Gerakan Jaman Baru (New Age Movement)

Pada paruh pertama abad ke-20 terjadi perubahan signifikan berupa sinkretisme budaya/filsafat Timur dan Barat. Kalau sebelumnya dua kutub ini dianggap tidak mungkin disatukan (Rudyard Kipling), pada masa itu keduanya justru bersinergi. Filsafat Timur yang sangat mistis dan pragmatis ternyata mendapat sambutan yang luar biasa di Barat. Kendaraan utama yang dipakai untuk mempercepat proses sinkretisme ini disebut dengan istilah Gerakan Jaman Baru (GJB). Gerakan ini memiliki banyak bentuk, seperti the Human Potential Movement, the Third Force, the Aquarian Conspiracy, Cosmic Consciousness maupun Cosmic Humanism.

Apa yang dimaksud dengan GJB? Apakah karakteristik dari gerakan ini? Apa saja pengaruhnya dalam berbagai bidang? Apa kaitannya dengan dunia roh? Bagaimana pandangan Alkitab tentang hal ini? Semua pertanyaan tersebut akan coba dijawab dalam makalah ini.

Apa yang dimaksud dengan GJB?

Mendefinisikan GJB bukanlah hal yang mudah. Ada dua faktor yang membuat tugas mendefinisikan GJB menjadi sulit. Pertama, GJB bersifat eklektik dan beragam. Eklektik berarti GJB mengambil dari banyak sumber/aliran dalam filsafat Timur. Beragam berarti GJB tidak kohesif, tetapi sebaliknya memiliki komposisi dan ideologi yang berbeda-beda. Sifat yang eklektik dan beragam ini memberikan kesulitan untuk mencari suatu definisi yang dapat mencakup semua keberagaman dalam GJB.

Faktor kedua yang membuat definisi GJB sulit dicapai adalah GJB bersifat suka berubah-ubah. GJB sangat menekankan dan mendorong terjadinya perubahan yang terus-menerus. Sikap ini sangat mudah dipahami, karena sifat GJB yang sinkretis. Dia berusaha membaur dengan apa saja yang baru, sejauh percampuran tersebut tetap memiliki ideologi dasar GJB. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan kita sulit untuk menemukan suatu definisi yang mampu mewakili atau mengantisipasi perubahan yang akan terjadi.

Walaupun suatu definisi yang tepat sangat sulit dicapai, namun hal itu bukan berarti tidak ada penjelasan yang memadai tentang GJB. Kita masih dapat memahami GJB berdasarkan keyakinan-keyakinan dasar yang dipegang oleh para penganutnya.

1. Monisme.

Istilah “monisme” berasal dari kata Yunani monos yang berarti “satu”. Istiah ini dipakai untuk menggambarkan keyakinan para penganut GJB bahwa “segala sesuatu adalah satu”. Setiap hal dan setiap orang saling berhubungan dan berkaitan. Tidak ada perbedaan esensial antara manusia, hewan, benda maupun allah. Perbedaan antara semua hal ini hanya ada dalam taraf permukaan (bentuk), tetapi perbedaan itu tidak riil.

2. Pantheisme.

Istilah ini berasal kata Yunani pan yang berarti “semua” dan qeos yang berarti “allah”. Pantheisme berarti kepercayaan bahwa segala sesuatu adalah allah. Keyakinan ini merupakan asumsi logis yang tidak terelakkan yang berangkat dari pemikiran monisme. Jika segala sesuatu adalah satu (termasuk allah), maka di satu sisi segala sesuatu adalah allah. Semua ciptaan mengambil bagian dalam natur/hakekat ilahi. Segala yang ada di alam semesta merupakan percikan dari keilahian. Di sisi lain, gagasan tentang “allah” telah direduksi sedemikian rupa. Allah yang berpribadi telah diganti dengan energi kekuatan atau kesadaran yang tidak berpribadi.

