YESUS DI LUAR PERJANJIAN BARU 2

Catatan kuno tentang Yesus dan kekristenan ternyata tidak hanya ditemukan dalam karya para sejarahwan Romawi, namun juga dalam tulisan para penulis Yahudi. Dalam bagian ini kita akan menyelidiki beberapa catatan tentang Yesus dan kekristenan dalam tulisan Flavius Josephus (seorang seorang sejarahwan Yahudi abad ke-1 M) dan para rabi.

Tulisan Josephus

Sejarahwan Yahudi bernama Josephus (37 – 100 M) lahir dari sebuah keluarga imam yang sangat terhormat. Ia adalah seorang yang sangat pandai, berpendidikan dan memiliki pengaruh di kalangan bangsa Yahudi. Pada tahun 64 M ia ditunjuk sebagai salah satu delegasi bangsa Yahudi untuk mengadakan diplomasi dengan Kaisar Nero. Pada waktu bangsa Yahudi memberontak terhadap Romawi, ia diangkat sebagai jendral untuk daerah Galilea.

Setelah mengamati jalannya peperangan dan mengevaluasi kekuatan musuh, Josephus mengusulkan kepada bangsa Yahudi agar menyerah kepada Romawi. Saran ini ditolak oleh bangsa Yahudi. Akhirnya mereka benar-benar kalah dan pada tahun 70 M kota Yerusalem dan bait Allah dihancurkan tentara Romawi. Josephus sendiri ditawan dan dipenjara di Roma.

Selama berada di Roma dia meramalkan bahwa Jendral Vespasianus akan menjadi kaisar Romawi berikutnya. Ternyata ramalan ini benar-benar menjadi kenyataan. Josephus akhirnya mendapatkan kewarganegaraan Romawi, nama keluarga Vespasianus (yaitu Flavius), posisi dalam pemerintahan dan fasilitas hidup yang sangat baik.

Situasi di atas sangat memungkinkan dia untuk menjadi penulis sejarah yang kompeten. Ia memiliki kesempatan untuk menggunakan perpustakaan Epaphroditus yang sangat besar (30 ribu buku) maupun arsip-arsip Romawi yang penting. Dia beberapa kali menjadi saksi mata dari berbagai peperangan yang dilakukan Romawi. Selama hidupnya Josephus menulis beberapa karya yang sangat terkenal, yaitu Life (sebuah autobiografi), Against Apion (karya apologis yang menentang orang-orang yang anti-Yahudi), Jewish War (sejarah peperangan bangsa Yahudi dari jaman Anthiokus Epifanes di abad ke-2 SM sampai kejatuhan Masada pada tahun 74 M) dan The Antiquities of the Jews (sejarah bangsa Yahudi dari jaman penciptaan sampai perang melawan Romawi).

Perjalanan hidup Josephus di atas membuat ia tidak disukai oleh bangsa Yahudi. Ia dianggap sebagai pemberontak dan tidak nasionalis. Tidak ada orang Yahudi maupun para rabi yang mengutip atau menyalin tulisan-tulisannya. Karyanya hanya dijaga dan dipublikasikan oleh orang-orang Romawi. Setelah kekaisaran Romawi jatuh, karyanya hanya dipelihara oleh orang-orang Kristen. Orang-orang Kristen membutuhkan tulisan Josephus yang berhubungan dengan sejarah bangsa Yahudi, karena dianggap bisa menjembatani apa yang terjadi selama 400 tahun antara jaman PL dan PB (masa intertestamental). Motivasi lain untuk memelihara tulisan Josephus adalah karena terdapat catatan tentang Yesus dan kekristenan. Hal inilah yang sering dipakai sebagai alasan oleh sebagian sarjana untuk meragukan keaslian catatan Josephus tentang Yesus atau kekristenan. Catatan tersebut dianggap telah dimasukkan atau dimodifikasi oleh orang-orang Kristen.

