SMIRNA, KETIKA IMAN MENAGIH UTANG

Setelah Efesus, Smirna adalah yang kedua yang disapa oleh Roh Tuhan. Ini tidak mengherankan. Di dalam segala hal, keduanya bersaing ketat. Bila Efesus adalah yang “terbesar dan tersibuk,” Smirna adalah yang “teranggun dan terelok.”

Orang menamainya “kembang Asia.” Kadang-kadang, “mahkota Asia.” Aristides, dalam lirik pujiannya tentang kota ini, menulis, “Keagungannya menjangkau setiap relung bagaikan lengkung pelangi, kemilaunya menggapai sorga, menelusupi setiap rongga, berbinar-binar bagaikan pedang tembaga di tangan Homer.”

Yang membuat Smirna lebih menarik lagi adalah karena ia merupakan kota yang paling terencana, tidak awut-awutan seperti kota-kota kita. Bisa begitu, karena Lychimus membangunnya dari puing-puing kota lama yang telah 400 tahun luluh lantak akibat diguncang gempa dahsyat.

Jadi tidak kebetulanlah bila Tuhan memperkenalkan diri kepada jemaat di Smirna sebagai “Yang telah mati dan hidup kembali.” Ini menjelaskan riwayat hidup Yesus, tapi juga pengalaman Smirna sendiri.

Ada lagi–di samping yang lain-lain–yang membuat Smirna amat terkenal, yaitu kesetiaannya yang tak tergoyahkan kepada Roma. Cicero, sang pujangga, menyebutnya sebagai “sekutu kita yang paling lama dan paling setia.”

Suatu ketika, pasukan Roma menderita kelaparan dan kedinginan di medan tempur, penduduk Smirna serta-merta melepaskan jubah-jubah mereka lalu mengirimkannya ke sana. Kemudian, jauh sebelum Roma mencapai puncak kejayaannya, di Smirnalah untuk pertama kali dibangun sebuah kuil pemujaan Dewi Roma. Jadi, kota ini memang memiliki loyalitas sejati, jauh dari keinginan mencari muka atau menjilat kaki.

Smirna tidak cuma unggul di sektor niaga, politik, dan pariwisata. Ia juga hebat sebagai kota budaya. Stadionnya megah. Perpustakannya lengkap. Gedung teater dan musiknya canggih, dan sebagainya. Sebagai informasi tambahan, Homer adalah “anak Smirna.”

* * *

Membicarakan keistimewaan Smirna bisa tak ada habis-habisnya. Ini tentu tak akan kita lakukan. Akan tetapi, ada beberapa hal yang memang harus dikatakan.

Misalnya bahwa di kota ini hadir sebuah komunitas Yahudi yang cukup besar, kaya, dan berpengaruh. Kehadiran komunitas inilah yang menampilkan sosok Smirna yang samasekali lain, khususnya bagi orang-orang Kristen. “Mahkota Asia” yang elok ini tak lagi bagaikan kembang musim semi yang menyebar bau wangi ke mana-mana, tapi berubah menjadi raksasa bengis yang memuncratkan banyak darah ke segala arah. Darahnya para martir. Orang-orang Yahudi melihat “sekte Kristen” ini sebagai penyakit sampar yang amat berbahaya, yang mesti secepatnya dibasmi sampai tuntas-tas dan habis-bis. Supaya lebih efektif, mereka pun meminjam tangan penguasa Romawi.

Di kota inilah, di Smirna, penganiayaan terhadap orang-orang Kristen terjadi amat intensif, sangat kejam dan paling menumpahkan darah. Di kota inilah, di Smirna, kisah-kisah kepahlawanan para martir yang paling dramatis terjadi. Sebab itu saya sebut Smirna sebagai simbol keadaan, ketika iman menagih hutang, dan ketika mereka yang mengaku beriman mesti membayarnya–tunai. Smirna adalah representasi situasi tatkala kesetiaan diuji sampai ke batas, dan orang-orang percaya mesti membuktikannya–saat itu juga. Karena itu, Smirna adalah peringatan, betapa stiker-stiker seperti–We are a successful “family!”–tak selalu tepat kita lekatkan di kaca belakang mobil kita. Sebab kekristenan tidak cuma kisah sukses. Tidak cuma itu. Dan tak selamanya begitu.

Ini nyata pada kisah Polikarpus, Uskup Smirna, yang mati sebagai syuhada, pada hari Sabtu 23 Februari, tahun 155. Hari itu adalah hari raya. Kota Smirna penuh sesak. Orang-orang yang berjejal di stadion sedang berada di puncak keriaan dan keliaran mereka. Tiba-tiba terdengar teriakan, “Para ateis mesti dibasmi! Cari Polikarpus, lalu bawa ke sini!” Teriakan yang bermula dari salah satu sudut, segera membahana menjadi teriakan histeris seluruh arena.

