JUDAS THE SON OF MAN

Memasuki minggu-minggu sengsara, saya teringat untuk menulis beberapa hal mengenai seorang anak manusia yang bernama Yudas Iskariot, mudah-mudahan tulisan pendek ini memberikan pencerahan kepada para pembaca. selamat menikmati …. and met Paskah !

Sebagai orang Kristen kita sudah sering sekali mendengar renungan atau kotbah yang merangkum alasan Yudas mengkhianati Yesus, gurunya sendiri :

1. Yudas sangat menginginkan apa yang ditawarkan oleh dunia.
2. Yudas sejak semula adalah murid yang serakah dengan semua yang berhubungan dengan uang dan ia adalah seorang pencuri.
3. Yudas dikuasai oleh Iblis sehingga ia merencanakan penangkapan Yesus.
4. Yudas sejak semula sudah ditetapkan binasa.
5. Yudas tidak mau bertobat meskipun sudah diperingatkan oleh Yesus.
6. Dan masih banyak alasan yang lain yang melihat Yudas dari banyak sudut cerita.
Tetapi melalui renungan ini kita mau melihat Yudas dari sudut pandang yang lain, mari bersama saya kita besama-sama menelusuri jejak Yudas sang anak manusia.

Kata Yudas adalah bentuk Yunani dari kata Ibrani Yuda, yang artinya: Terpujilah Tuhan. Sungguh sebuah nama yang indah. Tetapi kenapa kenyataannya malah seorang pengkhianat? Benar kata Shakespeare, “What’s in a name?”, apalah arti sebuah nama. Hampir semua orang kenal Yudas Iskariot. Dia adalah salah seorang dari dua belas murid Tuhan Yesus. Jabatan resminya bendahara. Sepanjang sejarah orang mengingatnya, mengenang ciumannya di Taman Getsemani, dan… mengutuknya sebagai pengkhianat!
Mengapa Yudas Iskariot menjual Gurunya hanya dengan harga tiga puluh keping uang perak? Biasanya orang berpendapat bahwa dia melakukan hal itu karena dia mata duitan. Begitu bernafsunya dia pada uang sampai-sampai dia jual murah Gurunya sendiri.

Bagaimana tidak, jika Anda memiliki uang sebesar tiga puluh keping perak dan Anda pergi membawanya ke pasar budak, maka yang Anda peroleh dengan uang sebesar itu adalah budak setengah tua yang tidak lagi pada usia produktif. Pokoknya dengan uang sebesar itu, orang hanya mendapatkan budak bermutu rendah dan jangan berharap mendapat budak dengan otot-otot yang kekar dan sehat.

Kalau betul karena uang tiga puluh keping perak maka Yudas Iskariot menjual Yesus, Gurunya sendiri, tentu dia bukan seorang pedagang profesional yang mengerti harga pasar kepala Yesus. Dia cuma seorang pedagang yang bodoh saja. Tetapi tahukah Anda, kenapa Yudas mengkhianati Tuhan Yesus? Jelas bukan karena uang. Sebab kalau karena uang, kenapa dia menghargai-Nya hanya 30 keping uang perak. Kalau mau, tentunya dia bisa meminta harga yang jauh lebih tinggi. Dan pula, setelah mendapatkan uang itu kenapa dia malah membuangnya kembali ?

Juga jelas bukan karena Yudas membenci-Nya. Sebab kalau betul karena benci, tentunya dia merasa senang ketika Tuhan Yesus akhirnya ditangkap. Kenapa dia malah menyesal setengah mati sampai-sampai nekad gantung diri untuk mengakhiri hidupnya.

Lalu karena apa? Kuat dugaan, karena Yudas ingin memaksakan kehendaknya. Dia ingin Tuhan Yesus bertindak sesuai dengan keinginannya, berlaku seperti yang dia mau. Begitulah kalau keinginan sudah menjadi tuan. Segala cara akan dihalalkan. Suara hati tidak lagi didengar.

