Pemikiran Singkat Para Filsuf Dunia

Apa yang tak mampu membunuhku, hanya akan membuatku lebih kuat (NIETZSCHE)

Thales (+ 585 SM) :
“Segala sesuatu penuh dengan dewa” (kosmologi naturalistik). Air adalah prinsip pertama (kesatuan/monistik di balik keberagaman dunia).

Anaximander (+ 611-546 SM; pendiri Astronomi) :
Seorang metafisikawan monistik naturalistik yang meyakini bahwa substansi pertama adalah “Yang Tak Terbatas” : kesatuan primitif semua substansi.

Pythagoras (586-500 SM; pendiri komunitas persaudaraan rahasia) :
Kunci pemahaman tentang semesta terletak pada angka-angka, karena segala sesuatu adalah angka.

Siddharta Gautama (+ 563-483; pendiri agama dan filsafat Buddha) :
Empat kebenaran mulia: (1) Hidup adalah dukkha (penderitaan); (2) Sebab dari penderitaan adalah tanha (hasrat/kehendak dan kelekatan dengannya, yang darinya muncul ego); (3) Penderitaan dapat diatasi dengan memutuskan tali kelekatan; (4) Hal itu dapat dilakukan dengan mengikuti Delapan Jalan Kebaikan, yaitu: (1) Samma-ditthi (pengertian yang benar); (2) Samma-sankappa (maksud yang benar); (3) Samma-vaca (bicara yang benar); (4) Samma-kammarta (laku yang benar); (5) Samma-ajiva (kerja yang benar); (6) Samma-vayama (ikhtiar yang benar); (7) Samma-sati (ingatan yang benar); dan (8) Samma-samadhi (renungan yang benar). Segala sesuatu saling berhubungan dan dalam keadaan mengalir.

Lao Tse (+ abad ke-6 SM; pendiri Taoisme):
Menekankan kesederhanaan dan keselarasan irama alam semesta. Kebahagiaan hanya diperoleh dengan kehidupan yang selaras dengan Tao, yang merupakan sumber impersonal segala sesuatu, sekaligus alam yang berubah secara spontan. Berjasa atas ide-ide pokok Tao Te Ching (Jalan Kehidupan).

Socrates (470-399 SM):
Muak akan barang-barang material dan paham umum tentang kehidupan yang sukses. Ia mencari sophia, filsafat. Meskipun menyatakan hanya mengetahui satu hal yaitu bahwa ia tidak mengetahui apa-apa, ia sangat disegani karena kemampuannya dalam perdebatan dengan mematahkan argumen-argumen retoris dan cacat dari lawan-lawan debatnya yang merasa dirinya serba tahu.

Demokritus (+ 460-370 SM; pendiri atomisme Yunani):
Segala sesuatu yang ada terdiri dari ruang dan partikel-partikel kecil yang tak terhingga, tak terbagi, bersifat material yang disebut atom. Perbedaan benda-benda merupakan perbedaan bentuk, gerakan dan kedudukan dari atom-atom. Materi bersifat abadi dan energi tersimpan dalam sistem.

Plato (429-437 SM; pendiri sekolah filsafat Academia di Athena):
Kenyataan terdiri dari dua lapisan: dunia jasmani yang senantiasa berubah serta tak dapat diketahui dan dunia akali (ide/forma) yang abadi, tidak berubah dan dapat diketahui. Tujuan filsuf baginya adalah mencapai dunia kedua untuk memperoleh pengetahuan mengenai pengada-pengada seperti forma segitiga, keindahan (yang dipertentangkan dengan tiruan-tiruan duniawinya dari forma tersebut) dan keadilan (yang bertentangan dengan sistem yang tidak sempurna, seperti salah satunya yang menjatuhkan hukuman mati pada Socrates).

