JESUS SEMINAR ( end )

Sebelum mengevaluasi kredibilitas kitab-kitab Injil dari sisi penelusuran historis, hal pertama yang perlu dipahami adalah jenis literatur kitab-kitab Injil, karena pemahaman seseorang terhadap jenis literatur suatu kitab akan mempengaruhi cara orang tersebut membaca kitab itu. Menurut ukuran sastra waktu itu, apakah jenis literatur Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes? Ralph P. Martin mencoba membandingkan jenis literatur kitab-kitab Injil dengan jenis literatur yang populer pada waktu itu.[1] Ia membandingkannya dengan bios,[2] praxeis,[3] apomnhmoneumata[4] maupun kitab sejarah kuno, tetapi ia mendapati bahwa jenis literatur kitab-kitab Injil adalah unik (berbeda dengan kitab-kitab lain yang populer pada waktu itu). Tidak heran gereja mula-mula menyebut kitab-kitab itu dengan istilah “injil” (bukan dengan salah satu dari jenis literatur yang ada pada waktu itu). Kata “injil” (euangelion) memang istilah yang umum waktu itu, tetapi penggunaan istilah ini untuk kitab-kitab Injil kanonik merupakan hal yang baru.[5]

Para sarjana modern biasanya menyebut jenis literatur kitab-kitab Injil dengan istilah “narasi teologis” atau “sejarah teologis”. Dalam istilah ini terkandung dua aspek penting: kitab-kitab Injil ditulis dengan maksud untuk menyampaikan pesan teologis, tetapi hal itu tidak mengabaikan kredibilitas historis dari apa yang dicatat. Donald Guthrie mengatakan, “whereas they are historical in form, their purpose was something more than historical”.[6] Sebagai kitab teologis, kitab-kitab Injil mengandung unsur interpretasi dari sudut pandang tertentu (subjektif), sedangkan sebagai kitab sejarah mereka terikat pada fakta (objektif). Apakah unsur interpretasi ini berarti catatan mereka tidak bersifat historis? Apakah sebagai kitab sejarah mereka memenuhi kualifikasi menurut standar penulisan sejarah kuno waktu itu? Untuk menjawab dua pertanyaan ini diperlukan pengetahuan yang memadai tentang cara kitab sejarah kuno ditulis.

Penulisan sejarah kuno

Mengetahui proses penulisan kitab sejarah kuno akan menolong dalam mengevaluasi kredibilitas historis kitab-kitab Injil. Secara umum penulisan kitab sejarah kuno mencakup beberapa aktivitas. Pertama, akumulasi data. Seorang penulis sejarah selalu bergantung pada ketersediaan data yang ada, karena ia tidak mahatahu. Sebagian data ia dapatkan secara langsung sebagai saksi mata, tetapi sebagian yang lain didapatkan dari orang lain maupun bukti yang lain. Sehubungan dengan hal ini, biasanya tidak ada seorang penulis sejarah yang berhasil mendapatkan semua data yang diperlukan secara detil. Howard I. Marshall mengatakan, “possibly in a perfect world the evidence would be complete and would permit of only one correct interpretation, so that the facts worked out by the historian would be correct representations of the past events. In general, however, we cannot expect this to happen” (huruf miring ditambahkan).[7]

Kedua, seleksi data. Tidak ada penulis sejarah kuno yang mencatat apa saja yang terjadi secara detil. Sekalipun mereka melihat suatu peristiwa secara langsung, mereka belum tentu mampu mengingat setiap detil peristiwa. Dalam banyak hal mereka tidak menuliskan semua yang mereka ketahui, karena mereka biasanya memiliki tujuan penulisan tertentu yang spesifik.[8] Dengan kata lain, data yang mereka peroleh belum tentu relevan dengan tujuan yang ingin dicapai. Salah satu keterbatasan dalam aspek ini diekspresikan secara eksplisit oleh Thucycides, representasi ahli sejarah Romawi-Yunani, dalam buku History of the Peloponnesian War, 1.22.1:

It was difficult for me to remember the exact substance of the speeches I myself heard and for others to remember those they heard elsewhere and told me of…I have given the speeches in the manner in which it seemed to me that each of the speakers would best express what needed to be said about the ever prevailing situation, but I have kept as close as possible to the total opinion expressed by the actual words.[9]