3. Manusia adalah allah.

Jika segala sesuatu adalah allah, maka penganut GJB hanya perlu satu langkah lagi untuk mengklaim bahwa manusia juga adalah allah. Manusia memiliki keilahian dan seharusnya menjadi allah. Manusia seharusnya dapat mengoptimalkan potensi dalam dirinya sendiri, karena mereka memiliki kekuatan ilahi. Masyarakat Barat yang mulai jenuh dengan konsep humanisme modern memberi tangan terbuka bagi GJB. Humanisme modern sangat merendahkan allah dan meninggikan manusia sebagai allah, sedangkan GJB memberi tawaran yang sekilas lebih menarik, yaitu meletakkan allah di dalam diri manusia. Menurut mereka, hal ini tidak meendahkan allah, tetapi meletakkannya pada tempat yang semestinya.

4. Perubahan kesadaran kemanusiaan.

Menurut penganut GJB, potensi ilahi manusia di atas seringkali tidak dapat dirasakan karena manusia lupa atau mengabaikan hal itu. Manusia mengalami amnesia metafisik (lupa terhadap kodrat mereka yang ilahi). Manusia terus-menerus dipenuhi oleh ilusi setiap hari tentang keterbatasan dan kefanaan manusia. Manusia harus mengalami perubahan kesadaran untuk mencapai potensi mereka yang seutuhnya. Pemulihan kesadaran seperti ini dapat diupayakan melalui berbagai cara: hipnotis diri (terus-menerus mengatakan kepada diri sendiri sesuatu yang positif dan melampaui keadaan konkrit), visualisasi internal (membayangkan sesuatu yang kita inginkan), meditasi transendental, pelatihan khusus.

5. Optimisme evolusi kosmik.

Para penganut GJB percaya bahwa gerakan mereka merupakan jawaban bagi semua permasalahan global di muka bumi. Problem akan makin meningkat, tetapi potensi manusia juga akan meningkat. Jika perubahan kesadaran kemanusiaan terus-menerus dilakukan, maka di masa mendatang akan muncul banyak manusia super. Sama seperti manusia sekarang jauh melebihi kera, demikian pula manusia-manusia yang akan datang akan melebihi kita semua.

6. Reinkarnasi.

Para penganut GJB pada taraf tertentu mengadopsi pandangan reinkarnasi, yaitu keyakinan bahwa kehidupan manusia terus berputar sesuai dengan karma (tindakan) di masa kehidupan sebelumnya. Jika pada kehidupan sebelumnya seseorang berbuat kebajikan, maka dia akan memiliki kehidupan lain yang lebih baik, begitu seterusnya. Proses ini akan menuju titik akhir berupa penyatuan/peleburan dengan yang ilahi.

Pengaruh GJB

GJB merupakan masalah yang sangat serius. Pengaruhnya tidak dapat diabaikan begitu saja. Media propaganda yang dipakai juga sangat bervariasi dan efektif. Banyak bidang telah dimasuki pemikiran GJB. Akibatnya, walaupun banyak orang tidak mengenal istilah “Gerakan Jaman Baru”, namun mereka secara tidak sadar telah mengadopsi dan mempraktikkan wawasan dunia GJB. Menurut sebuah survei, 20% penduduk Amerika telah dipengaruhi oleh pemikiran GJB.

Dalam dunia hiburan ada beberapa selebritis terkenal yang merupakan penganut (bahkan pendukung) GJB, misalnya Shirley MacLaine, Yoko Ono, Yanni, Diana Ross, Sylvester Stallone dan John Denver. Film-film yang mereka bintangi pun menyuarakan pemikiran GJB, misalnya The Turning Point dan Being There. Film anak-anak pun tidak lepas dari pengaruh GJB. The Dark Crystal, seri Harry Potter, Avatar hanyalah segelintir film anak-anak yang dipengaruhi GJB.

