JESUS SEMINAR

Sejarah penyelidikan Yesus Sejarah

Usaha membuat dikotomi antara Yesus Sejarah (The Jesus of History) dan Kristus Iman (The Christ of Faith) sebenarnya bukan isu yang baru. Tren ini sudah dimulai sejak sekitar dua abad yang lalu. Kurun waktu pencarian ini biasanya dibagi menjadi tiga[i] atau empat fase.[ii] Inti permasalahan terletak pada apakah “periode No Quest” (awal abad ke-20 sampai 1953) dianggap sebagai periode tersendiri atau tidak. Perbedaan penghitungan ini bisa dipahami karena tidak ada batasan yang jelas tentang transisi antar fase dan keberagaman konsep yang muncul dalam fase yang sama. Bagaimanapun, penjelasan berikut ini dianggap cukup untuk memberikan gambaran umum.

(1) First (Old) Quest.

Fase ini dimulai dari jaman Herman S. Reimarus (1694-1768) lewat bukunya Fragments[iii] yang diterbitkan G. E. Lessings tahun 1774-1778 sampai William Wrede yang menerbitkan buku Das Messiasgeheimnis in den Evangelien[iv] pada tahun 1901.[v] Berikut ini adalah beberapa karakteristik utama fase ini:

q Diskontinuitas antara The Jesus of History and The Christ of Faith.[vi]

q Skeptisisme tentang kemungkinan rekonstruksi sejarah.[vii]

q Pendekatan yang sangat filosofis (presuposisionalis).

(2) Second (New) Quest.

Periode ini mencakup tahun 1953 sampai 1970. Tokoh terkenal pada periode ini adalah Ernst Käsemann dan G. Bornkamm.[viii] Beberapa karakteristik utama:

q The Jesus of History harus ditelusuri dari The Christ of Faith.

q Penggunaan berbagai kritik modern untuk merekonstruksi sejarah, misalnya kritik sumber, kritik bentuk, kritik redaksi, kritik tradisi.

q Penggunaan kriteria otentisitas tertentu untuk menguji kredibilitas suatu catatan.

Hasil dari fase ini secara umum “lebih bersahabat” – dari sudut pandang ortodoksi – daripada hasil dari fase sebelumnya.

(3) Third Quest.

Karakteristik utama fase ini adalah kecenderungan untuk menempatkan Yesus dalam konteks Yahudi abad pertama. Fokus utama bukan terletak pada apakah ucapan Yesus dalam kitab-kitab Injil kanonik memiliki kredibilitas historis. Mereka mencoba melihat ucapan dan tindakan Yesus dalam konteks komunitas Yahudi abad pertama dan selanjutnya merekonstruksi sebuah “figur Yesus” secara utuh sesuai dengan penelitian mereka.[ix] Secara umum dapat dikatakan bahwa para sarjana pada fase ini memberikan apresiasi lebih terhadap historisitas kitab-kitab Injil. Sarjana liberal, evangelikal maupun Yahudi juga turut dalam penyelidikan ini, misalnya Joachim Jeremias, George B. Caird, Geza Vermes, N. T. Wright, Martin Hengel, Craig Evans, Scott McKnight, dll.

Signifikansi

Sebelum membahas Jesus Seminar secara khusus, satu pertanyaan yang perlu dijawab adalah “Mengapa orang percaya perlu memberikan bukti kredibilitas historis kitab-kitab Injil?” “Mengapa orang percaya tidak cukup mempercayai “Kristus Iman” saja tanpa menyoalkan apakah figur tersebut sesuai dengan “Yesus Sejarah”?

Berikut ini adalah beberapa alasan fundamental mengapa orang percaya perlu terlibat dalam penyelidikan ini. Pertama, “kemungkinan” bahaya penyembahan berhala. Bagian Alkitab yang paling sering diragukan oleh sarjana liberal adalah yang berhubungan dengan klaim Yesus sebagai (Anak) Allah. Seandainya Yesus ternyata memang tidak pernah membuat klaim tersebut berarti orang percaya telah terjebak pada penyembahan berhala ketika mereka menganggap Yesus sebagai Allah.

