ARKHEOLOGI DAN ALKITAB

Definisi dan sejarah arkheologi biblikal

Istilah “arkheologi” (archaeology) berasal dari bahasa Yunani arcaios yang berarti “kuno” dan logos yang berarti “ilmu”. Pengertian “arkheologi” terus mengalami perubahan.[1] Menurut para penulis kuno, misalnya Plato, Thucydides, Denis of Halicarnassus maupun Josephus, arkheologi diidentikkan dengan sejarah kuno. Sekarang arkheologi mulai dibedakan dari ilmu sejarah kuno. Arkheologi dipahami sebagai sebuah disiplin ilmu yang bertugas mencari dan mempelajari segala peninggalan yang berasal dari masa kuno dengan tujuan untuk merekonstruksi kehidupan waktu itu, baik yang mencakup sejarah, sosial maupun budaya.

Arkheologi memiliki kaitan yang erat dengan Alkitab, meskipun bentuk keterkaitan tersebut tetap menjadi perdebatan di kalangan arkheolog (lihat pembahasan selanjutnya). Menurut Dr. Randal Price, sebagaimana dikutip Randall W. Younker, istilah “arkheologi” pertama kali muncul dalam bahasa Inggris pada tahun 1607 dan secara khusus merujuk pada pengetahuan tentang Israel kuno dari sumber-sumber literatur, seperti Alkitab.[2] Dengan demikian dari awalnya ide tentang arkheologi selalu berhubungan dengan Alkitab. Setelah arkheologi semakin memperluas daerah penyelidikan sampai di luar daerah-daerah yang berhubungan dengan Alkitab (di luar daerah Timur Dekat Kuno), para arkeolog mulai membuat perbedaan antara arkheologi yang umum dengan arkheologi biblikal (Biblical Archaeology).”

Penyelidikan arkheologi modern yang sistematis sangat berhubungan dengan usaha ekspansi militer bangsa-bangsa Eropa, terutama invasi militer di bawah Napoleon.[3] Selama invasi Napoleon pada tahun 1798-1799, ia menyertakan sekitar 175 ilmuwan yang ditugaskan untuk membuat penyelidikan tentang monumen-monumen kuno. Hasil penyelidikan ini diterbitkan ke dalam beberapa jilid buku yang dikenal dengan La Description de l’Egypte. Penemuan paling penting dalam invasi Napoleon adalah sebuah lempengan batu berwarna hitam yang berisi pahatan tulisan Mesir kuno pada Agustus 1799 di sekitar Sungai Nil. Lempengan ini selanjutnya terkenal dengan nama “Batu Rosetta”. Ukiran dalam Batu Rosetta menggunakan tiga jenis tulisan, yaitu tulisan hieroglif di bagian atas, demotic (huruf hieroglif paling muda dalam bentuk huruf sambung) di bagian tengah dan bahasa Yunani di bagian bawah. Berdasarkan perbandingan bahasa ini Thomas Young (1819) dan Jean-Francois Champollion (1822) berhasil memahami tulisan hieroglif dan membuka rahasia berbagai peninggalan Mesir kuno. Penemuan Batu Rosetta ini berhasil menjadi perintis jalan bagi ketertarikan para arkheolog untuk mengeksplorasi daerah-daerah kuno di Alkitab. Negara Amerika dan negara-negara Eropa lain yang berpengaruh saat itu, seperti Rusia, Jerman, Perancis, Inggris Raya, bersemangat untuk mendukung ekspedisi-ekspedisi daerah Timur Dekat Kuno. Dari sinilah serangkaian penemuan arkheologi Alkitab terus berlanjut. Penemuan Batu Rosseta dapat dikatakan sebagai “one of the greatest and most critical discoveries in the history of the discipline!”.[4]

Relasi Alkitab dan Arkheologi

Walaupun kemunculan arkheologi modern dalam banyak hal sangat terkait dengan motivasi yang berkaitan dengan Alkitab, namun relasi antara arkheologi dan Alkitab tetap belum menemukan bentuk yang baku. Keberagaman pendapat tentang relasi ini telah memunculkan dua sikap ekstrim. Di satu sisi, selama jangka waktu yang cukup lama ketepatan sejarah Alkitab sering dikritik oleh banyak orang karena dianggap tidak memiliki dukungan yang objektif di luar Alkitab. Keterbatasan atau ketidakadaan penemuan arkheologis yang mendukung akurasi Alkitab dianggap sebagai salah satu bukti untuk menolak historisitas Alkitab. Bryant Wood dengan tepat merumuskan sikap ini dalam kalimat “the Bible is guilty until proven innocent, and a lack of outside evidence places the Biblical account in doubt”.[5] Sikap ini ternyata masih dianut oleh beberapa arkheolog modern terkemuka yang sekalipun mengaku berakar dari tradisi injili namun mereka mengakui secara terus terang kalau penyelidikan arkheologis mereka telah membuat mereka kehilangan iman injili tersebut, misalnya J. Maxwell Miller dan William G. Dever.[6] Bagi Dever, beberapa penemuan arkheologis yang dianggap mendukung Alkitab oleh golongan injili – misalnya William F. Albright – ternyata belum sampai membuktikan hal itu. Beberapa nama tempat atau tokoh yang ditemukan tidak menjamin bahwa apa yang diceritakan Alkitab tentang tempat/tokoh itu adalah benar, apalagi dalam beberapa kasus Dever menilai penemuan-penemuan itu tidak bisa dibuktikan secara jelas bahwa hal itu berkaitan dengan cerita dalam Alkitab.[7] Salah satu contoh adalah pendudukan tanah Kanaan oleh bangsa Israel. Seandainya reruntuhan kota Yerikho kuno pada jaman Yosua memang benar-benar ditemukan, apakah hal itu membuktikan bahwa Yousa dan tentaranyalah yang telah menghancurkan kota itu?