Yesus yang disebut Kristus, saudara Yakobus (Ant. 20.9.1 §200)

Catatan tentang Yesus dalam bagian ini sangat pendek. Fokus catatan tersebut juga bukan terletak pada Yesus, tetapi pada Yakobus, saudaranya, yang dihukum mati oleh Imam Besar Ananus selama terjadi transisi kepemimpinan Romawi di tingkat propinsi (gubernur). Sebagai akibat dari tindakannya yang melampaui wewenang yang diberikan pemerintah Romawi, Ananus akhirnya diturunkan dari jabatannya. Berikut ini adalah sebagian kutipan tentang hal tersebut di atas:

Ia mengumpulkan mahkamah para hakim dan membawa saudara Yesus yang disebut Kristus [untuk diadili], yang bernama Yakobus dan beberapa orang lain. Setelah menuduh mereka telah melanggar Taurat, ia menyerahkan mereka untuk dirajam dengan batu.

Sebagian sarjana meragukan keaslian catatan Josephus di atas. Mereka menganggap frase “Yesus yang disebut Kristus” sebagai tambahan dari orang Kristen, karena ungkapan tersebut menimbulkan kesan bahwa Josephus mengakui Yesus sebagai Kristus (Mesias). Mereka juga mempermasalahkan mengapa Josephus tidak langsung menyebut nama Yakobus tanpa mengaitkannya dengan Yesus.

Terhadap pendapat di atas kita pertama-tama harus memahami bahwa nama “Yesus” maupun “Yakobus” merupakan nama yang sudah sangat umum di kalangan bangsa Yahudi. Banyak orang memakai nama tersebut, sehingga Josephus merasa perlu menjelaskan “Yakobus” yang mana yang sedang dia bicarakan, yaitu “saudara Yesus yang disebut Kristus”. Ketika ia menyebut nama “Yesus” pun ia perlu memberikan tambahan keterangan “yang disebut Kristus”, karena nama “Yesus” juga sangat umum (band. Mat 27:17; Kol 4:11). Menurut Paul Winter, dalam tulisan Josephus ditemukan 12 nama Yesus yang bukan merujuk pada Yesus Kristus, jadi Josephus perlu memberikan penjelasan “Yesus” yang mana yang di amaksudkan.

Tambahan “yang disebut Kristus” (tou legomenou Cristou) harus dipahami sebagai pernyataan yang netral. Josephus tidak mengakui maupun menolak Yesus sebagai Kristus. Dalam Alkitab ungkapan tou legomenou Cristou muncul 3 kali: secara positif (menunjukkan pengakuan, Mat 1:16) dan netral (sekedar penjelasan dari orang yang tidak percaya, Mat 27:17, 22; Yoh 4:25). Yang paling menarik adalah ucapan Pilatus di Matius 27:17 “siapa yang kalian kehendaki kubebaskan bagimu: Yesus Barabas atau Yesus yang disebut Kristus?”.

Sebutan “Kristus” sendiri pada waktu itu tidak hanya dipakai oleh Yesus. Dalam sejarah bangsa Yahudi, beberapa orang tokoh revolusi sudah mengaku sebagai mesias (band. Kis 5:34-39). Ketika Josephus menyinggung Yesus dengan “yang disebut Kristus”, ia hanya memposisikan Yesus sebagai salah satu dari sekian banyak orang yang mengaku sebagai mesias. Sekali lagi, ungkapan tersebut bersifat netral dan sangat mungkin berasal dari Josephus. Seandainya ada orang Kristen yang menambahkan atau memodifikasi catatan tersebut, maka ia pasti akan memakai sebutan yang lebih mutlak dan jelas, misalnya “Yesus yang adalah Kristus”.

Setelah memberikan argumentasi membela keaslian catatan di atas, sekarang kita akan menarik beberapa kesimpulan penting dari catatan itu. (1) Yesus sering dikaitkan dengan sebutan “Kristus”. Walaupun Josephus tidak percaya kepada kemesiasan Yesus, namun dia mengakui secara tidak langsung bahwa Yesus adalah tokoh terkenal yang dihubung-hubungkan dengan klaim sebagai mesias. Hal ini sesuai dengan catatan Alkitab yang menyebutkan Yesus sebagai mesias (Mat 16:16; Yoh 20:31); (2) Yakobus adalah tokoh terkenal, sehingga hanya namanya saja yang disebut di antara sekian banyak orang yang dibunuh Ananus. Rujukan ini sesuai dengan jabatan Yakobus sebagai sokoguru jemaat di Yerusalem (Kis 15:13; Gal 1:19); (3) Yesus lebih terkenal daripada Yakobus, sehingga Josephus perlu menjelaskan nama Yakobus dengan tambahan “saudara Yesus yang disebut Kristus”. Kebenaran dari hal ini bisa kita lihat dari perbandingan frekuensi pemunculan nama Yakobus dan Yesus dalam Perjanjian Baru: “Yakobus” muncul kurang dari 10 kali, sedangkan “Yesus” muncul lebih dari 1450 kali.

