SARDIS, HIDUP PADAHAL MATI

Bila Anda ingin memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana gilang-gemilangnya masa silam yang bisa begitu kontras bagaikan siang dan malam bila dibandingkan dengan suramnya kenyataan sekarang, tak bisa lain, Sardis adalah contoh yang paling mencolok. Bila banyak kota lain, semakin tua usianya justru semakin tampak muda sebab terus-menerus diperbarui dan dibangun kembali, Sardis sebaliknya. Sardis adalah kota yang mengalami degenerasi. “Engkau dikatakan hidup,” kata Tuhan, “padahal engkau mati.”

Kurang lebih tujuh abad sebelum surat dalam kitab Wahyu ini ditulis, Sardis adalah salah satu kota terbesar di muka bumi. Sebuah metropolis. Di situlah raja-raja Sardian memerintah dengan kemewahan yang tak terbayangkan, apalagi terkatakan.

Legenda tentang kemakmuran dan kekayaannya membuat Sardis bagaikan sebuah negeri yang cuma eksis dalam dunia dongeng. Sungai Pactolus yang membelahnya, konon, mengalirkan emas. Lama setelah Sardis lenyap dari muka bumi, orang yang terlalu amat sangat kayanya masih disebut sebagai “sekaya Croesus.” Croesus adalah raja Sardis yang paling kaya.

Di masa pemerintahan raja diraja Croesus inilah, Sardis berhasil mencapai titik puncak kejayaannya, tapi sekaligus juga meluncur cepat bagaikan terjun bebas ke titik nadir. Hancur lebur. Kehancuran biasanya tidak terjadi tiba-tiba, maka wajarlah untuk bertanya: apa sih yang telah terjadi?

Sebenarnya mengenai kemungkinan akan hancurnya Sardis ini–walaupun waktu itu dianggap sebagai kemustahilan–Croesus telah diberi peringatan sebelumnya. Sayangnya, orang seperti dia, yang sedang mabuk kepayang oleh kesuksesannya sendiri, sedang tenggelam dalam “kejumawaan,” lazimnya sulit luar biasa untuk bisa menerima kabar buruk.

Pada suatu ketika, karena haus kuasa yang tak kunjung terpuaskan serta rasa yakin diri yang meluap-luap, Croesus memutuskan untuk menyeberangi Sungai Halys, dan memerangi raja diraja Cyrus dari Persia. Sebelum itu, ia terlebih dahulu meminta pertimbangan serta petunjuk dari seorang cenayang terkenal di kuil Delphi. Sang dukun, konon, menjawab, “Sekali Anda menyeberangi Sungai Halys, Anda akan membawa sebuah kerajaan besar ke kehancuran.”

Mendengar petunjuk itu, hati Croesus semakin mantap. Ia yakin, kali ini ia pasti akan berhasil memaksa negeri adikuasa itu bertekuk-lutut untuk selama-lamanya. Tak pernah sedikit pun terlintas di benaknya, bahwa ramalan itu sesungguhnya ditujukan kepadanya, bahwa kerajaan yang dibawa ke kehancuran itu tak lain adalah Sardis; bahwa yang akan membawa Sardis ke kehancuran tak bukan adalah Croesus sendiri; dan bahwa keputusannya untuk menyeberangi sungai Halys adalah awal dari proses keruntuhan tersebut. Ah, mana mungkin?!

Konon setelah menyeberangi sungai, Croesus segera dipukul mundur oleh Cyrus yang memang telah bersiap diri. Namun ini toh tak sedikit pun membuat Croesus berkecil hati.

Kegagalan kali ini, begitu pikirnya, hanyalah suatu sukses yang tertunda. Ia telah memperhitungkan semuanya. Ia akan membawa pasukannya kembali ke kota, mengurung diri rapat-rapat, dan dari situ menunggu saat yang tepat untuk menyerang balik.

Croesus telah menyiapkan stok logistik yang cukup, siap menunggu sampai bala tentara Cyrus kehabisan ransum. Pada saat itulah, ia akan melumat habis pasukan yang pasti lemas kelaparan itu. Taktik yang lumayan brilian, bukan?

Namun, Cyrus yang kenyang makan asam garam peperangan, bukan tak tahu akan siasat semacam itu. Ia segera mengadakan sayembara: barang siapa berhasil memberitahukan jalan masuk ke benteng Croesus yang terkenal tak bisa ditembus itu, akan diberi hadiah yang besar.

Hal yang tak terduga, yaitu yang diperkirakan tak mungkin terjadi, ternyata terjadi. Faktor “X” seperti inilah yang biasanya tak pernah diperhitungkan oleh orang-orang sesukses Croesus. Mereka hanya mengandalkan kalkulasi otaknya. Padahal tak semua peristiwa dalam sejarah ini berjalan sesuai dengan skenario otak manusia, bukan?

Seorang prajurit Persia secara tak sengaja melihat seorang prajurit Sardis keluar melalui sebuah celah sempit yang terdapat di tembok benteng yang tebal itu, guna mengambil kembali topi besinya yang terjatuh ke luar. “Bila orang bisa keluar dari situ,” demikian pikir prajurit Persia itu, “orang pun pasti akan bisa masuk dari situ.”

Hal ini ia sampaikan kepada Cyrus. Dan, benar, melalui celah sempit itulah, Cyrus kemudian memasuki kota, merangsek dan menghancurkan pasukan Sardis dalam waktu singkat. Kehancuran Sardis menjadi kian lengkap setelah Cyrus, untuk mencegah kemungkinan pemberontakan, melarang orang Sardis membawa atau memiliki senjata apapun.

