PARA TERORIS ATAU YESUS

“Bukan kebetulan juga sang juruselamat dunia, Yesus Kristus, dilahirkan bersamaan dengan awal dari gerakan terorisme di dunia.”– JED-ReVoLuTiA

“Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar—tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati—.Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:6-8)

Injil Lukas pasal 2 mencatat sebuah peristiwa pada masa kekaisaran Romawi dipimpin oleh Agustus dan Kirenius menjadi wali negeri di daerah Siria (mencakup juga Judea) dimana sensus penduduk dilahirkan. Kita semua ingat kisah ini sebagai kisah Natal dimana Yusuf membawa isterinya Maria ke kampung halaman mereka di Betlehem dan pada akhirnya bayi Yesus dilahirkan di Kota Daud. Fakta sejarah mencatat bahwa sensus tersebut telah juga melahirkan sebuah gerakan pemberontakan di Yudea yang dipimpin oleh seseorang bernama Yudas dari Galilea. Kelompok yang dipimpin oleh Yudas orang Galilea ini kemudian disebut sebagai orang-orang Zelot.

Gerakan Zelot dikenal sebagai kumpulan orang-orang yang bersemangat dan nasionalis. Mereka dibentuk untuk memperjuangkan harga diri bangsa Yahudi sebagai bangsa pilihan Allah. Ada 2 hal yang membuat mereka bersatu dan menentang penjajah Romawi pada waktu itu, yakni sensus penduduk dan pajak bagi kaisar. Orang Yahudi pada waktu itu menganggap adalah sebuah kejahatan untuk menghitung jumlah umat pilihan Allah karena mereka yakin jumlah mereka tidak bisa terhitung seperti banyaknya pasir di laut dan bintang di langit sesuai dengan penafsiran harafiah terhadap nubuatan yang Allah berikan kepada Abraham, sang bapak leluhur. Mereka juga ingat tragedi nasional masa lalu mereka ketika bangsa mereka dilanda bencana akibat tindakan Daud untuk menghitung jumlah penduduk bangsa Israel (baca 1 Tawarikh pasal 21). Oleh sebab itu bisa dipahami bagaimana perasaan bangsa Israel di Yudea pada waktu itu ketika mereka dipaksa harus melakukan sensus kembali. Hal kedua yang menyebabkan timbulnya gerakan Zelot pada waktu itu adalah penetapan pembayaran pajak kepada Kaisar. Bagi orang Yahudi, mereka menggangap pajak pada Kaisar adalah sama dengan penyembahan kepada ilah asing oleh karena cara mereka beribadah kepada Allah Israel ialah dengan cara memberikan persembahan. Kedua hal tersebutlah sebagai ekor dari sensus di Yudea yang melahirkan pemberontakan Zelot oleh Yudas orang Galilea.

Gerakan Zelot didirikan oleh Yudas orang Galilea dan Zadok orang Farisi dan bertujuan membentuk negara Israel merdeka dengan Allah sebagai pemimpin sejati. Gerakan ini dicap sebagai pemberontakan yang harus ditumpas oleh bangsa Romawi oleh karena menggangu keamanan dan ketertiban. Gerakan ini terus menjalar meski Yudas orang Galilea telah berhasil ditewaskan. Kedua anak Yudas, yakni Yakobus dan Simon mati disalibkan oleh prokurator Tiberius Aleksander. Anaknya yang lain yang bernama Menahem menjadi pemimpin gerakan teroris Sikarius yang akan kita bahas nanti. Di kalangan bangsa Yahudi sendiri, gerakan ini dipandang sebelah mata. Mereka dijuluki ‘biryonim’ yang berarti ‘kasar’ atau ‘liar’ akibat garis politik non-kompromi dan militerisme buta yang tidak mengenal diplomasi oleh kelompok ini.

Sikar

Kelompok Sikarius adalah salah satu sayap paling ekstrem dari gerakan Zelot ini. Nama Sikarius diambil dari kata ‘belati’ yang biasa disembunyikan di balik jubah dan dipakai untuk membunuh orang-orang tertentu. Kelompok ini bertujuan melakukan aksi terorisme lewat aksi mereka yang sembunyi-sembunyi dan tiba-tiba menyerang orang-orang yang dianggap sebagai sekutu Romawi, termasuk juga orang Yahudi yang dianggap telah berkomplot dengan penjajah. Salah satu korban aksi mereka yang tercatat di sejarah adalah Imam Besar Yonatan. Ada juga kejadian dimana mereka merusak pusat persediaan pangan di Yerusalem dengan tujuan orang Yahudi terpaksa berperang dengan Romawi dan tidak lagi melanjutkan negosiasi. Sebagian besar sejarahwan setuju bahwa kelompok Sikarius adalah salah satu gerakan terorisme paling primitif di bumi ini. Metode gerakan mereka kemudian ditiru para teroris muslim Hashshashin di abad pertengahan yang kemudian mempopulerkan istilah ‘asasin‘. Sejak itu gerakan terorisme mulai berkembang hingga menjadi masalah global dewasa ini.