Di sisi yang lain, sejak kemunculan berbagai penemuan arkheologi biblikal banyak sarjana Kristen “membusungkan dada” karena penemuan-penemuan tersebut seolah menjawab keresahan mereka menghadapi tantangan orang luar terhadap kredibilitas Alkitab. Beberapa nama tokoh, tempat, benda maupun budaya yang dicatat dalam Alkitab ternyata muncul dalam berbagai inskripsi kuno dan hal ini dianggap sebagai bukti yang tidak terbantahkan lagi. Dua arkheolog terkemuka yang mewakili sikap ini adalah William F. Albright dan William Ramsay. Kalau Albright memfokuskan pada kehidupan para patriakh karena dianggap sebagai titik awal dari kritik tinggi (higher criticism) terhadap Alkitab[8], Ramsay memfokuskan pada kota-kota yang pernah dikunjungi Paulus.[9]

Konsep yang benar tentang relasi arkheologi dan Alkitab terletak di antara dua ekstrim tersebut di atas. Hal pertama yang harus dipahami adalah berbagai limitasi dalam penyelidikan arkheologi yang menyebabkan ilmu ini tidak bisa disamakan dengan ilmu pasti. Konklusi yang ditarik dari sebuah penyelidikan arkheologis seringkali sangat subjektif dan mengandung unsur penafsiran. Thomas W. Davis menyatakan, “Just like the Bible, the archaeological record can be highly fluid in its meaning and interpretation”.[10]

Apa yang menyebabkan arkheologi hanya bersifat interpretatif? Penyelidikan arkheologi seringkali bersifat selektif. Ada banyak kendala yang menyebabkan penyelidikan yang menyeluruh merupakan usaha yang mustahil untuk dilakukan, misalnya banyaknya situs yang harus digali, beberapa situs mengalami pembangunan kembali berkali-kali sehingga sulit menemukan peninggalan pada masa yang lebih tua, keterbatasan dana, tempat penyelidikan yang dihuni oleh masyarakat modern, dsb. Di Palestina saja ada sekitar lebih dari 6000 situs yang disurvei, tetapi hanya kurang dari 2000 di antaranya yang telah digali.[11] Para arkheolog yang hanya menggali beberapa daerah tetapi mengklaim telah berhasil menemukan kebenaran objektif dan komprehensif tentang masyarakat yang hidup di daerah tersebut adalah arkheologis yang arogan. Davis mengungkapkan arogansi ini dalam sebuah kalimat yang tepat “we claim to know a site and interpret it from a very small window, often less than 10 percent of a site. We miss so much, and yet this does not prevent us from drawing sweeping conclusions from our tiny windows”.[12]

Salah satu contoh konklusi arkheologis yang masih dalam taraf interpretasi adalah penemuan kisah kuno air bah versi Mesopotamia yang telah diterjemahkan pada tahun 1872 oleh George Smith. Apa yang tertulis dalam kisah tersebut ternyata memiliki banyak kesamaan (paralel) dengan kisah air bah Nuh dalam Alkitab.[13] Bagi sarjana liberal, banyaknya kesamaan antara dua versi air bah itu menunjukkan bahwa penulis kitab Kejadian tidak diinspirasikan oleh Roh Kudus, melainkan mencontek (plagiat) versi Mesopotamia, karena versi Mesopotamia lebih tua daripada kitab Musa.[14] Bagi sarjana injili, kesamaan tersebut menunjukkan bahwa kisah tersebut berasal dari tradisi yang sama.[15] Bagi sarjana injili, versi Mesopotamia telah mengalami distorsi, sehingga dalam beberapa bagian penting dari kisah air bah sangat berkontradiksi dengan catatan Alkitab, misalnya konsep politeisme dan keterbatasan para dewa.

Hal kedua yang penting untuk diperhatikan dalam memahami perdebatan seputar relasi arkheologi dan Alkitab adalah inkonsistensi para sarjana liberal. Prinsip yang mereka terapkan pada Alkitab (Alkitab tetap diragukan sampai ada bukti yang mendukung secara eksplisit) seringkali tidak diterapkan pada kitab-kitab kuno lain, walaupun kitab tersebut banyak yang bersifat relijius. Bryant Wood menjelaskan inkonsistensi ini sebagai berikut: “This standard is far different from that applied to other ancient documents, even though many, if not most, have a religious element. They are considered to be accurate, unless there is evidence to show that they are not”.[16]

Inkonsistensi lain juga dapat dilihat dari prinsip “arkheologi dapat membuktikan ketidakbenaran Alkitab”. Mereka yang memegang prinsip ini seharusnya juga menerima kebalikannya, yaitu arkheologi dapat memberikan dukungan kepada Alkitab. Kenyataannya, mereka tetap menolak kalau arkheologi dapat mendukung Alkitab. Merling menulis:

The logic and corollary to this logic would be: the truthfulness of the biblical text has been disproved by archaeology; therefore, it is also possible that archaeology could have proved the truthfulness of the Bible. If this is not so, then the Bible suffers from double indemnity, damned if it does and damned if it does not. In short, …their acceptance that the Bible has been disproved is evidence that they believe that archaeology can prove the Bible[17]

Sikap yang lebih seimbang adalah dengan melihat ketidakadaan bukti arkheologis yang mendukung catatan Alkitab sebagai bukti limitasi arkheologi itu sendiri. Dalam ungkapan Merling, “Nothing is nothing. Nothing is not evidence”.[18] Senada dengan Merling, Alan Millard menjelaskan, “for some events archaeology gives no evidence…It is simply a reminder that archaeologists cannot discover everything about the past”.[19]

Selain natur arkheologi yang bukan sebagai ilmu pasti dan inkonsistensi sarjana liberal, hal terakhir yang perlu dipahami adalah keterbatasan arkheologi dalam membuktikan kebenaran Alkitab. Penemuan sebuah kota yang dicatat dalam Alkitab tidak membuktikan bahwa apa yang terjadi di kota itu – sebagaimana diceritakan Alkitab – adalah benar. Begitu pula penemuan nama tokoh di suatu tempat pada masa tertentu hanya membuktikan kalau tokoh itu pernah hidup, tetapi penemuan ini tidak membuktikan bahwa tokoh tersebut benar-benar mengucapkan atau melakukan tindakan sebagaimana yang dicatat dalam Alkitab.

Sekalipun arkheologi sangat terbatas dalam mendukung Alkitab, namun hal ini tidak berarti bahwa arkheologi tidak bermanfaat atau historisitas Alkitab perlu diragukan. Seandainya tidak ada penemuan arkheologi yang mendukung, catatan Alkitab seharusnya dianggap cukup karena Alkitab merupakan salah satu peninggalan arkheologis kuno yang juga harus diperhitungkan. Dengan dasar ini, sarjana Kristen seharusnya lebih mempercayai catatan Alkitab daripada “kebisuan” arkheologi. Mereka perlu menjaga diri dari bahaya memperlakukan arkheologi sebagai hakim yang menentukan apakah suatu catatan sejarah Alkitab valid atau tidak. Randal Price mengatakan:

There are indeed instances where the information needed to resolve a historical or chronological question is lacking from both archaeology and the Bible, but it is unwarranted to assume the material evidence taken from the more limited content of archaeological excavations can be used to dispute the literary evidence from the more complete content of the canonical scriptures.[20]

Kontribusi Arkheologi bagi Studi Alkitab

Para arkeolog memberikan banyak contoh bagaimana arkheologi bisa memberikan kontribusi bagi studi Alkitab. Semua kontribusi tersebut sebenarnya dapat dikelompokkan ke dalam dua hal: illuminasi dan konfirmasi.[21] Yang dimaksud kontribusi dalam hal illuminasi adalah arkheologi memberikan data yang membantu dalam menafsirkan Alkitab secara lebih tepat. Yang dimaksud konfirmasi adalah arkheologi dalam taraf tertentu memberikan dukungan positif bagi kredibilitas historis Alkitab. Dalam beberapa contoh dua aspek ini saling berkaitan, namun untuk mempermudah pemahaman, pengelompokan ini tetap dipakai.

