MENGEJAR ANGIN … Mengejar Angin

Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah,
maka orang harus memperbesar tenaga,
tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat
Pengkhotbah

Angin adalah benda abstrak yang tidak terlihat tetapi bisa dirasakan gerakannya. Bagaimana rasanya kalau kita hidup tanpa angin, maka udara di sekitar kita akan menjadi panas, makanya kita membutuhkan kipas angin, zaman modern kita butuh AC yang juga mengeluarkan angin. Kalau angin itu menjadi besar dia bisa menjadi badai.

Apakah kita dapat melihat angin? Jelas tidak, tetapi kita tahu bahwa angin itu ada. Dalam kehidupan ini banyak orang sibuk mengejar angin, yakni mengejar segala sesuatu yang sia-sia. Di Pengkhotbah dikatakan bahwa angin bertiup ke Selatan, lalu berputar ke Utara, terus menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. Demikian juga kehidupan kita bukan, akan berputar terus. Kalau tanpa tujuan menjadi kehidupan menjaring angin.

Jadi kita tidak perlu mengejarnya, Pengkhotbah melanjutkan bahwa, ”Sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, dan segala sesuatu adalah kesia-sian dan usaha menjaring angin”.

Apakah kita memang perlu pesimis, yah kalau kita berusaha menjaring angin, membungkusnya, mencoba menjualnya, tidak ada hasilnya. Banyak kehidupan kita juga demikian dipenuhi kekecewaan, kekesalan, kegagalan, bagaimana bentuk segala yang memenuhi kita tidak kelihatan, tetapi kita bisa merasakannya. Kita jadi tidak berpengharapan. Kita sering dan senang mengejar sesuatu yang sia-sia, Waktu yang berharga dipakai ngobrol, nonton sinetron, menyebarkan gosip.

Kita selalu berpikir saat ini, tidak terpikir ke masa depan, bagaimana merencanakannya, Bila waktu kita habis dan penyakit meleket ditubuh, baru kita sadar dan menyesal telah membuang-buang waktu. Memang penyesalan selalu datang belakangan,tetapi kalau kita sudah mencapai umur emas, penyesalan itu tidak bisa diperbaiki.

Berapa banyak waktu kita peroleh dari Tuhan. Tiap hari kita memperoleh 86400 detik! Bukan main banyaknya tetapi berapa detikkah yang kita manfaatkan. Kita sibuk dengan “rat race” kita, kesibukan rutin kita tanpa pernah menuliskan tujuan hidup kita. Hanya 3% orang yang mempunyai rencana dalam hidupnya. Dan merekalah yang tidak mudah diterpa badai ekonomi atau resesi global. Mereka seperti semut yang sudah mempersiapkan makanannya di musim panas dan siap-siap menghadapi musim dingin. Ada pepatah berkata untuk berhasil orang perlu dipaksa untuk gagal atau hidup dalam kekurangan itu alami.

Andaikan ada tamu buang sampah di ruang tamu kita. Apa reaksi kita? Harusnya marah bukan. Demikian juga pikiran kita kalau dimasukkin sampah dengan berita-berita negatif, gosip, kisah-kisah sinetron bagaimana reaksi kita? Bukankah tubuh kita adalah Bait Allah – maka jangan membawa berita-berita sampah ke dalam pikiran kita. Komputer kita terbatas. Apa yang masuk itu akan juga keluar, garbage in garbage out.

Alkisah seekor kodok yang ditaruh di kompor diberi temperatur yang mula-mula hangat, dia meras nyaman sekali. Ketika temperatur dipanaskan sedikit demi sedikit, ia tidak berasa, akhirnya ketika temperatur dinaikkan terus matilah sang kodok – Ia mati karena berada di comfort zone, demikian juga keadaan orang yang tidak mempersiapkan diri.

1. Gunakan waktu anda
Kita perlu keluar dari zona nyaman. Jangan seperti sang kodok yang terbuai dengan hidup nyaman waktu kita masih sehat dan segar, dan ahkirnya mati karena tidak berdaya. Pergunakan waktu anda sebaik-baiknya, perikasa aktifitas kita apakah dapat membantu mencapai sasaran kita, jika tidak artinya kegiatan itu membuang waktu kita. Kalau anda terbiasa menghargai waktu, anda akan mengisi waktu anda dengan hal yang berharga dan perubahan hidup anda akan terjadi.

2. Bersihkan pikiran kita
Pikiran kita jangan diisi sampah. Sayang sekali. Justru pikiran kita yang membuat kita maju. Kalau sudah penuh sampah kita akan berpikir sampah. Lakukan no gossip day. No negative day, kita alihkan menjadi “Yes praise day” artinya kita pakai untuk menghargai orang lain.

3. Mengejar cita-cita
Cita –cita kita harus dikerjar. Kita harus membuat rencananya, melakukannya, harus bekerja keras, dan dengan komitmen. Jangan mengejar angin tetapi kejarlah cita-cita, kalau perlu setinggi langit kata Bung Karno.

Banyak orang tidak berhasil karena mereka melakukan hal-hal yang bernilai rendah atau bahkan yang tidak bernilai sama sekali. Kenapa mereka melakukannya, karena mereka memang tidak punya cita-cita. Nah saudara berhentilan mengejar angin, tetapi terbanglah tinggi bersama angin seperti seeekor burung rajawali. Semoga berhasil – Layang-layang dapat terbang melawan angin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s