Aristoteles (384-322 SM; pendiri sekolah filsafat Lyceum):
Sangat peka terhadap perkembangan historis ide-ide, khususnya mengenai akal sehat, dan berusaha menghindari pola-pola yang ekstrem dalam filsafat. Raksasa pemikir Barat ini menguasai sekaligus mengembangkan sebagian besar cabang ilmu pengetahuan di zamannya dan meninggalkan pengaruh yang berkelanjutan dalam filsafat dan sains di kemudian hari. Ilmu logikanya masih diajarkan di universitas-universitas pada zaman ini. Dalam metafisikanya ia menolak pemisahan forma-forma Plato melalui analisis-analisisnya tentang materia, patensialitas, substansi, dan dunia teleologis secara umum. Dalam etika dan filsafat sosial, ia dikenal mempertahankan ajaran tentang posisi “tengah-tengah” dalam perbuatan manusia dimana ia menekankan keutamaan dan tanggung jawab moral, khususnya pada situasi-situasi tertentu dimana “keputusan terletak pada persepsi”.

Epicurus (341-270 SM, pendiri aliran Epicurianisme):
Epicurianisme adalah suatu cara hidup menempatkan kesenangan sebagai tujuan utama manusia, dan menganjurkan pencapaiannya yang maksimal dengan penderitaan yang seminimal mungkin dengan jalan menekan keinginan-keinginan yang “tidak perlu”, membangun persahabatan, dan menghilangkan ketakutan terhadap dewa-dewa maupun kematian.

Marcus Tulius Cicero (106-43 SM; orator dan negarawan Romawi yang memiliki minat besar pada filsafat):
Dalam teori politiknya, ia dikenal dengan keyakinannya pada hak asasi manusia dan persaudaraan antarmanusia. Dalam bidang etika, ia tertarik pada ajaran Stoa.

Lucretius (+ 99-55 SM; penyebar ajaran atomisme Epicurus):
Mengikuti Epicurus dalam materialisme tanpa syarat dan bahkan lebih jauh menolak agama dengan segala kejahatan yang dihasilkannya.

Marcus Aurelius (121-180 M; kaisar Romawi 161-180 M):
Karyanya berjudul Aphorisme (ungkapan-ungkapan bijak) berisi refleksi umum yang menunjukkan pengaruh Epictetus yang bernada Stoa. Ajarannya antara lain tentang rasa cukup diri individu menghadapi permusuhan, semesta dan kewajiban menjalankan tugas.

Plotinus (205-270; neo-Platonis terbesar):
Meyakini bahwa realitas ini muncul dari sumber yang bersifat transenden dan tak terlukiskan yang disebut Yang Esa. Yang Esa itu melampaui ada, dan segala sesuatu muncul dari dari-Nya melalui emanasi. Emanasi pertama adalah Nous (akal), yang kedua Jiwa-Dunia yang bersamanya jiwa-jiwa manusia muncul, dan yang ketiga adalah Materi.

Agustinus (354-430; filsuf besar Kristen pertama):
Tuhan sebagai pengada tertinggi yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan; bahkan waktupun belum ada sebelum penciptaan. Kejahatan tidak diciptakan Tuhan karena pada hakikatnya kejahatan itu tidak ada. Pengetahuan manusia hanya dapat terjadi melalui pencerahan budi. Namun sejak Adam tergelincir ke bumi, maka manusia hanya dapat terbebas dari dosa jika rahmat-Nya memulihkan kekuatan untuk melakukan kebaikan.

Anselmus (1033-1109; pengikut tradisi Agustinian):
Dikenal sebagai perumus “argumen ontologis” tentang keberadaan Tuhan. Yakni diawali dari definisi tentang Tuhan sebagai Pengada terbesar yang dapat dipahami yang bersifat niscaya adanya. Sebab kalau tidak demikian, sangat mungkin berfikir tentang adanya Pengada yang lebih besar lainnya yang benar-benar ada. Ia menerima asumsi neo-Platonis bahwa kesempurnaan absolut memuat eksistensi.

Thomas Aquinas (1225-1274):
Mencoba membangun sintesis antara filsafat Aristotelian dan pemikiran Kristen dimana kebenaran-kebenaran iman dan rasio saling mendukung dan melengkapi. Dikenal dengan “lima jalan” pembuktian adanya Tuhan. Metafisikanya membedakan antara esensi benda (apa-nya) dan eksistensinya (kenyataan bahwa ada). Hukum-hukum manusia menurutnya harus berdasarkan pada hukum abadi, dimana aturan-aturan dari Budi Ilahi mengelola alam semesta.