Yesus: orang bijak, pembuat mujizat dan guru yang mati disalib (Ant. 18.3.3 §63-64)

Catatan Josephus yang paling penting yang berkaitan dengan Yesus terdapat dalam buku Antiquities of the Jews 18.3.3 §63-64. Catatan ini dikenal dengan istilah Testimonium Flavianum (Kesaksian Flavius). Catatan ini tersebar dalam dua versi: pendek dan panjang. Versi yang panjang terdapat dalam terjemahan buku Jewish Wars ke dalam bahasa Rusia kuno. Versi ini sering disebut “Slavonic Josephus” atau “Testimonium Slavianum”. Kita hanya akan menyoroti versi yang pendek saja, karena dalam versi Slavianum terdapat banyak tambahan yang bernuansa Kristiani. Penyelidikan para sarjana mengarah pada satu kesimpulan: versi Slavianum banyak diubah oleh orang Kristen, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai sumber yang terpercaya. Berikut ini adalah versi pendek dari catatan Josephus tentang Yesus:

Sekitar waktu ini hiduplah Yesus, seorang manusia yang bijaksana, jika ini sungguh-sungguh layak untuk menyebutnya sebagai manusia, karena ia adalah seorang pembuat tindakan-tindakan ajaib dan seorang guru dari orang-orang yang menerima kebenaran itu dengan penuh hasrat. Ia memenangkan banyak orang Yahudi maupun Yunani. Ia adalah Mesias. Pilatus, ketika ia mendengar dia dituduh oleh para pemimpin kita, menghukum dia ke tiang salib, [tetapi] mereka yang pertama-tama telah mengasihi dia tidak berhenti, karena pada hari ketiga dia menampakkan diri kepada mereka kembali dalam keadaan hidup, sebab para nabi Allah telah menubuatkan hal-hal ini dan banyak lagi hal lain tentang dia. Sampai hari ini suku Kristen, yang diberi nama berdasarkan namnya, tidak musnah.

Keaslian catatan Josephus di atas telah menjadi fokus perdebatan yang panjang sampai sekarang. Sebagian sarjana berpendapat bahwa seluruh teks tersebut adalah asli, sedangkan yang lain menolak seluruhnya. Sebelum menyelidiki bagian mana yang asli dan bagian mana yang diubah oleh orang Kristen, kita lebih dahulu akan membahas argumentasi dari mereka yang menolak keaslian catatan ini. Secara garis besar argumentasi mereka dapat dibagi menjadi tiga kelompok.

Pertama, dari sisi konteks. Pada bagian 18 dari buku Antiquities of the Jews Josephus sedang mengkritik Pilatus dan/atau para pemimpin Yahudi secara eksplisit. Catatan di atas tampak tidak memenuhi tujuan Josephus karena terlalu implisit dalam menampilkan kesalahan Pilatus dan/atau para pemimpin Yahudi.

Kedua, dari sisi pengkalimatan/ungkapan. Beberapa bagian dari catatan di atas hampir dapat dipastikan merupakan tambahan dari orang Kristen, misalnya:

1. Jika ini sungguh-sungguh layak menyebutnya sebagai seorang manusia. Ungkapan ini seakan-akan ingin menyiratkan bahwa Yesus adalah Allah. Sebagai seorang Yahudi yang menganut monoteisme dan tidak percaya kepada Yesus, Josephus tidak mungkin menulis kalimat seperti ini. Kalimat ini mungkin ditambahkan oleh orang Kristen untuk mengoreksi sebutan sebelumnya bahwa Yesus hanyalah seorang manusia yang bijaksana.

