YUNUS NABI SINTING

Yunus bagiku adalah nabi yang paling sinting, tetapi paling simpatik. Yunus dipanggil Tuhan dan diberi tugas, “Bangunlah Yunus bin Amitai. Pergilah ke kota metropolitan Niniwe. Berserulah kepada penduduk yang jahatnya sudah begitu tinggi sampai di kakiKu agar mereka bertobat.” Tetapi Yunus malahan melarikan diri ke Tarsis sampai Pelabuhan Yafo. Ia naik kapal maunya lari menjauhi Tuhan. Sinting, bukan? Tetapi sebetulnya dia itu cerdas, punya logika. Batas antara cerdas dan sinting sebetulnya tipis sekali. Cuma, Yunus ini lebih sinting daripada cerdas. Mosok lari dari Tuhan. Mana bisa !!!

Sungguh menarik bahwa penulis Kitab Raja-raja menyebut Yunus “ hamba “ Tuhan dan juga “ nabi. “ jelaslah nabi Yunus memiliki karir yang cemerlang dan lebih lama dari yang dituliskan ( 2 Raja-raja 14:25 ). Kita sungguh-sungguh tidak memiliki dasar lain untuk mengevaluasi peran Yunus sebagai hamba kecuali kitab yang memakai namanya. Dan pertanyaan yang perlu dipertimbangkan di sini adalah “ hamba siapakah dia itu ? “

Dalam kitab Yunus, nabi ini tampaknya lebih melayani diri sendiri. Pelariannya dari hadapan Tuhan ( 1:3, 10 ) merupakan pelarian menuju egonya sendiri. Ia berpikir menurut pendapatnya sendiri. Bahkan ketika ia tahu ia telah kalah berperang, ia masih melanjutkan perang pribadinya ( 4:1-11 ). Penulis kitab pada awalnya membiarkan kita hanya dengan fakta secukupnya, yakni “ Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan, “ tanpa memberikan penjelasan. Tadi saya sempat bilang bahwa Yunus sangat cerdas, serta punya logika, Apa maksudnya ???

Pertama, yang membuat Yunus lari dari Tuhan adalah rasa patriotisme serta nasionalismenya yang kuat. Yunus ketika mendapat mandat pergi ke metropol Niniwe agar ia menyerukan pertobatan di kota tersebut, dengan cepat memikirkan keadaan bangsanya. Yunus lari dari misinya karena ia tahu bahwa bangsa Niniwelah yang kelak akan menghancurkan serta menjajah umat Allah itu ( mungkin dalam pikiran si edan ini, jika ia lari dari misinya maka hukuman Tuhan akan terjadi atas Niniwe ).

Kedua, setelah Tuhan menyesal karena malapetaka yang telah direncanakan-Nya terhadap Niniwe, barulah Yunus memberikan penjelasan yang kedua atas pelariannya. “ Ya Tuhan, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya “ ( 4:2 ).

Yunus mengenal Allah dengan baik, mengenal Dia dengan sangat baik untuk kenyamanannya sendiri. Meskipun hal ini adalah pergumulan teologis yang sangat nyata bagi dia, belas kasihannya, yang pada suatu saat seharusnya menjadi dewasa dan mengarah ke Niniwe, justru berbalik kepada dirinya sendiri. Kemarahan atas belas kasihan Tuhan terhadap Niniwe dan kesenangannya karena tanaman yang menaungi dia, angin timur yang panas dan matahari timur dekat yang terik memunculkan rasa mengasihani dirinya sendiri. Sebatang tanaman dan sebuah kota dengan 120.000 penduduk, bagaimana perbandingan antara keduanya ? seorang nabi yang dipanggil untuk berkhotbah kepada Niniwe dan Allah yang membuat kota tersebut, bagaimana perbandingannya ?

Setidaknya, dalam cerita ini, Yunus adalah hamba Tuhan karena ia tidak bisa menolak permintaan Allah. Panggilan Allah tidak dapat dibatalkan. Seorang hamba dapat memiliki pandangannya sendiri, dan ia dapat mengalihkan perhatiannya pada apa yang diharapkannya dari Allah daripada apa yang sebenarnya telah dinyatakan-Nya, tetapi panggilan Allah untuk bernubuat akan menangkap dia di mana pun ia berada dan memaksa dia untuk taat. Ya, bahkan hamba yang mementingkan dirinya sendiri adalah hamba Tuhan, karena ia tidak dapat menolak perintah Allah. Ia dapat melarikan diri ke Tarsis, tetapi Allah akan mengubah penolakannya yang membangkang itu dan menjadikannya ketaatan.

Memang si Yunus rada gelok kata orang sunda, tetapi Tanpa orang sinting dunia kita tidak dapat maju. Seperti gado-gado pecel tanpa cabe. Atau sambal goreng tanpa petai. Awas jangan sampai kita meninggalkan panggilan kita, ntar jadi sinting seperti bang Yunus.

Sola Gracia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s