Hadapi Kenyataan

Pagi yang berkabut bukan berarti hari yang kelabu
Anonim

Banyak orang di dalam hidup ini tidak mau menghadapi kenyataan, mereka merasa nyaman kalau dapat hidup seperti dalam kisah dongeng Cinderela yang berakhir dengan kebahagiaan. Namanya dongeng sulit untuk menjadi kenyataan, Kita sering tidak mau tahu dengan kenyataan yang sedang dihadapi, kita menutup mata demgan keadaan sekeliling kita. Penghasilan kita sudah berkurang, kita masih saja boros. Kita sudah mengalami komplikasi penyakit, masih juga tidak pantang makananan yang dilarang, Kita tidak mau belajar padahal besok ada ujian. Saat kinerja kita di tempat kerja menurun, kita tetap tidak berusaha memperbaikinya. Apalagi merawat pernikahan. Kadang-kadang sudah di tepi jurang masih belum sadar.

Kita sering mengelak tanggung jawab dalam pekerjaan. Untuk menjadi orang bertanggung jawab perlu perubahan, Kita mempunyai hobby menyerahkan tanggung jawab pada orang lain. Kita biasanya tidak mau kehilangan yang sudah kita miliki. Tidak mau kehilangan anak, tetapi tidak mau merawat anak.A da sebuah kisah yang saya baca di majalah the weekender edisi April 2009 dimana orang tua sudah tahu anak terlibat narkoba tetapi didiamkan, akhirnya sang anak meninggal dalam usia 20 tahun, ”Saya tidak dapat menceritakan bagaimana perasaan saya”, kata ibunya. “Dunia ini rasanya berhenti dan apa yang saya lakukan setelah ini merupakan dunia yang berbeda”. Hasilnya menurut studi The New England Journal of Medicine tahun 2005, orang semacam ini bisa menghadapi sakit mental pada periode 1 dan 5 setelah kehilangan anak. Tapi yang paling parah adalah rasa bersalah yang tidak bisa hilang Kematian anak sulit dicerna, karena orang tua berprinsip bahwa merka akan meninggal terlebih dahulu dari anaknya. Hal ini sekarang tidak berlaku lagi, dalam dunia yang penuh kemajuan, banyak orang tua akan menghantar anaknya ke lubang kubur, karena gaya hidup yang berbeda.

Kata penyesalan selalu datang terlambat, Kalau nasi sudah menjadi bubur baru timbul penyesalan, Tanggung jawab berartti kita menghadapi suatu hal yang sedang kita hadapi ringan atau berat, Ada risiko gagal atau berhasil, Kalau kita sudah nyaman ngapain cari risiko. Banyak orang berpikir demikian. Apalagi kalau kita pernah gagal beberapa kali;

Dalam hidup ini betapa sulitnya keadaan kita harus menghadapi kenyataan pahit atau manis, apalagi kenyataan yang pahit. Bahwa kita menghadapi krisis global iu suatu kenyataan. Memang di Indo anehnya mal masih penuh Kini saatnya kita harus kerja keras, kita harus hemat, membeli yang perlu, tetap menabung seberapa kecil pun. Mungkin anda pernah dengar pepatah yang berbunyi, “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, Itu benar, secara matematis dapat dibuktikan, Kita harus berkonsentrasi pada hal yang penting, yang remeh temeh harus dibuang.

Orang yang berhasil adalah dia yang menghadapi kenyataan dia, Mungkin dia banyak kekurangan, secara fisik, mental,keuangan namun berjuang untuk mengatasi kekurangannya.

Orang sukses mau mengadakan perubahan. Apa yang gagal dilatihnya lagi. Dia tidak mau dibebani masa lalu, dia melihat masa depan.

Kalau saya mulai usaha ini mungkin tidak perlu begini, kini dolar sudah tinggi mau ngapain lagi saya, Penyesalan, penyesalan, penyesalan ……. tidak akan mengubah apa-apa. Yang dapat mengubah yakni mulai berdoa dan mengambil tindakan. Kalau perlu segera berbalik arah dari jalan yang salah, atau kita mulai menyalahkan orang, gara-gara dia saya jadi begini.

Kita adalah manusia yang suka berdalih, membenarkan keadaan, berusaha melarikan diri dari kenyataan. Jangan ancaman itu datang seperti unta yang memasukkan kakinya dulu ke tenda, lalu badannya lalu kepalanya, Kalau demikian sudah terlambat, karena sang unta atau bahaya sudah ada dalam kemah kita.

Yang perlu kita lakukan akui kalau kita gagal, dan belajar dari pengalaman itu, dan hadapi kenyataan
Untuk berbuat benar
Waktunya selalu tepat
Martin Luther King Jr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s