LAODIKIA, “NO TO STATUS QUO”

Akhirnya, tibalah kita ke jemaat ketujuh, jemaat terakhir, yang disapa Tuhan dalam kitab Wahyu. Jemaat Laodikia. Jemaat yang istimewa karena inilah satu-satunya jemaat–di antara tujuh yang disebut–yang tentangnya Kristus cuma mencela. Tak satu kalimat pun Ia memuji.

Ia padahal kita kenal begitu objektif dan selalu berpikir positif. Yang dianggap sampah oleh masyarakat, tanpa malu-malu Ia hargai. Musuh “bebuyutan”nya–orang-orang Farisi–walau habis-habisan Ia kecam kalau salah, toh tak segan-segan Ia puji bila memang pantas.

Akan tetapi, mengapa kali ini Ia berbeda? Seberapa “hitam”-kah jemaat Laodikia sebenarnya, sampai ia terpilih menjadi contoh buruk? Artinya, jemaat yang tak punya apa-apa untuk ditiru?

Kota Laodikia, di mana jemaat Tuhan yang “unik” ini terletak, didirikan oleh Antiokhus dari Siria untuk istrinya, Laodike. Sebagai kado untuk sang tersayang, wajarlah bila segala sesuatu diperhitungkan dan dipersiapkan sebaik-baiknya. Dan memang terbukti! Laodikia segera berkembang menjadi kota yang besar, ramai, dan terkenal. Ada tiga ciri khas kota ini yang membuatnya terkenal ke mana-mana.

Pertama, Laodikia terkenal sebagai salah satu pusat kegiatan perbankan dan keuangan terbesar. Karenanya, ia juga merupakan sebuah kota yang termakmur dan terkaya di dunia. Pada tahun 61, ketika terjadi gempa bumi hebat dan sebagian kota ini hancur, ia menolak bantuan dari luar karena merasa cukup kaya untuk membangun kembali dirinya sendiri. Itulah yang saya namakan “mentalitas Laodikia”: merasa tidak butuh siapa-siapa, kecuali dirinya sendiri.

Kedua, Laodikia termasyhur karena kerajinan pakaian jadinya, khususnya yang terbuat dari wol. Bulu domba eks Laodikia terkenal lembut, mengkilap, serta berwarna hitam keungu-unguan. Bulu domba itu amat indah dan anggun, terutama bila dikenakan sebagai jubah kebesaran. Inilah “mentalitas Laodikia” yang lain: begitu bangga dan yakin diri akan kecantikan dan ketampanannya. Obsesinya adalah dikagumi orang.

Ketiga, Laodikia juga kesohor karena mutu sekolah kedokterannya. Dua dokter alumni sekolah ini, Zeuxis dan Aleksander Filalethes, begitu menjulang reputasinya sehingga wajah dan nama mereka diabadikan di atas uang logam mereka. Namun, yang membuat prestasi medis kota ini lebih melambung lagi adalah salep mata dan salep telinga yang mereka produksi. Tidak heran, orang-orang Laodikia merasa diri sehat selalu. Pendengaran dan penglihatan mereka istimewa.

Kelebihan-kelebihan yang membanggakan ini membuat mereka lupa akan sisi kenyataan mereka yang lain, sisinya yang buram, yaitu betapa rentan dan rawan keadaan mereka sebenarnya. Misalnya, bagaimana untuk kebutuhan air mereka saja, mereka sepenuhnya harus tergantung dan dipasok dari luar. Berarti, sekali musuh berhasil menguasai sumber air, tamatlah riwayat mereka dalam sekejap.

Bukankah ini adalah pelajaran yang indah serta peringatan yang penting, agar kita tak pernah terlena, terbuai, atau terhanyut oleh rasa bangga, rasa bisa, dan rasa tak perlu siapa-siapa? Agar kita selalu menyadari bahwa setiap orang memiliki titik lemahnya masing-masing, sebab itu selalu waspada? Bahwa tak ada orang yang serba cukup pada dirinya sehingga tidak perlu siapa-siapa atau apa-apa lagi dari orang lain?

* * *

Tragis sekali, mentalitas Laodikia agaknya juga merambah masuk ke jemaat. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Anda salah sangka dan akan kecewa berat bila Anda menyangka bahwa cuma gerejalah yang meng-“garam”-i dunia. Di dalam kenyataan–for better or for worse–tak terhindarkan, dunia pun meng-“garam”-i gereja. Mengapa tak terhindarkan? Selama gereja berada di dalam dunia, interaksi antara keduanya adalah suatu keniscayaan.

Perjumpaan ini bisa mencelakakan, tapi juga bisa memperkaya dan mendewasakan. Gereja lalu dipaksa untuk terus-menerus merumuskan penghayatan imannya kembali, supaya dapat dipertanggungjawabkan di hadapan dunia, dan tidak digulung habis oleh dunia. Hanya bila perumusan imannya dapat dipahami oleh dunia, gereja bisa meng-“garam”-i dunia.

Tapi pada saat yang sama harus pula saya tekankan, bahwa gereja hanya dapat meng’garam’i dunia ini, kalau ia mampu menawarkan sesuatu yang lain dan yang lebih baik kepada dunia. Gereja yang sama saja dengan dunia, tidak berguna apa-apa bagi dunia. Dalam pengertian inilah, pertobatan tak boleh ditandai dengan sekadar berganti agama. Pertobatan menuntut perubahan yang radikal dan menyeluruh, termasuk perubahan mentalitas. Mentalitasnya mesti lain daripada mentalitas dunia.

