Mengatasi Kantuk dalam setiap Kotbah-kotbah kita

Untuk renungan ini saya memilih suatu episode yang cukup dramatis dari kisah para rasul tentang perjalanan di Makedonia dan Yunani, yaitu dari pasal 20, ayat 7-12. Cerita ini adalah salah satu kesaksian pertama tentang kebiasaan orang Kristen untuk berkumpul pada hari pertama setiap minggu untuk beribadah, dan oleh karena itu mungkin teks ini bisa membantu kita bila kita mau menghidupkan kembali kebaktian bersama dan kehidupan spiritual.

Kita mendengar pembacaan Alkitab dari Kisah Para Rasul 20, 7-12 dengan beberapa modifikasi/koreksi kecil sesuai dengan teks asli bahasa Yunani.

Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berkhotbah (dialegw) kepada saudara-saudara di situ. (Dan) karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya, pembicaraan (logoV) itu diperpanjang sampai tengah malam.

Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu. Seorang muda bernama Eútikhus duduk di jendela. Karena Paulus sangat lama berkhotbah (dialegw), orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah.

Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati. Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: “Jangan ribut, sebab nyawanya masih ada.”

Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; habis makan masih lama ia berkomunikasi (omilew), sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat. Sementara itu mereka mengantarkan orang muda itu hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur.

Saudara-Saudara Eútikhus yg kekasih,

cerita tentang kejadian di Troas ini pada pandangan pertama tidak punya relevansi yang terlalu luas. Seolah-olah episode ini hanya diceritakan, supaya kisah tentang perjalanan Paulus menjadi tidak terlalu kaku. Tetapi kalau kita memandang lebih teliti, kejadian ini banyak berhubungan dengan kenyataan yang kadang-kadang kita alami.

Paulus memimpin kebaktian di jemaat Troas sebelum ia harus berangkat ke Yunani besok harinya. Cuma satu minggu ia tinggal di Troas, tetapi masih banyak sekali hal yang mau dan harus ia sampaikan kepada jemaat yang masih muda itu. Jadi, Paulus punya alasan yang cukup penting untuk memperpanjang waktu khotbahnya sampai tengah malam. Siapa tahu, kapan lagi ada kesempatan untuk membicarakan semua aspek kehidupan beriman yang sangat penting ini kepada jemaat di Troas!? Demikian, jemaat pertama-tama menjadi pendengar dan tidak terlalu aktif terlibat dalam kebaktian ini. Kata “dialego” dalam Bahasa Yunani disini lebih berarti tafsiran dan uraian oleh Paulus sendiri yang bersifat monologis, daripada dialogis seperti diterjemahkan dalam Alkitab Bahasa Indonesia dengan “berbicara dengan saudara-saudara di situ”. Paulus, yang “amat lama bicara”, dan nampaknya, jemaat yang amat lama berdiam dan mendengar.

Kalau kita sebagai pendeta atau mahasiswa teologia berbicara atau berkhotbah, hal yang sama bisa terjadi. Memang kita tahu bahwa konsentrasi pendengar-pendengar kita terbatas dan bahwa suatu dialog – dimana kita sendiri menjadi pendengar juga – lebih hidup daripada suatu monolog. Namun akhirnya kita sering punya banyak alasan untuk memperpanjang khotbah kita, karena misalnya semua yang saya mau sampaikan kuanggap sangat penting – dan siapa tahu kapan lagi saya bisa bicara kepada semua jemaat yang hadir sekarang!

Namun nampaknya selain pendengar sabar selalu saja ada orang yang menjadi korban karena mereka punya kesulitan untuk menahan sikap tersebut, seperti orang muda dengan nama Eútikhus dalam kisah kita. Meskipun semua lampu terang, udara segar dekat jendela, dan isi pembicaraan Paulus pasti sangat penting dan menarik, ia tertidur. Mungkin ada juga alasan lain seperti pekerjaan Eútikhus sepanjang hari yang sangat melelahkan – tetapi nampaknya salah satu alasan adalah tidak adanya suatu aksi atau unsur-unsur partisipatoris yang bisa membantunya untuk mengatasi kantuknya dalam kebaktian tersebut. Beberapa kali kita sudah melupakan orang-orang letih dan capek di pinggir kebaktian kita?