John Duns Scotus (1266-1308):
Menekankan keunggulan kehendak baik dalam diri Tuhan maupun manusia. Dengan budinya, manusia mampu membuktikan keberadaan Tuhan sekaligus mengetahui sifat-sifat-Nya tanpa harus menggunakan analogi-analogi. Budi tidak mampu menjelaskan maksud Allah dan keabadian jiwa. Aturan dan tatanan etis tidaklah baik secara intrinsik, melainkan baik karena dikehendaki oleh Tuhan.

William Ockham (1285-1349; ahli logika):
Terkenal dengan prinsip “pisau cukur Ockham”: bahwa apa yang dapat dijelaskan dengan prinsip yang lebih sedikit tidak perlu lagi dijelaskan dengan prinsip yang lebih banyak. Membela nominalisme yang memandang sifat-sifat universal semacam kelurusan dan kebaikan sebagai bukan esensi suatu substansi, melainkan sekedar nama dari sifat yang mirip dengan substansi itu.

Francis Bacon (1561-1226; pendiri Royal Society):
“Pengetahuan adalah kuasa”. Pengetahuan diperoleh melalui pengamatan alam dengan metode induktif yang sistematis.

Thomas Hobbes (1588-1679 M):
Hanya badanlah yang ada dengan sifat utamanya berupa gerak. Pikiran adalah gerakan dalam badan dan dengan mengkaji gerakan badan, kita memahami kenyataan. Dikenal sebagai bapak Totalitarianisme modern karena mengajarkan bahwa hakikat manusia adalah berwatak mementingkan diri sendiri sehingga prinsip sosial yang berlaku: “perang semua melawan semua”, hingga terciptanya masyarakat sipil melalui kontrak sosial. Para penguasa tidak terikat oleh kontrak tersebut, dan agama baginya harus berada dalam kontrol negara.

Rene Descartes (1638-1715; rasionalis Perancis):
Cogito ergo sum adalah prinsip filsafat yang dipercaya paling pasti dan dapat digunakan sebagai dasar untuk mempertahankan dualisme dan interaksionisme.

Benedict Spinoza (1632-1677):
Mencari kepastian dengan metode filsafat “geometris”-nya. Menerima monisme dan panteisme. Hanya Tuhan yang bebas. Tuhan mempunyai dua hakikat/sifat yang terpisah yang berjalan secara paralel, yaitu: pikiran dan keluasan. Menerima etika teleologis dan mempertahankan pendirian bahwa kebaikan tertinggi bagi manusia adalah mengetahui tempatnya sendiri di dalam semesta ini.

John Locke (1632-1704):
Akal budi hanya mampu mengetahui ide-idenya sendiri. Saat lahir, akal manusia seperti “papan kosong” yang belum terisi. Semua ide bersumber dari sensasi atau pengalaman dengan dunia materiil. Dikenal sebagai seorang pembela ide-ide demokrasi.

Nicolas Malebranche (1638-1715; rasionalis Perancis):
Mencoba mensintesakan pemikiran Descartes dan Agustinus. Menerima dualisme tetapi menolak interaksionisme dengan mendukung paralelisme psiko-fisik. Akal budi tidak dapat melihat adanya hubungan niscaya antara sebab dan akibat dalam peristiwa alamiah, karena Tuhan-lah sebab yang sebenarnya dari segala sesuatu. Sebab-sebab alamiah tak lebih dari “kesempatan” bagi aktivitas kausal Tuhan.

Gottfried Leibniz (1646-1716; rasionalis Jerman):
Realitas terdiri dari monad-monad (unit-unit kekuatan) yang tak terhingga jumlahnya, yang “tanpa jendela”, “cermin yang hidup”. Monad-monad tersebut bertindak karena sebab-sebab internal dimana sebab finalnya adalah prinsip dasar memadai (Tuhan dan kehendak-Nya untuk menciptakan dunia yang terbaik dari segala kemungkinan).