Ketiga, interpretasi data. Karena penulis sejarah seringkali tidak mendapatkan semua data yang diperlukan, ia harus merekonstruksi apa yang sebenarnya terjadi hanya dari data yang ada. Usaha ini tentu saja melibatkan unsur interpretasi. Selain itu, dari sekian banyak data yang berhasil ia peroleh, belum tentu semua data tersebut memiliki kaitan yang eksplisit. Seorang penulis tidak jarang harus menggabungkan data yang ada melalui interpretasi supaya dihasilkan gambar keseluruhan yang paling masuk akal.[10] Unsur interpretasi sendiri tidak selalu berarti pengabaian fakta. Leon Morris menulis, “it is worth noticing at the outset that interpretation does not necessarily mean distortion of the facts. Indeed, the absence of interpretation may sometimes mean distortion”.[11]

Berdasarkan penjelasan di atas terlihat bahwa proses penulisan kitab sejarah kuno memiliki kesamaan dengan kitab-kitab Injil kanonik, meskipun kitab-kitab ini bukanlah kitab sejarah dalam arti yang ketat. Para penulis mengakumulasi, menyeleksi dan menginterpretasikan data yang ada, setelah itu menuliskannya sedemikian rupa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses ini dalam banyak hal tercermin dalam Lukas 1:1-4, terutama ayat 3-4 “setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar”. Seandainya kredibilitas historis kitab-kitab Injil diragukan hanya karena para penulisnya tidak mencatat setiap detil peristiwa seperti apa adanya (mereka melibatkan unsur interpretasi), maka semua kitab sejarah kuno juga harus diragukan. Artinya, orang modern harus hidup tanpa masa lalu!

Kriteria kredibilitas[12]

Keterlibatan unsur seleksi dan interpretasi bukan berarti bahwa semua kitab sejarah kuno yang menggunakan proses tersebut dengan sendirinya bisa dipercaya. Seleksi dan interpretasi memang tidak berarti suatu kitab sejarah kuno kurang bisa dipercaya, tetapi kitab tersebut tetap harus diukur melalui kriteria tertentu. Ahli sejarah C. Sanders memberikan 3 (tiga) kriteria, yaitu bibliographical test, internal evidence test dan external evidence test.

Menurut bibliographical test, sebuah kitab kuno bisa dipercaya apabila (1) jarak antara penulisan dan penyalinan cukup pendek; (2) jumlah salinan yang ada cukup memadai.[13]

Buku
Perjanjian baru

Tahun penulisan
50-100 M

Salinan tertua
114 (fragmen)
200 ( buku )
250 ( mostly )
325 ( lengkap )

Interval waktu
+ 50 tahun
100 tahun
150 tahun
225 tahun

Jumlah salinan
5366

Menurut internal evidence test, sebuab kitab kuno bisa dipercaya apabila dokumen tersebut mengindikasikan kredibilitas historis penulisnya dan ketersediaan para saksi mata yang dekat dengan peristiwa yang dicatat, baik kedekatan secara geografis maupun kronologis. Kredibilitas penulis kitab-kitab Injil dapat dilihat dari kesetiaan mereka terhadap beberapa tradisi yang sebenarnya bisa mengganggu kredibilitas orang percaya (kekristenan), misalnya kegagalan dan kekurangan para pemimpin gereja (para rasul, Mar 10:35-45 par; Mat 16:23 par; Luk 22:54-62 par). Berkaitan dengan Yesus, para penulis mencatat bahwa Ia tidak tahu tentang masa depan (Mar 13:32 par), Ia begitu ketakutan (Mar14:32-42 par), Ia disangka orang gila dan ditolak oleh orang yang dekat dengan Dia (Mar 3:21; Yoh 7:5).

Berkaitan dengan saksi mata, para penulis kitab Injil kanonik sangat menekankan hal ini (Luk 1:1-4). Mereka bahkan memberikan beberapa rujukan historis tertentu yang kontemporer dengan peristiwa yang dicatat, misalnya beberapa nama tokoh yang memang pernah ada (Herodes Agung, Mat 2:1-12; Herodes Arkhelaus, Mat 2:22; Pilatus, Mat 27:2; Kaisar Agustus, Luk 2:1). Pendeknya, eksistensi saksi mata maupun rujukan historis pada saat penulisan suatu peristiwa mengindikasikan keseriusan para penulis terhadap aspek historis dari apa yang mereka tulis.