Anak-anak Sardis hanya boleh dididik menyanyi dan menari, tidak boleh diajar berkelahi atau ilmu bela diri. Demikianlah, dengan perlahan tapi pasti, Sardis kian melapuk, mengalami degenerasi. Kelihatannya hidup, padahal mati.

Tragedi yang menimpa Sardis mengandung pelajaran yang amat berharga bagi kita semua, yaitu betapa kehancuran bisa tiba begitu mendadak, juga ketika orang sedang berada di puncak rasa keberhasilan dan kejayaannya. Solon, si orang paling bijak di Yunani, pernah datang berkunjung dan dipameri kehebatan serta kegemilangan Sardis. Akan tetapi, mata orang bijak tak pernah silau oleh penampakan luar semata.

Dengan peka Solon melihat bagaimana di balik rasa yakin diri yang berlebih-lebihan itu, Sardis sebenarnya sedang mengalami proses pembusukan yang tak tertahankan. Perjumpaannya dengan Croesus inilah yang kemudian memeteraikan ucapan Solon yang abadi, “Jangan katakan seorang pun sukses atau berbahagia, sebelum ia mati.” Yang penting bukanlah siapa yang bisa tertawa sekarang, melainkan siapa yang akan tertawa terakhir nanti.

Menurut pengalaman saya, tak ada kearifan hidup yang lebih penting untuk diingat daripada yang berikut ini. Satu, “Jangan cepat patah semangat tatkala gagal, dan jangan gampang tekebur menepuk dada tatkala sukses.” Dua, “Berharaplah akan yang terbaik, tapi bersiaplah untuk yang terburuk.” Karenanya, tiga, waspada, waspada, dan waspada! Setebal-tebalnya tembok dan benteng Sardis, ternyata mempunyai celah juga!

Dalam konteks keadaan seperti itulah, jemaat Tuhan di Sardis berada. Banyak enaknya. Sebab sepintas lalu, bila diamati dari luar, Sardis yang sedang repot memikirkan nasibnya sendiri tak punya minat untuk mengganggu kehidupan jemaat.

Sebab itu, berbeda dengan beberapa jemaat lain, jemaat Sardis tidak mengalami tantangan berarti baik dari dalam maupun dari luar. Aman terkendali. Namun, saudara, justru dalam keadaan “aman-aman saja” inilah, bahaya yang jauh lebih besar sesungguhnya sedang mengintai. Bahaya apa? “Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati.”

“Aku tahu segala pekerjaanmu,” kata Tuhan. Berarti jemaat ini penuh dengan kegiatan dan kesibukan. Yang rutin maupun yang istimewa. Namun, ingatlah, kualitas kehidupan sebuah gereja tak pernah bisa diukur hanya dari jumlah kegiatan serta kesibukannya. Kalau sibuk, yang harus segera dipertanyakan adalah sibuk apa?

Heran bin ajaib, jemaat Sardis relatif bebas baik dari gangguan bida’ah dan ajaran-ajaran sesat dari dalam, maupun dari tekanan penganiayaan dari luar. Namun bila kita pikirkan lebih mendalam, keadaan ini sebenarnya tidaklah terlalu mengherankan.

Di balik segala keburukannya, bida’ah dapat lahir karena hati yang mencari, dan otak yang berfikir. Memang cara mencarinya salah, dan apa yang mereka temukan menyesatkan. Ini amat kita sayangkan. Namun, otak yang berpikir dan hati yang terus mencari–for better or for worse–adalah tanda adanya kehidupan.

Jemaat Sardis bebas dari gangguan bida’ah, bukan karena kesadarannya yang murni tentang ortodoksi, tetapi semata-mata karena ia “hidup, padahal mati.” Karena otaknya berhenti berpikir. Karena hatinya malas mencari.

Jemaat ini juga relatif aman dari tekanan eksternal. Tapi kembali di sini, tak ada yang patut disyukuri ataupun dibanggakan dari kenyataan ini. Karena penyebabnya tak lain adalah, jemaat ini hanya kelihatannya saja hidup, padahal mati. Karena itu tidak dianggap sebagai bahaya atau ancaman. Tak perlu diperhitungkan. Kalaupun macan, macan kertas atau macan ompong.

Pengalaman jemaat Sardis dan peringatan Tuhan sebaiknya mendorong gereja-gereja Tuhan di Indonesia segera memeriksa diri. Kita sering dengan bangga mengatakan bahwa gereja Tuhan sedang mengalami kebangkitan yang luar biasa sekarang ini. Mudah-mudahan saja. Tapi benarkah?

Jangan-jangan kita cuma kelihatannya saja hidup, padahal mati. Isi kesibukan kita hanyalah bagaimana memperbesar, memperkaya, memperkuat dan memuaskan diri sendiri. Ibadah beruibah menjadi entertainment. Injil menjadi komoditas bisnis. Atas keadaan ini, saya katakan “Awas!” Orang yang kelewat gemuk amat rentan terhadap penyakit yang bisa menyerang tiba-tiba, dan fatal akibatnya.

Padahal Tuhan sudah mengingatkan, “Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu, karena secara demikian juga nenek-moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu” (Lukas 6:26) Gereja yang hidup dan penuh vitalitas, selalu berada di bawah serangan. Tidak aman-aman saja. Karena itu, biasanya tidak terlalu gemuk. Awas! “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepadanya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s