Analisa Novel Chin Yung

Analisa Novel-Novel Silat Chin Yung

Chin Yung adalah seorang penulis novel silat yang menulis banyak novel silat. Karyanya yang paling mengesankan adalah Triloginya yaitu Sia Tiaw Eng Hiong ( Legend of Condor Heroes ), Sin Tiauw Hiap Lu
( Return of Condor Heroes ), To Liong To ( Heaven Sword and Dragon Sabre ). Disamping Triologinya yang terkenal, saya percaya bahwa Xiau Au Jiang Hu ( Smiling Proud Wanderer / Pendekar Hina Kelana ) juga merupakan novel yang indah luar biasa.

Tidak dapat di pungkiri novel silat Chin Yung menjadi populer di seluruh dunia baik dunia timur maupun dunia barat. Apa yang membuat novel silat Chin Yung menjadi digemari orang ? Saya sebagai penggemar novel silat berpendapat bahwa Chin Yung adalah seorang penulis sastra yang hebat. Di dalam novel silat ini tersimpan banyak segi kehidupan seperti karakter, cinta, patriotisme, emosional, intelektual, setia kawan, kegagahan, agama, filsafat, perang, silat, seni dan keindahan. Cerita-ceritanya berkaitan dengan budaya cina dan sejarah ( walaupun sudah dimodifikasi dari aslinya ). Filsafat Tao, Kong Hu Cu dan Budha terdapat di novel-novel ini. Namun yang paling mengesankan adalah karakter tiap pendekar. Bila anda pernah membaca cerita Sin Tiauw Hiap Lu, saya percaya anda akan terkesan oleh cerita ini. Di dalam cerita ini terdapat banyak adegan dan drama yang sungguh dalam makna emosionalnya dan mengharukan. Yoko, seorang anak penjahat yang mempunyai watak pemberontak, keras, gagah, pandai dan suka hal-hal yang menarik. Akhirnya dia bertemu dengan Siauw Liong Lie yang lembut, kalem, sederhana, dan suka menyendiri. Cinta kasih di antara mereka menemui banyak rintangan dan badai yang besar namun cinta kasih mempersatukan mereka. Pertentangan batin diantara mereka sungguh mengesankan. Dalam cerita ini juga diceritakan cinta Kwee Siang yang polos dan tidak egois walaupun akhirnya dia tidak mendapatkan Yoko yang dicintainya.

Bila kita meneliti karya Chin Yung secara keseluruhan, ada nilai-nilai dan kebajikan-kebajikan yang bisa kita pelajari dari para pendekar seperti Kwee Ceng, Yoko, Thio Bu Kie, Ling Hu Cong, Twan Yu. Mereka ini mempunyai karakter yang low profile, tidak ambisius untuk kekuasaan, setia kawan, mempunyai cinta kasih terhadap pasangannya, setia terhadap pasangannya dan pada umumnya mereka mempunyai karakter yang baik. Dan banyak diantara mereka yang mempunyai sifat rela berkorban demi cinta : Yoko meninggalkan dunia ramai dan hidup saling menerima dengan istrinya Siauw Liong Lie, Thio Bu Kie meninggalkan kekuasaan sebagai pemimpin, hidup sebagai rakyat biasa bersama Thio Beng yang juga meninggalkan kekayaan istana untuk hidup bersama dengan pasangannya. Dan juga Twan Yu meninggalkan tahta raja dan hidup bersama pasangannya. Saya melihat bahwa di dalam banyak karya Chin Yung, cinta kasih itu sesuatu yang romantis dan rela berkorban. Ini nilai dan kebajikan yang penting di dalam novel Chin Yung.

Bagaimana dengan pelajaran dari para pendekar yang lain? Salah satu karakter yang saya sangat sukai adalah Ouw Yok Su, si Sesat dari Timur. Di antara kelima datuk di utara, selatan, barat, timur dan tengah, di samping ilmu silat, dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan, kepandaian Ouw Yok Su menduduki peringkat tertinggi. Dia menguasai sastra, seni, musik, strategi, perang, silat, kitab-kitab kuno. Namun hal yang paling mengesankan dari Ouw Yok Su ini adalah dia seorang yang tidak suka terikat pada aturan manusia. Dia paling benci dengan Kwee Ceng, menantunya karena Kwee Ceng adalah seorang yang penuh dengan aturan. Pada mulanya, dia sangat menolak Kwee Ceng sebagai calon menantunya tetapi hatinya luluh karena cinta kepada anaknya, Oey Yong. Bagi Ouw Yok Su, aturan itu tidak perlu, yang penting ada yang mengalir di dalam hati. Memang Lao Tze di dalam filsafat Taoisme mengajarkan bahwa banyak aturan itu tidak baik, yang baik adalah alamiah seperti alam. Yang baik adalah yang alamiah di dalam diri kita yang sudah jadi secara alamiahnya. Di mana ada banyak aturan yang mengekang, di situ terjadi banyak pelanggaran dan kekacauan. Aturan yang sejati bukan pada hukum manusia tetapi pada hukum Firman (Tao). Yang terbaik adalah aturan di dalam diri yang sesuai dengan hukum Firman, bukan aturan yang di luar, yang tidak mengubah yang di dalam. Yang paling penting adalah tetap taat pada peraturan namun bukan legalisme. Namun kejelekan dari Ouw Yok Su itu, dia seorang yang bisa kejam bila tidak suka dengan orang. Ini jelas tidak benar. Dan lebih dari itu, dia tidak mengenal Firman (Tao) sejati. Orang Taoisme juga tidak mengenal Tao sejati. Ouw Yok Su juga tidak suka terlibat di dalam pemerintahan. Dia lebih suka merenung dan hidup menyendiri.