Akibat-akibat untuk Eútikhus sangat mengkhawatirkan: Tiba-tiba khotbahnya Paulus terganggu bunyi keras karena Eútikhus, yang duduk di jendela, jatuh dari lantai tiga. Disitu kesadarannya tidak kembali sehingga ia dianggap mati oleh anggota-anggota jemaat yang mengangkatnya. Tentu saja gejala-gejala kebosanan terhadap kebaktian-kebaktian kita yang nonpartisipatoris tidak begitu dramatis. Namun kita alami semacam “kejatuhan” dan “kematian” juga: Tiba-tiba pengikut kebaktian berkurang atau kehidupan spiritual di jemaat atau di dalam kampus menjadi seperti mati atau tidak disadari lagi.

Bagaimana reaksi Paulus? Mungkin kita mengira bahwa ia akan pertama-tama marah karena terganggu oleh keindisiplineran Eútikhus. Untuk meneruskan khotbannya yang begitu penting mungkin ia bisa biarkan saja orang lain mengurus orang muda itu. Tetapi Paulus sendiri turun ke bawah dan mendekap Eútikhus, sambil menenangkan jemaat dan membesarkan hatinya: nyawanya masih ada, masih ada harapan, ia belum mati, ia masih hidup.

Jadi, mari kita juga jangan kehilangan harapan namun tetap turun dari mimbar kita dan mencari sisa nyawa dalam persekutuan terjatuh kita untuk menghidupkan kembali spiritualitas kita. Tidak ada gunanya mempersalahkan orang lain yang dengannya kita kehilangan hubungan spiritual. Kita tidak boleh menungu saja mereka kembali, tetapi harus mendekati, mengerti dan peduli mereka.

Akhirnya, Paulus dan jemaatnya kembali ke ruang kebaktian, dan disitu ibadah bahkan berlangsung sampai fajar menyingsing, dan bahkan Eútikhus tinggal sampai diantarkan ke rumahnya pada pagi harinya. Tetapi ada perubahan sedikit. Paulus tidak bermonolog lagi, tetapi mulai suatu proses komunikasi yang di dalam Bahasa Yunani dirumuskan dengan kata “homileo”, jadi bukan hanya berbicara, tetapi berkomunikasi dan membahas dengan jemaat. Dan itu berlangsung sesudah mereka memecah-mecahkan roti, berarti mereka saling menguatkan, memperbarui persekutuan mereka dalam kehadiran Kristus dan menerima pengampunan dan rekonsiliasi Allah.

Mari kita mencoba dengan kreativitas baru dan partisipasi luas mengusir kantuk kehidupan spiritual kita. Supaya kita tidak mati seperti dalam anektode kecil yang berikut:

Seorang pendeta mengumumkan di surat kabar: “Dengan penuh dukacita saya memberitahukan kematian jemaat Stefanus. Kebaktian pemakaman akan diselenggarakan hari Minggu jam 9 pagi.” Pada hari itu, gereja penuh orang. Dalam khotbahnya pendeta menguraikan: “Saya punya sedikit harapan untuk menghidupkan kembali jemaat ini. Tetapi saya mau mencoba satu tindakan terakhir. Tolong anda masing-masing melewati peti mayat yang ditempatkan di tengah gereja ini dan memandangi orang mati di dalamnya. Kemudian, keluar dari geraja lewat pintu belakang. Kalau anda berubah sikap, tolong anda masuk kembali lewat pintu depan; andaikata terjadi kita bisa membuat ibadah syukur.” Pendeta membuka peti mayat, dan semua jemaat tegang, siapa sebenarnya orang mati tersebut di dalamnya. Dan jika melewati peti mayat masing-masing, di dalamnya mereka melihat – dalam cermin – wajah mereka sendiri.

Saya punya harapan yang cukup besar bahwa kematian seperti yang di dalam cerita Paulus dan cerita terakhir ini, kita bisa atasi bersama-sama – supaya kita bisa merasa sangat terhibur seperti pada akhirnya juga jemaat di Troas.

Saya tidak mau berbicara terlalu lama. Mungkin tidak semua asosiasi dan tafsiranku dapat disahkan oleh eksegese ilmiah, tetapi saya harap belum ada yang tertidur!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s