PERGAMUS, TEMPAT DI MANA IBLIS BERTAKHTA

Pergamus tidak sekaya Efesus. Tidak pula seindah Smirna. Namun begitu, toh ada yang menyebutnya, longe clarissimum Asiae, artinya, “kota paling kesohor di (provinsi) Asia.”

Betapa tidak. Penguasa datang dan pergi silih berganti, mulai dari Aleksander Agung dari Makedonia sampai Attalus III dari Roma, tapi selama hampir 400 tahun lamanya, ia mampu bertahan sebagai ibu kota.

Kota ini memang tak sesukses Efesus atau Smirna, dalam hal menjadi pusat niaga. Namun dalam hal budaya, o, jangan tanya. Pergamus mengungguli keduanya.

Perpustakaannya menyimpan tak kurang dari 200.000 gulungan naskah atau perkamon (berasal dari kata ‘pergamus’!). Cuma Aleksandria, yang memiliki perpustakaan terbesar di dunia, yang mampu mengalahkannya.

Di samping kota budaya, Pergamus adalah juga pusat agama. Paling sedikit ada dua tempat keramat yang paling terkenal, kondang sampai ke mancanegara.

Yang pertama, adalah kuil pemujaan bagi Zeus, dewa tertinggi serta termulia orang Gerika. Dan yang kedua adalah kuil pemujaan untuk Asklepios, sang dewa penyembuh nan sakti mandraguna. Karena ramainya orang dari segala penjuru dunia berkunjung serta berziarah ke kuil yang kedua, seorang penulis wisata menjuluki Pergamus sebagai “Lourdes-nya dunia masa lampau.”

Yang menarik adalah Wahyu Yohanes mencatat bagaimana Tuhan justru menyebut Pergamus sebagai “takhta Iblis.” Apakah ini disebabkan karena adanya kuil-kuil pemujaan itu?

Mungkin saja. Tapi agaknya bukan itulah alasan utamanya. Sebab bagaimana pun sesatnya dan bagaimana pun bejatnya yang dilakukan orang di dua kuil tersebut, pengaruh buruknya terhadap orang-orang Kristen nyaris tiada.

Yang lebih mungkin menurut saya adalah, terkait dengan kenyataan bahwa Pergamus adalah ibu kota provinsi. Sebagai pusat pemerintahan, tak terhindarkanlah Pergamus menjadi pusat kultus pemujaan kaisar. Apa dan bagaimana kultus ini sebenarnya?

Sepintas kilas, kultus ini memberi kesan sebagai praktik ritual yang cukup beradab dan tidak terlalu “jahat.” Namun dalam kenyataan, akibat robekan taringnya dan cakar mautnyalah, berjatuhan ribuan martir sebagai korban.

Bukan cuma dalam jumlah yang luar biasa banyak, tapi juga dengan cara yang luar biasa biadab. Masuk akallah, bila karena ini, Tuhan menyebutnya sebagai tempat kota di mana Iblis bertakhta.

* * *

Di atas telah saya katakan, bahwa sepintas lalu kultus pemujaan kaisar tidak memberi kesan jahat, atau sebagai sesuatu yang sangat mengganggu iman. Ditinjau dari sudut pandang tertentu, kultus ini lebih merupakan sebuah “ritus politik,” ketimbang sebuah “ritus keagamaan.”

Mirip-mirip upacara penghormatan bendera setiap tanggal 17 di negeri kita, atau sumpah setia kepada tanah-air seperti yang lazim di Amerika. Upacara “sekuler” yang, kecuali bagi sekelompok kecil orang-orang “ekstrem,” biasanya dianggap sebagai “tidak ada apa-apanya.” Artinya, boleh-boleh saja dilakukan, sebab tidak ada kaitannya dengan–dan karena itu tidak bakal mengganggu–integritas iman seseorang.

Awal mula kelahiran kultus ini adalah juga karena urgensi politis, yaitu bagaimana menjaga integrasi wilayah kekaisaran Roma yang luasnya meliputi tiga benua? Apakah yang dapat dijadikan pemersatu atau perekat batin yang efektif, bagi suatu masyarakat yang pasti luar biasa keaneka-ragaman agama, bahasa, dan budayanya?

Satu-satunya pilihan yang paling masuk akal dan bisa diterima oleh semua pihak adalah kaisar sebagai lambang pemersatu. Kesetiaan kepada kaisar dimanfaatkan sebagai pengikat solidaritas seluruh warga pax romana, yang diharapkan bisa mengatasi–tanpa menghilangkan–perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka.

Tuntutan pelaksanaan kultus ini ringan, fan caranya pun, sederhana, beradab, tidak berlebih-lebihan. Sengaja dibuat begitu agar tidak justru memancing keberatan dan perlawanan banyak pihak.

Setahun sekali, pada tanggal yang telah ditetapkan, setiap warga negara Roma diwajibkan datang ke kuil terdekat. Di situ, di depan patung sang Kaisar, ia diminta mengambil sikap hormat, membakar dupa, sambil mengucapkan “Caesar adalah Kurios.”