Kedua, relasi antara iman dan kebenaran. Kedua hal ini saling berkaitan dan tidak kontradiktif. Iman yang benar harus didasarkan pada apa yang benar. Selain itu, keseluruhan hidup seseorang dalam banyak hal ditentukan oleh apa yang ia percayai, karena itu seseorang harus yakin bahwa apa yang dia imani adalah sesuatu yang benar. “For the wise person of virtue, a life well lived is based on the truth”.[x]

Ketiga, relasi antara iman dan rasio. Terkait dengan poin di atas, seseorang menggunakan akalnya untuk mengevaluasi apakah yang ia percayai memiliki kemungkinan benar yang cukup besar. ”When we use our reason and base decisions on the best asessment of the evidence we can make, we increase our chances that our decisions are based on true beliefs”.[xi]

Keempat, keunikan kekristenan sebagai agama yang menekankan sejarah. Dikotomi antara iman dan sejarah tidak bisa dibenarkan, karena “this is by definiton irrational, and actually unchristian, since Christiaity is based on the concept of God acting in history”.[xii]

Jesus Seminar

Di antara semua usaha penyelidikan yang telah dipaparkan di awal tulisan ini, ada satu gerakan yang perlu dicermati secara khusus, yang dikenal dengan nama Jesus Seminar (JS). Beberapa sarjana mengkategorikan JS ke dalam Second Quest (dari segi metode), sedangkan yang lain ke Third Quest (dari segi waktu).

Ada dua alasan utama mengapa JS perlu disoroti secara khusus. Pertama, JS merupakan aliran yang paling radikal dan skeptis tentang historisitas kitab-kitab Injil. Secara umum dapat dikatakan bahwa JS sangat mirip dengan pola pikir pada masa First Quest. Kedua, JS dirancang untuk informasi publik, sedangkan penyelidikan lainnya hanya terbatas pada lingkaran akademik para sarjana. Tujuan mereka adalah “to update and then make the legacy of two hundred years of research and debate a matter of public record”.[xiii]

Keseriusan untuk mempopulerkan pandangan mereka terlihat dari beberapa hal berikut ini:

(1) Penerbitan The Five Gospels: What Did Jesus Really Say? untuk konsumsi publik.

(2) Penerbitan berbagai artikel dan talk-show di berbagai majalah populer dan televisi, misalnya Time, Newsweek, U.S. News dan World Report.

(3) Keanggotaan JS yang terbuka untuk orang awam.

(4) Paul Verhoeven, seorang sutradara film Hollywood sekaligus anggota JS, menggarap sebuah film untuk mengulang kesuksesan film Jesus Christ Superstar yang sempat populer tahun 1970-an. Beberapa sarjana mensinyalir adanya pengaruh JS di balik novel/film The Last Temptation of Christ (Nikos Kazantzakis).

Mengenal Jesus Seminar

JS merupakan kumpulan sarjana dan kaum awam yang secara kontinyu dan intensif mengadakan konsultasi untuk menentukan apakah setiap bagian dari kitab Injil memang berasal dari ucapan Yesus sendiri. Usaha ini sudah dimulai sejak tahun 1985. JS juga telah menyelesaikan konsultasi yang berkaitan dengan otentisitas perbuatan Yesus. JS mula-mula beranggotakan 200 orang, tetapi jumlah ini kemudian merosot tajam menjadi 74 orang. Pemimpin JS yang penting adalah Robert W. Funk (pelopor), John Dominic Crossan dan Marcus Borg. Pembiayaan JS didukung oleh Westar Institute di California.[xiv]