George Berkeley (1685-1753; empirisis dan idealis subyektif):
Dengan menyatakan esse est percipi, ia meyakini bahwa objek persepsi bukanlah substansi material, melainkan ‘ide-ide” atau kumpulan sensasi yang tidak mungkin ada tanpa dipersepsi. Ide-ide yang dipersepsi adalah persepsi yang dalam budi Tuhan dikomunikasikan kepada kita.

Francois-Marie Arouet De Voltaire (1694-1778):
Filsuf dan novelis Perancis yang kerap diidentikkan dengan Penyerangan. la diingat hingga zaman ini, terutama karena serangan-serangannya terhadap optimisme filosofis, terutama pernyataan Leibniz bahwa dunia ini adalah “dunia terbaik yang mungkin ada”. la juga dikenal karena serangannya yang melecehkan gereja katolik, hirarki, doktrin-doktrin kristen, fanatisme, serta karena kampanyenya yang menuntut reformasi sosial dan yuridis. Dia seorang deis, yang membela adanya Tuhan, yang membuat dunia dengan tujuan tertentu. la mempercayai adanya rahmat umum, dan menekankan doa tidak mengubah hukum alam yang abadi, tidak pula menolak derita.

David Hume (1711-1776):
Empirisis dan skeptis asal Skotlandia ini berpandangan bahwa semua ide berasal dari kesan. Tidak ada kesan mengenai sebab dan akibat, maka tidak memiliki pembenaran rasional untuk menyimpulkan bahwa masa depan akan seperti masa lampau. Tidak ada kesan terhadap diri, tidak dapat membuktikan keberadaan Tuhan.

Jean Jacques Rousseau (1712-1778):
Filsuf, ahli teori politik, dan novelis, yang membandingkan antara artifisialitas, kemunafikan, dan penipuan masyarakat pada zaman itu dengan keutamaan, kesederhanaan, dan kepolosan primitif orang-orang biadab yang luhur. Masyarakat seringkali sekadar untuk memperoleh kebebasan dengan cara menerima belenggu, yang menukar ketidakadilan moral dan politik dengan ketidakadilan fisik atau natural. Dalam kontrak sosial, idealnya semua anggota masyarakat mengalihkan seluruh haknya kepada komunitas atau “kehendak umum”, suatu kehendak bersama guna menjaga pemeliharaan dan kesejahteraan dari keseluruhan dan masing-masing bagiannya. Aktivitas yang sesuai dengan kehendak inilah yang dapat disebut sebagai adil.

Immanuel Kant (1724-1804):
Dialah filsuf Jerman yang membuat sintesis antara rasionalisme dan empirisisme. Akal budi aktif dalam persepsi dan tindakan tersebut membantu membentuk dunia yang kita alami dan ketahui. Benda-benda dalam dirinya sendiri, terlepas dari pengalaman, tidak dapat diketahui. Dalam bidang etika, Kant adalah seorang deontolog yang meyakini bahwa kewajiban kita adalah menaati prinsip-prinsip yang secara universal dapat diterapkan kepada semua pengada rasional tanpa kontradiksi.

G. W.F. Hegel (1770-1831, filsuf Jerman, pendiri Idealisme Absolut):
Baginya, “yang riil adalah yang rasional” dan “akal budi adalah prinsip formatif dari semua kenyataan”. Tujuan sejarah adalah pembebasan Roh dari keterikatannya dalam alam guna mencapai “Yang Absolut”, kesatuan organis yang meliputi segala sesuatu dan sadar diri. Individu sebagai individu tidaklah penting. la terkenal karena analisis dialektisnya tentang sejarah dan ide-ide, dimana ia merunut bagaimana suatu pendirian atau lembaga yang terdahulu dirongrong dan mengarah untuk melampaui dirinya sendiri dan menuju sintesis baru.

