FILADELFIA, KEKUATANMU TAK SEBERAPA, NAMUN …

Dari antara tujuh kota yang disebut dalam kitab Wahyu, Filadelfia adalah yang termuda. Kota ini baru dibangun kurang lebih 150 tahun sebelum Kristus oleh raja Attalus II untuk menyatakan cintanya yang luar biasa kepada saudara laki-lakinya, Eumenes.

Karena itulah, ia diberi nama “Filadelfia”. Berasal dari sebuah kata dalam bahasa Yunani “philadelphos”, yang artinya: orang yang mencintai saudara (laki-laki)-nya. Sungguh romantis dan amat menyentuh hati, bukan?

Namun bukan cuma itu, tujuan Attalus II membangun kota. Sang raja bukan sekadar ingin ber”sentimentil-ria”, melainkan mempunyai tujuan yang lebih jauh dan lebih substansial.

Apa tujuan yang lebih substansial itu? Ini erat hubungannya dengan letak atau lokasi yang dipilih. Filadelfia tidak dibangun, misalnya, di daerah perbukitan yang berhawa sejuk dan berpemandangan indah. Tidak pula di wilayah pesisir, agar berpotensi untuk bertumbuh menjadi kota niaga yang ramai. di kelak kemudian hari.

Tidak! Dengan sengaja, Filadelfia dibangun tepat di titik-silang perbatasan tiga wilayah sekitar–Misia, Lidia, dan Frigia–yang walaupun masih tergolong satu negeri, namun sangat berbeda dalam latar-belakang budayanya. Attalus II mempunyai ambisi atau rasa keterpanggilan yang khusus: ingin menjadikan kota yang dibangunnya itu sebagai sebuah “kota misioner”.

Misioner? Ya, dan saya harap Anda tidak terlalu terkejut dengan istilah tersebut. Sebab yang saya maksudkan dengan “kota misioner” adalah sebuah kota yang mengemban sebuah misi atau tugas-panggilan tertentu.

Filadelfia, oleh raja Attalus II, hendak dijadikan ujung tombak sebuah misi yang besar dan mulia, yaitu menebar kebudayaan Yunani ke wilayah-wilayah sekitar. Ke wilayah-wilayah yang “belum-yunani” (baca: belum beradab), teristimewa daerah-daerah Lidia dan Frigia.

Dan dalam hal ini, Filadelfia boleh berbangga hati karena “misi yunanisasi” yang diembankan ke bahunya berhasil ia laksanakan dengan sukses. “Mission impossible” menjadi “mission accomplished”.

Dalam jangka waktu tidak lebih dari 100 tahun–ini berarti, tidak sampai dua generasi–,orang-orang Lidia telah berhasil di”yunani”kan. Dibuat sama sekali lupa akan tradisi serta bahasanya sendiri. Berubah menjadi 100 persen Yunani, malah mungkin lebih, sebagaimana lazimnya para petobat baru. Mereka kini bukan hanya berbahasa. tapi juga berfikir, merasa, bahkan bermimpi, seperti orang-orang Yunani!

Apakah hasil seperti ini kita nilai sebagai terpuji atau justru sebagai tragedi, tentu amat tergantung kepada siapa, bagaimana dan dari mana orang menilainya. Tapi apa pun penilaian kita, yang jelas adalah Filadelfia telah sukses dengan misi yang diembannya.

Dan yang lebih hebat lagi, ialah bahwa semua ini dilakukannya melalui jalan damai, tanpa darah yang tertumpah, tanpa benci yang tersemai.

“Filadelfia”, tulis Ramsay, adalah “pusat peresapan serta penyerapan bahasa dan budaya Yunani di tanah yang damai dan dengan jalan damai pula”. Benar sekali.

* * *

Sekali lagi, supaya tidak disalah-mengerti, saya menyatakan, bahwa tak ada sedikit pun niat saya di sini untuk mendiskusikan apalagi mempromosikan, apakah “yunanisasi” (seperti halnya “kristenisasi” atau “islamisasi” atau “sekularisasi” atau “kuningisasi”, serta “- isasi-isasi” lainnya) itu sebagai tindakan yang benar atau salah, baik atau jahat, dan sebagainya.