Illumination

Arkheologi menjelaskan latar belakang Alkitab

Arkheologi membantu orang modern untuk memahami latar belakang orang, tempat, hal-hal dan peristiwa-peristiwa yang ada di sekitar dunia di mana Alkitab ditulis. Penulis Alkitab seringkali berasumsi bahwa pembaca kitab mereka sudah memahami tempat-tempat, adat-adat, peristiwa-peristiwa atau tindakan-tindakan tertentu sebagaimana yang tertulis dalam Alkitab, sehingga mereka merasa tidak perlu memberikan penjelasan panjang lebar tentang suatu tokoh, tempat atau budaya tertentu. Para pembaca mula-mula tidak menemui banyak kesulitan sehubungan dengan tendensi tersebut, karena mereka hidup pada jaman yang sama dan seringkali berasal dari budaya yang sama. Bagaimanapun, situasi ini berbeda dengan para pembaca atau sarjana modern yang hidup terpisah secara waktu, bahasa, budaya, geografi dan sejarah. Di sinilah kontribusi arkheologi biblikal seringkali terlihat lebih jelas.

Isteri yang mandul memberikan budak perempuan pada suami

Perjanjian Lama memberikan beberapa contoh tindakan seorang isteri yang mandul yang memberikan hamba perempuannya kepada suaminya untuk memperoleh keturunan baginya (Kej 16:1-16; 30:1-13). Pembaca modern mungkin terkejut ketika membaca kisah ini. Mengapa para isteri tersebut rela memberikan perempuan lain kepada suami mereka? Mengingat Alkitab mencatat tindakan ini lebih dari satu kali, mungkinkah tindakan ini merupakan sesuatu yang biasa menurut ukuran budaya waktu itu?

Dalam sebuah penggalian selama tahun 1925-1931 ditemukan lempengan tanah liat yang berasal dari abad ke-15 SM. Lempengan yang ditulis dalam huruf cuneiform ini dikenal dengan Lempengan Nuzi. Salah satu bagian dari lempengan ini menyebutkan bahwa seorang isteri yang mandul memang boleh mengusulkan kepada suaminya untuk memiliki anak dari hamba perempuannya. Sang suami memiliki hak untuk menolak atau memenuhi usulan ini.[22] Penemuan arkheologis lain juga menunjukkan budaya yang sangat mirip dengan apa yang ditemukan di Lempengan Nuzi, misalnya Kode Hammurabi (abad ke-19 SM) yang ditemukan tahun 1909 di Susa, perjanjian nikah Asyur kuno maupun Teks Neo-Asyur.[23]

Lot memberikan anak-anak perempuannya kepada penduduk Sodom

Contoh lain yang menarik untuk dipelajari tindakan Lot ketika orang-orang Sodom menyerbu rumahnya dan meminta dia untuk memberikan tamu-tamunya kepada mereka (Kej 19). Bagi pembaca modern, tindakan Lot yang memilih menyerahkan kedua anak perempuannya yang masih perawan kepada massa yang sedang dilanda hasrat seksual (ayat 6-8) merupakan tindakan yang sulit dipahami, apalagi anak-anaknya sudah memiliki calon suami (ayat 14). Mengapa Lot tega melakukan hal ini? Apakah Lot berpikir bahwa memperkosa perempuan beramai-ramai merupakan tindakan yang lebih baik daripada mempraktekkan homoseksualitas?

Arkheologi telah menemukan catatan kuno yang disebut Kisah Kepahlawanan Aqhat (Epic of Aqhat) dari Ugarit. Pada baris-baris awal temuan ini terdapat doa syafaat Baal bagi Aqhat agar Aqhat memiliki anak laki-laki dengan enam kriteria, kriteria yang terakhir adalah mengusir mereka yang hendak melecehkan tamu-tamunya.[24] Para penafsir berpendapat bahwa menerima tamu dengan baik adalah hukum yang sangat dijunjung tinggi oleh bangsa-bangsa waktu itu, termasuk Lot. Seandainya ini benar, tuntutan orang-orang Sodom di ayat 5 merupakan tindakan yang luar biasa jahat dan dengan demikian semakin memberikan pembenaran bagi hukuman yang akan mereka terima. Terlepas dari masalah etika yang muncul dari tindakan Lot,[25] dia telah membuktikan diri sebagai tuan rumah yang baik yang menyambut dan melindungi tamu-tamunya sesuai dengan budaya waktu itu.[26] Ia rela mengorbankan miliknya yang paling berharga untuk menjaga kehormatannya sebagai tuan rumah yang melindungi tamu-tamunya.[27]

Anggur di tempayan pembasuhan

Mujizat Yesus di Kana (Yoh 2:1-11) mungkin bisa menjadi salah satu kandidat sebagai cerita yang paling sering disalahpahami dalam Perjanjian Baru. Beberapa pengkhotbah (sebagian besar?) hanya melihat mujizat ini dalam konteks pernikahan yang akan semakin manis jika mengundang Yesus. Tafsiran seperti ini jelas tidak sesuai dengan cerita yang ada, karena inti mujizat Yesus tidak terletak di pernikahannya. Inti mujizat ini adalah kedatangan Yesus yang menggenapi konsep penyucian (pembasuhan) yang baru. Hal ini terlihat dari perintah Yesus untuk mengisi bejana pembasuhan (bukan tempat anggur) dengan air dan lalu mengubahnya menjadi anggur. Menurut D. A. Carson, “the water represents the old order of Jewish law and custom, which Jesus was to replace with something better”.[28] Tidak heran, cerita ini ditutup dengan pernyataan pemimpin pesta bahwa anggur yang diberikan Yesus lebih baik daripada yang sudah-sudah.

