Jesus : Peace or The Troublemaker

Berbincang-bincang dengan orang Kristen membahas tentang Yesus bisa terkadang menggelikan. Banyak kali lawan bicara saya berbicara dengan berapi-api tentang Yesus yang mereka kenal. Herannya saya merasa mereka sedang membicarakan Yesus yang lain dari yang saya kenal lewat Alkitab. Yang membuat saya bertambah heran ialah banyaknya orang yang tidak mengenal Jesus of the Bible, melainkan hanya mengenal Jesus of the Mythology.

Ada kawan yang menggambarkan Yesus sebagai pribadi baik yang akan mengabulkan semua permintaan kalo kita adalah orang Kristen baik-baik, tidak memiliki catatan kejahatan, tampan atau cantik, dan terutama ialah rutin mengembalikan persepuluhan. Kalau doa kita tidak terjawab, penyebabnya pasti tidak jauh-jauh dari kurang iman atau ada dosa tersembunyi yang belum dibereskan. Kalau ternyata yang bersangkutan tidak terlihat kurang gizi (baca: iman) maka mungkin saja Tuhan sedang menyuruh dia menunggu waktu Tuhan. Yesus seperti ini sangat senang memberkati umatnya dengan berbagai hal yang luks seperti rumah baru, mobil baru, dan segala hal yang ‘stylish’ dari Tuhan yang ‘cool’ dan berselera baik. Celakanya gambaran Yesus seperti itu lebih menyerupai Santa Claus di kebudayaan barat dan Budai di kebudayaan Timur dibanding Yesus yang ada di Alkitab. Gambaran tersebut menekankan pada posisi Tuhan sebagai pemberi keinginan manusia dengan prasyarat, yakni apakah anda disukai oleh Dia?.

Ada lagi kawan yang menggambarkan Yesus sebagai pribadi yang penuh kedamaian dan cinta kasih. Ini adalah Yesus yang selalu betuturkata dengan etika, menghargai perasaan orang, dan yang terutama sangat lemah lembut. Ini adalah Yesus yang tidak mengenal istilah ‘melawan’ dan selalu penuh senyum membiarkan orang lain menganiaya dirinya. Ini adalah Yesus yang tidak menjadi batu sandungan, tidak beremosi, rajin beribadah dan gemar menabung. Ini adalah Yesus yang sering muncul di lukisan-lukisan Kristen, Yesus yang sangat amat mengasihi orang lain sehingga lupa bagaimana mengurus dirinya sendiri. Celakanya gambaran Yesus ‘banci’ seperti itu lebih mirip seorang petapa anti-kekerasan dari India dibanding dengan Yesus di Alkitab. Mungkin saja yang menganut paham ini mendasari imannya pada The Gospel according to St. Gautama.

Yesus yang saya kenal di Alkitab adalah seorang pembuat masalah. Kata-katanya selalu tajam, membuat syak, dan membuat banyak orang tersinggung dan naik pitam. Dia adalah contoh sejati dari batu sandungan karena dia membuat pengikutnya membenci para pemuka agama waktu itu dengan menggosipkan kejelekan mereka senantiasa. Dia tidak tahu tata krama karena membuat mukjizat (baca: keonaran) tidak pada sikon yang tepat. Ketika Dia datang ke Bait Allah (baca: gereja), semestinya Dia melepaskan berkat, namun Dia malah membuat banyak orang bangkrut dan mengalami kerugian finansial. Dia juga dianggap kalangan terpelajar sebagai wong edan, kerasukan setan, pemberontak, atau minimal sebagai con artist.

Yesus yang saya kenal ialah Yesus yang selalu identik dengan masalah. Lagian Dia tidak pernah berjanji barangsiapa mengikut Dia akan terbebas dari masalah, malahkan Dia berkata, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Dia juga pribadi yang mengucapkan kata-kata mengerikan ini, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Mengikut Yesus berarti anda sedang membawa seluruh hidup anda dalam masalah. Belakangan saya baru mengerti kenapa Yesus dianggap sebagai jawaban semua masalah, yaitu karena detik anda memutuskan jadi pengikut Kristus, maka semua masalah lama anda hilang lenyap karena anda mendapat masalah baru yang berkali-kali lebih besar dari sebelumnya. Masalah yang dibawa Yesus kepada anda ialah ini, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”

Mengikut Yesus bukanlah sekedar mengisi formulir keanggotaan gereja, rutin ibadah, dan tidak pernah telat perpuluhan. Mengikut Yesus bicara mengenai kehilangan segala-galanya demi mendapatkan kerajaan Allah yang untuk sementara anda cuma bisa lihat di brosur dan trailer saja. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.”

Mengikut Yesus adalah petualangan terbesar yang mungkin anda ikuti di dunia ini. Akan ada banyak goncangan dan saat-saat menegangkan yang akan anda lalui. Oleh karena itu sekarang ketika ada petobat baru saya tidak lagi mengatakan ‘selamat’ padanya ketika dia menerima Yesus, tapi saya akan pegang erat tangannya, tatap matanya dan berkata, “Please fasten your seatbelt!”

Saat inilah aku memberikan segala hidupku untuk mengikuti Engkau … Ya Allahku, please let me follow You my Lord… for all of my life …

One thought on “Jesus : Peace or The Troublemaker

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s