Dalam buku The Five Gospels: What Did Jesus Really Say?mereka memberi warna yang berbeda untuk setiap ucapan Yesus yang ada di kitab-kitab Injil kanonik dan Injil Thomas: merah = benar-benar ucapan Yesus; merah muda = Yesus mungkin mengatakan hal yang mirip itu; abu-abu = bukan perkataan Yesus, tetapi idenya mirip dengan ide Yesus sendiri; hitam = sama sekali bukan perkataan Yesus. Tabel di bawah ini merupakan rangkuman dari buku tersebut.[xv]

Injil & jumlah total perkataan Yesus
Merah
Merah muda
Abu-abu
Hitam
Persentasi

Matius (420)
11
61
114
235
2,6%

Markus (177)
1
18
66
92
0,6%

Lukas (392)
14
65
128
185
3,6%

Yohanes (140)
0
1
5
134
0,0%

Thomas (202)
3
40
67
92
1,5%

Prosedur, kriteria dan sumsi dasar

Ketika menentukan apakah suatu ucapan benar-benar berasal dari Yesus atau tidak, JS menggunakan prosedur, kriteria dan asumsi dasar tertentu.

(1) JS mengumpulkan semua catatan kekristenan kuno tentang Yesus yang ditulis sebelum Edict Milan (313 M) dan Konsili Nicea (325 M), karena mereka berpendapat bahwa setelah periode ini golongan kekristenan ortodoks sudah memiliki soliditas dan kemampuan untuk menyingkirkan gerakan lain yang tidak ortodoks.[xvi] JS menyertakan beberapa kitab non-kanonik lain dalam penyelidikan mereka, misalnya Q (sumber tertulis yang dipakai oleh Matius dan Lukas, tetapi tulisan ini sekarang sudah tidak ada lagi), Injil Thomas dan Injil Petrus.

(2) Daftar ucapan Yesus dari kitab Injil kanonik maupun non-kanonik yang sudah dikumpulkan selanjutnya dievaluasi dengan menggunakan 3 (tiga) kriteria otentisitas:[xvii]

q Kriteria ketidaksamaan : suatu ucapan dianggap otentik apabila berbeda dengan Yudaisme waktu itu maupun konsep gereja mula-mula.

q Kriteria pembuktian majemuk : suatu ucapan dianggap otentik apabila terdapat di beberapa sumber yang berbeda atau berada dalam form yang berbeda.

q Kriteria koherensi : suatu ucapan dianggap otentik apabila tidak bertentangan dengan hasil kriteria-kriteria sebelumnya.

(3) Setiap anggota JS selanjutnya diberi kesempatan untuk memberikan nilai masing-masing untuk setiap ucapan yang diselidiki. Seandainya tidak tercapai konsensus, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak. Mereka menganggap bahwa hasil pemungutan suara ini merupakan konsensus para sarjana.[xviii]

Selain prosedur dan kriteria di atas, JS sebenarnya memiliki beberapa asumsi dasar yang dalam prakteknya justru sangat menentukan keputusan mereka. Berikut ini adalah beberapa asumsi dasar yang dipegang mereka. Pertama, gereja mula-mula telah mengubah tradisi tentang Yesus sesuai dengan situasi dan kebutuhan gereja waktu itu. Gereja mula-mula berusaha menampilkan Yesus sesuai dengan situasi waktu itu. Modifikasi ini juga terkait dengan teologi tertentu yang ingin disampaikan oleh para penulis. Perbedaan cerita untuk peristiwa yang sama dalam kitab-kitab Injil dianggap sebagai bukti eksplisit bahwa para penulis bebas mengubah tradisi tentang Yesus untuk kepentingan teologi. Kedua, semua ucapan Yesus dalam kitab Injil yang bersifat prediktif bukan berasal dari Yesus. Bagian tersebut pasti ditulis setelah peristiwanya terjadi. Terkait dengan pemikiran antisupernaturalistik ini, JS juga menolak historisitas mujizat. Ketiga, Injil Thomas[xix] bersifat independen, lebih tua dan lebih bisa dipercaya daripada kitab-kitab Injil kanonik. Sebagai catatan, mayoritas anggota JS menganggap kitab-kitab Injil kanonik ditulis pada akhir abad ke-1 atau bahkan abad ke-2. Yang pasti mereka menganggap 4 Injil kanonik ditulis setelah tahun 70 M. Keempat, cerita-cerita dalam Alkitab yang menjadi konteks ucapan Yesus merupakan hasil imajinasi para penulis kitab Injil. JS berpendapat bahwa ucapan yang memiliki kemungkinan sebagai ucaan yang otentik adalah yang bisa dipisahkan dari konteksnya.