Menurut external evidence test, suatu kitab kuno bisa dipercaya apabila catatan dalam kitab tersebut memperoleh dukungan dari data/kitab lain. Apakah data dalam suatu kitab kuno diteguhkan oleh data lain yang bisa dipercaya? Berdasarkan kriteria ini, kitab-kitab Injil kanonik tetap menunjukkan tingkat kredibilitas yang tinggi, apalagi seiring dengan majunya dunia arkeologi.[14] Selain itu, penyelidikan terhadap catatan-catatan non Kristen kuno tentang Yesus atau kekristenan yang akan dipaparkan dalam bagian selanjutnya dari tulisan ini juga lebih mengarah pada kredbilitas kitab-kitab Injil.

Aplikasi tiga kriteria di atas terhadap kitab-kitab Injil kanonik menunjukkan bahwa Alkitab – dalam kapasitas sebagai sebuah kitab kuno – tetap bisa dipercaya. McDowell, seorang skeptis yang kemudian menjadi apologet terkemuka, mengatakan, “If a person discards the Bible as unreliable in this sense, then he or she must discard almost all the literature of antiquity”.[15]

Catatan non Kristen kuno tentang Yesus atau kekristenan

Salah satu aspek penting dalam penyelidikan Yesus Sejarah adalah eksistensi catatan-catatan non Kristen kuno tentang Yesus dan kekristenan.[16] Seandainya Yesus begitu penting, fenomenal dan berpengaruh bagi banyak orang di abad pertama – seperti dinyatakan dalam kitab-kitab Perjanjian Baru – orang berharap ada konfirmasi lain dari para penulis non Kristen (non-Kristen). Apakah ada data non Kristen kuno yang memadai tentang Yesus dan kekristenan?

Mengapa hanya ada sedikit catatan dari penulis non-Kristen?

Sebelum membahas catatan-catatan non Kristen kuno secara lebih seksama, ada satu hal yang perlu dijelaskan terlebih dahulu, yaitu tentang jumlah catatan tersebut yang relatif sedikit dan bersifat inferensial. Apakah jumlah yang sedikit dan inferensial ini membuktikan bahwa Perjanjian Baru terlalu melebih-lebihkan signifikansi Yesus? Tentu saja tidak! Beberapa hal berikut ini merupakan penjelasan terhadap hal tersebut. Pertama, para penulis sejarah kuno lebih tertarik pada tokoh politik maupun filsafat daripada tokoh keagamaan. Craig L. Blomberg memberikan contoh Apollonius dari Tyana yang berprofesi sebagai guru dan pembuat mujizat, tetapi hidupnya hanya disinggung di Roman History karya Dio Cassius, itu pun lebih pendek daripada catatan ahli sejarah Yahudi Flavius Josephus tentang Yesus.[17]

Kedua, lokasi pelayanan dan figur Yesus tidak menarik bagi penulis Romawi.[18] Lokasi pelayanan Yesus (Galilea dan Yudea) letaknya sangat jauh dari pusat kekaisaran Romawi dan kurang signifikan secara politik maupun militer. Figur Yesus sebagai “tokoh revolusioner Yahudi yang gagal” juga merupakan fenomena yang umum (bandingkan Kis 5:36), sehingga tidak perlu dituliskan secara khusus, apalagi Yesus mati dengan cara yang paling tidak terhormat menurut perspektif orang Romawi.

Catatan yang otentik dan signifikan

Studi tentang tulisan-tulisan kuno non Kristen tentang Yesus atau kekristenan merupakan tugas yang sangat komprehensif dan kompleks. Para sarjana berbeda pendapat tentang otentisitas beberapa catatan tersebut.[19] Tanpa bermaksud membahas semua perdebatan yang ada, berikut ini adalah beberapa catatan penting dan otentik yang perlu diketahui.

(1) Pada saat penyaliban Yesus terjadi kegelapan (sanggahan Julius Africanus terhadap Thallos).

