TIATIRA, DI DALAM DUNIA, TAPI BUKAN MILIK DUNIA

Jemaat keempat yang disapa oleh Roh Kudus, menurut Wahyu Yohanes, adalah jemaat Tiatira. Di antara tujuh surat yang ada, inilah surat yang paling panjang bagi jemaat di kota yang paling “kurang penting.”

Mengapa ada keganjilan ini? Karena masalah yang dijamah adalah masalah abadi yang klasik dan universal, alias persoalan yang dihadapi oleh gereja Tuhan, kapan saja dan di mana saja. Persoalan apa? Persoalan bagaimana ”gereja” harus menjalin relasi yang benar dengan “dunia.”

Tidak banyak yang kita ketahui mengenai Tiatira, kecuali antara lain ia adalah kota dagang yang lumayan penting, dan kota dengan tangsi militer yang cukup besar. Yang terakhir itu adalah sesuai dengan fungsinya sebagai “bumper” bagi Pergamus, sang ibu kota.

Perannya dalam kehidupan agamaniah tidak terlalu berarti. Di kota ini, tidak ada pusat peribadahan yang besar, baik bagi kaisar Romawi maupun bagi dewa-dewi Yunani. Sebab itu, Tiatira bukanlah ancaman serius bagi jemaat Kristen.

Kalau begitu, apa persoalan yang dihadapi oleh jemaat Tuhan di kota ini sehingga mesti ada surat yang begitu panjang? Para ahli menduga, persoalannya terkait dengan cirinya sebagai sentra industri kerajinan rumah.

Tiatira memang terkenal karena itu. Lidia, misalnya, berasal dari kota ini. Dan menurut catatan Lukas, ia bergerak di bidang tekstil, sebagai “seorang penjual kain ungu.”

Sesuai dengan kebiasaan pada waktu itu, para perajin atau usahawan sejenis membentuk atau mengikatkan diri dalam serikat-serikat sekerja. Jadi, misalnya, ada serikat sekerja untuk para perajin kain wol, untuk para perajin kain linen, untuk para perajin tembaga, untuk para pembuat roti, dan sebagainya.

Orang-orang kristen yang sehari-hari bekerja sebagai usahawan kacil atau perajin, tentu tergabung pula ke dalamnya. Sebab sejak awal, orang kristen tidak hidup eksklusif atau menyendiri. Mereka hidup memasyarakat.

Persoalan muncul apabila serikat-serikat sekerja tersebut menyelenggarakan pertemuan-pertemuan mereka. Pertemuan-pertemuan ini bukan saja untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut bisnis.

Di samping itu, biasanya ada pula acara ibadah bersama di kuil-kuil, ada acara makan bersama dengan makanan yang telah dipersembahkan kepada para dewa, dan tak ketinggalan ada pula acara-acara yang seronok, namun tak terpuji secara moral.

Bagaimana orang-orang Kristen harus menyikapinya? Apakah mereka harus ikut serta? Atau tidak? Ini ternyata bukanlah pilihan yang sederhana.

Bila mereka ikut serta, mereka menghadapi persoalan hati nurani, persoalan iman, persoalan moral. Namun bila mereka menolak mengikutinya, mereka menghadapi persoalan sosial serta konsekuensi ekonomi.

Mereka akan dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat, dan diboikot dari kegiatan ekonomi.

Itulah tantangan yang harus mereka hadapi dari luar. Tantangan eksternal. Cukup berat, namun agaknya tidak terlampau membawa pengaruh negatif bagi kehidupan iman mereka.

Tuhan, di awal surat, memuji jemaat ini, kata-Nya, “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari yang pertama.”

* * *

Persoalan yang lebih serius justru datang dari dalam. Tantangan internal. Ini wajar-wajar saja, bukan? Musuh yang tersembunyi dalam selimut selalu lebih berbahaya ketimbang yang terang-terangan berdiri di hadapan.

Kata Tuhan, “Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.”

Kita tidak tahu apakah “Izebel” adalah nama sebenarnya, atau nama simbolis untuk mengingatkan orang kepada istri raja Ahab, yaitu ratu yang berhasil membuat nabi sekaliber Elia keder dan nyaris putus asa menghadapinya.

Yang jelas, “Izebel” dalam kitab Wahyu adalah seorang tokoh gereja. Seorang nabiah. Banyak mengajar umat. Luar biasa!