Evaluasi terhadap JS

Tidak semua yang dinyatakan JS adalah salah. Beberapa pendapat mereka memang bisa dibenarkan, misalnya adanya periode transmisi lisan sebelum tradisi tentang Yesus dituliskan, para penulis Alkitab tidak menuliskan setiap perkataan Yesus, penulisan tradisi tentang Yesus melibatkan proses peredaksian dari pihak penulis. Bagaimanapun, JS lebih banyak memiliki nilai negatif daripada positif.

(1) Keputusan JS bukanlah konsensus para sarjana.
Blomberg memberikan pemetaan keanggotaan JS yang berguna untuk membuktikan bahwa keputusan JS tidak mewakili mayoritas sarjana.[xx]

q Di antara 74 anggota JS, hanya 14 orang yang terkenal dalam studi tentang Yesus dan sekitar 20 orang lagi berada di bidang PB tetapi tidak terlalu terkenal. Di antara 40 orang sisa anggota JS yang lain, beberapa hanya memproduksi sedikit jurnal. Sebagian di antara jumlah ini bahkan bukan sarjana sama sekali.

q 36 orang lulus atau mengajar di 3 universitas yang terkenal paling liberal, yaitu Claremont, Harvard dan Vanderbilt.

q Keanggotaan JS didominasi oleh sarjana dari Amerika.

(2) Kriteria otentisitas yang dipakai kurang tepat.

Berikut ini adalah beberapa kelemahan dari kriteria yang dipakai JS.[xxi]

q Kriteria ketidaksamaan mengasumsikan bahwa Yesus mengajarkan sesuatu dalam kevakuman (tidak memiliki akar pada Yudaisme/PL) dan tidak ada ajaran-Nya yang mempengaruhi para pengikut-Nya.[xxii]

q Kriteria pembuktian majemuk kadangkala sulit diaplikasikan pada teks-teks tertentu yang hanya ada di satu kitab, karena tidak semua sumber tertulis yang dipakai seorang penulis Alkitab sudah ditemukan melalui arkeologi.[xxiii]

(3) Kriteria otentisitas yang dipakai diberlakukan secara inkonsisten.[xxiv]

JS tidak selalu mempraktekkan kriteria yang mereka pakai secara konsisten. Contoh: Lukas 5:33-39 (murid-murid Yesus tidak berpuasa) seharusnya memenuhi kriteria ketidaksamaan, karena orang Yahudi maupun gereja mula-mula sangat menekankan puasa, tetapi JS tetap menganggap teks ini tidak otentik. Contoh kedua adalah sebutan “Anak Manusia” yang sering dipakai Yesus. Yudaisme tidak memakai ungkapan ini untuk Mesias. Gereja mula-mula juga pasti akan memilih ungkapan lain yang lebih tepat sebagai penghormatan terhadap Yesus. JS ternyata tetap menolak otentisitas sebutan Yesus ini. Berdasarkan kriteria pembuktian majemuk, sebutan “Anak Manusia” juga seharusnya diakui otentisitasnya, karena ditemukan di semua kitab Injil dan Q (Mat 11:19//Luk 7:34; Luk 19:10; Mar 10:45). Kenyataannya, JS tetap tidak mengakui hal ini.

(4) Injil Thomas merupakan produk abad ke-2 dan bergantung pada kitab-kitab Injil kanonik.

