BACALAH!!!

‘Iqro’: Bacalah, demikian setiap insan diperintahkan. Pertanyaannya: membaca yang seperti apa? Rasanya bukan sekedar perintah membaca seperti membaca biasa, bukan?

Artinya membaca di sini diwarnai dengan daya pikir yang total, mengingat, menganalisa dan bahkan membayangkan implementasinya di pekerjaan.

Dari pengalaman saya, sering sekali saya temui situasi di mana justru orang yang sebenarnya harus membaca secara seksama tetapi tidak membaca secara intensif. Berarti memang dalam kehidupan bekerja ada orang yang biasa membaca dan ada orang tidak biasa membaca. Tambahan lagi, bila kita perluas masalahnya, esensinya bukan sekedar membaca tulisan atau laporan saja, tetapi juga membaca situasi, keadaan. Kita pun tidak lepas dari keharusan membaca cuaca, signal, body language, dan emosi dalam interaksi dengan setiap orang yang kita temui.

Makna ‘iqro’ dalam islam sangatlah mendalam. Dikemukakan bahwa membaca bukan sekedar mengambil bunyi dan arti harafiahnya tetapi juga membaca konteks, dampak, hubungan sebab akibat, serta gagasan yang terkandung di dalamnya. ‘Iqro’ berisi perintah untuk ‘membaca alam semesta termasuk juga diri kita sendiri’. “Bukankah semua di alam semesta ini adalah ‘kitab’ yang perlu kita baca?”.

Nah, tujuan membaca adalah untuk memahami isinya. Untuk memahami isi, kita harus mengerti gagasan (topik) dasar apa yang kita baca, sistematika penulisannya dan pesan yang dikirimkan. Jelas bukan bacaan saja yang penting, namun cara bacanya itulah yang menjadi kunci kesuksesan.

Sikap Intelek dalam Membaca

Teman saya adalah contoh orang yang ingin disebut sebagai maniak bacaan. Setiap mengunjungi toko buku, ia tidak ragu mengeluarkan berjuta-juta rupiah untuk membeli buku. Di samping bertanya-tanya kapan dia bisa melalap buku yang sekian banyaknya, saya pun terkadang heran dengan sikapnya. Ternyata, jarang sekali teman saya ini bisa menceriterakan kembali apa isi buku tertentu dengan runtut. Yang sering terdengar hanyalah komentarnya mengenai buku ini dan buku itu. Jadi sebenarnya saya tidak mengerti apa yang diserapnya dari buku-buku tersebut.

Harapan seseorang untuk menjadi orang ‘intelek’ memang sangat berkaitan dengan bacaan. Ada yang mengatakan ‘you are what you read’. Namun, bagaimana membacanya pun sangat menetukan kadar intelektualitas Anda. Ada orang yang membaca sambil berimajinasi, ada yang menggarisbawahi yang penting-penting, ada yang mengambil intisari, dan ada pula yang menyimpan beberapa detil. Seorang yang intelek perlu mampu membaca buku dan ‘konteks’ yang mengelilinginya. Terhadap sebuah tulisan kita perlu ‘hadir’, menyerap, menyimpulkan, mengulang, dan memperjelas.

Bacalah dengan Seksama

Karena kita toh sudah meluangkan waktu untuk membaca, alangkah sayangnya kalau kita tidak siap untuk menerima informasi, baik atau buruk kenyataannya. Untuk itu, dalam membaca orang perlu juga mempersiapkan ‘mind set’ untuk mencari dan berusaha berorientasi. Untuk itu, kita perlu mengorganisasikan dan mengosongkan pikiran, bahkan siap menyusun informasi yang masuk dan menatanya di dalam memori.

Bertanya sebelum Membaca

Bila dipikir-pikir lagi, rasa ingin tahu yang dipunyai setiap orang bisa dipenuhi dengan mengajukan pertanyaan. Jadi, bila kita membaca, dengan kesiapan mental untuk bertanya, misalnya: ”Apa sih yang ingin dikatakan penulis ini?”, atau “Kenapa sih tokoh dalam ceritera ini berkarakter aneh?”, maka pertanyaan-pertanyaan ini akan menggiring kita untuk konsentrasi mencari jawaban dalam tulisan yang tengah kita baca. Ini akan membuat membaca lebih asik, bahkan menyebabkan kita bisa ‘masuk’ dalam situasi dan alam pikiran penulis. Dengan demikian pemahaman yang kita peroleh akan lebih dalam.

Begitu banyak bacaan di lingkungan kerja kita. Bayangkan bila kita tidak mempunyai kesiapan mental untuk benar-benar MEMBACA, betapa banyak fenomena yang lolos dari pengamatan kita?

BOX: 7 Keuntungan utama membaca alam semesta :

• Mengusir keraguan, kecemasan, dan kesedihan
• Menebalkan keimanan, karena sesungguhnya bacaan adalah pelajaran yang paling besar, peringatan yang paling agung, pencegah kemungkaran yang paling efisien, dan perintah yang paling bijak
• Melemaskan lidah dan menghiasi diri dengan kefasihan berbicara
• Mengembangkan wawasan berpikir dan memperbaiki persepsi
• Mengambil manfaat dari pengalaman orang lain
• Menelaah berbagai kebudayaan yang menumbuhkan kesadaran akan perannya dalam kehidupan manusia
• Menjaga kalbu dari kekacauan,dan memelihara waktu dari kesia-siaan

Thanks untuk tulisannya ya … Eileen Rachman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s