Dunia kesehatan juga tidak lepas dari pengaruh GJB. Para penganut GJB cenderung (tidak semua) bersikap negatif terhadap pengobatan modern. Sebagian dari mereka yang masih menggunakan jasa pengobatan modern (mengkonsumsi obat dan menjalani terapi fisik) tetap menganggap bahwa terapi psikologis lebih penting. Walaupun kaitan antara kejiwaan (psikis) dan tubuh (somatis) memang terbukti secara rasional dalam bentuk penyakit psiko-somatis, namun beberapa terapi psikologis yang ditawarkan telah melampaui kaitan tersebut. Para penderita dilatih untuk bermeditasi dan menyangkali fakta bahwa dirinya sedang sakit. Mereka diyakinkan bahwa penyakit hanyalah sebuah perasaan atau ilusi belaka. Sebagai gantinya, mereka dibimbing untuk memikirkan kedamaian alam semesta atau hal-hal yang bisa membuat mereka tertawa. Terapi ini dipercaya dapat memberikan ketenangan pikiran dan melepaskan energi positif tubuh. Untuk daftar lengkap tentang beragam metode penyembuhan holistik yang dinafasi oleh pemikiran GJB, lihat Douglas Groothuis, Membuka Topeng Gerakan Zaman Baru, 91-95).

Dalam bidang olah raga, yoga merupakan salah satu produk GJB yang cukup digemari banyak orang. Terlepas dari beragam yoga yang ada (makalah ini tidak mungkin membahasnya secara tuntas), prinsip dasar yoga merupakan pengejawantahan pemikiran GJB. Dalam yoga kita diajarkan gaya-gaya tertentu yang menyiratkan filsafat ketimuran. Kita juga dilatih untuk bermeditasi, mengosongkan pikiran dan menciptakan visualisasi internal yang berfokus pada alam semesta. Kepuasan batiniah yang diperoleh melalui peleburan diri dengan alam (misalnya membayangkan diri sedang berada di pantai, gunung, danau, dsb) dipercaya akan memberikan pengaruh positif bagi tubuh. Semua ini adalah pengaruh GJB yang harus diwaspadai.

Pengaruh lain di bidang olah raga sering ditemukan pada aspek motivasi pemain. Para pemain diyakinkan bahwa mereka memiliki kekuatan yang luar biasa. Beberapa pemain terkenal bahkan secara terus terang mengakui bahwa mereka merasakan energi yang luar biasa ketika mempercayai kekuatan internal tubuh mereka.

Bidang psikologi merupakan salah satu yang paling dekat dengan GJB. Humanisme, sekularisasi dan gaya hidup individualistik telah menjadi tanah yang subur bagi psikologi yang antroposentris. Teori psikoanalisa Sigmund Freud sampai teori motivasi dan kepribadian yang dikembangkan Abraham Maslow merupakan jalan masuk bagi penyambutan GJB. Manusia diajar bahwa pikiran memiliki kekuatan yang tanpa batas. Banyak hal dapat dihasilkan melalui pola pikir yang positif dan melampaui kebiasaan. Kemampuan ini adalah sesuatu yang alamiah dan seringkali dilupakan. Salah satu produk terkenal dari pengaruh ini adalah Human Potential Movement yang mendorong manusia untuk mempercayai diri sendiri dan menyangkali semua keterbatasan yang ada.

Dalam bidang politik dan sosial kita juga dapat melihat pengaruh GJB. Hal ini tidak mengherankan karena dunia politik dan sosial sangat berkaitan dengan bidang-bidang lain yang juga dipengaruhi GJB. Walaupun beberapa bentuk yang dihasilkan dalam bidang politik dan sosial tidak salah, tetapi motivasi di baliknya bersumber dari GJB. Perlindungan alam dan pengurangan polusi merupakan hal yang positif, tetapi beberapa yang mendukung gagasan ini mendasarkannya pada pemikiran bahwa manusia perlu mengidentifikasikan diri dengan alam dan menemukan saling keterkaitan kita dengan segala sesuatu. Emansipasi wanita dalam taraf tertentu tidak melanggar Alkitab, tetapi sebagian pelopor emansipasi mendasarkannya pada konsep keseimbangan antara yin (feminin) dan yang (maskulin). Keinginan untuk membentuk suatu masyarakat dunia global yang tunggal tanpa pemisahan negara dan etnis merupakan hal yang dapat dibenarkan, namun sebagian orang yang mengumandangkan mimpi ini mendasarkannya pada pola pikir monisme.