Ini tentu tidak berarti bahwa penilaian itu tidak penting. Dengan tegas saya nyatakan, bahwa pada satu waktu Anda dan saya, tak dapat tidak, harus membuat penilaian dan mengambil sikap yang jelas dan tegas terhadapnya.

Pilihan untuk tidak mengambil sikap, adalah sebuah sikap pula–sikap pengecut yang jauh dari terpuji! Yang saya maksudkan hanyalah, penilaian itu tidak kita lakukan pada saat ini, di sini, melalui tulisan ini. Anda dan saya dapat melakukannya di tempat lain, di forum lain, atau pada kesempatan lain.

Jadi tanpa bermaksud memberikan penilaian etis terhadap “yunanisasi” itu sendiri, saya cuma ingin menambahkan beberapa catatan yang ringkas, sederhana, tetapi saya anggap penting. Catatan saya yang pertama adalah, bahwa semua “-isasi” itu–betapa pun berbeda-beda tujuan dan isinya–pada hakikatnya satu saja esensi atau intinya, yaitu suatu upaya penaklukan.

Artinya, upaya untuk menarik pihak lain ke pihak si penakluk. Upaya agar yang ditaklukkan itu bersikap dan berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki si penakluknya.

Kata “penaklukan” barangkali memang kedengaran terlalu tajam, terlalu kasar, dan terlalu “tembak langsung”, teristimewa bagi telinga-telinga kita yang telah terbiasa dengan eufemisme. Namun, itulah yang sebenarnya terjadi.

Terlepas dari apakah ini baik atau buruk, semua bentuk interaksi antarmanusia dan antarkelompok–tanpa bisa kita hindari–sedikit atau banyak sebenarnya selalu mengandung unsur “penaklukan” tersebut! Apakah itu relasi suami-istri, orangtua-anak, atasan-bawahan, antaragama, antarkelompok,–semuanya mengandung unsur usaha takluk-menaklukkan. Hanya bentuk dan caranya saja yang berbeda-beda.

* * *

Catatan kedua saya adalah sukses Filadelfia memberi peringatan kepada kita bahwa upaya penaklukan yang paling efektif ternyata bukanlah melalui jalan militer, melainkan melalui jalan budaya; jalan tanpa kekerasan. Bukan dengan mengacungkan ujung sangkur atau menghunus kelewang. Bukan dengan jalan membayar massa berwajah sangar. Bukan pula dengan jalan adu banyak dalam membeli suara. Tapi dengan persuasi dan adu argumentasi. Dengan bajik menawarkan pilihan yang lebih baik, seraya memberi kebebasan kepada yang bersangkutan untuk dengan sebebas-bebasnya menentukan pilihan–tanpa tekanan.

Sebab itu, kita mengecam sekeras-kerasnya upaya “penaklukan” melalui jalan suap atau janji-janji yang menyesatkan. Baik ini terjadi di bidang politik, bisnis, maupun agama. Orang yang menganggap diri sukses karena menghasilkan banyak orang “Kristen supermi”, sebenarnya tidak memenangkan apa-apa untuk Tuhan.

Di sisi lain, kita juga menolak dengan sama tegasnya semua upaya penaklukan melalui pemaksaan kehendak; dengan membangun rasa takut, atau melalui cara-cara pamer kekuatan, apalagi cara-cara teror dan kekerasan. Ini bukanlah cara yang beradab dan berbudaya.

Seekor macan tidak dapat kita persalahkan karena melakukan kekerasan terhadap hewan lainnya. Akan tetapi mudah-mudahan Anda setuju, cara tersebut hanya pantas untuk hewan, tidak pantas dan tidak layak dilakukan oleh manusia yang berbudaya, apalagi beragama.

ADA hal lain yang menarik untuk diceriterakan mengenai Filadelfia. Pada tahun 17 di jazirah itu terjadi gempa bumi hebat yang menghancurluluhkan Sardis serta sepuluh kota lainnya.

Namun Filadelfia selamat, tidak ikut-ikutan hancur luluh. Toh ini tidak serta-merta berarti ia tidak menderita karenanya.

