DUDUK SAMA RENDAH – Tinjauan kontekstualitas

Di sepanjang jalan utama Yogya, biasanya terdapat banyak orang yang menjual makanan salah satunya adalah gudeg ( makanan khas Yogya ). Mereka mulai membuka kedai-kedai pada saat waktu sekitar pukul 21.00 wib. Tikar yang lebar digelar ditempat-tempat pejalan kaki di bawah beranda atau tenda, dan orang-orang akan datang untuk makan dan berbicara sepanjang sore sampai tengah malam. Ini disebut “ lesehan “ yang berarti duduk dengan tidak diburu-buru waktu. Dibeberapa kota lain kita mungkin juga menemukan orang-orang yang menjual makanan di sepanjang jalan kota tetapi duduk dan berbicara dilantai dengan cara ini adalah merupakan ungkapan budaya khas Yogyakarta. Para profesor, mahasiswa, karyawan, kondektur, orang kaya maupun miskin bertemu, dan kadang-kadang dengan para turis untuk menikmati suasana santai setelah bekerja berat seharian.

Selanjutnya dalam gerakan-gerakan agamais, kita masih dapat menemukan orang-orang non Kristen duduk dilantai pada saat mereka beribadah dalam hal ini tidak hanya orang-orang Islam saja tetapi juga orang Budha dan Hindu. Tradisi lesehan ini juga diambil alih oleh sebagian besar persekutuan Kristen. Biasanya persekutuan Kristen ini bertemu secara teratur, paling tidak seminggu sekali, dikampus atau dirumah-rumah, walaupun tidak secara langsung berada di bawah naungan gereja tertentu dan kadang-kadang mengundang para pembicara dari berbagai macam denominasi. Persekutuan-persekutuan lesehan ini nampaknya mencerminkan kegairahan untuk mengungkapkan dan menghayati iman mereka secara lebih hidup.

Tradisi duduk di lantai ( lesehan ) merupakan tradisi yang khas dan dominan dalam kebudayaan Timur kita. Peradaban modern tentu saja telah mempengaruhi tradisi ini, tetapi orang-orang Timur senantiasa memelihara tradisi ini dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka masih mempraktikkan tradisi tersebut baik sebagai simbol sekular maupun agamais.

Tradisi ini menimbulkan pertama-tama keseganan dan kerendahan hati orang-orang terhadap yang lain terhadap pejabat-pejabat tinggi demikian pula terhadap Allah. Pada zaman modern tradisi ini lebih menjadi ungkapan dari hubungan yang akrab dan santai suatu persekutuan berbagi rasa.

Clifford Geertz berpendapat bahwa tradisi duduk di lantai untuk “ selamatan “ merupakan bentuk tradisi peradaban manusia, di mana setiap partisipan merasa sama dan sederajat dengan yang lain. Tambahan pula mereka duduk dalam bentuk lingkaran yang melambangkan pentingnya dan persamaan dari setiap partisipan. Simbol lingkaran dan filsafatnya merupakan unsur yang signifikan dalam budaya tradisional yang selalu memahami realita di dalam sebuah pandangan dunia lingkaran.

Secara tidak sadar, orang-orang Jawa memahami diri mereka sebagai orang yang sederajat, dan ini diungkapkan dalam “ lesehan “ yang nampaknya mampu menetralisir masyarakat yang terstruktur. Mereka tetap memelihara budaya ini sepanjang zaman karena melihat bahwa melalui “ lesehan “ ini mereka dapat saling bertemu, beramah-tamah, berbincang-bincang, meskipun banyak diantara mereka memiliki perbedaan ( baik dari sosial, tingkat pendidikan, dsb ). Secara langsung mereka menyadari diri mereka adalah orang-orang yang sederajat, setara, saling menghargai, menghormati, serta memperlihatkan kerendahan hati yang besar.

Beberapa referensi tentang “ duduk “ dalam kitab-kitab Injil sangat menarik untuk dicatat. Di Sinagoge terdapat tempat duduk khusus yang disebut “ tempat duduk Musa, “ yang nampaknya menyatakan kekuasaan, seperti yang dinyatakan dalam Matius 23:2 :

“ Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kami turuti perbuatan-perbuatan mereka. “

Setiap orang yang duduk di kursi Musa itu seharusnya ditaati, tidak peduli apa yang telah ia lakukan di dalam kehidupan sehari-hari pada saat ia tidak sedang duduk di kursi tersebut. Lukas juga melaporkan bahwa Yesus duduk di kursi kekuasaan khusus itu ( Luk 4:20 ), Paulus juga dilaporkan menjadi murid Gamaliel : “ ia duduk di bawah kaki Gamaliel. “

Namun nampak jelas bahwa Yesus menunjukkan gambaran tentang kekuasaan dan persekutuan yang berbeda. Contoh yang paling jelas dan sekaligus simbol tentang kerendahan hati dinyatakan di dalam cerita pembasuhan kaki di dalam Injil Yohanes 13:1-20. Cerita ini mengajar kita paling sedikit dua hal. Pertama, kita belajar tentang tradisi perjamuan makan, di mana para peserta harus sudah membasuh kaki mereka sebelum mulai makan, karena mereka harus mengangkat kaki mereka dan menaruhnya di atas kursi. Kedua, Yesus memberitahu para muridNya untuk rendah hati dan menjadi pelayan bagi yang lain.

Theologi kenosis dan theologi inkarnasi ( Fil 2:1-10; Yoh 1:1-18 ) merupakan simbol dan pengajaran yang paling penting di antara simbol-simbol dan pengajaran-pengajaran yang ada di dalam keKristenan. Mengungkapkan kerendahan hati serta melayani orang lain merupakan simbol yang sangat mencolok di samping juga sebagai inti iman Kristen. Hanya dengan merendahkan diri kita sendiri, maka kita dapat melayani dan mengalami solidaritas Kristus dengan manusia. Keyakinan theologis ini mungkin dapat diterapkan pada liturgi dan bentuk bangunan gereja, namun untuk melakukan hal ini, kita harus menyadari esensi dari simbol itu sendiri; yaitu memudahkan orang-orang mengungkapkan kerendahan hati mereka di hadapan Allah dan di hadapan tetangga kita. Hal yang paling penting bukan hanya duduk di lantai, tetapi juga sikap hati kita di hadapan Allah dan tetangga kita. Hanya dengan perubahan theologis dan formal seperti itulah, maka proses inkulturasi dan akulturasi dapat memperbaharui gereja dan kehidupan manusia, sehingga impian ini dapat menjadi kenyataan :

Aku membayangkan ribuan orang Kristen, duduk di lantai suatu gedung gereja yang dibangun persis sama dengan Masjid Nasional Jakarta ( maksudnya tidak ada kursi, ataupun bangku ), menempatkan Alkitab mereka di atas pangkuan mereka dan merenungkan Firman Allah yang datang untuk kita, mati untuk kita, dan akan datang
untuk kita. Lalu aku ingat apa yang seorang temanku katakan bahwa perancang utama Masjid Nasional Jakarta adalah orang Kristen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s