Yang mungkin paling mengagetkan kita adalah pengaruh GJB dalam bidang ilmu pengetahuan (fisika). Teori mekanika Newton sudah lama menjadi pondasi fisika. Teori ini menganggap dunia sebagai hasil dari hukum-hukum mekanis tertentu yang dikerjakan dalam konteks ruang dan waktu yang mutlak. Paradigma ini mulai ditinggalkan orang seiring popularitas teori relativitas Albert Einstein dan teori kuantum Max Planck. Dua penemuan baru ini membuktikan bahwa dunia atom jauh lebih kompleks dan sulit dirumuskan. Materi tidak bersifat keras dan mekanis. Alam semesta tidak dapat dipotong ke dalam unit-unit kecil yang berdiri sendiri. Segala sesuatu saling berkaitan dan sulit dibedakan. Dunia dan segala isinya adalah suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Prinsip ini sudah diajarkan dalam mistisisme Timur sejak ribuan tahun yang lalu (Capra, The Tao of Physics). Salah satu isu terpopuler dan kontroversial tentang pengaruh GJB dalam dunia fisika adalah kuasa air (the power of water). Seorang peneliti Jepang mengklaim bahwa air dapat berkomunikasi dengan manusia. Apapun yang dikatakan manusia – positif atau negatif – akan mempengaruhi keadaan air tersebut.

Yang paling menyedihkan dan berbahaya, pengaruh GJB telah merambah sampai ke dunia kekristenan. Disadari atau tidak, beberapa konsep dalam teologi kemakmuran didasarkan pada pemikiran GJB. Kenneth Copplan dan Kenneth Hagin menekankan kesetaraan antara Adam dan Allah. Mereka percaya bahwa Adam bersifat ilahi dan sejajar dengan Allah. Benny Hin bahkan dengan tegas pernah berkali-kali menyebut orang-orang Kristen sebagai allah-allah kecil, walaupun pernyataan ini sudah dia ralat beberapa tahun sesudahnya. Iman pada pernyataan positif yang diajarkan dalam teologi kemakmuran juga berangkat dari keyakinan bahwa kata-kata memiliki kuasa. Teori visualisasi Yonggi Cho (apa yang kita bayangkan secara detil/konkrit akan menjadi milik kita) juga sangat mirip dengan konsep visualisasi internal GJB.

Pengaruh lain dalam lingkungan Kristen dapat dijumpai dalam paham moral yang relatif dan pluralisme (keselamatan ada di setiap agama). Dua hal ini berangkat dari asumsi bahwa segala sesuatu memiliki asal yang sama dan secara esensial sebenarnya satu. Perbedaan yang ada adalah ilusi belaka dan terjadi karena kebodohan manusia yang belum dicerahi pikirannya. Jka segala sesuatu adalah satu, maka segala sesuatu bersifat relatif dan semua agama mengajarkan kebenaran yang sama.

GJB dan dunia roh

Secara sekilas kita mungkin sulit melihat kaitan antara GJB dan dunia roh. Keduanya tampak berada dalam wilayah yang berlainan. Kesan ini akan sirna apabila kita menyadari beberapa hal berikut ini.

Pertama, GJB telah membuka jalan bagi spiritisme di dunia Barat. Sebelum GJB menginvasi masyarakat Barat, budaya Barat ditandai dengan rasionalisme yang menekankan kebenaran objektif dan pengagungan rasio. Seiring dengan kegagalan rasionalisme dan masuknya filsafat Timur melalui GJB, semakin banyak masyarakat Barat yang bersikap mistis dan pragmatis. Mereka telah memasuki suatu jaman yang baru sebagai pengganti rasionalisme, yaitu spiritisme. Jaman yang baru ini secara cepat meresap dalam seluruh bidang kehidupan, dari pendidikan, olah raga, ilmu pengetahuan sampai agama.