2. Ia adalah mesias. Kalimat ini menunjukkan pengakuan terhadap kemesiasan Yesus (band. frase “yang disebut Kristus” dalam tulisan Josephus sebelumnya), apalagi dalam teks Yunani kata “mesias” (cristos) muncul di awal kalimat sebagai penekanan. Selain itu, “pengakuan” Josephus ini tidak sesuai dengan konsepnya tentang mesias. Bagi Josephus, mesias yang dijanjikan dalam Alkitab bukan merujuk pada seorang Yahudi, tetapi pada Jendral Vespasianus yang nanti akan menjadi kaisar. Dengan konsep seperti ini dan kedekatannya dengan keluarga Vespasianus, Josephus tidak mungkin berani mengakui Yesus sebagai mesias, baik secara implisit maupun eksplisit.

3. Pada hari ketiga dia menampakkan diri kepada mereka kembali dalam keadaan hidup. Sebagai seorang Yahudi, Josephus mungkin percaya pada kebangkitan orang mati, karena peristiwa seperti itu pernah disinggung beberapa kali dalam Alkitab (1Raj 17:17-24; 2Raj 12:31). Bagaimanapun, ia kemungkinan besar hanya memiliki konsep kebangkitan orang mati di akhir jaman (band. Marta di Yoh 11:24). Ia pasti tidak percaya bahwa Yesus bangkit dari kematian. Alasan lain menolak keaslian bagian ini adalah ungkapan “pada hari ketiga” yang sangat bernuansa Kristiani (Mat 16:21; 17:23; 20:19; Luk 9:22; 18:33; 1Kor 15:4).

4. Para nabi Allah telah menubuatkan hal-hal ini dan banyak lagi hal lain tentang dia. Kalimat ini dapat dipastikan berasal dari orang Kristen. Ungkapan yang dipakai terlihat jelas meniru para penulis PB yang melihat setiap detil hidup Yesus (terutama penyaliban dan kebangkitan-Nya) sebagai penggenapan dari nubuat para nabi. Hal ini semakin diperkuat dengan tambahan “banyak lagi hal lain tentang dia”.

Ketiga, dari sisi bukti eksternal. Para bapa gereja abad ke-2 dan ke-3 mengenal keberadaan tulisan Josephus, terutama Irenaeus dan Tertulianus, namun mereka tidak pernah mengutip catatan Josephus di atas. Bapa gereja yang mengutip catatan itu pertama kali adalah Eusebius (abad ke-4). Hal ini tampak sangat janggal jika dikaitkan dengan fakta bahwa bapa gereja awal adalah golongan apologis yang berjuang menentang bidat dan membuktikan kebenaran Kristen. Seandainya catatan Josephus di atas memang ada waktu itu, mereka pasti akan menyinggung hal ini dalam apologia mereka. Yang paling menyolok adalah bapa gereja Origen yang dua kali menyatakan bahwa Josephus tidak percaya Yesus sebagai mesias. Seandainya kalimat “Ia adalah mesias” memang ada dalam catatan Josephus, Origen pasti tidak akan mengatakan seperti itu.

Sebelum menyelidiki keaslian catatan tersebut secara detil, kita harus mengakui lebih dahulu bahwa beberapa argumentasi di atas memang sangat meyakinkan. Kita tidak bisa memungkiri bahwa catatan tersebut mengandung beberapa ubahan/modifikasi dari pihak orang Kristen. Pertanyaannya, apakah beberapa bagian yang diubah tersebut dapat dijadikan alasan untuk menolak keaslian seluruh catatan itu?

Pertanyaan di atas membawa kita pada beberapa argumentasi yang mendukung keaslian catatan tersebut, walaupun tidak setiap kata dalam teks tersebut bisa dipertahankan keasliannya.

(1) Sebutan “seorang manusia yang bijaksana” untuk Yesus pasti asli dari Josephus. Ia juga memakai sebutan ini untuk Salomo (Ant. 8.2.7 §53) maupun Daniel (Ant. 10.11.2 §237). Seandainya bagian ini ditulis oleh orang Kristen, maka ia pasti akan memakai gelar/sebutan yang lebih tinggi untuk Yesus.