(2) Dalam satu atau dua dekade setelah kematian Yesus, kekristenan berkembang sampai ke kota Roma dengan jumlah yang cukup signifikan, sehingga berpotensi untuk mengganggu stabilitas kota Roma (Suteonius, Claudius 25.4; Tacitus, Annals 15.44). Josephus secara eksplisit menyebutkan bahwa pengikut Kristus terus berkembang, yang meliputi orang Yahudi maupun non-Yahudi.

(3) Pengusiran orang Yahudi dari kota Roma oleh Kaisar Claudius pada tahun 49 M (Claudius 25.4, band. Kis 18:2) mengindikasikan bahwa pada awal kekristenan orang-orang Kristen diidentikkan dengan orang Yahudi. Ini menunjukkan bahwa kekristenan berakar dari Yudaisme (bukan agama misteri/mitos Yunani!).

(4) Tacitus secara eksplisit menyatakan bahwa kekristenan (yang ia sebut dengan “kejahatan”) berawal dari tanah Yudea (Tacitus, Annals 15.44). Ini juga mendukung pandangan bahwa kekristenan bukan berasal dari agama misteri/mitos Yunani.

(5) Kekristenan dikaitkan dengan seorang figur yang disebut “Kristus”, terlepas dari kekurangpahaman dan penolakan orang terhadap istilah ini (Suteonius, Claudius 25.4; Tacitus, Annals 15.44).

(6) Dalam catatan lain disebutkan bahwa “Kristus” adalah pusat ibadah orang Kristen (Pliny the Younger, Epistles 10.96-97).

(7) Yesus dihukum mati pada masa pemerintahan Pontius Pilatus (Tacitus, Annals 15.44; Josephus, Antiquities 18.63-64).

(8) Orang Kristen mengikatkan diri mereka pada sumpah untuk berlaku benar dan mau berbagai harta milik (Pliny the Younger, Epistles 10.96-97).

(9) Yesus disebut dengan istilah raja orang Yahudi yang bijaksana yang dibunuh bangsanya sendiri. Akibat dari tindakan ini pembunuhan dan pengusiran bangsa Yahudi dari tanah mereka (Mara Bar Sarapion, 73 M; b. Sanhedrin 43). Walaupun Sarapion mungkin mendapatkan ungkapan “raja orang Yahudi yang bijaksana” dari sumber Kristen, namun keterangannya bahwa Yesus dibunuh oleh bangsa Yahudi sangat signifikan (band. b. Sanhedrin 43).

(10) Yesus memiliki saudara yang bernama Yakobus yang mati dirajam batu atas perintah imam besar Annas the Younger tahun 62 M (Josephus, Antiquities 20.200).

(11) Yesus diidentikkan dengan orang yang bijaksana (Sarapion; Josephus, Antiquities 18.63-64) dan pembuat hal-hal yang supernatural (Josephus, Antiquities 18.63-64). Tulisan rabi menafsirkan perbuatan-perbuatan ini sebagai sihir dan Yesus dianggap sebagai penyesat (b. Sanhedrin 43 dan 107b).

Dari semua data historis menurut para penulis non Kristen di atas, paling tidak ada dua hal yang perlu dipikirkan lebih dalam, terutama bagi mereka yang skeptis atau menolak kredibilitas historis kitab-kitab Injil. Pertama, fakta tentang kematian Yesus dengan cara disalib. Partisipasi bangsa Yahudi dan Pontius Pilatus dalam kematian Yesus sesuai dengan situasi historis waktu itu, yaitu bangsa Yahudi tidak diberi hak untuk menetapkan keputusan hukum dalam membunuh mati seseorang. Keputusan hukum itu harus didukung oleh pemerintah Romawi.[20] Selanjutnya, kemungkinan kesalahan apakah yang menjadikan seorang yang bernama Yesus layak untuk disalibkan? Yesus jelas tidak melakukan perbuatan kriminal yang besar atau yang melanggar hukum Romawi. “Penghujatan” (Mar 14:64) merupakan alasan yang paling masuk akal mengapa bangsa Yahudi sangat berambisi untuk menyalibkan Yesus (band. b. Sanhedrin 43 dan 107b).