Satu karakter yang pasti menyenangkan bagi orang yang melihatnya yaitu Ciu Pek Tong (Bocah Tua Nakal). Kebanyakan orang suka dengan karakter ini. Hidup Ciu Pek Tong penuh dengan riang gembira dan ketawa. Pokoknya, apa yang dipikirkannya adalah senang. Orangnya jahil dan penuh dengan humor dan tidak serius. Ciu Pek Tong punya kegemaran untuk mengerjai orang dan dia menikmati hal itu. Dia tidak terlalu mempedulikan mana yang benar atau mana yang salah (sedikit postmodern), tidak terlalu mementingkan hal-hal yang serius.Yang penting senang. Tetapi ilmu silatnya tinggi sekali dan juga jiwanya polos seperti anak-anak. Tidak ada hati benci, tidak ada hati dendam, tidak ada hati egois, tidak ada hati ambisi tetapi yang ada hanya bermain dan senang saja. Sifatnya seperti hedonisme tetapi bukan hedonisme yang materialisme sebab dia tidak suka kekayaan, bukan hedonisme seks juga, tapi hedonisme yang senang dengan mengekpresikan hidupnya. Saya ada dan saya gembira. Saya ingin menjahili orang dan saya gembira karena itu. Saya tidak peduli dengan aturan. Orang seperti Ciu Pek Tong ini tidak bisa mengerjakan hal serius. Dia gampang dibodohi. Akhirnya dia kena batunya karena sikapnya yang asal-asalan itu. Ciu Pek Tong tertarik dengan istrinya It Teng Taisu (Si Raja Selatan), sewaktu beliau menjadi raja dan jadilah perselingkuhan dengan rasa suka dengan suka. Akhirnya tingkah laku Ciu Pek Tong mengakibatkan permasalahan rumah tangga orang dan juga mengakibatkan perubahan hidup di dalam diri It Teng Taisu. Hidup tidak boleh asal-asalan. Semua yang dilakukan ada akibatnya. Hidup harus bertanggung jawab. Walaupun demikian, ada juga prinsip, hati yang gembira adalah obat. Hidup mesti gembira tetapi mesti tanggung jawab. Bagaimana mengkaitkan hal ini ?

Ada lagi karakter yang mengesankan yaitu Ling Hu Cong. Orang ini juga tidak suka pada aturan dan dia juga seorang yang easy going dan cenderung asal-asalan. Dia senang bergaul, minum arak dan terutama setia pada teman-temannya. Dia percaya bahwa di dalam aliran yang sesat, terdapat orang baik. Dia bergaul dengan orang sesat maupun orang baik. Di dalam orang sesat, ada orang baik dan di dalam orang baik, ada orang sesat. Ling Hu Cong mempunyai karakter yang kadang bodoh tapi lucu, menggelikan, keras kepala, percaya pada pendiriannya, angkuh namun selalu tertawa melihat dunia ini. Memang judul cerita yang diberikan cocok yaitu Smiling Proud Wanderer. Bagi Ling Hu Cong, susah ataupun sedih, selalu bergembira dengan arak dan tersenyum. Selalu senyum dan gagah walaupun mengalami kepahitan. Yah! Inilah dunia yang penuh dengan masalah! Mengapa harus tenggelam dalam masalah dan kesedihan? Maka Ling Hu Cong menertawakan dunia. Inilah dunia. Tetapi sayangnya, Ling Hu Cong menertawakan dunia tetapi tidak mengubah dunia. Lain halnya dengan Yesus Kristus yang menangisi dunia, mengasihinya dan mengubah manusia dan dunia ini.