Tentang ajarannya, kita juga tak tahu persis. Namun dapat diperkirakan, bahwa intinya kira-kira adalah: “Apa pun halal, apa saja boleh. Sebab Kristus telah memerdekakan kita!”

Berzinah? “Ah, tak perlu risau! Ukuran zinah atau tidak itu kan buatan manusia. Lakukan saja apa yang Anda mau! Asal suka sama suka, tidak memaksa, dan sama-sama happy!”

Soal makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala? “Kalau Anda menyukainya, why not? Pokoknya iman Anda tidak terganggu, kan? Lha soal orang lain terganggu, ini bukan tanggung jawab Anda. Masak orang lain yang terbelakang pertumbuhan imannya, kok kita yang mesti bertangung jawab.” Begitu kira-kira.

Ajaran ini, walau menarik, jelas bertentangan dengan ajaran yang benar. Menurut Paulus, walaupun benar segala sesuatu itu halal, namun tidak semuanya berfaedah.

Orang Kristen tidak boleh mengejar kesenangannya sendiri saja, tetapi mengejar apa yang membangun dan yang mendatangkan damai sejahtera. Dan … tidak menjadi batu sandungan bagi siapa pun juga!

* * *

Jadi jelaslah, di balik persoalan yang spesifik itu, tersembunyi suatu persoalan yang saya katakan “klasik” dan “universal,” yaitu bagaimana “gereja” harus menjalin hubungan dengan “dunia.”

Apakah, seperti yang diajarkan “Izebel,” kita menghanyutkan diri saja? Atau sebaliknya, mengasingkan diri sepenuhnya dari padanya? Yang satu hanya menekankan fakta bahwa “gereja ada di dunia,” sedangkan yang lain cuma menekankan fatwa bahwa “gereja bukan milik dunia.”

Manakah yang benar di antara keduanya? Jawab saya, yang benar adalah kedua-duanya. “Gereja ada di dalam dunia, tetapi bukan milik dunia.” In the world but not of the world. Antara “gereja” dan “dunia” ada hubungan dialektis, tapi tidak dualistis.

Sebab itu, seperti kata H. Richard Niebuhr, pemahaman monistis bahwa gereja harus semata-mata terarah ke luar dunia (= other-worldly), atau, bahwa gereja wajib semata-mata terarah ke dunia (= inner-worldly), sama-sama salah. Yang benar adalah: gereja berada di dunia, namun hanya terarah kepada Allah!

Gereja berada di dalam dunia. Artinya kita menolak dualisme, bahwa dunia di sini dan gereja di sana, tanpa ada kena-mengena.

Kita menolak dikhotomi, bahwa gereja sebagai komunitas orang beriman di seberang sini, tidak mempunyai titik singgung apapun dengan dunia yang (dianggap) merupakan konspirasi orang-orang tak beriman di seberang sana. Tidak! Gereja ada di dalam dunia, dan diutus ke dalam dunia.

Namun gereja bukanlah milik dunia. Artinya, dengan sama tegasnya kita juga menolak akomodasionisme. Kompromi, konsesi, konformisme dengan dunia, sampai batas tertentu, memang tak terhindarkan.

Seperti kata Paulus, kita “menjadi segala sesuatu bagi semua orang.”

Kesalahan konsesi tidaklah terletak pada konsesi itu sendiri melainkan, seperti kata Niebuhr, “karena ia biasanya diberikan terlalu cepat, sebelum ada upaya perlawanan yang mati-matian sampai mencucurkan darah.”

Jadi bagaimana? Gereja harus ada di dalam dunia. Hadir di sana. Menjadi berkat sebesar-besarnya di sana. Seperti “kota di atas bukit,” ia menjadi contoh.

Tidak mengasingkan diri dari dunia, namun kritis terhadap dunia. Tidak ketinggalan zaman, tapi tidak pula cuma mengikuti roh-roh zaman.

Percayakah Anda, bahwa krisis identitas dan kredibilitas yang banyak dihadapi oleh gereja-gereja Tuhan dewasa ini, tidak disebabkan karena “gereja berada dalam dunia,” melainkan karena “dunia berada di dalam gereja”? Inilah saatnya kita memeriksa diri dengan jujur, roh-roh apa yang bersemayam di gereja-gereja kita. Jangan-jangan adalah roh-roh dunia, yang kita beri baju Roh Kudus!

“Akulah,” kata Tuhan, “yang menguji batin dan hati orang, dan Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepadanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s