Kedua, perkembangan kekristenan yang relatif cepat. Rujukan historis tentang eksistensi orang-orang Kristen yang cukup besar sampai di kota Roma dan daerah utara Turki pada tahun 40-an merupakan fenomena yang unik. Seandainya Yesus dalam kitab-kitab Injil adalah karangan gereja mula-mula dan berbeda dengan Yesus sejarah, bukankah cerita gubahan ini memerlukan waktu yang lebih lama untuk berkembang? Bukankah pada tahun 40-an masih banyak saksi mata yang masih hidup (band. 1Kor 15:6)? Bukankah para saksi mata itu – seandainya cerita Injil adalah sebuah karangan saja – bisa membuat sanggahan yang signifikan, apalagi kekristenan waktu itu masih menjadi minoritas? Seandainya berita Injil adalah karangan gereja mula-mula, mengapa mereka membuat-buat cerita yang bagi orang Yahudi merupakan batu sandungan dan bagi orang Yunani merupakan suatu kebodohan (1Kor 1:23)?

Kebangkitan: ke mana penyelidikan sejarah berpihak?

Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa masa lalu yang tidak bisa diulang. Kemampuan orang modern untuk mengevaluasi kredibilitas historis kebangkitan Yesus sangat ditentukan oleh ketersediaan data. Dalam hal ini data langsung yang ada hanyalah catatan kitab-kitab Injil, karena itu penyelidikan ini harus menggunakan data Alkitab yang ada, walaupun pernyataan ini tidak berarti bahwa apa yang dicatat dalam Alkitab secara otomatis bisa dipercaya. Data tersebut tetap perlu dievaluasi untuk melihat tingkat kredibilitas yang ada.

Ada beberapa bukti yang relatif objektif yang bisa dipakai untuk menyelidiki peristiwa kebangkitan. Pertama, kubur yang kosong. Tradisi tentang kubur yang kosong sudah berkembang segera sesudah Yesus mati (band. 1Kor 15:3-5), terlepas dari perbedaan interpretasi untuk menjelaskan mengapa kubur tersebut kosong. Seandainya fakta ini tidak benar, orang Yahudi dengan mudah akan menunjukkan mayat Yesus dan “rumor” tentang kebangkitan akan hilang dengan sendirinya. Berkaitan dengan kubur Yesus, para penulis Alkitab tampaknya berusaha untuk memberikan keterangan detil yang bisa dicek silang, misalnya kubur itu disebutkan sebagai milik Yusuf Arimatea. Seandainya kubur Yesus tidak diketahui orang lain, murid-murid Yesus bisa saja mengarang cerita.[21] Hal ini menjadi semakin jelas jika dihubungkan dengan kebiasaan orang Yahudi untuk beribadah di kubur seseorang yang dianggap suci dan beberapa waktu sesudahnya mengumpulkan tulang dari orang yang mati tersebut. Ketidakadaan bukti historis bahwa murid-murid Yesus beribadah di kubur Yesus tampaknya sangat aneh dilihat dari kultur tersebut, dan hanya bisa dijelaskan dengan memuaskan jika dihubungkan dengan fakta bahwa mayat Yesus sudah tidak ada di sana.[22] Berdasarkan datum objektif ini, pertanyaan yang perlu direnungkan adalah “Alasan apakah yang paling masuk akal, menurut konteks waktu itu, yang menyebabkan kubur tersebut kosong”? Pertanyaan ini akan terjawab – dalam taraf tertentu – dalam pembahasan selanjutnya.

Fakta kedua adalah kesaksian para wanita. Semua penulis kitab Injil menyatakan bahwa saksi pertama kebangkitan adalah para wanita. Seandainya cerita ini adalah karangan gereja mula-mula, mengapa mereka memakai kesaksian wanita untuk membuktikan sesuatu, padahal waktu itu kesaksian wanita dianggap tidak signifikan?[23] Cerita ini menjadi lebih signifikan karena para penulis Alkitab justru menceritakan kekagetan atau bahkan ketidakpercayaan murid-murid Yesus terhadap berita kebangkitan (Mat 28:17; Yoh 20:24-29).

Fakta ketiga adalah keanehan konsep kebangkitan orang Kristen. Orang Farisi memang mengakui kebangkitan (Kis 23:6), tetapi kebangkitan final di akhir jaman (band. Yoh 11:24).[24] Seandainya gereja mula-mula mengarang cerita kebangkitan, sumber apa yang menginspirasi mereka untuk membuat doktrin kebangkitan tubuh pada masa sekarang? Bukankah doktrin seperti ini tidak akan mudah diterima oleh orang Yahudi maupun orang Yunani waktu itu?

