PENDIDIKAN KINI

Menarik sekali saya rasa sudut pandang yang dilihat oleh kawan kita Junanto Herdiawan dalam menyaksikan film fast and furious yang kemudian ia jadikan tema untuk artikel blognya beberapa hari yang lalu (lihat The Fast, The Furious, dan Kehidupan yang Abu-abu Oleh Junanto Herdiawan – 17 April 2009 ). Disitu ia menempatkan tema utama tentang pengertian kata baik yang ia inspirasikan dari film itu.

‘Baik’, sesuatu yang bukan hanya sekedar kata. Sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari ruang dan waktu ketika kata itu terucap dan dari siapa kata itu diucapkan. Kata baik bagi seseorang belum tentu dianggap baik oleh orang lain karena melihat kasus dan efeknya dari sudut pandang yang berlainan. Efek atau resiko ataupun konsekwensi adalah penentu utama apakah suatu hal dikategorikan baik atau tidak dan tentu saja setiap orang mempunyai kepentingan sendiri-sendiri dalam menerjemahkan hal itu. Ketika egonya lebih tinggi daripada sifat sosialnya maka ia akan melihat kepada dirinya sendiri dulu tentang dampak atau resiko apa saja yang akan ia tanggung dalam melakukan suatu hal. Ketika dampak ‘baik’ untuk dirinya sendiri lebih besar daripada keburukannya maka ia akan sebut hal itu sebagai kebaikan walaupun bagi orang lain keburukkanya lebih besar daripada kebaikanya. Tetapiketika ia mampu mengkatrolnya dengan orang lain disekitar sebagai bahan pertimbangan maka ia sudah memenuhi syarat untuk disebut manusia yang punya rasa sosial. Itu hanyalah salah satu kasus sebagai contoh, tentu masih banyak kasus disekitar kita yang bisa dijadikan sebagai contoh lain.

Seperti yang terjadi pada dunia pendidikan di Indonesia bila dibandingkan dengan pendidikan di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi berkwalitas dunia di luar negeri. Apakah hal ini bisa dijadikan contoh mengingat ketimpangan yang sangat besar antara pendidikan di dalam negeri dengan pendidikan di negara-negara maju seperti jepang, eropa, atau Amerika, tentu tidak bisa. Tetapi disini akan dilihat dari sudut pandang resiko atau dampak sosial dari masing-masing sistem pendidikan itu.

Kita lihat lebih dahulu di Jepang. Jepang adalah satu-satunya negara asia yang mampu meningkatkan taraf kwalitas pendidikannya setara dengan negara-negara maju di Eropa atau Amerika. Tetapi kita lihat kasus-kasus yang terjadi dalam hubungannya dengan kebaikan pendidikan di Jepang.

-The asahi Shimbun melaporkan sedikitnya 886 pelajar bunuh diri karena persoalan di sekolah yang membuat murid yang bersangkutan putus asa. Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang tertinggi dari tahun sebelumnya, sejak kepolisian mengumpulkan data statistik di tahun 1978.

– Menurut kepolisian, jumlah pelajar yang bunuh diri berkisar antara 600 hingga 700 siswa sejak tahun 2000-2008.

– Di tahun 2002 angka bunuh diri meningkat secara besar-besaran 57,6%, yang merupakan jumlah total 93 kehilangan nyawa, lebih dari 34 siswa.

– Di tahun 2006 sisiwa sekolah dasar yang meninggal akibat bunuh diri naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya menjadi 14 orang. Sementara di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) juga naik 22,7 persen menjadi 81 siswa.(Dari berbagai sumber).

Kita bandingkan dengan di Eropa dan Amerika.

Di seluruh wilayah Eropa, Jerman adalah negara yang paling sering terjadi penembakan yang dilakukan oleh murid sekolah.

Charles Roberts menembak lima gadis di sekolah Amish di Pennsylvania, lalu Robert bunuh diri.

2005:
Seorang pelajar di Minnesota menembak sembilan orang, lalu bunuh diri.

1999:
Dua pelajar Columbine High School di Colorado menembak hingga mati 12 temannya dan seorang guru sebelum akhirnya bunuh diri.

1998:
Dua anak lelaki berumur 11 dan 13 tahun menembak mati empat teman gadisnya dan seorang guru di Arkansas.

1966:
Charles Whitman membunuh 15 orang di Texas University. Ia menembak membabi buta dengan senapan dari atap menara selama 96 menit sebelum ia tewas ditembak polisi Austin.

KORBAN TEWAS DI DUNIA

Berikut ini catatan sejumlah aksi penembakan di sekolah dan kampus, yang menewaskan anak-anak dan dewasa, di dunia. Jumlah korban termasuk pelakunya.

1996
Amerika Serikat (4)
Skotlandia (18)

1997
Amerika Serikat (9)
Yaman (8)

1998
Amerika Serikat (11)

1999
Amerika Serikat (Columbine 15) (17)

2000
Amerika Serikat (4)
Jerman (2)

2001
Amerika Serikat (6)

2002
Jerman (Erfurt 18) (20)
Bosnia (2)

2003
Amerika Serikat (5)

2004
Amerika Serikat (1)
Belanda (1)
Argentina (3)
Rusia (Beslan 331)

2005
Amerika Serikat (Red Lake 11) (12)

2006
Amerika Serikat (Paradise 6) (10)
Jerman (1)
Kanada (2)

2007
Amerika Serikat (Virginia Tech 33)

2008
Amerika Serikat (7)

(Dikutip dari berbagai sumber)

Terakhir yang menggemparkan publik Indonesia adalah kasus yang terjadi di NTU Singapura (lihat Sketsa Kematian David oleh Iwan Piliang).Walaupun kasus ini masih simpang siur.

Bila dibandingkan dengan di Indonesia kasus seperti ini tidak pernah terjadi, yang ada adalah kasus bunuh diri pelajar karena faktor ekonomi.

Kembali ke persoalan di awal tentang kata ‘baik’. Jadi bagaimana? mau memilih sistem pendidikan yang bagaimana agar terwujud kata ‘baik’ itu? mau memilih sistem pendidikan super ketat seperti yang diterapkan dinegara-negara maju tetapi tidak sedikit murid-murid yang mengalami ketidak cocokkan dengan sistem akan menjadi korban atau tetap memiih sistem pendidikan sekarang ini dengan resiko-resiko yang kita semua sudah mengetahuinya. Semua kembali ke dalam diri masing-masing untuk menentukan mana yang ‘baik’.

Yang jelas menurut saya ketika ada suatu kekurangan dalam sistem pendidikan, peran orang tualah yang sangat menentukan untuk mengisi kekurangan itu karena orang tualah yang paling memahami kondisi anaknya. Akan diarahkan kemana atau lebih berminat kearah mana si anak, orang tualah yang harus lebih mengerti. Dan, jangan pernah membatasi penglihatan hanya pada satu sisi. Dunia cukup luas untuk bisa dimengerti.
http://miftahrahman.wordpress.com

2 thoughts on “PENDIDIKAN KINI

  1. Ping-balik: PENDIDIKAN KINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s