ria, bahkan tidur dengan tentram, ketika pada saat yang sama kita tahu dua per tiga penduduk dunia pergi tidur dengan perut kosong – setiap malam? Sungguh tidak mungkin untuk percaya bahwa tujuan hidup kita adalah untuk bernikmat-nikmat, ketika kita menyaksikan penderitaan anak-anak yang harus mencari nafkah pengganti orang tua mereka, atau pemuda-pemuda yang membunuh masa depan mereka dengan mengikatkan diri pada narkoba, atau apa yang dialami oleh mereka yang tercabut dan kehilangan segala-galanya dan kini “terjebak” di kamp-kamp pengungsian.

Bisa saja kita menutup mata, dan menjadi penganut hedonisme. Tapi semua itu pasti akan berakhir, ketika kesakitan dan penderitaan pada akhirnya berlabuh pada hidup kita sendiri. Ketika kenyerian dan kengerian setiap detik mengetuk pintu mengganggu ketentraman tidur kita.

Para hedonis, yaitu mereka yang melihat kenikmatan sebagai tujuan, haruslah menyumpal telinga mereka dengan kapas banyak-banyak. Sebab megafon “kesakitan” dan “penderitaan” sesungguhnya berbunyi amat lantang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s