Setelah itu, mereka pun memperoleh kartu bukti yang menyatakan bahwa mereka telah melakukan kewajiban mereka. Beres. Mereka boleh pulang ke rumah mereka, atau ke mana saja. Sekeluar dari tempat itu, mereka bebas sebebas-bebasnya memuja dewa apa pun yang mereka percayai, dan dengan cara apa pun yang mereka yakini. Sama sekali tidak rumit, bukan?

Soal keharusan mengucapkan kalimat “Caesar adalah Kurios,” sebenarnya juga tak perlu dipermasalahkan benar. Sebab istilah “kurios,” walaupun bisa berarti “Tuhan,” juga bisa sekadar berarti “tuan.”

Seperti kata “lord” dalam bahasa Inggris, atau “heer” dalam bahasa Belanda, atau “gusti” dalam bahasa Jawa. Bisa dipakai untuk manusia, bisa pula untuk Tuhan. Tidak salah, bukan. menyebut kaisar itu “tuan”?

* * *

Tidak sedikit orang Kristen pada waktu itu yang memilih untuk bersikap “luwes” lagi “bijaksana.” Tak ada soal menyebutkan “tiga kata” itu.

“Bukankah orang Kristen mesti taat kepada negara dan hormat kepada raja?” begitu kilah mereka membenarkan diri. Saya membayangkan, dalih yang paling banyak mereka pakai adalah juga dalih yang paling sering kita pakai, yaitu “Yang penting kan apa yang ada di dalam hati kita. Tuhan pasti melihat hati kita, bukan cuma tangan kita atau mulut kita. Biar pun tangan kita membakar dupa, Ia tahu hati kita tidak meyangkali-Nya.”

Orang-orang yang “luwes” dan “bijaksana” ini umumnya bisa “survive” dan selamat di segala zaman. Walaupun tak bisa dipastikan, apakah hati mereka tenteram sejahtera.

Namun, sebagian orang Kristen lainnya memilih mengambil sikap yang mungkin kita sebut “radikal,” “ekstrem,” atau “kaku.” Orang-orang “kaku” ini, sungguh mati, menghormati kaisar mereka.

Menghormatinya dengan sepenuh serta setulus hati. Tidak sekadar menjilat kaki. Namun, mereka menolak menyebut kaisar sebagai “kurios.” Bukan karena mereka tidak tahu bahwa “kurios” juga bisa sekadar berarti “tuan.”

Mereka tahu itu, tapi mereka tidak mau menipu diri dan mencari-cari pembenaran. Bagi mereka, hanya Yesuslah satu-satunya yang layak mereka sebut “Kurios.” Tak ada yang lain. Dan tak bisa lain.

Tentu saja mereka juga tahu persis apa konsekuensi terburuk yang harus mereka pikul akibat sikap “kaku” mereka. Mereka tak menginginkan itu, tapi mereka tak punya pilihan lain.

Mereka tahu bagaimana dunia mencurigai orang yang “berbeda.” Tidak menyukai orang yang menantang arus. Mereka disebut “eksentrik” atau “fanatik.”

Dunia juga membenci orang-orang yang berusaha teguh pada pendirian dan prinsip, tanpa mau berkompromi. Orang-orang seperti ini dinamai “mbalelo” atau “keras kepala.”

Dunia menuntut konformitas atau penyesuaian diri, lebih menyukai “orang baik-baik,” ketimbang “orang baik.” “Orang baik-baik” itu penurut, sedangkan “orang baik” biasanya pembangkang.

Salahkah berkompromi atau menyesuaikan diri? Tentu tidak. Keduanya tak terhindarkan, selama kita mesti hidup bersma-sama dengan orang lain.

“Take and give,” saling memberi dan saling menerima. Tapi persoalannya bukanlah kompromi boleh atau tidak, melainkan seberapa jauh.

Yesus bukan orang yang “eksentrik,” yang ingin asal tampil beda. Tidak. Ia dikecam karena Ia hidup normal, makan-minum, dan bergaul seperti orang biasa.

Namun, Ia menolak bersikap munafik. Ia menolak menipu orang lain dan membohongi diri sendiri. Ia akan mengatakan “ya” untuk yang “ya,” dan “tidak” bila harus “tidak.” Ia mau kita juga begitu.

Kepada gereja di Pergamus, Tuhan berkata, “Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Ibils.” Dia tahu di mana kita berada, yaitu di tempat yang jauh dari ideal bagi keamanan dan kenyamanan iman kita.

Akan tetapi, Ia mau kita tetap di situ dengan kedua belah kaki kita, dengan sepenuh hati kita. Dan dengan syarat, “engkau berpegang kepada nama-Ku, dan tidak menyangkal imanmu kepada-Ku.”

Orang Kristen tidak perlu harus kaku seperti kayu. Baik juga bila Anda bisa lentur seperti bambu, tapi selalu setia pada prinsip.

Pantang membohongi hati nurani. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepadanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s