SELAMAT DARI LAPAR

Coretan curahan hati seorang yang selalu lapar dengan firman Tuhan …

Ketika pergi ke gereja, saya merasakan jarang sekali apa yang diberitakan oleh hamba Tuhan dari mimbar memberikan sebuah jawaban bagi apa yang secara personal saya rasakan. Khotbah2nya kering, ngak membumi, seringkali terlalu membuat jlimet, khotbah tahun2 lalu diulangi lagi, tema2 yang udah basi banget, kadang2 khotbah2nya itu-itu lagi, apalagi hamba Tuhannya kelihatan banget ngak mau belajar. Terlihat jelas semua ini dari isi yang disampaikan, ngak jelas temanya, ngak beraturan, ngak nyambung, ngak sistematis, udah deh … stress tiap kali disodori makanan2 yang ngak banget. Inilah yang personal aku rasakan… semakin membuat aku lapar akan firman Tuhan yang berbobot, membangun, up to date, memberkati, membuat jemaat menjadi semangat untuk menghadapi minggu2 yang melelahkan … oh my God berikan aku kasih karunia yang lebih untuk juga mengerti keadaan gerejaku… Amin.

cek this one out :

Pernahkah Anda merasa lapar? Lantas apa yang Anda lakukan ketika Anda merasakannya? Tentunya pertanyaan ini sangat mudah kita jawab. Jika kita lapar maka kita akan mencari makanan untuk kita makan. Lapar adalah dorongan yang sangat kuat dalam diri manusia dan karenanya makanan menjadi sebuah kebutuhan, bukan hanya untuk menghilangkan lapar tetapi juga untuk menopang kehidupan. Setidaknya itulah yang ditulis Wilfred J. Samuel dalam bukunya KRISTEN KHARISMATIK.

Bagaimana jika rohani kita yang lapar? Dalam bukunya, Wilfred juga mencatat bahwa peristiwa ‘lapar’ pun terjadi dalam konteks keagamaan. Lapar rohani adalah sebutan yang pantas dalam konteks ini. Disadari ataupun tidak, lapar inilah yang menggerakkan seseorang datang beribadah dalam suatu Gereja. Namun dalam memenuhi kebutuhan lapar, masing-masing Gereja memiliki pola budaya dan sistem yang berbeda. Dan ketika budaya serta sistem dalam suatu Gereja tidak dapat memuaskan kebutuhan lapar seorang individu atau kelompok, maka individu atau kelompok itu bergerak mencari pola lain yang mampu memuaskan kebutuhan lapar mereka.

Mengingat zaman semakin global kondisi sosial semakin sulit, tentu setiap jemaat membutuhkan ‘pengupasan’ dalam segi khotbah, yang tentunya juga harus up to date dan menarik. Inilah salah satu keunggulan dari golongan yang dituliskan oleh Wilfred J. Samuel. Penyampaian Firman di GEREJA TRADISONAL kurang up to date. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya penyusunan tema khotbah yang dibuat di tahun sebelumnya. Bahkan tak jarang penyusunan tema khotbah hanya meng-copy-paste dari tema di tahun sebelumnya untuk diteruskan kepada anak dan cucu serta cicit. Penyampaian firman menjadi kurang ‘memuaskan kelaparan’ jemaat. Jemaat yang bertanya-tanya mengenai masalah/ persoalan yang booming akhir-akhir ini berharap bisa mendapat jawaban dan penjelasan dari pandangan Firman Allah, yang tentunya diterimanya melalui khotbah. Sayangnya, khotbah pendeta yang mengikuti penyusunan tema khobah dari sinode seringkali tidak sesuai dengan keadaan yang baru terjadi. Syukur-syukur jika sang pengkhotbah pandai menyangkut-pautkan persoalan tersebut dalam tema khotbahnya. Namun jika demikian, tentunya jemaat hanya mendapat jawaban yang singkat dan belum begitu jelas.

Sementara gereja non-tradisional ( penulis tidak ingin menuliskan secara eksplisit ) hadir dengan khotbah yang lebih up to date dan dengan tehnik penyampaian yang lebih menarik. Berbeda dengan Gereja-gereja tradisional, mereka tidak memiliki tema khotbah secara khusus. Saya sempat menanyakan tentang hal ini pada gembala sidang di tempat Saya praktek. Beliau mengungkapkan bahwa memang tidak ada tema-tema khotbah secara khusus, yang ditetapkan adalah tema pertahun. Tema tersebut biasanya ditentukan sendiri oleh kebijakan Gereja, dan sifatnya tidak spesifik, bahkan tidak harus dikaitkan pada khotbah perminggunya. Sementara tema berkhotbah pada ibadah-ibadah di hari minggu ditentukan sendiri oleh pengkhotbah yang melayani. Hal ini tentu memungkinkan khotbah menjadi lebih up to date, karena pengkhotbah dapat mempersiapkan khotbahnya dengan melihat konteks pada saat itu. Itulah mengapa gereja-gereja non-tradisonal mampu ‘mengenyangkan’ banyak orang. Orang yang datang dengan persoalan-persoalan hidup masa kini merasa ‘dikenyangkan’ oleh firman yang disampaikan. Tidak hanya itu, penyampaian khotbah dalam gereja non-tradisional lebih mudah dimengerti karena menggunakan bahasa sehari-hari dan gerak tubuh yang sangat mendukung, bahkan pengkhotbah tidak sungkan untuk turun dari mimbar dan melangkah lebih mendekat ke arah jemaat. Hal ini tidak menutup kemungkinan bagi orang-orang dari lapisan bawah untuk datang dan mendengarkan khotbah, sebab khotbahnya mudah dimengerti. Berbeda dengan gereja tradisional yang seringkali menggunakan bahasa-bahasa ilmiah yang sulit dimengerti dan gerak tubuh yang monoton (berdiri di belakang mimbar dengan hanya menggerakkan tangan dan kepala). Rupanya tehnik penyampaian firman dalam gereja non-tradisional menjadi salah satu daya tarik kalangan ini. Sampai sekarang.

Memang tidak ada satu gerejapun yang sempurna, hanya Allah Bapa yang sempurna. Tetapi, sebagai sebuah masukan bagi dunia lain dari gereja-gereja tradisional. Alangkah baiknya jika ketika memilih bahan renungan, tema khotbah, dll. Jangan asal ambil, jangan asal buat, ntar bikin pusing yang khotbah ama jemaat makin puyeng….
Ambillah hal yang baik yang bisa digunakan sehingga jemaat Tuhan semakin bertumbuh dengan baik…

Arigato… selamat dari laparlah minggu ini… mudah2an… insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s