Apakah ada alasan lain yang mendorongnya menjual Yesus begitu murah? Ada, tentu ada. Begini ceritanya :
Yudas Iskariot, sama dengan kebanyakan orang sebangsanya, sedang menantikan datangnya Sang Mesias – utusan ilahi yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi dan mengembalikan lagi zaman keemasan kerajaan Daud. Mereka mengangan-angankan Mesias yang akan datang itu, Mesias dengan segala kebesaran, kekuasaan, dan kemuliaan serta semaraknya.

Mesias itu haruslah sosok yang bisa mengumpulkan massa, punya karisma dan wibawa, didengar dan ditaati apa pun kata-katanya. Mesias ini haruslah sosok yang disegani, baik oleh kawan maupun lawan. Mesias ini harus sanggup mengkoordinasikan gerakan massa. Dia harus, sekaligus, seorang panglima perang yang paham akan taktik dan strategi perang.

Namun bukan hanya itu. Mesias itu harus bisa menjamin terwujudnya kehidupan makmur dan sejahtera, aman dan tenteram — malah hidup yang enak-kepenak bagi seluruh rakyat dalam waktu singkat. Dan oleh karena itu, Sang Mesias harus punya daya linuwih serta sakti.

Yudas melihat bahwa Yesus, Gurunya itu, sudah memenuhi semua kriteria itu secara sempurna. Soal menghimpun massa? Yesus tidak pernah mencari pengikut, tetapi orang banyaklah yang datang mencari Yesus. Kalau sudah mendengar wejangan-wejangan-Nya, mereka sampai lupa pulang ke rumah dan lupa kerja (tidak sekadar lupa makan, lupa minum dan lupa waktu).

Yesus sangat disegani, baik oleh orang- orang yang mencintainya maupun oleh pihak-pihak yang memusuhinya. Yesus juga dinilai mempunyai kesaktian atau daya linuwih yang luar biasa. Dia ternyata sanggup membuat mukjizat-mukjizat yang luar biasa menakjubkan. Bayangkan badai dan ombak laut pun bisa diperintahkan-Nya untuk berhenti dan mereka menaatiNya.

Bagaimana dengan jaminan kesejahteraan rakyat? O, tentu itu juga akan lebih bagus jika Yesus yang menjadi pemimpin mereka. Tidak perlu dibuka puskesmas karena Dia sanggup menyembuhkan segala macam penyakit secara ajaib. Soal pangan? Dia terbukti bisa mengenyangkan lima ribu orang lebih hanya dengan lima potong roti dan dua ekor ikan. Bukan hanya orang banyak itu kenyang, malah masih ada cukup banyak sisa.

Yang lebih menakjubkan lagi adalah bahwa Ia sanggup menghidupkan kembali orang yang sudah mati (dan kalau begitu sebenarnya mematikan orang pun bisa dengan sangat mudah dilakukan-Nya). Dan itu artinya mengalahkan lawan (siapa pun mereka) bukanlah masalah yang besar bagi Yesus. Kalau begitu, mengusir penjajah pun mestinya sanggup Ia lakukan. Yesus, menurut Yudas Iskariot, sudah memenuhi semua kriteria Mesias itu secara sempurna. Lalu apa persoalannya Yudas Iskariot? Persoalannya adalah bahwa Yesus dirasakan lambat bergerak dan bertindak.

Dia terkesan terlalu berhati-hati dan kelewat low profile. Padahal kalau Dia mau bertindak dengan cepat dan tegas… Oleh karena itu, persoalannya adalah bagaimana mendorong Yesus untuk segera melakukan show of force, unjuk kekuatan dan kebolehan, atau lebih tepat lagi adalah bagaimana ”memaksa” Yesus untuk unjuk kebolehan! Yudas Iskariot melihat satu-satunya cara (menurut dia lho!) yakni menempatkan Yesus pada posisi terancam akan dibunuh. Harapannya? Kalau Yesus terancam, maka Dia akan membela diri. Yesus tidak akan mati karena dengan mudah ia akan mengalahkan kekuatan yang mengancam nyawanya (bukankah Dia cukup berujar, matilah kalian dan semua lalu mati?).