Berikut ini adalah beberapa argumentasi yang mendukung pernyataan di atas.

q Beberapa di Injil Thomas memiliki paralel di semua kitab Injil kanonik, Q dan sumber-sumber khusus yang dipakai para penulis (M dan L). Lebih mudah dipahami apabila penulis Injil Thomas yang menggunakan kitab-kitab kanonik daripada para penulis lain (termasuk penulis Q, M dan L) menggunakan Injil Thomas.[xxv]

q Dalam banyak kasus terlihat jelas bahwa penulis Injil Thomas memodifikasi teks-teks kitab Injil kanonik dengan ungkapan-ungkapan yang bernuansa Gnostik. Contoh: Injil Thomas 73 paralel dengan Mat 9:37-38 dan Luk 10:2, tetapi Injil Thomas 74-75 memiliki tambahan yang sangat Gnostis, terutama ayat 75 “Jesus said, ‘many are standing at the door, but it is the solitary who will enter the bridal chamber’”. Ungkapan “solitary” dan “bridal chamber” merupakan ungkapan khas Gnostik.[xxvi]

q Injil Thomas 53 mencatat tentang perkataan Yesus yang menyiratkan ketidakmutlakan sunat secara lahiriah. Ucapan ini sangat mungkin tidak berasal dari Yesus, karena waktu itu belum banyak petobat dari kalangan non-Yahudi, sehingga sunat atau tidak bersunat belum menjadi isu pelik.[xxvii] Bahkan kitab-kitab Injil kanonik yang ditulis tahun 60-an (setelah Injil diterima berbagai bangsa) pun tidak menyinggung ucapan Yesus tentang sunat sama sekali.

(5) “Yesus” yang dihasilkan JS tidak masuk akal.

Seandainya kriteria dan asumsi dasar JS diterima dan diterapkan, maka “Yesus” yang ditampilkan adalah figur yang sangat aneh dan tidak masuk akal. Berdasarkan kriteria ketidaksamaan, “Yesus” tidak pernah mengucapkan sesuatu yang sama atau mirip dengan orang hidup sejaman dengan dia. Ia tidak pernah mengucapkan perkataan yang panjang. Ia tidak pernah mengucapkan suatu perkataan pada waktu ia melakukan sesuatu (karena setiap konteks cerita dianggap tidak otentik).

Burden of proof

Dari pemaparan di atas terlihat bahwa rekonstruksi ucapan dan tindakan Yesus yang dilakukan oleh JS tidak didasarkan pada data. JS hanya berspekulasi tentang data yang ada. Berdasarkan prinsip kritik sejarah, mereka yang memiliki pandangan berbeda dengan data yang ada (dan pandangan itu tidak didukung oleh data) seharusnya memiliki beban untuk membuktikan kebenaran pandangan mereka. Dalam pemikiran yang lebih luas, seperti akan dibahas dalam bagian ini, burden of proof memang terletak pada anggota JS dan sarjana liberal lain yang meragukan kredibilitas historis Alkitab. Berikut ini adalah beberapa argumentasi penting yang mendukung pendapat di atas.[xxviii]

(1) Penghargaan gereja mula-mula (dan para rasul) yang tinggi terhadap tradisi. Contoh: 1Korintus 7:10 dan 12.

(2) Kesetiaan gereja mula-mula memelihara “bacaan yang sulit”, misalnya Markus 6:56; 10:10-12, 18; 13:32.

(3) Komunitas Yahudi yang sangat menjunjung tinggi tradisi lisan. Josephus bahkan membanggakan kemampuannya dalam menghafal tradisi. Penelitian juga membuktikan bahwa para rabi dan para pengikut mereka terbiasa menggunakan catatan-catatan kecil untuk mencatat beberapa informasi penting.

(4) Eksistensi gereja induk di Yerusalem yang terus mengontrol perkembangan tradisi Kristen (Injil). Contoh: Kisah Rasul 8:14; 11:1-3; 15:1-2; 21:17-25.