Walaupun cerita ini lebih menekankan kualitas air yang menjadi anggur daripada jumlah air tersebut, namun penekanan ini tidak berarti bahwa jumlah air yang diubah menjadi anggur dalam cerita adalah tidak penting.[29] Yohanes secara khusus menyebutkan jumlah tempayan yang diisi dan keterangan ini pasti memiliki makna tersendiri. Makna tersebut bukan terletak pada angka 6, tetapi pada jumlah total air yang sangat besar yang bisa ditampung dalam 6 tempayan. Para arkheolog telah menemukan beberapa tempayan air yang terbuat dari batu dan biasa digunakan untuk pembasuhan. Ukuran tempayan ini adalah 65-80 cm dengan berat mencapai setengah ton. Satu tempayan bisa menampung sekitar 80 liter/17 gallon air.[30] Jika semua tempayan pembasuhan abad ke-1 M memiliki ukuran yang hampir sama, maka enam tempayan bisa menampung hampir 500 liter air. Jumlah yang sangat besar ini – terlepas dari perdebatan apakah air yang dicedok dan diserahkan pada pemimpin pesta berasal dari salah satu tempayan ini atau dari sumur secara langsung – menyiratkan “the lavish provision of the new age” dan “the time for ceremonial purification is completely fulfilled”.[31]

Format dasar dari surat kuno

Surat kuno yang berhasil ditemukan sampai sekarang berjumlah 9000 surat yang bernuansa Kristiani dan surat-surat lain yang tidak terhitung jumlahnya yang tidak berhubungan dengan masalah keagamaan.[32] Tulisan klasik tentang hal ini adalah Light from the Ancient East karya Adolph Deismann.[33] Melalui penyelidikan berbagai surat kuno ini terlihat bahwa para penulis Alkitab secara umum mengikuti format dasar surat kuno waktu itu yang terdiri dari salam, ucapan syukur, doa syafaat untuk penerima surat/harapan kepada dewa/allah, nasehat etis/moral maupun praktis, salam penutup. Studi komparasi juga menunjukkan bahwa para penulis Alkitab memodifikasi ungkapan dalam setiap bagian tersebut dengan ungkapan-ungkapan yang bernuansa Kristiani.

Galio proconsul di Korintus

Nama Galio muncul 3 kali dalam Alkitab (Kis 18:12, 14, 17) sebagai gubernur di Akhaya. Dari Kisah Rasul 18:11-12 dapat ditarik kesimpulan bahwa dia menduduki jabatan sebagai gubernur setelah Paulus tinggal di Korintus selama 1,5 tahun. Sayangnya, Alkitab tidak memberikan indikasi yang jelas tentang kapan hal itu terjadi. Sebuah penemuan inskripsi di Delphi memungkinkan para sarjana untuk mengetahui bahwa kedatangan Galio ke Korintus terjadi pada musim panas tahun 51 M. Berdasarkan hal ini, para sarjana bisa menebak pelayanan Paulus di Korintus secara lebih pasti, yaitu awal tahun 50 M.[34]

Arkheologi menyediakan bahan yang melimpah untuk studi kata

Kontribusi arkheologi bagi studi kata dalam bahasa asli Alkitab dapat dilihat dari dua hal. Pertama, penemuan berbagai dokumen kuno memberikan klarifikasi tentang natur bahasa Yunani Alkitab. Sebelum dokumen-dokumen kuno ditemukan, beberapa sarjana Alkitab menganggap bahwa bahasa Yunani Perjanjian Baru adalah unik dan memiliki aturan tersendiri. Seorang sarjana yang bernama Richard Rothe (1863) bahkan melangkah terlalu jauh dengan menyatakan bahwa bahasa Yunani Perjanjian Baru adalah ciptaan Roh Kudus sendiri.[35]

Penyelidikan seksama terhadap berbagai dokumen kuno yang ditemukan menunjukkan bahwa bahasa Yunani Perjanjian Baru termasuk ke dalam bahasa Yunani koinh, yaitu tipe bahasa Yunani yang waktu itu memang sedang mendominasi sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Tata bahasa, sintaks maupun kosa kata yang dipakai menunjukkan kesamaan dengan tulisan-tulisan kuno lain di luar Alkitab yang ditulis pada abad ke-3 SM sampai abad ke-3 M. Beberapa kosa kata yang dulu dianggap berasal dari Roh Kudus (karena tidak ada padanannya dalam tulisan kuno lain) ternyata juga dipakai dalam berbagai tulisan lain yang bahkan usianya lebih tua daripada Perjanjian Baru, misalnya agaph (“kasih”).

Kedua, penemuan arkheologis turut memberikan pencerahan terhadap beberapa kosa kata yang ada dalam Perjanjian Baru. Sebagai contoh, kata neaniskos (“pemuda”) muncul beberapa kali dalam Alkitab (Mat 19:20, 22; Mar 14:51; Luk 7:14; Kis 2:17; 5:10; 1Yoh 2:13-14), namun batasan usia neaniskos tidak diketahui dengan jelas. Sebuah inskripsi kuno tentang peraturan olah raga kemungkinan bisa memberikan pencerahan tentang hal itu karena dalam inskripsi membedakan antara paides (anak-anak sampai usia 15 tahun), efhboi (15-17 tahun) dan neaniskoi atau neoi (18-22 tahun).[36] Beberapa sarjana biblika telah menyelidiki dan merumuskan hasil penelitian mereka ke dalam beberapa buku yang menjadi standar dalam studi kosa kata[37] maupun tata bahasa[38] Yunani.

Konfirmasi

Seperti sudah disinggung di awal makalah ini, pengertian “konfirmasi” di sini tidak berarti “membuktikan” kebenaran cerita di dalam Alkitab. Bagaimanapun, arkheologi berhasil memberikan dukungan positif bagi Alkitab sehingga beberapa hal yang dulu dianggap tidak ada dalam sejarah sekarang terbukti bahwa tempat dan nama tokoh yang dicatat Alkitab memang ada dalam sejarah. Perkembangan ini seharusnya memberikan beban yang lebih ke pundak sarjana liberal (mereka yang harus membuktikan kebenaran pandangan mereka, bukan sarjana injil yang harus membuktikan kebenaran Alkitab).

Konfirmasi arkheologi bagi Alkitab dapat dibagi menjadi tiga aspek: yang berkaitan dengan historisitas Alkitab, kritik teks dan isu penanggalan/perkembangan teologi. Aspek pertama berhubungan dengan berbagai penemuan arkheologi yang menegaskan keberadaan tempat atau tokoh yang dicatat dalam Alkitab. Aspek kedua berhubungan dengan melimpahnya salinan Alkitab yang memungkinkan usaha rekonstruksi Alkitab dan mempengaruhi beberapa penafsiran terhadap Alkitab.