(2) Sebutan sebagai pembuat tindakan-tindakan ajaib juga sangat mungkin berasal dari Josephus sendiri. Kata Yunani paradozwn ergwn bisa berarti “tindakan-tindakan ajaib” atau “tindakan-tindakan yang kontroversial”. Jika arti terakhir benar, bagian ini menyiratkan sikap negatif Josephus terhadap Yesus, sehingga bagian ini bisa dipastikan keasliannya. Jika arti pertama yang benar, bagian ini hanyalah pengakuan yang sangat umum pada waktu itu. Beberapa penulis kafir dan para rabi Yahudi juga mengakui kemampuan Yesus mengadakan tindakan ajaib, walaupun mereka melihat hal itu sebagai tindakan magis/sihir. Sifat bagian ini yang netral (atau bahkan negatif) menunjukkan bahwa ini bukan tambahan dari orang Kristen. Seandainya orang Kristen yang menambahkan bagian ini, ia pasti akan memakai sebutan yang lebih khusus untuk tindakan ajaib, misalnya “tanda” (shmeion) atau “mujizat” (dunamis).

(3) Sebutan “seorang guru dari orang-orang yang menerima kebenaran itu dengan penuh hasrat” kemungkinan besar berasal dari Josephus. Kata “dengan penuh hasrat” ({hdonh) memiliki konotasi negatif, karena kata {hdonh sering dipakai dalam arti “kesenangan” (bukan “sukacita”). Dari konotasi arti seperti inilah istilah modern hedonisme (paham yang menekankan kesenangan/pemuasan hawa nafsu) berasal.

(4) Keterangan bahwa Yesus “memenangkan banyak orang Yahudi dan Yunani” tidak mungkin berasal dari orang Kristen. Kata yang dipakai untuk “memenangkan” tidak terlalu spesifik dan bisa diartikan secara positif (“memenangkan”) maupun negatif (“menyeret”). Seandainya berasal dari orang Kristen, maka kata yang dipakai pasti lebih spesifik dan positif. Sekalipun arti kata ini positif, hal itu tetap tidak berasal dari orang Kristen, karena dalam kenyataannya Yesus tidak banyak memenangkan orang Yunani. Ia memang berinteraksi dengan orang Yunani selama pelayanan-Nya (misalnya Yoh 12:20-22), tetapi jumlah mereka yang bertobat tidak banyak.

(5) Kalimat “mereka yang pertama-tama telah mengasihi dia tidak berhenti” merupakan karakteristik Josephus sehingga dapat dipastikan berasal dari Josephus. Para penulis kafir lain juga mengakui keberlangsungan kekristenan setelah kematian Yesus. Selain itu, catatan Josephus memberi kesan bahwa keberlangsungan kekristenan bukan karena kebangkitan Yesus, tetapi kasih para pengikut. Konsep seperti ini kemungkinan besar tidak berasal dari orang Kristen yang biasanya meyakini bahwa keberlangsungan kekristenan adalah karena faktor kebangkitan Yesus.

(6) Penyebutan “suku” untuk “kekristenan” tampak sangat janggal dan tidak mungkin berasal dari orang Kristen sendiri.

Menimbang semua argumentasi dari dua sisi, baik yang menolak maupun yang menerima keaslian catatan Josephus, kita dapat merekonstruksi seperti apa kira-kira kalimat asli dari Josephus. Walaupun masih menyisakan ruang untuk diperdebatkan, bagian yang bergaris bawah tampaknya berasal dari Josephus sendiri:

Sekitar waktu ini hiduplah Yesus, seorang manusia yang bijaksana, jika ini sungguh-sungguh layak untuk menyebutnya sebagai manusia, karena ia adalah seorang pembuat tindakan-tindakan ajaib dan seorang guru dari orang-orang yang menerima kebenaran itu dengan penuh hasrat. Ia memenangkan banyak orang Yahudi maupun Yunani. Ia adalah Mesias. Pilatus, ketika ia mendengar dia dituduh oleh para pemimpin kita, menghukum dia ke tiang salib, [tetapi] mereka yang pertama-tama telah mengasihi dia tidak berhenti, karena pada hari ketiga dia menampakkan diri kepada mereka kembali dalam keadaan hidup, sebab para nabi Allah telah menubuatkan hal-hal ini dan banyak lagi hal lain tentang dia. Sampai hari ini suku Kristen, yang diberi nama berdasarkan namnya, tidak musnah.