Sebagai penggemar Novel Chin Yung, saya menemukan ada sesuatu yang menarik dari cerita-ceritanya. Yang menarik adalah bahwa kebanyakan pendekar ini melewati suatu proses hidup dari yang bodoh ilmu silatnya sampai meningkat. Prosesnya kelihatan lambat. Kadang pendekar perlu sakit jangka panjang seperti Thio Bu Kie. Kadang pendekar perlu belajar dengan lambat sekali seperti Kwee Ceng. Kadang juga pendekar perlu mengalami banyak kejadian tragis untuk membentuk ilmu silat dan karakternya seperti “Sin Tiaw Tai Hiap”(pendekar rajawali), Yoko. Proses hidup yang sulit dari amatir sampai mahir ini menarik sekali. Hidup memang perlu proses. Dan untuk menjadi orang, semuanya perlu waktu dan kesabaran. Para pendekar dengan lambat tapi pasti, melewati proses pembentukan sehingga ilmu silatnya menjadi mahir. Proses ini disertai dengan kekalahan, luka, sakit, pergumulan. Namun pengalaman adalah pelajaran berharga untuk membangun hidup. Pepatah mengatakan : “Perjalanan seribu langkah dimulai dari satu langkah” (Lao Tze).

Satu pelajaran dari novel Chin Yung adalah mengenai balas dendam. Cia Sun (Kim Mo Sai Ong) membunuh banyak orang demi membalas dendam gurunya. Balas dendam menimbulkan korban. Yoko juga hendak membunuh Kwee Ceng karena mengira ayahnya dibunuh oleh Kwee Ceng. Majikan lembah bunga putus cinta juga ingin membunuh Oey Yong dan Kwee Ceng karena kematian kakaknya Ciu Kian Jin. Balas dendam ini menimbulkan konflik antara manusia dan banyak korban . Tetapi ada pelajaran penting lainnya dalam novel Chin Yung. Di dalam novel Chin Yung ini, pada akhirnya yang jahat menjadi kalah. Ada juga cerita-cerita perubahan karakter pada beberapa orang. Kiuw Cian Jin menjadi bertobat dan mencukur rambutnya menjadi murid It Teng Taisu. Yoko menjadi ksatria karena dia sadar ayahnya salah. Lie Mo Chou yang jahat sekali akhirnya menjadi lembut karena bayi Kwee Siang dan Cia Sun (Kim Mo Sai Ong) akhirnya bertobat menjadi murid Shao Lin karena akhirnya dia menyadari kesalahannya untuk membalas dendam pada gurunya yang mengakibatkan dia salah jalan. Dan Pek Kong di dalam serial Pendekar Hina Kelana (Smiling Proud Wanderer), adalah seorang pemerkosa besar dan dia berubah menjadi baik. Perubahan karakter adalah sesuatu yang mengesankan di dalam novel Chin Yung ini. Namun, siapakah yang dapat mengubah natur manusia?

Pelajaran indah mengenai filsafat di dalam kungfu ada dalam novel Chin Yung. Thio Bu Kie mempelajari ilmu Tai Chi dari pendiri Butongpai yaitu Thio Sam Hong dalam waktu yang singkat untuk menghadapi musuh di depan mata. Ketika Thio Bu Kie diajari ilmu Tai Chi, dia ditanya berapa banyak yang kamu mengerti? Dia menjawab lupa 50%. Kemudian Thio Sam Hong mengajari dengan gerakan yang sama sekali lain dengan sebelumnya dan menanyai Thio Bu Kie berapa banyak yang dia mengerti. Thio Bu Kie menjawab :”Hampir lupa semua.” Kemudian Thio Sam Hong mengajar gerakan lain lagi dan bertanya kepada Bu Kie. Bu Kie menjawab, “Sudah lupa semua.” Bawahannya Ciu Tat sampai geleng-geleng kepala melihat Thio Sam Hong yang mengajari hal yang berbeda dengan gerakan sebelumnya dan Thio Bu kie yang lupa semuanya. Mengapa lupa semuanya? Sebab gerakan Tai Chi ini tidak perlu jurus yang diingat. Semuanya mengalir. Mengikuti bentuk. Mengikuti lawan. Tanpa jurus yang terikat. Ini sesuai dengan filsafat Tao yang diterapkan dalam Tai Chi. Pelajaran ini ada miripnya dengan ilmu silat yang dipelajari oleh Ling Hu Cong. Ling Hu Cong, seorang pendekar pedang ketika belajar ilmu pedang dari gurunya untuk menghadapi Dian Pek Kong, seorang pemerkosa yang jagoan sekali. Sebelumnya, Ling Hu Cong selalu kalah dalam melawan Dian Pek Kong dan dia terus kembali belajar melihat jurus-jurus pedang yang ada di dalam gua selama Dian Pek Kong menunggu dia untuk bertarung kembali di luar. Semakin lama Ling Hu Cong semakin tangguh tetapi tetap kalah, walaupun dia memiliki banyak jurus. Tetapi kemudian di dalam gua dia bertemu dengan gurunya yang mengajarkan jurus pedang. Ini adalah seni pedang. Jurus pedang yang diajari Ling Hu Cong adalah ilmu dari Tok Kok Ku Pai yaitu seorang sesepuh tua tanpa tanding yang meninggalkan pedang sakti dan rajawali beserta ilmunya di dalam diri rajawali di dalam cerita Yoko (Sin Tiauw Hiap Lu). Jurusnya adalah mengalir dan bisa menggunakan jurus apa saja. Tidak terpaku harus melakukan jurus tertentu. Bisa dari jurus 1, kemudian jurus 34, kemudian jurus 50. Semuanya mengalir. Semuanya tidak kaku. Semuanya sesuai dengan keinginan hati. Jurusnya tidak terbatas bahkan semua jurus. Semua jurus-jurus yang dipelajari dapat dihubungkan satu sama lain dan dapat mengalir menciptakan keindahan yang tanpa batas. Ini prinsip kreatifitas. Banyak hal di dalam dunia kita mempunyai banyak pengetahuan, banyak ide, banyak talenta. Semua ini bisa dirangkaikan menjadi jurus yang tidak terbatas dalam pengertian tertentu (dalam batas ciptaan tentunya). Banyak resep dan bumbu makanan yang dapat dibuat menjadi banyak jenis makanan. Kehidupan ini berlimpah.