Kontribusi arkheologi bagi historisitas Alkitab

Menurut Randall W. Younker setidaknya ada 5 alasan yang membuat sarjana liberal mempertanyakan historisitas Alkitab: kisah-kisah supranatural di dalam Alkitab, kisah yang tidak ada dalam catatan sejarah sekuler, anachronisme (pemakaian istilah yang lebih modern untuk masa yang lebih kuno), “penemuan” arkheologis yang melemahkan Alkitab dan kontradiksi antar catatan Alkitab.[39]

Pertama, kisah-kisah supranatural dalam Alkitab. Ketidakpercayaan terhadap kisah-kisah supranatural dalam Alkitab sebenarnya lebih didorong oleh pemikiran filosofis yang rasionalis daripada bukti tertentu yang objektif. Jika dilihat dari sisi penemuan arkheologis yang ada, historisitas Alkitab justru berada di atas angin. Sebagai contoh, beberapa penulis kafir kuno mencatat tentang perbuatan ajaib yang dilakukan Yesus, walaupun mereka umumnya menganggap itu hasil dari ilmu sihir yang dipelajari Yesus di Mesir, misalnya Celsus dan para rabi Yahudi.[40] Kalau memang peninggalan kuno yang ada mendukung historisitas kisah supranatural dalam Alkitab, atas dasar apa sarjana liberal meragukan hal itu?

Kedua, kisah yang tidak ada dalam catatan sejarah sekuler. Sarjana liberal menduga adanya usaha membesar-besarkan keberadaan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada di Alkitab dan mereka menganggapnya hal ini sebagai suatu kebohongan. Banyak contoh yang sudah dimunculkan dan juga sudah dibantah oleh penemuan arkheologis selanjutnya.[41] Dalam bagian ini hanya akan dibahas salah satu contoh yang terkenal, yaitu rujukan dalam kitab Daniel pasal 5 tentang Belsyazar sebagai raja Babel yang terakhir. Berdasarkan bukti arkheologis yang dulu ditemukan, Nabonidus adalah raja terakhir yang duduk di tahta Babel pada saat penaklukan oleh Media-Persia. Data yang tampak kontradiktif ini perlahan mulai sirna ketika pada tahun 1854 Sir Henry Rawlinson menemukan beberapa prasasti yang salah satunya berisi doa untuk raja Nabonidus dan anaknya, Belsyasar. Di bagian lainnya ada keterangan tentang raja Nabonidus yang menyerahkan tahtanya kepada anak tertuanya “Bel-shar-usur” (Belsyasar) dan memberikan pengkat raja kepadanya. Raja Nabonidus lebih memilih tinggal di Teima (sebelah utara Arab) daripada di ibukota Babel. Kenyataanya adalah bahwa raja Nabonidus memang tidak ada di ibukota Babel pada saat Media-Persia mengalahkan Babel. Raja Nabonidus masih hidup beberapa waktu setelah Babel dikalahkan. Posisi Belsyasar sebagai orang kedua di kerajaan Babel (setelah raka Nabonidus, ayahnya) sejalan dengan catatan Daniel 5:29 yang menyatakan bahwa Belsyasar memberikan Daniel dengan posisi sebagai orang ketiga dalan kerajaannya. [42]

Ketiga, anakhronisme di dalam Alkitab. Pada pertengahan 1970-an, dua sarjana terkenal, T.L. Thompson and John van Seters, mengemukakan argumen-argumen baru yang menurut mereka akan meruntuhkan historisitas narasi bapa-bapa leluhur. Dalam argumen mereka dinyatakan bahwa kutipan tentang unta dalam kitab Kejadian (12:16; 24; 30:43; 31:17,34; 32:7,15; 37:25–28) merupakan bentuk anakhronisme.[43] Menurut mereka, unta tidak pernah menjadi binatang peliharaan manusia yang berfungsi untuk membantu mengangkat beban hingga 1000 SM, padahal catatan tentang unta dalam kitab Kejadian terjadi sekitar 2000 SM. Argumen mereka ini pada akhirnya dipatahkan oleh banyak penemuan arkheologi, misalnya Sumerian Lexical Text dari Ugarit yang menyebutkan tentang unta dalam daftar binatang peliharaan selama periode Babilonia Kuno (1950-1600 SM). Di Mesir Pierre Montet menemukan sebuah tempat menyimpan barang yang terbuat dari batu dalam bentuk seekor unta. Batu tersebut berasal dari sekitar tahun 2000 SM. Parrot menemukan sebuah gambar bagian belakang kaki dan pinggang seekor unta dalam sebuah tempayan di Mari yang diperkirakan berasal dari tahun 2000 SM serta tulang-tulang unta yang diperkirakan berasal dari jaman sebelum Sargon (sekitar 2400 BC). Di Byblos ditemukan sebuah patung kecil dari tembaga berbentuk seekor unta dalam posisi berlutut yang diperkirakan berasal dari abad ke-19 sampai ke-18 SM. Selain itu juga ditemukan sebuah patung emas berbentuk unta yang berlutut. Patung tersebut diperkirakan berasal dari dinasti Ur ke-3 (2070-1960 SM). Di Aswan, Mesir, sebuah ukiran pada batu karang menggambarkan seorang laki-laki menarik unta dengan tali (ada keterangan bahwa umur gambar tersebut sekitar 2423-2263 SM). [44]

Contoh lain yang sering dianggap (secara salah) sebagai anakhronsime adalah penggunaan istilah “Kanaan” dan “Tehom” (Kej 1:2 “samudera raya”). Pada penggalian tahun 1970-an di daerah utara Siria ditemukan lempengan tanah liat yang ditulis sekitar tahun 2300 SM. Dalam catatan yang jauh lebih kuno daripada kitab Musa ini ditemukan kata Kanaan maupun Tehom.[45]

Keempat, “penemuan” arkheologis yang melemahkan Alkitab. Para sarjana liberal menganggap kegagalan arkheologi dalam menemukan bukti positif yang mendukung Alkitab merupakan bukti positif bahwa Alkitab tidak bisa dipercaya. Kesalahan epistemologis seperti ini sudah dibahas di awal makalah, sehingga tidak perlu diulangi lagi. Dalam bagian ini hanya akan diberikan sebuah contoh konkret dari kesalahan tersebut. Sekitar tahun 1930-an, seorang arkheolog Inggris, John Garstang, mengklaim bahwa dia telah menemukan bukti penaklukan Yosua atas kota Yerikho.[46] Dia menggali sebuah kota di Tell es-Sultan yang dipercayai oleh banyak sarjana sebagai Yerikho dalam Perjanjian Baru. Kota itu dia identifikasi sebagai kota IV. Kota tersebut sudah hancur karena kebakaran yang dibuktikan dengan ditemukannya alat ukur yang tertutup oleh abu. Penemuan Garstang ini diuji dengan penggalian ulang yang dilakukan oleh Kathleen Kenyon sekitar tahun 1950-an. Dalam penggaliannya tersebut Kenyon tidak mendapati adanya tanda-tanda penaklukan kota yang dimaksud oleh Garstang. Penemuan Kenyon direspon oleh para sarjana liberal dengan menyatakan bahwa Alkitab tidak dapat dipercaya dari sisi historisitasnya.