Arthur Schopenhauer (1788-1860):
Idealis Jerman yang pandangan hidupnya sangat pesimistis. baginya, “kehendak untuk hidup” merupakan realitas fundamental. Ketika terperangkap dalam kehendak untuk hidup, maka manusia menghabiskan hidupnya dalam keterombang-ambingan antara keinginan-keinginan yang menyakitkan dan usaha melepaskan diri dari derita, yang pada akhirnya hanya akan melahirkan kebosanan. Normalnya, akal budi mengabdi kehendak yang buta dan gelisah ini, tetapi ia dapat melepaskan diri dan melibatkan diri pada kontemplasi estetis. Dalam saat-saat kontemplasi semacam itulah sebenarnya kita benar-benar bebas. Semua fenomena, termasuk tubuh manusia, tidak lain adalah “kehendak yang diobjektifkan”.

John Stuart Mill (1804-1873):
Dikenal luas karena mengembangkan dan menyebarkan ajaran etika utilitarianisme. Mempertimbangkan kualitas, di samping kuantitas, dari konsekuansi-konsekuensi yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ia membela kebebasan dengan menegaskan “satu-satunya tujuan dimana manusia dijamin, secara individual maupun kolektif, dalam mencampuri kemerdekaan orang lain adalah perlindungan diri”. Ia membela gerakan feminisme, yang menentang adanya pembatasan terhadap wanita baik secara legal maupun sosial.

Soren Kierkegaard (1813-1855):
Filsuf Denmark, bapak eksistensialisme. Tugas paling berat setiap orang menurutnya adalah menjadi seorang individu. Menjadi individu berarti mengenali keunikannya sendiri, menghadapi keharusan untuk mengambil keputusan sendiri, dan terutama melakukan “lompatan iman’”.

Karl Marx (1818-1883):
Bersama Frederich Engels mendirikan tradisi “kiri” dalam pemikiran politik. Mengkombinasikan aspek-aspek dialektik Hegel dengan materialisme atheis Feuerbach, dan menyatakan bahwa hanya melalui revolusi kaum pekerjalah orang dapat menerima emansipasi. Karya-karya awalnya menunjukkan perhatian yang sangat dalam kepada akibat industrialisasi yang memerosotkan martabat manusia. Dengan revolusi, secara ideal akan muncul masyarakat tanpa kelas, pergantian dari milik pribadi menjadi kepemilikan komunal, dan secara perlahan terhapusnya negara.

Charles Sanders Peirce (1839-1914):
Bapak filsafat Amerika dan pendiri pragmatisme mengatakan, “Tidak ada perbedaan makna yang sedemikian jelas dalam segala sesuatu selain perbedaan pelaksanaan (praktis)”. la menerapkan teori makna pragmatis ini secara luas dalam kegiatan ilmiah dan praktis. Berpendapat bahwa ilmu pengetahuan menawarkan satu-satunya metode yang sesuai untuk memperoleh pengetahuan tentang dunia. Seluruh keyakinan kita pada dasarnya dapat salah dan selalu dapat direvisi berdasar pada bukti-bukti yang tidak lengkap dan berubah-ubah.

William James (1842-1910):
Mempopulerkan pragmatisme, khususnya dalam bidang moralitas dan kepercayaan agama. Jika konsekuensi-konsekuensi psikologis, moral, dan/atau sosial dari suatu keyakinan itu baik, maka keyakinan tersebut dapat disebut rasional, meskipun tidak dapat dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. “Kebenaran hanyalah jalan yang berguna dalam cara berpikir kita, sebagaimana hak hanyalah jalan yang berguna dalam cara berperilaku kita”. Artinya, kebenaran tergantung pada apakah keyakinan kita dapat berfungsi dan diterapkan dengan baik atau tidak.