Kedua, GJB secara eksplisit mengajarkan pengalaman-pengalaman mistis yang dapat dikategorikan sebagai okklutisme (berkaitan dengan roh-roh jahat). Para pengikut meditasi transendental dilatih untuk bermeditasi sampai mereka bisa terbang, tidak dapat dilihat oleh mata biasa, rohnya dapat berkelana meninggalkan tubuh. Sebagian yang lain mengalami kesurupan (trans) dan menjadi media komunikasi bagi roh-roh tertentu yang mengajarkan berbagai hal tentang allah, manusia dan dunia. Beberapa orang mengaku mengalami perjumpaaan dengan dewa tertentu ketika mereka meleburkan diri dengan alam semesta.

Ketiga, penganut GJB telah terjebak pada penyembahan berhala. Bentuk dari penyembahan berhala ini sangat beragam: menyamakan allah dengan segala sesuatu, menjadikan manusia sebagai allah sampai benar-benar memberikan penyembahan pada dewa tertentu. Tindakan ini jelas berkaitan dengan roh jahat, karena bagi kita hanya ada satu Allah dan Tuhan (1Kor 8:4-7). Dalam Mazmur 106:37 penyembahan kepada dewa kafir dikategorikan sebagai penyembahan kepada roh jahat. Siapa yang memberikan penyembahan selain kepada Allah berarti telah menyembah roh-roh jahat (Ul 32:17; 1Kor 10:20-21; Why 9:20).

Keempat, perubahan jaman yang menentang kekristenan sangat berkaitan dengan aktivitas iblis. 2Korintus 4:4 menyatakan bahwa iblis adalah ilah (qeos) jaman ini yang membutakan mata orang-orang pada kebenaran Alkitab. Iblis dan pengikutnya adalah penguasa di udara (Ef 2:2) dan pemimpin dari dunia yang gelap ini (Ef 6:12). Si ular tua, yait iblis, adalah penyesat seluruh dunia (Why 12:9). Mereka akan berusaha mengarahkan dunia pada suatu semangat yang anti-kebenaran. GJB adalah salah satu cara yang dipakai iblis untuk menyesatkan banyak orang. 2Tesalonika 2:3-4 “Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah”.

Evaluasi Alkitabiah terhadap GJB

Apa yang didengungkan dalam GJB sebenarnya adalah isu yang sangat lama. Tidak ada yang baru di bawah matahari (Pkt 1:9). Apa yang menarik dan dicari manusia dalam GJB sudah pernah ditawarkan iblis kepada Adam dan Hawa. Tawaran ini sudah menyentuh filosofi dasar GJB:

· Engkau akan menjadi seperti Allah (Kej 3:5) à panteisme/manusia sebagai allah

· Matamu akan terbuka (Kej 3:5) à perubahan kesadaran kemanusiaan

· Engkau tidak akan mati tetapi menjadi seperti Allah (Kej 3:4-5) à reinkarnasi

Alkitab memberikan data yang cukup untuk mengenali kesalahan-kesalahan dalam GJB. Pertama, kisah ciptaan dalam Kejadian 1 membuktikan bahwa ciptaan Allah sangat beragam dan dapat dibedakan. Allah bahkan membedakan langit dan bumi (Kej 1:1), terang dari gelap (Kej 1:3-4), memisahkan air atas dan bawah melalui cakrawala (Kej 1:6-8), air dari darat (Kej 1:9-10). Allah juga membedakan penciptaan binatang dan manusia. Binatang diciptakan menurut jenisnya (Kej 1:21-25), sedangkan manusia menurut gambar-Nya (Kej 1:26-27; 5:1-2). Segala ciptaan tidak bersatu secara alamiah atau ditentukan oleh kehendak mereka sendiri, tetapi “segala sesuatu disatukan bersama dalam Kristus” (Kol 1:17 “in Him all things hold together”).

Kedua, ada perbedaan yang esensial dan tidak terjembatani antara Allah dan manusia. Allah ada di surga dan kita ada di bumi (Pkt 5:1). Doa Bapa Kami yang mengajarkan kedekatan Allah pun tidak lupa menegaskan bahwa Allah yang kita panggil sebagai Bapa “ada di surga” (Mat 6:9). Kita tidak dapat “menyembah makhluk dengan melupakan Pencipta-Nya” (Rom 1:25). Jangankan untuk menyamakan Allah dengan suatu benda, Paulus bahkan menegaskan bahwa “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia” (Kis 17:24). Allah dengan keras memberikan perintah “jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Kel 20:3). Kita perlu mendengarkan kembali pertanyaan yang dulu diucapkan Allah kepada bangsa Yehuda yang menyamakan Dia dengan yang lain. Yesaya 46:5 “Kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku, sehingga kami sama?”.