Sekitar tahun 1980-an, Dr. Bryant Wood memutuskan untuk mengkaji ulang hasil penemuan Kenyon. Wood menemukan kesimpulan Kenyon tentang kota yang tidak pernah ada pada jaman penaklukan tersebut hanya didasarkan pada tidak ditemukannya pot/jambangan yang berasal dari jaman penaklukan tersebut (sekitar 1400 SM). Karena itu Wood menggali ulang jambangan-jambangan yang ada di kota IV tersebut dan mendapati umur sekitar 1400 SM. Dia juga menemukan batu-batu di sekitar kuburan yang berasal dari jaman Firaun yang memerintah pada dinasti ke-18.

Memang apa yang ditemukan oleh Wood tidak bisa menjamin bahwa kehancuran kota Yerikho tersebut adalah karena perang melawan bangsa Israel. Bagaimanapun, penemuan ini paling tidak membuka mata para arkheolog bahwa kemungkinan ke arah dugaan Garstang tetap terbuka. Bahkan sekalipun dugaan Garstang dan Wood tidak tepat, hal itu tetap tidak membuktikan kelemahan historis Alkitab.

Kelima, kontradiksi di dalam Alkitab. Para sarjana liberal seringkali membesar-besarkan perbedaan di dalam Alkitab seolah-olah hal itu berkontradiksi dan tidak ada cara untuk mengharmonisasikannya. Salah satu contoh yang terkenal adalah peristiwa Yesus menyembuhkan orang buta di Yerikho. Menurut Matius 20:29 dan Markus 10:26 Yesus menyembuhkan ketika keluar dari Yerikho, sedangkan menurut Lukas 18:35 ketika Ia sedang masuk ke Yerikho. Apakah catatan ini memang bertentangan? D. A. Carson menyebutkan beragam alternatif yang mungkin untuk mengharmonisasikan masalah ini, walaupun dia mengakui tidak ada satu alternatif pun yang mutlak benar.[47] Salah satu alternatif adalah dengan menganggap orang buta itu mulai memohon pertolongan dari saat Yesus masuk ke Yerikho, namun Yesus baru menyembuhkannya setelah Ia keluar dari kota untuk menguji imannya. Selain itu, Josephus (Jos. War IV, 459 [viii. 3]) mencatat ada dua Yerikho: lama dan baru. Keduanya hanya berjarak satu mil.

Kontribusi arkheologi bagi kritik teks

Yang dimaksud kritik teks adalah disiplin ilmu biblika yang bertugas mengumpulkan, membandingkan dan menganalisa berbagai salinan Alkitab dengan tujuan untuk merekonstruksi naskah asli (autografa). Sebelum penemuan Naskah Laut Mati, salinan seluruh Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani yang paling tua ditulis tahun 1008 M. Salinan ini sering disebut teks Ben Asher atau Leningrad Codex. Penemuan berbagai salinan Perjanjian Lama di gua-gua Qumran yang ditulis sekitar abad ke-2 SM telah menghilangkan keraguan banyak orang tentang kredibilitas salinan Leningrad. Penyelidikan yang seksama menunjukkan adanya kesamaan yang luar biasa yang membuktikan bahwa salinan Masoret teks abad pertengahan merupakan salinan yang sangat terpercaya. Walaupun ada perbedaan kecil di beberapa bagian, namun secara umum penemuan Naskah Laut Mati justru telah meneguhkan salinan Masoret yang berusia jauh lebih muda.[48] Selain memberikan peneguhan, penemuan Naskah Laut Mati juga memberikan pencerahan tentang kemungkinan adanya beragam tradisi teks yang ada sebelum abad ke-1 M. Pendeknya, penemuan Naskah Laut Mati telah memberikan angin segar dan beragam perubahan (perkembangan) dalam usaha merekonstruksi autografa Perjanjian Lama.[49]

Penemuan arkheologis berupa salinan-salinan kuno juga turut memudahkan kritik teks untuk merekonstruksi autografa, karena memberikan beragam alternatif bacaan yang memungkinkan para kritikus teks untuk memilih mana yang sesuai autografa. Selain itu, usia beragam salinan yang baru ditemukan ternyata jauh lebih tua dari salinan-salinan terdahulu. Dalam hal ini, konfirmasi yang diberikan berhubungan dengan ujian bibliografi (bibliographical test), yaitu ujian terhadap kitab kuno yang didasarkan pada jumlah salinan dan jarak antara peristiwa-penulisan-penyalinan. Semakin banyak salinan yang ada berarti semakin bisa dipercaya. Semakin dekat jarak antara peristiwa-penulisan-penyalinan berarti semakin bisa dipercaya. Jika diuji berdasarkan kriteria yang objektif dan biasa dipakai oleh sarjana sekuler ini, Alkitab menunjukkan nilai positif yang jauh melebihi semua kitab kuno yang ada.[50]

Kontribusi arkheologi dalam hal penanggalan Alkitab dan perkembangan teologi

Para sarjana liberal cenderung memberikan penanggalan kitab-kitab Alkitab sejauh mungkin dari hidup Yesus. Ada banyak faktor yang turut mendorong sikap ini: konsep rasionalis yang tidak mempercayai ketepatan nubuat Alkitab, keyakinan bahwa apa yang ditulis oleh para penulis Alkitab bukan berasal dari Yesus tetapi merupakan karangan/pergumulan teologis gereja abad ke-2 M, dsb. Salah satu contoh dari sikap ini adalah pandangan yang menganggap Injil Yohanes ditulis pada akhir abad ke-2 M, karena isinya dianggap mencontek filsafat atau agama Hellenis abad ke-2. Pendapat seperti ini dengan sendirinya mulai ditinggalkan seiring dengan penemuan salinan Injil Yohanes tertua di Mesir yang ditulis pada awal abad ke-2 M. Walaupun ada perbedaan waktu sedikit di antara para sarjana, namun masih dalam jarak antara tahun 110-150 M.[51] Kalau salinannya saja ditemukan pada awal abad ke-2 M, bagaimana mungkin kitab ini ditulis pada akhir abad ke-2?