Di mana Polikarpus? Sebenarnya dengan amat mudah ia dapat menyelinap ke luar kota dan menyelamatkan diri. Tapi ini tidak dilakukannya, sebab melalui mimpi ia memperoleh penglihatan tentang bantal yang terbakar. Ia yakin, “Aku akan dibakar hidup-hidup.” Tempat persembunyiannya diketahui setelah seorang budak Kristen, karena tak tahan siksaan, terpaksa mengaku. Polikarpus segera digelandang ke penjara. Tapi di sini ia memperoleh perlakuan yang baik. Sebab sampai kapten yang menjaganya pun tak ingin melihat orang baik ini mati.

Pada hari itu, dalam perjalanan pendek dari penjara ke stadion, kapten itu terus membujuknya, “Polikarpus, apa sih susahnya mengatakan ‘Kaisar itu Tuhan,’ mempersembahkan korban dan membakar dupa, tapi Anda selamat?” Toh Polikarpus bersikeras. Baginya hanya Yesus Kristus, dan tak ada yang lain, adalah Tuhan.

Ketika memasuki arena, konon terdengar suara dari sorga, “Kuatkan hatimu, Polikarpus, bersikaplah sebagai lelaki sejati!” Penguasa kota memberi kesempatan terakhir untuk memilih: mengutuki Kristus serta membakar dupa untuk Kaisar, atau mati. Menanggapi ini, meluncurlah jawaban Polikarpus yang amat terkenal itu, “88 tahun aku melayani-Nya, tak sekalipun Ia mengecewakan aku. Bagaimana mungkin aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkan aku?”

Penguasa Smirna balas mengancam dengan hukuman bakar, yang kembali ditanggapi oleh Polikarpus dengan gagah berani, “Anda mengancam aku dengan api yang menyala seketika lalu padam, karena Anda tidak mengenal api abadi yang tak pernah padam, yang menunggu orang-orang jahat di pengadilan yang akan datang. Anda tunggu apa lagi? Lakukanlah segera apa yang Anda mau.”

Mendengar itu, dibakar oleh rasa geram, berbondong-bondonglah mereka yang hadir, mengumpulkan kayu bakar dari mana-mana. Tarmasuk orang-orang Yahudi, walaupun mereka tahu hari itu adalah hari Sabat. Begitulah, saudara. bila kebencian telah menguasai akal sehat dan hati nurani. Walau mereka amat beragama.

Sewaktu mereka ingin mengikatnya, Polikarpus menolak. “Tak perlu,” begitu katanya, “Ia yang memberiku kekuatan untuk tahan terhadap api, pasti akan memberiku kekuatan untuk bertahan dalam nyalanya, sehingga pantang aku melarikan diri sekalipun kalian tak mengikatku.” Lalu api pun mulai berkobar, dan suasana hening meliputi arena. Semua yang hadir terpana mendengar doanya–bukan doa ratapan melainkan doa pujian!

“Ya Allah yang Maha Kuasa, Bapa dari Putra-Mu yang mulia dan tercinta, Yesus Kristus, yang melalui-Nya kami memperoleh pengetahuan yang penuh tentang Dikau; Allah semua malaikat dan kuasa; Allah segala ciptaan dan segenap keluarga orang-orang benar yang hidup di hadapan-Mu. Aku memuliakan-Mu karena telah Kaukaruniakan kepadaku hari ini dan saat ini, di mana aku diperkenan mengambil bagian, bersama-sama dengan para syuhada yang lain, minum dari cawan Kristus … Saat ini aku mohon, berkenanlah Dikau menerimaku sebagai korban yang layak, sama seperti Dikau telah menerima mereka … Maka aku akan memuliakanMu di dalam segala perkara. … Amin.”

Sampai di sini adalah fakta. Sedangkan yang berikut ini adalah legenda. Api besar yang berkobar-kobar itu konon justru menjadi tenda pelindung bagi Polikarpus. Sehingga untuk membunuhnya, seorang algojo harus menikamnya dengan pedang. Dan, menurut yang empunya cerita, dari lubang luka bekas tikam itu, keluarlah burung merpati dan darah yang amat banyak. Begitu banyaknya, sehingga memadamkan api yang menyala-nyala.

* * *

Berbeda dengan Efesus, saya akui, jemaat Smirna tidak memberikan kesan sebagai jemaat yang “wah.” Kesetiaan, saudara, biasanya memang tidak gilang-gemilang. Tapi kepada jemaat seperti inilah, dengan lembut Tuhan datang seraya menyapa, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu–namun engkau kaya. Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Setia sampai mati. Alangkah manis selalu kisah-kisah tentang kesetiaan, bukan? Tapi sekaligus, alangkah langkanya! Saya sempat bertanya-tanya, apakah kata itu masih tercantum di Kamus Umum Bahasa Indonesia. Apakah kesetiaan masih berharga dalam kehidupan pribadi Anda, dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, bakan bergereja kita?

Namun apa pun yang terjadi, anugerah Tuhan hanya bisa disambut dengan iman. Dan iman menuntut kesetiaan. Tak sedikit pun kurang dari itu. “Siapa bertelinga hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepadanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s