(5) Eksistensi saksi mata yang turut menjaga keabsahan suatu tradisi, bahkan seandainya semua kitab PB dianggap ditulis jauh setelah hidup Yesus (seperti pendapat JS). Bukankah ada periode lisan sebelum penulisan kitab-kitab tersebut? Bukankah orang Kristen waktu itu masih menjadi minoritas, sehingga mudah bagi golongan mayoritas untuk membuktikan ketidakbenaran tradisi Kristen? Lalu mengapa tradisi tersebut tetap bisa bertahan?

(6) Dari segi penerusan sebuah tradisi, kemungkinan untuk mengarang cerita adalah sangat kecil. Pertama, jarak antara peristiwa dan pengubahan cerita tersebut harus cukup lama. Tidak ada suatu legenda/mitos yang lahir dalam beberapa dekade saja. Paling tidak sebuah cerita gubahan baru bisa diterima setelah para saksi mata meninggal dunia. Kedua, untuk membuat sebuah cerita yang tidak benar perlu kapasitas yang memadai dari pembuatnya. Apakah para murid Tuhan Yesus yang mayoritas dari golongan menengah ke bawah dan berasal dari Galilea (kaum marjinal) memiliki potensi yang cukup untuk membuat cerita-cerita tersebut? Ketiga, seandainya para murid memang mengubah cerita, apakah tujuan mereka? Apakah mereka mencari akseptabilitas dari masyarakat? Bukankah “cerita gubahan” mereka tidak memiliki nilai jual, baik dari konteks masyarakat Yahudi maupun Yunani? (1Kor 1:22-23).[xxix] Selain itu, orang Kristen waktu itu sedang mengalami aniaya karena iman mereka. Secara logika sulit bagi mereka untuk “menjual” gubahan cerita tersebut yang tidak masuk akal bagi orang waktu itu sekaligus menuntut konsekuensi yang berat untuk menerimanya. #

——————————————————————————–

[i] Mayoritas sarjana, misalnya N. T. Wright, Who Was Jesus (Grand Rapids: Eerdmans, 1992), 1-18; Darrell L. Bock, Studying the Historical Jesus: A Guide to Sources and Methods (Grand Rapids/Leicester: Baker Academic/Apollos, 2002), 141-152.

[ii] Norman L. Geisler, “The Quest for the Historical Jesus” dalam Baker Encyclopedia of Christian Apologetics. Baker reference library (Grand Rapids: Baker Books, 1999), 385.

[iii] H. S. Reimarus, Fragments, ed. C. H. Talbert, trans. Ralph S. Fraser, The Live of Jesus Series (Philadelphia: Fortress, 1970).

[iv] Untuk versi bahasa Inggris dari buku ini lihat The Messianic Secret, trans. J. C. G. Greig (London: J. Clarke, 1971).

[v] Pembagian dari Reimarus sampai Wrede didasarkan pada Albert Schweitzer, The Quest of the Historical Jesus: A Critical Study of Its Progress from Reimarus to Wrede, trans. W. Montgomery (New York: Macmillan, 1961).

[vi] Schweitzer menyarikan periode First Quest dengan mengatakan, “The Jesus of Nazareth who….who…who…never had any existence”, The Quest, 398.

[vii] Bultmann mengatakan “I do indeed think that we can know almost nothing concerning the life and personality of Jesus…”. Jesus and the Word, trans. Louise Pettibone Smith and Erminie Huntress Lantero (New York: Charles Scribner’s Sons, 1958), 8. Ia mengusulkan metode interpretasi demitologisasi. Lihat Jesus Christ and Mythology (London: SCM Press, 1960).

[viii] Günther Bornkamm, Jesus of Nazareth (New York: Harper and Row, 1960).

[ix] Wright meringkaskan isu yang ingin dijawab pada periode ini: (1) Apakah hubungan antara Yesus dengan Yudaisme pada jaman itu?; (2) apakah tujuan sebenarnya dari hidup Yesus?; (3) mengapa Yesus mati?; (4) mengapa gereja mula-mula ada?; (5) apakah kitab-kitab Injil itu?. Who Was Jesus?, 17-18.