Masih sehubungan dengan asumsi penanggalan Injil Yohanes yang sangat jauh dari abad ke-1 M, sarjana liberal menganggap penulis Injil Yohanes tidak menguasai geografi Palestina dengan baik. Penemuan arkheologi justru membuktikan sebaliknya. Penulis Injil Yohanes “thoroughly familiar with the geography of the country”.[52] Beberapa tempat yang disebutkan dalam Injil Yohanes satu demi satu mulai terkuak melalui penemuan arkheologis, termasuk penemuan Kolam Bethesda yang sudah tertimbun tanah selama ratusan tahun.

Hal lain yang masih terkait dengan Injil Yohanes adalah dugaan sarjana liberal bahwa Injil Yohanes sangat dipengaruhi oleh konsep dualisme Hellenis abad ke-2 M. Beberapa ungkapan dualistik seperti “atas-bawah” dan “terang-gelap” dianggap membuktikan pengaruh Hellenis atas Injil Yohanes, karena tidak ada tulisan Yahudi yang berisi konsep dualistik. Pandangan ini juga akhirnya runtuh ketika Naskah Laut Mati ditemukan. Naskah yang ditulis oleh sekelompok orang Yahudi yang saleh tersebut ternyata juga mengajarkan konsep pemikiran dualistik, walaupun dualisme yang ada hanya secara etis (sama seperti Injil Yohanes), bukan secara ontologis/filosofis seperti yang ditemukan dalam berbagai tulisan Hellenis.[53]

Contoh lain – tetapi tidak secara eksklusif berhubungan dengan Injil Yohanes – adalah sebutan “Anak Allah” yang dipakai oleh Yesus. Ungkapan ini sebelumnya hanya umum di kalangan dunia Hellenis, sedangkan dalam literatur Yahudi tidak pernah ditemukan relasi antara sebutan “Anak Allah” dan “mesias”. Berdasarkan hal ini para sarjana liberal menganggap sebutan “Anak Allah” tidak berasal dari Yesus sendiri, tetapi dari gereja abad ke-2 yang mulai merambah daerah Hellenis. Pendapat seperti ini pada akhirnya terbukti salah, karena sebutan “Anak Allah” yang dikaitkan dengan mesias (secara khusus 2Samuel 7:14) ternyata ditemukan dalam Naskah Laut Mati.[54] #

——————————————————————————–

[1] Lihat John D. Currid, Doing Archaeology in the Land of the Bible: A Basic Guide (Grand Rapids: Baker Books, 1999), 15-17.

[2] “The Bible and Archaeology” (http://www.aiias.edu/ict/vol_26B/26Bcc_457-477.htm).

[3] H. Darrell Lance, The Old Testament and the Archaeologist (Philadelphia: Fortress Press, 1981), 1. Currid (Doing Archaeology, 18) mencatat bahwa sebelum Napoleon sebenarnya sudah ada beberapa penggalian arkheologis modern, namun semua usaha tersebut tidak dilakukan secara sistematis.

[4] Currid, Doing Archaeology, 20.

[5] “In what ways have the discoveries of archaeology verified the reliability of the Bible?”. http://www.christiananswers.net/q-abr/abr-a008.html

[6] David Merling, “The Relationship between Archaeology and the Bible: Expectations and Reality” in The Future of Biblical Archaeology: Reassessing Methodologies and Assumptions, ed. by James K. Hoffmeier and Alan Millard (Grand Rapids/Cambridge: William B. Eerdmans Publishing Company, 2004), 31. Dever mengakui bahwa dia akhirnya memeluk Yudaisme, namun tetap menganggap agama sebagai sesuatu yang tidak penting dan Alkitab bukanlah firman Allah yang tidak bisa salah. Lihat http://www.bib-arch.org/bswb_BAR/bswbba3302f3.html.

[7] Pandangan Dever tentang hal ini dapat dilihat dalam What Did the Biblical Writers Know & When Did They Know It?: What Archaeology Can Tell Us about the Reality of Ancient Israel (Grand Rapids/Cambridge: William B. Eerdmans Publishing Company, 2001).

[8] The Archaeology of Palestine and the Bible (New York: Fleming H. Revell, 1932).

[9] St. Paul the Traveller and the Roman Citizen (London: Hodder and Stoughton, 1908); The Cities of St. Paul (London: Hodder and Stoughton, 1907). Bukunya yang lain adalah The Bearing of Recent Discovery on the Trustworthiness of the New Testament (Grand Rapids: Baker Book House, 1953).

[10] “Theory and Method in Biblical Archaeology” in The Future of Biblical Archaeology, 26.

[11] Donald J. Wiseman, “Archaeology and the Old Testament” in Expositor’s Bible Commentary Volume One, ed. by Frank E. Gaebelein, Zondervan Reference Software (32-bit edition), Version 2.6.

[12] “Theory and Method”, 27-28.

[13] Beberapa kesamaan yang ada meliputi: air bah berasal dari dewa/Allah, air bah ini disebabkan karena kejahatan manusia, yang selamat hanyalah seorang laki-laki dan anggota keluarganya, mereka selamat karena membuat bahtera, mereka juga memasukkan beberapa pasang binatang ke dalam bahtera, setelah hujan reda dan air mulai surut laki-laki tersebut melepaskan beberapa burung, setelah keluar dari bahtera ia memberikan persembahan kurban kepada dewa/Allah.

[14] Alfred J. Hoerth, Archaeology and the Old Testament (Grand Rapids; Baker Books, 1998), p. 19

[15] Howard F. Vos, Kitab Kejadian dan Arkeologi (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1991), 42.

[16] “In What Ways”. http://www.christiananswers.net/q-abr/abr-a008.html.

[17] “The Relationship between Archaeology and the Bible”, 33.

[18] Ibid.

[19] Treasures From Bible Times (Tring/Belleville/Sidney: A Lion Book, 1985), 184.

[20] Patrick Zukeran, “Archaeology and the Old Testament” (http://www.probe.org/content/view/31/77/)

[21] Hoerth, Archaeology… , 16-21

[22] Hoerth, Archaeology…, 102-103.