Berdasarkan rekonstruksi di atas, kita sekarang akan menarik beberapa konklusi penting seputar kehidupan Yesus. Beberapa konklusi tersebut sama dengan yang kita dapat dari tulisan para sejarahwan kafir lainnya. (1) Yesus melayani pada jaman Pilatus menjadi wali negeri. Berdasarkan konteks tulisan Josephus, frase “sekitar waktu ini” merujuk pada waktu pemerintahan Pilatus; (2) Yesus dalam pelayanannya mengadakan berbagai tindakan yang luar biasa; (3) Yesus adalah guru yang bijaksana dan diikuti oleh banyak orang; (4) Yesus disalib berdasarkan persetujuan Pilatus atas tuduhan para pemimpin Yahudi (Mat 27:11-14; Mar 15:1-5; Luk 23:1-5; Yoh 18:28-30); (5) kekristenan tidak musnah setelah kematian Yesus.

Tulisan para rabi Yahudi

Tulisan para rabi merupakan salah satu sumber yang paling penting dalam mempelajari Perjanjian Baru, karena tulisan tersebut berasal dari salah satu partai keagamaan Farisi yang masih bertahan setelah penghancuran Yerusalem tahun 70 M, yaitu Farisi. Mempertimbangkan pengaruh Farisi yang besar di kalangan bangsa Yahudi abad ke-1 M, para sarjana berpendapat bahwa tulisan-tulisan tersebut merupakan salah satu sumber penting dalam memahami Yudaisme abad ke-1 M.

Walaupun tulisan para rabi sangat penting, namun tulisan tersebut membawa kesulitan yang cukup pelik. Faktor utama adalah masalah penanggalan (pentarikhan). Mayoritas tulisan para rabi berasal dari abad ke-3 sampai abad ke-6 M, sehingga beberapa bagian tidak relevan dengan situasi abad ke-1 M. Jumlahnya yang sangat melimpah turut mempersulit pemahaman. Konsep teologi yang ada di dalamnya juga sangat beragam dan kompleks. Faktor terakhir adalah perbedaan perkembangan Yudaisme sebelum dan sesudah tahun 70 M. Sebelum tahun 70 M, Yudaisme terdiri dari banyak aliran (Farisi, Saduki, Herodian, Essenes), setelah tahun 70 M Yudaisme cenderung hanya diwakili oleh golongan Farisi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tulisan para rabi hanya mewakili salah satu aliran dalam Yudaisme.

Terlepas dari semua kesulitan di atas, tulisan para rabi tetap dianggap penting. Apa yang tertulis di dalamnya dipercaya sudah diteruskan sebelumnya dalam bentuk tradisi lisan. Jadi, walaupun baru ditulis pada abad ke-3, namun ide-ide dan tradisi-tradisi di dalamnya kemungkinan besar sudah ada dan dikenal bangsa Yahudi beberapa abad sebelumnya, apalagi para rabi terkenal sangat hati-hati dalam memelihara tradisi keagamaan mereka.

Ketika mempelajari tulisan para rabi tentang Yesus, kita harus mempertimbangkan dua pertanyaan: teks mana yang yang benar-benar menyinggung tentang Yesus dan apakah teks tersebut berasal dari tradisi yang awal. Berkaitan dengan pertanyaan pertama, sebagian sarjana meyakini bahwa para rabi berkali-kali membahas tentang Yesus, tetapi mereka tidak selalu menyebutkan nama “Yesus” secara eksplisit. Beberapa sebutan yang tidak jelas atau ungkapan sarkastik – misalnya “seseorang”, “Balaam”, “Ben Stada” – dianggap merujuk pada Yesus. Sebagian sarjana yang lain berpendapat bahwa sebutan-sebutan itu sifatnya sangat umum, kurang jelas dan tidak selalu merujuk pada Yesus. Berkaitan dengan pertanyaan kedua, beberapa catatan berasal dari periode yang sangat lama dari jaman Yesus dan seringkali sulit dipastikan keakuratannya.