Friedrich Nietzsche (1844-1900):
Filsuf Jerman yang sering dimasukkan sebagai seorang eksistensialis karena penekanannya pada individu dan penolakannya terhadap massa, dan juga setiap pandangan tentang kebenaran dan nilai tersebut. Prinsip metafisik fundamentalnya adalah kehendak untuk berkuasa (will to power). Menurutnya, ada dua jenis nilai dalam kehidupan manusia, yaitu nilai-nilai yang diciptakan oleh golongan Iemah (”moralitas budak”) dengan menjunjung tinggi keutamaan-keutamaan semacam belas kasih, cinta altruisme, dan kelemahlembutan, serta nilai golongan kuat (”moralitas tuan”) dengan keutamaan semacam kekuatan dan keberanian. Konsep Nietzsche tentang ‘manusia super’ akan menciptakan nilainya sendiri dan menegaskan kehidupan. Menolak anti-Semitisme dan mereka-mereka yang dijuluki sebagai “lembu-lembu terpelajar” yang telah menginterpretasikan “manusia super” dalam pengertian biologis.

Francis Herbert Bradly (1946-1924):
Percaya akan adanya sesuatu yang Absolut dan terbebas dari semua kontradiksi. Pikiran tidak mampu memahami kenyataan tertinggi. Menolak formalisme kosong Kantian tentang “kehendak baik”. Mengidentikkan kehendak baik tersebut dengan kehendak universal, kehendak dari organisme sosial. “Lingkungan saya dan kewajiban-kewajibannya memberi isi bagi kehidupan moral saya.”

Josiah Royce (1855-1916):
Sangat dipengaruhi oleh absolutisme Hegelian, namun juga menaruh simpati cukup dalam terhadap pragmatisme, Royce mengembangkan perpaduan yang unik antara keduanya. Menekankan individualisme diri manusia, sekaligus menyadari bahwa diri individual manusia merupakan bagian dari komunitas diri-diri yang Iebih luas –teman, keluarga, rekan kerja– yang masing-masing menginterpretasikan diri kepada yang lain. Mencoba menerjemahkan ide-ide kristen tentang dosa dan pengampunan kedalam istilah-istilah komunal dan menawarkan suatu cara untuk mengatasi penyakit yang terlalu berpusat pada diri sendiri, alienasi, dan kejahatan, melalui kesetiaan kepada Komunitas Besar/Tercinta.

Edmund Husserl (1859-1938; filsuf Jerman, pendiri fenomenologi):
Menelaah intensi-intensi sadar subjek melalui investigasi ekstensif. Menekankan deskripsi murni terhadap objek atau tindakan apapun yang tampak atau nyata dalam medan kesadaran, misalnya karya seni, angka, pertimbangan, imajinasi. Metode dan deskripsinya telah diterapkan pada dasar-dasar logika, psikologi, ilmu-ilmu sosial, analisis teks sastra, dan juga seni.

Henri Bergson (1859-1940):
Filsuf Perancis, kadang-kadang dijuluki “filsuf proses” yang menekankan nilai penting dari perubahan evolutif oleh sebuah daya kreatif (elan vital). Menolak pandangan ekstrem dualisme maupun materialisme, dan menyatakan bahwa suatu metafisika yang tepat bagi kita harus mencakup pengalaman tentang waktu yang berkelanjutan dan mengalir sekaligus harus menghindari perangkap pola mekanistik atau waktu “jam” yang tersusun atas kumpulan momen-momen yang terpilah. Dalam epistemologi, banyak menekankan intuisi dan keterbatasan pengetahuan intelektual.

John Dewey (1859-1952):
Pemuka gerakan pragmatisme dalam konteks luas di Amerika ini memahami tujuan utama filsafat adalah menyelesaikan persoalan masyarakat demokratis dengan menggunakan metode ilmiah. Mengajarkan falibilisme dan mempertahankan demokrasi atas dasar bahwa demokrasi menyediakan kemungkinan kondisi terbaik untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia pada umumnya. Dalam pendidikan menekankan pentingnya mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan praktis daripada semata-mata menghafalkan fakta-fakta.

Alfred North Whitehead (1861-1947):
Metafisikawan terbesar sekaligus pendukung utama filsafat proses ini menekankan sebuah semesta dimana perubahan, kreativitas, dan saling ketergantungan tercermin dalam pengalaman langsung. Proses adalah perkembangan kreatif dimana semua kejadian “kesempatan-kesempatan aktual” muncul, berkembang dan mati melalui penyerapan kedalam keturunannya. Perubahan yang tertata tersebut dimungkinkan melalui interaksi dengan alam objek-objek abadi. Tuhan mempengaruhi dunia, dan sekaligus dipengaruhi olehnya.