[x] Michael J. Wilkins and J. P. Moreland, “Introduction: The Furor Surrounding Jesus” dalam Jesus Under Fire, ed. Michael J. Wilkins and J. P. Moreland (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1995), 6.

[xi] Ibid, 7.

[xii] Craig L. Blomberg, The Historical Reliability of the Gospels (Downers Grove: Inter-Varsity Press, 1987), 10.

[xiii] Robert W. Funk, Roy W. Hoover and The Jesus Seminar, The Five Gospels: What Did Jesus Really Say? (New York: Macmillan, 1993)

[xiv] Untuk mengetahui seluk beluk tentang institusi ini, lihat http://www.westarinstitute.org.

[xv] Geisler, Baker Encyclopedia, 387.

[xvi]Http://westarinstitute.org/Polebridge/Title/5Gospels/Voting5G/voting5g.html. Halaman 1, 29 Oktober 2005.

[xvii] Darrell L. Bock, “The Words of Jesus in the Gospels: Live, Jive, or Memorex” dalam Jesus Under Fire, 90-94.

[xviii]Craig L. Blomberg, “Who Does the Jesus Seminar Really Speak For?” http://www.christiananswers.net/q-eden/edn-t017.html. Halaman 10. 1994. 29 September 2005.

[xix] Injil Thomas ditemukan di Nag Hamadi, Mesir, di antaranya tulisan-tulisan lain yang bernuansa Gnostik. Aliran Gnostik mengajarkan dualisme antara hal-hal yang material dan rohani, pengetahuan mistis, dll. Injil Thomas berisi kumpulan ucapan Yesus yang berdiri sendiri-sendiri tanpa narasi (cerita).

[xx] Ibid. Lihat juga “Where Do We Start Studying Jesus” dalam Jesus Under Fire, 19-20.

[xxi] Semua kriteria otentisitas yang diusulkan para sarjana sebenarnya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Penentuan otentik atau tidaknya suatu ucapan tidak bisa hanya didasarkan pada satu kriteria. Semua kriteria harus diaplikasikan dengan hati-hati dan selanjutnya diambil keputusan yang representatif.

[xxii] Bock, Studying, 201.

[xxiii] Untuk evaluasi yang lebih lengkap terhadap kriteria ini, lihat Robert H. Stein, Gospels and Tradition: Studies on Redaction Criticism of the Synoptic Gospels (Grand Rapids: Baker Book House, 1991), 158-162.

[xxiv] Bock, “The Words of Jesus”, 90-93.

[xxv] Blomberg, “Where Do We Start…”, 23.

[xxvi] Ibid.

[xxvii]Michael J. Bumbulis, “Is the Gospel of Thomas Reliable?”. Http://answers.org/bible/ gospelofthomas.html. Halaman 2. 11 Oktober 2005.

[xxviii] Stein, Gospels, 155; Blomberg, “Where Do We Start…”, 30-34.

[xxix] Kesalahan umum yang dimiliki sarjana liberal adalah asumsi bahwa semua orang pada abad pertama sudah sangat terbiasa dengan hal-hal yang ajaib, misalnya mujizat. Mereka menganggap bahwa hal-hal yang supernatural di kitab-kitab Injil merupakan hasil rekayasa penulis Alkitab untuk menyesuaikan kekristenan dengan konteks mistis waktu itu. Asumsi ini tidak benar. Bukankah penemuan arkeologis (C. K. Barret, ed., The New Testament Background [rev. ed. San Fransisco: HarperSanFarnsisco, 1989], 80) menunjukkan bahwa penganut Epikurianisme juga menolak kebangkitan orang mati? (Kis 17:32). Donald Macleod mengatakan, “when Paul preached the resurrection at the University of Athens, the result was exactly the same as it would have been at Marburg in 1930”. The Person of Christ (Contours of Christian Theology; Downers Grove: Inter-Varsity Press, 1998), 111.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s