LIVE AMONG THEM

“ Senyuman yang ramah dan tulus “ itulah pendapatku ketika melihat seorang wanita separuh baya menyambut kami di rumahnya. Ibu Sini adalah sosok yang sederhana, tetapi sangat tegar menghadapi hidup. Ia tinggal bersama menantu perempuannya serta ketiga cucunya yang selalu berlarian kesana-kemari sambil tertawa gembira. “ Wow “ sangat menyenangkan bisa tinggal seatap dengan keluarga kecil yang bahagia ini. Ibu Sini bersedia menampung kami anak-anak dirumahnya, ia dengan senang menyediakan tempat tidur buat kami. Bahkan, makanan kami setiap hari sangat “ wah “ dan enak-enak bro … begitu kata teman-teman dengan nakal.

Hari pertama di sana sangat melelahkan, begitu yang saya rasakan. Sore harinya kami langsung ke gereja karena ada kegiatan PPA ( Pusat Pengembangan Anak ). Disitu kami diperkenalkan dengan teman-teman yang selama ini melayani anak-anak di desa Samirono. Anak-anak PPA yang mengikuti acara ibadah di gereja tersebut sangat antusias dengan puji-pujian yang dinaikkan. Lagu yang dinaikkan benar-benar menyentuh hati. Sepanjang hari semua berjalan dengan baik, bahkan ketika saya tertidur, suasana “ dingin “ malampun tidak dirasakan lagi.

Pagi hari setelah mencuci muka ( tidak ada yang berani mandi, karena dinginnya air seperti membekukan darah ) kami sarapan kemudian berangkat ke TK yang berada di bawah naungan Pesat. Sudah 20 tahun TK tersebut menjadi tempat belajar dan menimba ilmu bagi anak-anak di desa Samirono, bahkan menurut cerita dari orang-orang tua sudah beberapa kali lokasi TK tersebut berpindah-pindah karena ada pemugaran dan pembangunan ulang.

“ Ibu Lastri “ adalah panggilan yang diberikan oleh masyarakat desa dan anak-anak TK kepada seorang tokoh masyarakat yang sampai sekarang menjabat sebagai kepala sekolah TK. Menurut Ibu Lastri, pendapatan yang mereka terima tidaklah besar tetapi cukup untuk sehari-hari. Untuk mencukupi kebutuhannya Ibu Lastri bersama suami berternak sapi, bahkan ia pernah guyonan “ wong sapi wae pernah tak sekolahke “ saya sempat bingung “ kok sapi disekolahin, emangnya sapi butuh sekolah “ Melihat saya bingung Ibu Lastri menjelaskan bahwa maksudnya, “ ia harus menjual sapi-sapinya untuk membiayai anak-anaknya sekolah sampai perguruan tinggi. “ Ada-ada saja guyonan Ibu Lastri. Dari pembicaraan yang kami lakukan menurut saya Ibu Lastri ini punya selera humor yang sangat bagus.

Selama hampir satu minggu berada di desa Samirono, banyak hal yang kami lakukan. Mengambil tanggung jawab untuk mengajar anak-anak di TK, bermain bersama mereka bahkan memasak. Pokoknya idenya keren banget … hanya sayang kekompakan antara team putra dan putri agak kurang dalam beberapa kegiatan. Untuk membuat team pria ambil andil dalam bekerja, susahnya bukan main. Tetapi pada akhirnya mereka ternyata mau melakukan apa yang telah menjadi tanggung jawab mereka …. benar-benar butuh perjuangan untuk mengendalikan semua team pria.

Di Samirono kami diajarkan untuk memiliki jiwa kewirausahaan, salah satu yang paling saya ingat adalah ketika diajarkan untuk membuat tempe dan tahu. Ibu Sini mengajarkan kami bagaimana membuat tempe, prosesnya pembuatan bahkan pengemasannya. Bukan hanya itu di rumah salah satu orang tua murid, kami juga melihat bagaimana membuat tahu. Salah ngak ya kalau saya berpikir, ternyata cukup gampang membuat tempe dan tahu. Sekedar guyonan …. Saya harap sepulang dari desa Samirono kami kayaknya bisa jadi pengusaha tempe atau tahu tuh !!!

Banyak pengalaman berharga yang bisa kami gali dari kehidupan penduduk desa disana. Kekerabatan sangatlah dipentingkan, tidak seperti kebanyakan penduduk di kota yang individualis. Keramah-tamahan menjadi salah satu gaya hidup, tidak seperti kebanyakan dari kita yang sinis. Ketulusan menjadi cermin hidup, tidak seperti kebanyakan dari kita yang sering berpura-pura. Oh … Tuhan terima kasih untuk semua yang telah Engkau lakukan, terima kasih juga untuk teguran-Mu melalui kehidupan Ibu Sini, Ibu Lastri, dan yang lainnya.

Hampir satu minggu kami tinggal bersama mereka yang tidak memiliki apa-apa menurut pandangan orang kota, mereka yang tidak memiliki harta benda “ tetapi memiliki segalanya.“ Mereka miliki ketulusan hati, senyuman yang tidak berpura-pura, kesederhanaan yang tidak dibuat-buat, cinta yang murni kepada keluarga, rasa hormat kepada orang lain, penghargaan, dedikasi tinggi, kesetiaan akan pekerjaan, rasa syukur kepada Tuhan yang besar, keberanian untuk menghadapi kehidupan, dan masih banyak lagi yang harus saya pelajari dari hidup mereka. Tuhan memberkati.

Life is life
Julius Caesar

2 thoughts on “LIVE AMONG THEM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s