Bertrand Russel (1872-1970):
Bersama Whitehead mengembangkan sistem logika simbol yang revolusioner, dan ia menyatakan bahwa logika adalah dasar bagi matematika sekaligus metode paling tepat bagi filsafat. Teorinya tentang deskripsi dan denotasi merupakan paradigma bagi analisis logis, yang menunjukkan bagaimana para filsuf dapat terseret oleh kesalahan logis ke dalam pandangan metafisik keliru. Metafisika atomisme logisnya ditarik dari sistem logikanya sendiri. Dalam epistemologi, ia dikenal karena dukungannya yang kuat terhadap empirisisme, pembedaannya antara pengetahuan karena pengenalan dan pengetahuan karena deskripsi, serta klaimnya bahwa objek-objek fisik adalah hasil konstruksi logis dari data inderawi.

George Edward Moore (1873-1958):
Menolak idealisme neo-Hegelian dan menggantikannya dengan suatu filsafat akal sehat yang realistis. Proposisi-proposisi akal sehat tentang waktu, ruang, objek material, dan orang diketahui kebenarannya secara pasti. Tugas filsuf adalah menganalisis makna proposisi-proposisi tersebut. Ia dikenal pula sebagai seorang tokoh perintis analisis bahasa.

Karl Jaspers (1883-1969; eksistensialis Jerman):
Manusia dalam pemikirannya secara ideal mencari transendensi, mengatasi diri sendiri serta rutinitas keseharian yang monoton. la melukiskan batas-batas tentang persoalan transendensi diri, yang dipahami sebagai kematian, penderitaan, perjuangan/cinta, dan rasa bersalah. Hal-hal tersebut berperan sebagai sumber tema-tema utama sebagian besar komunikasi dan interaksi manusia, sebagaimana terdapat dalam karya-karya sastra. Hal-hal tersebut merupakan sumber makna kehidupan. Ketika transendensi diri gagal dalam skala besar, kita akan menemukan kecenderungan-kecenderungan atau gerakan massa yang irasional, seperti totalitarianisme.

Ludwig Wittgenstein (18S9-1051):
Tokoh yang belajar dan mengajar di Inggris ini dikenal sangat mempengaruhi filsafat analitis dan linguistik abad XX. Pada awalnya ia mencurahkan pemikiran pada dasar-dasar matematika dan hakikat representasi linguistik. Mengembangkan sebuah teori gambar tentang bahasa, dan membedakan secara tajam antara apa yang dapat dikatakan secara persis (wilayah ilmiah) dan apa yang hanya dapat ditunjukkan secara mistik (wilayah mistik). Ide-idenya juga sangat berpengaruh kepada para positivis logis dengan pandangannya bahwa pernyataan matematis adalah tautologi, dan bahwa teori-teori metafisik melanggar batas-batas ucapan yang bermakna. Pemikirannya pada masa-masa akhir banyak yang menyangkal ide-idenya terdahulu. Makna adalah penggunaan dalam permainan bahasa. Kata-kata tidak memperoleh makna dengan menunjuk esensi universal, melainkan lebih-lebih dapat diterapkan atas dasar kemiripan hubungan yang longgar sifatnya, dan bahwa tidak ada bahasa pribadi yang dapat menunjuk pada pengalaman akal budi yang ada di dalam diri dan tak dapat dijangkau publik.

Gabriel Marcel (1889-1964):
Fenomenolog dan eksistensialis Perancis ini mengkonsepsikan tugas filsafat sebagai upaya melukiskan apa artinya berada dalam suatu situasi kongkret, dengan sedapat mungkin menghindari abstraksi-abstraksi, stereotip-stereotip, serta norma-norma statistik. Eksistensi manusia memiliki sejumlah kunci atau rujukan pada “misteri pengada” (seluruh realitas), yang tidak tercakup oleh sistem pemikiran apapun juga. Di antara kunci-kunci ini adalah tubuh manusia, pertentangan memiliki vs menjadi, komitmen, partisipasi vs penonton, kesetiaan kreatif, serta perjumpaan dengan orang lain sebagai pribadi dan bukan sekedar sebagai objek.