Luput dari gempa besar, selama bertahun-tahun lamanya, Filadelfia menderita akibat gempa-gempa susulan yang datang dan pergi. Selama itu pula, rasa waswas dan cemas menjadi pengalaman hidup mereka sehari-hari.

Hari ini bagian ini yang runtuh, esok hari bagian lain yang roboh. Banyak penduduk kota tidak berani kembali ke rumah mereka. Begitu, bertahun-tahun lamanya.

Bukankah ini juga menggambarkan warna kehidupan kita kadang-kadang? Tidak hancur luluh seketika, namun untuk jangka waktu yang cukup lama kita mengalami goncangan yang bertubi-tubi dan terus-menerus, akibat gempa-gempa susulan?

Menghadapi keadaan seperti ini, dua kemungkinan bisa terjadi. Kemungkinan pertama adalah pengalaman traumatis tersebut berhasil mematahkan semangat kita, membunuh rasa percaya diri kita, dan memadamkan api pengharapan kita. Saya teringat akan mereka yang akibat banjir besar tempo hari, lalu menjadi gugup dan gagap, setiap kali hujan mulai turun, apalagi bila terjadinya di malam hari.

Namun ada kemungkinan yang kedua. Orang justru keluar dari situasi kemelut itu, lebih perkasa, lebih tegar, lebih teruji. Seperti Bambang Tetuko keluar dari gemblengan maha berat di kawah Candradimuka, menjadi Gatutkaca yang terkenal berurat kawat serta bertulang baja.

* * *

FILADELFIA agaknya berhasil menempuh jalur yang kedua. Ia berhasil lulus dari ujian, dan berkembang menjadi sebuah kota yang amat besar.

Sejarah mencatat bahwa ketika bala tentara Kerajaan Turki (yang Islam) menggilas habis seluruh Asia Kecil, Filadelfia berhasil bertahan sebagai sebuah kota Yunani Kristen. Sampai abad 14, ia berfungsi sebagai benteng kekristenan yang terakhir di Asia kecil.

Di mana letak kekuatan ekstra Filadelfia? Tuhan bersabda, “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku”.

Secara objektif dan kuantitatif, kekuatan fisik jemaat Filadelfia memang tak seberapa. Usia mereka tidak seberapa. Bagaikan anak balita, mereka lemah dan rentan. Jumlah mereka pun tidak seberapa. Kecil sekali. Minoritas dari minoritas.

Pengaruh politik dan ekonomi mereka pun tak seberapa. Mereka pasti tidak mempunyai wakil di parlemen atau di kabinet. Tidak memiliki partai sendiri.

Namun, alangkah benar yang disabdakan Tuhan: kekuatan anak-anak Tuhan tidak terletak pada semua itu. Karena itu alangkah bodohnya, alangkah sia-sianya, dan alangkah mubazirnya, bila semua daya dan dana dikerahkan dan dicurahkan hanya untuk menambah jumlah penganut atau meningkatkan pengaruh sosial, politik atau ekonomi!

Kunci kekuatan orang Kristen tidak terletak di situ. Daya tahannya tidak bergantung dari faktor-faktor itu, tapi terletak di mana dan bergantung pada apa? Jawab Tuhan: pada ketaatan dan kesetiaan orang kepadaNya! “Namun engkau menuruti firmanKu dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.”

Alangkah tragisnya, sebab bukankah justru dua hal inilah yang paling sering kita abaikan? Demi menambah kekuatan, kita tega melanggar perintah-perintah-Nya, serta bertubi-tubi melukai hati-Nya.

Demi memperkuat diri, kita sampai hati menyangkali Dia dan mengorbankan integritas keimanan kita. Dan yang paling mencelakakan adalah, ketika kita berusaha mencari kekuatan dengan menyandarkan diri kepada “yang kuat”; menaklukkan diri kepada kehendak “yang banyak”; serta melacurkan iman serta keyakinan kita untuk menyenang-nyenangkan hati mereka “yang berkuasa”. Pada saat kita berpikir karena itulah kita kuat, sebenarnya kita hancur.

“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepadanya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s