Ada satu nilai kebajikan yang positif di dalam novel silat Chin Yung yaitu mengenai keberanian. Keberanian merupakan salah satu virtue (kebajikan yang penting) bagi seorang pendekar. Disamping keberanian, ada juga nilai kebajikan lainnya, yaitu kebenaran. Seorang pendekar harus benar dan membela keadilan. Secara garis besar bisa dibagi 2 macam pendekar sesuai dengan filsafat hidupnya. Pertama adalah pendekar yang mengikuti filsafat Kong Hu Cu. Pendekar ini suka pada aturan, membela kebenaran dan terutama terjun di dalam pemerintahan, terjun di dalam masyarakat. Contoh pendekar yang terkenal ini adalah Kwee Ceng. Dia seorang yang suka membela kebenaran, keadilan dan rakyat. Thio Bu Kie pada waktu menjadi pemimpin Beng Kaw juga merupakan contoh pendekar yang mengusahakan kebenaran bagi rakyat Song untuk merdeka dari bangsa Mongolia. Tetapi ada tipe pendekar lain adalah mengikuti filsafat Tao atau Budhis. Para pendekar ini tidak suka kepada aturan, tidak terjun kepada pemerintahan atau masyarakat. Mereka lebih suka mengikuti prinsip sendiri, menikmati alam, dan menikmati hidup. Ada yang menyendiri. Contoh tipe pendekarnya adalah seperti Yoko, Ling Hu Cong, dan Thio Bu Kie pada akhir hidupnya ketika dia menyendiri dan meninggalkan urusan dunia dengan Thio Beng sang kekasih dan istrinya. Ling Hu Cong juga senang dengan minum-minum dan tidak suka menjadi pemimpin. Pendekar yang mempunyai filsafat Tao atau Budhis ini akan membela kebenaran dan keadilan dimana dibutuhkan. Tetapi setelah semuanya selesai mereka tidak mau terikat dengan pemerintah dan keduniawian. Jadi hanya ada 2 tipe yaitu : terjun kepada masyarakat, menjadi pemimpin dan menyendiri sesuai dengan prinsip sendiri. Di dalam Kekristenan kedua-duanya ada, yaitu ada waktunya teduh menyendiri tetapi ada waktunya terjun ke dalam masyarakat (mandat budaya). Kedua prinsip Tao dan Kung Hu Cu ini adalah di dalam Kekristenan. Terus ke masyarakat dan mengubah dunia., tetapi merenung dan meditatif di dalam kesendirian sebagai tenaga untuk melakukan semuanya.

Secara hasil kebudayaan manusia, novel ini baik dan ada nilai-nilai dan kebajikan-kebajikan positif namun sayangnya di dalam novel-novel Chin Yung tidak ada jalan hidup untuk Tuhan. Tidak ada jalan keselamatan yang membawa manusia kembali kepada Firman sejati. Juga cinta kasih yang diajarkan hanya terbatas kepada pasangan hidup dan Negara dan rakyat namun tidak ada kasih kepada Allah. Perubahan karakter juga bukan perubahan secara natur. Firman (Tao) sejati juga tidak ditemukan sebab Firman sejati hanya ada di dalam Kristus. Adalah tugas kita bila kita bisa memikirkan untuk menulis novel yang berpengaruh tetapi ada nilai-nilai kekal dan terutama bisa membawa orang kepada Tuhan Sang Pencipta dan Penebus (misalnya Chronicles of Narnia). Jeffrey Lim

Thanks ya ko …. buat tulisannya
I so proud of you … tulisanmu dalem banget … nanti saya kirim tulisan saya yang terbaru ya …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s