Fakta terakhir yang perlu diperhatikan adalah transformasi hidup pengikut Yesus.[25] Catatan-catatan non Kristen kuno memberikan kesaksian bahwa pengikut Yesus terus berkembang dengan pesat. Fakta ini tentu saja kontras dengan ketakutan murid-murid di kitab-kitab Injil, namun sekaligus selaras dengan keterangan Kisah Rasul tentang keberanian murid-murid untuk memberitakan Injil. Mengapa murid-murid begitu berani memberitakan kebangkitan Yesus, sekalipun berita itu tampak aneh bagi orang-orang waktu itu dan mereka harus mengalami penganiayaan karena pemberitaan itu? Seandainya Yesus tidak pernah bangkit (ia hanya tokoh revolusioner biasa yang mengaku sebagai Mesias tetapi ternyata penyesat), murid-murid-Nya pasti menjadi orang pertama yang merasa ditipu dan meninggalkan Yesus.

Semua data di atas memang tidak bisa membuktikan kebangkitan Yesus dalam arti yang mutlak (kecuali semua data Alkitab tentang kebangkitan diasumsikan benar). Hasil yang dicapai sejauh ini paling tidak cukup memadai untuk membuktikan dua hal penting. Pertama, cerita kebangkitan dalam kitab-kitab Injil lebih masuk akal daripada spekulasi para sarjana liberal. Penilaian ini akan semakin signifikan jika dihubungkan dengan fakta bahwa para sarjana liberal tidak memiliki data historis apapun yang bisa dipakai untuk mengevaluasi pandangan mereka. Dengan kata lain, pandangan mereka hanya merupakan spekulasi akademis (atau bahkan imajinasi novelis) yang tidak didukung oleh satu datum historis sekalipun!

Kedua, penyelidikan historis yang objektif tidak bisa meruntuhkan kredibilitas sejarah kitab-kitab Injil. Sebaliknya, semua data yang berhasil ditemukan justru memberikan inferensi yang sangat kuat bagi kredibilitas catatan Alkitab. Seandainya cerita kebangkitan Yesus tetap ditolak, sarjana liberal harus menyediakan argumentasi-argumentasi lain yang jauh lebih memuaskan dan harus disertai data historis!

Konklusi

Penyelidikan historis sangat terbatas untuk merekonstruksi semua dan setiap detil peristiwa dalam hidup Yesus. Bagaimanapun, menurut kriteria kredibilitas kitab kuno yang bisa diaplikasikan, kitab-kitab Injil tetap menunjukkan nilai historisitas yang tinggi. Seandainya historisitas kitab-kitab Injil diragukan, maka orang modern harus meragukan semua catatan historis kuno tentang apapun juga. Kiranya penjelasan ini membuat iman kita semakin teguh. Kita bukan hanya “beriman” saja, tetapi juga mengetahui kebenaran yang mendasari iman tersebut. Tuhan memberkati.

——————————————————————————–

[1] New Testament Foundation: Vol. 1 (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Copany, 1975), 20.

[2] Bios adalah biografi tokoh terkenal, biasanya dalam bidang politik atau filsafat. Contoh yang terkenal adalah Lives, karya Plutarch. Bios dibagi menjadi dua macam: biografi populer (hanya menekankan nilai-nilai moral saja) dan biografi historis.

[3] Praxeis adalah narasi tentang perbuatan-perbuatan kepahlawanan yang dilakukan seorang tokoh yang terkenal. Contoh praxeis adalah Anabasis, karya Arrian, yang menceritakan sejarah kemenangan perjalanan militer Aleksander Agung

[4] Apomnhmoneumata adalah kitab yang berisi anekdot pribadi atau perkataan tokoh yang sangat terkenal, biasanya dianggap berasal dari orang yang dekat dengan tokoh tersebut (murid). Contoh apomnhmoneumata yang terkenal adalah Memoirs karya historian Xenophon (380 SM) dan Dialogues of Plato.