Bukan kebetulan juga sang juruselamat dunia, Yesus Kristus, dilahirkan bersamaan dengan awal dari gerakan terorisme di dunia. Para teroris tidak pernah merasa salah dalam melakukan aksi terorisme mereka oleh karena mereka menganggap apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang benar. Mereka adalah pejuang yang bertujuan untuk membebaskan masyarakat yang tertindas dengan menggunakan ‘cara mereka’ untuk menyelesaikan masalah, meski ‘cara mereka’ itu adalah cara yang dikecam oleh orang banyak. Salah satu teroris yang paling terkenal adalah Robin Hood, yang mencuri dari orang kaya dan membagikan hasil curiannya kepada orang miskin. Mencuri adalah tindakan melanggar hukum, namum bagi Robin Hood dan pendukungnya, hal itu adalah sah karena dilakukan untuk tujuan yang baik.

Di saat paling penting dalam kehidupan Yesus, Dia harus bertemu dengan salah satu tokoh terorisme pada waktu itu, yaitu Barabas. Barabas adalah salah satu orang yang terlibat dalam gerakan terorisme Sikarius. Bukan kebetulan pada waktu itu gubernur Pontius Pilatus meminta rakyat Yahudi memilih siapa yang mereka ingin bebaskan: Yesus orang Nazaret atau Barabas sang penjahat? Sebuah pilihan yang sudah diatur Allah atas bangsa Israel, metode pembebasan siapa yang ingin mereka pilih untuk memerdekakan mereka: Yesus yang memerdekakan manusia dari dosa dengan firman-Nya atau Barabas yang siap memerdekakan bangsa Yahudi dengan gerakan terorismenya? Seperti yang kita semua tahu, mereka memilih cara Barabas untuk memerdekakan mereka.

Jesus or Barabbas

Yesus pun disalibkan. Bangsa Yahudi tidak mengharapkan seorang mesias yang meminta mereka mengasihi musuh mereka, memberi pipi kiri pada mereka yang menampar pipi kanan, dan menyebut orang Samaria yang kafir sebagai sesama manusia. Yesus tidak menentang pajak kepada Kaisar, melanggar berbagai aturan tambahan Taurat yang dibuat oleh kaum agamis Farisi seperti kegiatan yang dilarang pada hari Sabat, dan Yesus juga tidak peduli dengan siapa dia bergaul: para pemungut cukai yang tidak nasionalis, para pelacur yang mengotori kesucian bangsa, dan para nelayan udik dari Galilea yang emosional. Sebagai seorang guru Taurat seharusnya Dia tahu batasan-batasan untuk tidak menyentuh mayat, orang kusta, dan perempuan yang sedang pendarahan. Yesus tidak pernah sekalipun menentang penjajah Romawi namun sepertinya Dia selalu memandang rendah bangsa-Nya sendiri dengan mengambarkan mereka tidak lebih baik dari Gentiles (orang-orang kafir non-Yahudi) di dalam perumpamaan yang diceritakan-Nya.

Mereka memilih Barabas dan para teroris lainnya. Pada tahun 70M naiklah seorang Zelot yang berhasil mengumpulkan massa banyak bernama Simon bin Kosba (atau Simon Putera Bintang) yang kemudian diklaim oleh seluruh bangsa Yahudi sebagai mesias yang dijanjikan (kecuali oleh umat Kristen pada waktu itu). Ujung dari kisah sang mesias gadungan ini adalah penghancuran Yerusalem dan Bait Allah yang berujung pada diaspora bangsa Yahudi yang telah menyebabkan negara Israel hilang dari peta dunia selama berabad-abad. Sekarang Simon bin Kosba cuma diingat sebagai tokoh sejarah dan tidak lagi dilabeli sebagai mesias. Yesus pada sisi lain memang disalibkan dan wafat, namun Ia bangkit pada hari yang ketiga. Di dunia ini sekarang hampir tidak ada orang yang belum pernah mendengat nama Yesus Kristus (atau Yesus sang Mesias). Yesus sendiri berkata, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”

Perkataan Rabi Yahudi ternama, Gamaliel, akan menggemakan hal ini. Dalam persidangan Sanhedrin untuk mengadili para pengikut Yesus, hikmatnya pun bersuara lantang hingga sekarang, “Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya seorang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan cerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. Sesudah dia, pada waktu pendaftaran penduduk, muncullah si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya. Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah.”

Siapakah yang telah merubah dunia selama 2 milenium ini? Yesus atau para revolusioner? Yesus telah merubah lebih banyak orang dibanding Marx, Hitler, Osama bin Laden, dan para teroris2 yang banyak berkeliaran di Indonesia dengan sebuah pandangan bahwa kekerasan dapat mengubah dunia ( omong kosong yang kosong !!! ).

Yesus, sang Putera Allah, tahu bahwa merubah manusia lewat tekanan fisik tidak akan pernah menghasilkan perubahan permanen karena akar segala kejahatan adalah hati manusia. Bukan penjara, bukan pendidikan, bukan indoktrinasi yang bisa merubah manusia sepenuhnya, tetapi Yesus Kristus. Ketika Yesus masuk di dalam hidup seseorang, maka Ia akan merubah hati orang tersebut menjadi baru, benar-benar baru. Sudahkah Anda membuka hati Anda bagi Yesus, sang revolusioner sejati? Bukankah Simon orang Zelot pun sadar bahwa sang guru, Yesus, adalah sang jawaban sejati?

Are you terorism, bertobat !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s