Lebih jauh, Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Allah adalah berpribadi. Allah adalah kuat, tetapi Dia bukan sekedar kekuatan alamiah yang buta tanpa pribadi. Allah memang besar, tetapi Dia bukan kumpulan dari segala sesuatu. Allah memiliki perasaan, pikiran dan kehendak.

Ketiga, kemuliaan manusia tidak terletak pada hakekat nilai, karena manusia memang tidak memiliki hakekat ilahi. Kemuliaan manusia terletak pada fakta bahwa mereka diciptakan menurut gambar Allah (Kej 1:26-27; 5:1-2). Dalam konteks inilah manusia lebih berharga daripada ciptaan yang lain (Mzm 8:4-9). Bagaimanapun, manusia hanya “hampir sama seperti Allah” (Mzm 8:6) dan mereka semua harus tetap memuliakan Allah sebagai Pencipta (Mzm 8:2, 10). Alkitab berkali-kali mengutuk manusia yang ingin menduduki tahta ilahi (Yes 14:13-15; Yeh 28:1-2; Kis 12:21-23).

Keempat, nilai manusia yang sesungguhnya hanya dapat ditemukan melalui kesadaran tentang keberdosaan manusia. Kita perlu menyadari bahwa “semua manusia telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:23). Kalau GJB mengagungkan diri manusia sebagai solusi dari persoalan, kekristenan justru menekankan diri manusia sebagai sumber masalah. Dari dalam diri manusia muncul segala sesuatu yang jahat (Mat 7:21-23). Segala aspek kehidupan manusia telah tercemar oleh dosa (Rom 3:10-18). Semua ini hanya dapat diatasi oleh Allah sendiri yang berkenan melahirbarukan natur kita yang berdosa ini (Yoh 3:3, 5), sehingga kita menjadi ciptaan yang baru dalam Kristus Yesus (2Kor 5:17). Penebusan Kristus dengan darah-Nya yang mahal memberikan nilai diri yang seutuhnya bagi kita (1Pet 1:18-19). Jadi, pemulihan manusia tidak dapat dicapai melalui “at-one-ment” (penyatuan), tetapi “atonement” (penebusan).

Kelima, perubahan dunia secara total tidak akan terwujud dalam dunia. Dunia telah tercemar oleh dosa dan dipenuhi berbagai penderitaan. Semua makhluk akan tetap menghadapi masalah ini sampai pemulihan segala sesuatu terjadi di akhir jaman (Rom 8:18-24). Kita hanya dapat menanti saat tersebut (2Pet 3:13), bukan mengupayakannya. Allahlah yang akan menjadikan langit dan bumi yang baru (Yes 65:17; 66:22; Why 21:1).

Keenam, semua manusia ditentukan untuk mati satu kali. Ibrani 9:27 “manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi”. Kita memang akan mengalami kehidupan kedua setelah kematian, tetapi hal ini bukan terjadi di dunia ini. Kita akan dibangkitkan dengan tubuh kemuliaan (1Kor 15:53-54) dan menikmati hidup kekal di surga (1Yoh 1:2; Why 22:5). Selama di surga kita tetap sebagai ciptaan. Kita tidak berubah menjadi Allah atau setengah ilahi. Kita tetaplah manusia yang harus menyembah Pencipta kita (Why 4:10; 11:16; 19:4)

2 thoughts on “Gerakan Jaman Baru (New Age Movement)

    • Terima kasih atas informasinya ternyata daya hipnotis juga digunakan untuk hal2 seperti itu ya… sekarang saya sedang mendalami mengenai kemampuan otak seperti hipnoterapi, NLP, dsb.
      senang kenalan dengan anda… jika punya blog sendiri boleh dong saya minta untuk dijadikan teman dalam menulis. Thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s