[5] Hal baru dalam penggunaan ini terletak pada nuansa religius yang ada di dalamnya dan penggunaan istilah itu untuk sebuah tulisan. Joel B. Green menyatakan, “recognizing the religious connotation of this ‘good news’ is one thing, but using that designation for a written work is quite another”. How to Read the Gospels and Acts (Downers Grove: Inter-Varsity Press, 1987), 56.

[6] New Testament Introduction (Downers Grove: Inter-Varsity Press, 1970), 13.

[7] I Believe in the Historical Jesus (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1977), 29.

[8] Paul Barnett menulis, “few, if any, of the history writers of antiquity wrote ‘pure’ history to provide the reader with ‘mere’ facts. Facts were presented, certainly, but to make a point”. Is the New Testament History? (Ann Arbor: Vine Books, 1986), 155.

[9] Darrell L. Bock, “The Words of Jesus in the Gospels: Live, Jive, or Memorex?” dalam Jesus Under Fire, ed. Michael J. Wilkins dan J. P. Moreland (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1995), 79.

[10] Marshall, I Believe, 40.

[11] The Gospel according to John (rev. ed. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1995), 35.

[12] Semua penjelasan dalam bagian ini diambil dari Josh McDowell dan Bill Wilson, He Walked Among Us: Evidence for the Historical Jesus (San Bernardino: Here’s Life Publishers, Inc., 1988), 112-118.

[13] Josh McDowell, A New Evidence that Demands the Verdict, 33-45.

[14] Beberapa buku yang direkomendasikan dalam bidang arkeologi antara lain Joseph P. Free, Archaeology and Bible History (Wheaton: Scripture Press Publications, 1969); William M. Ramsay, The Bearing of Recent Discovery on the Trustworthiness of the New Testament. Cetakan ulang dari edisi 1915 (Grand Rapids: Baker Book House, 1953); Ramsay, Paul the Travellers and the Roman Citizen (Grand Rapids: Baker Book House, 1952); F. F. Bruce, “Archaeological Confirmation of the New Testament” dalam Revelation and the Bible. Ed. Carl Henry (Grand Rapids: Baker Book House, 1969); Bruce, The New Testament Documents: Are they Reliable? Edisi revisi ke-5. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Co., 1985).

[15] He Walked, 117.

[16] Pembatasan pembahasan hanya pada tulisan non Kristen kuno tidak berarti bahwa tulisan-tulisan Kristen di luar kitab-kitab Injil tidak penting. Mereka tetap menjadi sumber penting dalam penyelidikan tentang Yesus Sejarah. Pembatasan di sini dilakukan untuk meminimalisasi unsur subjektivitas yang sering dikemukakan golongan skeptis atau liberal.

[17] “Where do We Start Studying Jesus?” dalam Jesus Under Fire, 40.

[18] Darrell L. Bock, Studying the Historical Jesus: A Guide to Sources and Methods (Grand Rapids: Baker Academic, 2002), 27; R. T. France, The Evidence for Jesus (Downers Grove: InterVarsity Press, 1986), 20.

[19] Untuk pembahasan singkat tentang isu otentisitas, lihat Bock, Studying, 45-63; France, The Evidence, 19-58; Edwin M. Yamauchi, “Jesus Outside the New Testament: What is the Evidence?” dalam Jesus Under Fire, 208-222; Craig Blomberg, The Historical Reliability of the Gospels (Downers Grove: InterVarsity Press, 1987), 190-233. Buku terbaik tentang topik ini adalah Robert E. Van Voorst, Jesus Outside the New Testament: An Introduction to the Ancient Evidence (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2000); F. F. Bruce, Jesus and Christian Origins Outside the New Testament (London/Grand Rapids: Hodder & Stoughton/William B. Eerdmans Publishing Company, 1974).

[20] Graham N. Stanton, The Gospels and Jesus (Oxford: Oxford University Press, 1989), 259-261.

[21] William Craig dalam sebuah debat dengan John Dominic Crossan. Paul Copan, ed., Will the Real Jesus Please Stand Up? (Grand Rapids: Baker Books, 1998), 26-27.

[22] James D. G. Dunn, The Evidence for Jesus (Louisville: The Westminster Press, 1985), 67.

[23] Copan, Will the Real, 27; Dunn, The Evidence, 65.

[24] Dunn, The Evidence, 72-73; Copan, Will the Real, 28.

[25] Dunn, ibid., 59-60.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s