Jadi Yesus harus diancam supaya Dia bereaksi. Momentum itu harus dibuat bukan ditunggu. Lalu mulailah Yudas merancang skenarionya (dan kalau skenario ini berjalan seperti yang diharapkan, Yudas Iskariot akan tercatat namanya menjadi pahlawan). Dia segera menentukan, kekuatan mana yang akan diperalat untuk mengancam Yesus? Dia sangat jeli melihatnya. Para pemimpin agama Yahudi yakni para ahli taurat, para imam dan kelompok ulama Farisi khususnya. Ia mau memanfaatkan niat jahat mereka yang selama ini sedang mencari cara menangkap, membunuh dan menyingkirkan Yesus. Caranya? Yaitu, berkolusi dan menciptakan satu persekongkolan dengan mereka.

Supaya mereka tidak curiga, Yudas Iskariot akan meminta sejumlah uang sebagai imbalan untuk kesempatan yang dia buka bagi para pemimpin agama ini menangkap Yesus dengan aman (mereka tidak berani berusaha menangkap Yesus secara terang-terangan karena takut orang banyak justru berpihak kepada Yesus). Inilah sebabnya ketika kepadanya diberikan imbalan sejumlah tiga puluh keping uang perak, Yudas Iskariot menerimanya begitu saja.

Bukan jumlah duitnya yang penting, tetapi kesempatan memperalat mereka untuk mengancam Yesus. Duit itu hanya sebuah formalitas saja. Itu sebabnya nanti duit itu dilemparkannya kembali kepada para pemberinya dengan penuh rasa sesal. Tampaknya skenario Yudas Iskariot berjalan dengan baik dan lancar. Semua berlangsung sesuai dengan rencana sampai nyaris tuntas. Di ujung ternyata ada sesuatu yang menghalangi. Yesus ternyata tidak berontak dan tidak pula membela diri ketika pasukan pengawal Bait Suci mengancamnya. Yesus tidak melawan sama sekali. Yesus tidak unjuk kebolehan sama sekali. Yesus ditangkap dan dibawa pergi dengan begitu mudahnya.

Itu menjadi kejutan yang mengguncang diri Yudas. Dia tidak bisa mengerti, mengapa Yesus yang mahahebat itu menyerah begitu saja tanpa perlawanan sedikit pun. Yudas lebih menyesal lagi ketika mendengar kabar bahwa Yesus, Guru yang dikasihinya itu, akhirnya harus mati secara tragis, dramatis dan ironis di atas kayu salib. Hal ikhwal yang tidak pernah terlintas sama sekali di benaknya akan terjadi pada diri Yesus, terjadi juga. Ia menyesal. Ia kecewa meskipun sayang dia kemudian juga mengambil jalan pintas yang nista, menggantung diri sebaliknya daripada datang, mengakui kesalahan dan menyatakan pertobatan di hadapan Sang Guru.

Yudas Iskariot adalah seorang yang sangat agamis, tetapi sekaligus menjadi sosok yang egois, sangat mementingkan diri sendiri saja. Dia menyalahgunakan agama untuk kepentingannya sendiri saja. Sebaliknya dari membiarkan dirinya diatur oleh Yesus, Yudas Iskariot mau mengatur bagaimana seharusnya Yesus bekerja memenuhi ambisi pribadinya dan cita-citanya. Dia kepingin sekali menjadi pahlawan bagi umat Allah. Akibatnya adalah dia menghalalkan semua cara (kalau perlu membuat kolusi dan konspirasi); kalau perlu dengan memperalat orang lain atau malahan memperalat Tuhan sendiri. Padahal seharusnya dialah yang menyesuaikan semua cita-cita dan rencananya dengan rencana Tuhan dan bukan sebaliknya.

inilah akhir dari Yudas Iskariot…

One thought on “JUDAS THE SON OF MAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s