* * *

Yang saya sebut terakhir inilah yang tidak terjadi di jemaat Laodikia. Mereka memang berhasil membangun sebuah jemaat yang relatif besar, kaya, dan indah. Namun pada dasarnya, mentalitas mereka masih mentalitas lama; “mentalitas Laodikia”. Merasa diri serbacukup, serbabisa, dan tak memerlukan apa pun dari siapa pun, termasuk dari Tuhan sekali pun. Tidak menyadari kerapuhan mereka sendiri.

Karena itulah, Kristus datang dengan kecaman yang sangat tajam, “Engkau berkata: Aku kaya dan aku tidak kekurangan apa-apa. Engkau tidak tahu bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang ….”

Kelihatannya kaya, tapi seungguhnya melarat. Bangga dan bahagia, tapi malang. Begitu yakin akan kemujaraban “salep mata” mereka, tapi seungguhnya buta. Begitu genitnya mereka berlenggak-lenggok dengan jubah wol kebesaran mereka yang lembut berwarna hitam keungu-unguan, mereka tidak merasakan ketelanjangan mereka. Bahwa untuk “air” yang mereka konsumsi sehari-hari saja, mereka begitu tergantung dari luar!

Belum pernah terjadi, Kristus begitu murka sampai Ia berkata, “Aku akan memuntahkan engkau dari mulutKu”. Orang yang mengenal jemaat Laodikia barangkali akan bertanya-tanya, “Yesus merasa muak dan mual terhadap jemaat yang sekaya, sebesar, secantik, setenteram itu? Mengapa?”

Yesus pun menjawab, “Karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas”.

Astaganaga, apakah kita tidak keliru dengar? Bukankah bagi banyak orang, jemaat yang “suam-suam kuku” seperti Laodikia, justru adalah jemaat yang ideal? Istilah yang dipakai adalah jemaat yang moderat; yang tenang; yang tidak terseret ke ekstrem kiri atau pun kanan. Yang betul-betul “gereja”; bukan cuma “sekte”. Yang betul-betul dewasa, tidak meledak-ledak lalu melempem bagaikan anak puber.

Salah besar! Saya seratus persen sepakat dengan William Barclay yang mengatakan bahwa kecaman Kristus terhadap jemaat di Laodikia mengingatkan dan memperingatkan gereja-gereja Tuhan masa kini akan tiga hal yang mahapenting.

Pertama, tidak ada sikap yang lebih dibenci Yesus–di samping kemunafikan–daripada “ketidakpedulian”. Seorang penulis dapat menulis sebuah biografi yang bagus, apabila ia benar-benar mencintai atau membenci subjeknya. Orang yang acuh tak acuh adalah orang yang paling sulit untuk diajak berurusan. Karena itu, persoalan terbesar bagi pemberitaan Injil di seluruh dunia, khususnya di Barat, dewasa ini, bukanlah karena orang menolak atau tidak percaya kepada Allah, tapi karena orang tidak peduli terhadap keberadaan-Nya. Sikap ada atau tidak ada Allah, sebodo amat.

Dan akhirnya, tidak ada yang lebih mengkhawatirkan bagi masa depan gereja daripada kecenderungan formalisme serta kecondongannya untuk mempertahankan status quo. Artinya, sikap “tidak mau repot” dan “tidak mau ribut”.

Gereja seperti ini begitu mencintai dirinya sendiri, dan hanya peduli akan rasa amannya sendiri. Berhenti menjadi gereja yang misioner. Karenanya, tak pantas lagi disebut sebagai gereja. Ia akan dimuntahkan dari mulut Yesus.

Kedua, bagi Yesus, tidak ada sikap yang lebih tidak kristiani daripada sikap netral, alias tidak mau bersikap atau enggan berpihak. Orang Kristen yang netral adalah orang Kristen yang tidak mau mengambil keputusan pribadi, tidak mau memikul risiko dan tidak bersedia membayar harga yang menjadi kewajibannya. Kekristenan yang hambar. Garam yang tawar hanya pantas untuk dibuang dan diinjak-injak orang.

Ketiga, tidak ada kecenderungan yang lebih berbahaya ketimbang kecenderungan untuk menjadi kekristenan yang konvensional yang kehilangan makna fungsionalnya baik ke dalam bagi orang-orang Kristen sendiri, apalagi ke luar bagi dunia. Jumlah orang Kristen di Indonesia memang cukup banyak, tapi apakah kekristenan punya dampak dan makna langsung dan nyata dalam hidup mereka?

Kekristenan yang kehilangan makna adalah kekristenan yang apinya telah padam, dan hanya menyisakan abu. Kekristenan yang telah kehabisan sarinya, dan tinggal menyisihkan sepah. Konon ada kata-kata Yesus yang tak terekam dalam Injil, “Siapa yang berada di dekat-Ku, berada di dekat api”. Tidak mungkin suam-suam kuku.

Kecenderungan menyukai status quo–tidak repot-repot dan tidak ribut-ribut–adalah kecendeungan universal. Orang merasa lebih aman dan juga lebih bisa diterima oleh sekitar.

Namun, sekali lagi, kekristenan status quo adalah kerkristenan abu; kekristenan sepah. Karena itu, kekristenan sampah. Makanan yang tidak panas dan tidak dingin mudah jadi busuk.

Berbeda dengan makanan yang sungguh-sungguh panas atau sungguh-sungguh dingin. Tidak heran Paulus mengingatkan, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala”. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepadanya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s