[23] Victor P. Hamilton, The Book of Genesis Chapters 1-17, The New International Commentary on the Old Testament (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1990), 444

[24] Victor P. Hamilton, The Book of Genesis Chapters 18-50, The New International Commentary on the Old Testament (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1995), 36.

[25] Dari sisi pembacaan narasi, tindakan Lot sebaiknya dipahami secara negatif. Berbeda dengan Abraham yang langsung peka terhadap kehadiran Allah (18:2), Lot hanya menyapa tamu-tamu ilahinya dengan sebutan “tuan” (19:2). Di akhir cerita ia justru yang melakukan pelanggaran seksual terhadap kedua anak perempuannya (19:30-38). Ia juga disebut sebagai bapa bangsa Moab (19:37) dan Amon (19:38), dua bangsa yang sekalipun tinggal di perbatasan tanah perjanjian namun tidak pernah menikmati berkat tersebut (Bil 24:17). Lihat, John Sailhamer, “Genesis” in Expositor’s Bible Commentary Volume 2, ed. by Frank E. Gaebelein, Zondervan Reference Software (32-bit edition), Version 2.6. Berdasarkan bacaan narasi ini, kesalehan Lot yang dipuji di 2Petrus 2:7-8 sebaiknya dipahami sebagai rujukan tentang hidup Lot secara umum, sama seperti Abraham disebut sebagai bapa orang beriman meskipun ia beberapa kali meragukan janji Allah.

[26] Gordon Wenham, Word Biblical Commentary, Volume 2: Genesis 16-50, (Dallas, Texas: Word Books, Publisher) 1998.

[27] V. h. Matthews, M. W. Chavalas & J. H. Walton, The IVP Bible Background Commentary : Old Testament (electronic ed.) . InterVarsity Press: Downers Grove, IL, 2000.

[28] The Gospel According to John, Pillar New Testament Commentary (Leicester/ Grand Rapids: Apollos/William B. Eerdmans Publishing Company, 1991), 173.

[29] Kontra Leon Morris, The Gospel According to John, The New International Commentary on the New Testament, rev. ed. (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1995), 162.

[30] Alan Millard, Discoveries From the Time of Jesus (Oxford/Batavia/Sydney: A Lion Book, 1990).

[31] Carson, The Gospel According to John, 174.

[32] John McRay, Archaeology & the New Testament (Grand Rapids: Baker Academic, 1991), 363.

[33] Translated by Lionel R. M. Strachan (Mew York: George H. Doran, 1927).

[34] Merrill F. Unger, Archaeology and the New Testament (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1962), 23.

[35] McRay, Archaeology…, 364.

[36] Ibid., 371.

[37] G. Kittel and G. Friedrich, Theological Dictionary of the New Testament, 10 vols (trans. by G. W. Bromiley; Grand Rapids: Eerdmans, 1964-1976); Collin Brown, The New International Dictionary of New Testament Theology,4 vols (Grand Rapids: Zondervan, 1975-1985); Walter Bauer, A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature; 2nd ed., ed. by W. F. Arndt, W. F. Gingrich, F. W. Danker (Chicago: University of Chicago Press, 1979); H. G. Liddell and R. Stott, A Greek-English Lexicon: A New Edition Revised and Augmented Throughout with Supplement, rev. by H. S. Jones and R. McKenzie, 9th ed. (Oxford: Oxford University Press, 1924-1940; supplement 1968).

[38] A. T. Robertson, A Grammar of the Greek New Testament in the Light of Historical Research, 4th ed. (New York: Hodder & Stoughton, 1923).

[39] Randall W. Younker, “The Bible and Archaeology”. http://www.aiias.edu/ict/vol_26B/26Bcc_457-477.htm).

[40] Studi tentang Yesus dalam catatan penulis kafir kuno tetap menjadi isu yang hangat, karena para sarjana memperdebatkan keaslian dari catatan yang ada. Sebagian mereka menolak keaslian catatan tersebut dan berpendapat bahwa orang-orang Kristen telah mengubah catatan itu. Bagaimanapun, studi yang seksama dan objektif paling tidak bisa memastikan bahwa tindakan ajaib yang dilakukan Yesus memang diakui oleh para penulsi kuno, walaupun mereka memiliki interpretasi yang berbeda tentang hal itu. Lihat, Robert E. Van Voorst, Jesus Outside the New Testament: An Introduction to the Ancient Evidence (Grand Rapids/Cambridge: William B. Eerdmans Publishing Company, 2000).

[41] Untuk daftar detil beberapa penemuan arkheologis yang lebih mendukung Alkitab, lihat Bill Wilson, ed., The Best of Josh McDowell: A Ready Defense (San Bernardino: Here’s Life Publishers, 1990), 92-117.

[42] Hoerth, Archaeology…, 379-380.

[43] Randal W. Younker, “The Bible…” (http://www.aiias.edu/ict/vol_26B/26Bcc_457-477.htm) and Robert I. Bradshaw, “Archaeology and the Patriarchs” (http://biblicalstudies.org.uk/articlearchaeology.html)

[44] Ibid.

[45] Wood, “In what ways…?”. http://www.christiananswers.net/q-abr/abr-a008.html

[46] Younker, “The Bible…”Http://www.aiias.edu/ict/vol_26B/26Bcc_457-477.htm)

[47] “Matthew” in Expositor’s Bible Commentary, ed. by Frank E. Gaebelein, Zondervan Reference Software (32-bit edition), Version 2.6

[48] Joseph A. Fitzmyer, S. J., Responses to 101 Questions on the Dead Sea Scrolls (New York: Paulist Press, 1992), 40-41.

[49] Untuk sejarah teks Perjanjian Lama sebelum dan sesudah penemuan Naskah Laut Mati, lihat James Vanderkam & Peter Flint, The Meaning of the Dead Sea Scrolls: The Significance for Understanding the Bible, Judaisme, Jesus and Christianity (San Fransisco: HarperSanFransisco, 2002), 87-153.

[50] Bill Wilson, ed., The Best of…, 42-51.

[51] Harry Thomas Frank, Bible Archaeology and Faith (Nashville/New York: Abingdon Press, 1971), 301.

[52] Ibid, 304.

[53] Ibid.

[54] D. E. Garland, “Background Studies and New Testament Interpretation” in New Testament Criticism and Interpretation, ed. by David Alan Black & David S. Dockery (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1991), 354-355.

2 thoughts on “ARKHEOLOGI DAN ALKITAB

  1. Hello, Neat post. There is a problem along with your website in web
    explorer, could test this? IE nonetheless is the market leader
    and a huge part of other folks will leave out your fantastic writing because of this problem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s