Martin Heidegger (1889-1976):
Dikenal sebagai seorang fenomenolog Jerman yang juga tekun mengembangkan berbagai tema eksistensialisme. Manusia menurutnya adalah sebuah “ada di dunia”. Melalui partisipasi dan keterlibatan di dalamnya, dunia membentuk ada kita. Eksistensi kita ditandai oleh tiga bentuk dasar: faktualitas (keterlibatan kita dalam dunia), eksistensialitas (proyek sepanjang waktu untuk merangkum ketegangan antara kita yang dulu dan kita yang mungkin ada), dan kejatuhan (kecenderungan untuk hanya sekedar hidup tanpa mewujudkan potensi kita). Melalui kegelisahan kita bertemu dengan ketiadaan dan keterbatasan, namun melalui kebebasan dan kebutuhan untuk memilih kita dapat maju kearah eksistensi yang autentik.

Gilbert Ryle (1900-1976):
Filsuf linguistik Inggris yang dikenal karena serangannya tehadap pemahaman dualistik Cartesian tentang jiwa.

Jean-Paul Sartre (1905-1980):
Terkenal karena mempopulerkan eksistensialisme melalui tulisan, drama, novel, dan cerpen yang dibuatnya. la menyangkal adanya “hakikat” manusia yang ada mendahului pilihan individual. Individu menciptakan hakikat mereka sendiri melalui pilihan dan tindakan bebas mereka. Eksistensi mendahului esensi. Meskipun mengenali masalah-masalah yang dibuat individu satu sama lain dengan maksud jahat –”Nerakalah orang lain”– ia memfokuskan perhatiannya pada bagaimana struktur ciptaan manusia semacam lembaga-lembaga dapat secara serius membatasi dan melemahkan kebebasan.

Simone de Beauvoir (1908 – …):
Eksistensialis, novelis, dan feminis Perancis yang menjadi terkenal karena analisisnya mengenai bagaimana kaum perempuan telah disingkirkan secara sistematis dalam peran mereka sebagai “yang lain” dan mengenai akibat buruk cara pendidikan anak perempuan. Menyoroti bagaimana masyarakat beserta lembaga dan struktur yang ada dapat menghambat kesadaran diri dan kebebasan individu. Mengecam orang yang mencoba menyembunyikan kebebasannya dari dirinya sendiri, atau orang yang menolak bertindak menurut kebebasan dan kebebasan orang lain; semua itu dianggapnya tak bermoral.

Alfred J.Ayer (1910-…):
Filsuf Inggris, anggota Lingkaran Wina selama tahun 1920 hingga 1930-an, yang membawa ide-ide para positivis logis ke dunia bahasa Inggris. la memenangkan prinsip “verifiabilitas”, yang menuntut bahwa agar sebuah proposisi bermakna, ia harus dapat diverifikasikan secara empiris. Pernyataan matematis adalah tautologi yang tidak memberikan keterangan apapun kepada kita tentang dunia. Ungkapan etis tidak lebih dari ekspresi emosi. Pernyataan religius dan metafisik adalah ekspresi tak bermakna dan kosong dari isi kognitif.

Albert Camus (1913-1960):
Filsuf eksistensialis, jurnalis, dan novelis Perancis keturunan Aljazair ini membaca alam raya sebagai sosok yang angkuh dan tak peduli terhadap keprihatinan dan nilai-nilai manusia. Baginya perlu dipertahankan: pertentangan antara dunia yang tanpa makna ini dengan tuntutan manusia akan makna yang tak terpuaskan. la menolak bunuh diri dan lompatan iman yang mempostulatkan adanya makna, padahal sebenarnya tidak ada makna.

sampai jumpa seri berikutnya tentang filsafat oke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s