Berdasarkan dua pertanyaan di atas, kita hanya akan menyoroti beberapa teks yang hampir dapat dipastikan memang merujuk pada Yesus dan berasal dari tradisi yang awal. Berikut ini adalah beberapa catatan penting tersebut.

Yesus = Ben Stadab = Ben Pantera (Shabbat 104b)

Ini diajarkan bahwa Rabi Eliezer berkata kepada Yang Bijaksana itu, “Bukankah Ben Stada membawa mantera sihir dari Mesir dalam goretan (tato/tanda khusus) di tubuhnya?” Mereka menjawabnya, “ia adalah orang bodoh dan mereka tidak membawa bukti dari seorang yang bodoh”. Ben Stada adalah Ben Pantera. Rabbi Hisda (sekitar 309 M) berkata, “suaminya adalah Stada, kekasihnya adalah Pantera”. Suaminya yang benar sebenarnya adalah Pappos ben Yehuda, ibunya adalah Stada. Ibunya adalah Miriam [Maria] juru rias rambut wanita. Sebagaimana kami katakan di Pumbeditha, “ia telah bersalah [satath da] kepada suaminya”

Terlepas dari ketidakjelasan tentang identitas Stada (apakah ia adalah Maria atau suaminya?), kita tampaknya bisa yakin bahwa yang dimaksud Ben Stada adalah Yesus. Ada beberapa indikasi yang mengarah ke sana: (1) dia dianggap membawa sihir dari Mesir; (2) ia dianggap anak dari Pantera; (3) ibunya bernama Miriam; (4) ibunya dianggap telah melakukan kesalahan terhadap suami. Dugaan ini akan menjadi semakin kuat apabila kita membandingkannya dengan catatan Celsus (108 M) yang sudah kita pelajari sebelumnya. Hampir semua poin di atas terdapat dalam catatan Celsus. Kemiripan antara dua catatan ini juga sekaligus menunjukkan bahwa keduanya berasal dari tradisi yang awal (sekitar abad ke-2 M).

Tentang keaslian dari catatan ini tampaknya tidak perlu diragukan lagi. Hampir setiap detil dalam kutipan di atas bersifat negatif terhadap Yesus. Dia disebut sebagai penyihir, orang bodoh, anak haram, dsb. Apa yang bisa kita pelajari dari kutipan ini? (1) selama hidup Yesus Ia melakukan tindakan-tindakan ajaib yang oleh para rabi dikategorikan sihir; (2) kekuatan luar biasa yang dianggap sihir ini didapat dari Mesir. Ini menunjukkan bahwa Yesus pernah tinggal di Mesir (Mat 2:13-15; 19-23); (3) ibu-Nya bernama Maria (Mat 1:18-25; Luk 2:1-7); (4) kelahiran-Nya ini tidak melalui persetubuhan antara Maria dan Yusuf, sehingga Maria dianggap telah berselingkuh; (5) Ia dikaitkan dengan ayahnya yang berasal dari suku Yehuda.

Yesus digantung pada waktu Paskah (b. Sanhedrin 43a)

Topik utama dalam b. Sanhedrin 43 a adalah tentang proses hukum bagi seorang yang melakukan kejahatan besar. Orang itu harus mengikuti seorang utusan yang selama 40 hari meneriakkan tuduhan dan sekaligus mengundang siapa saja untuk membela orang itu. Setelah batas waktu yang ditentukan tiba tanpa ada pembela yang maju, maka hukuman bisa segera dilaksanakan. Berikut ini adalah isi catatan tersebut.

Hal ini diajarkan: pada hari sebelum Paskah mereka menggantung Yesus. Seorang utusan berjalan di depannya selama 40 hari [sambil berkata] “ia akan dirajam batu karena ia mempraktekkan sihir dan menipu Israel sehingga tersesat. Barangsiapa mengetahui apapun juga untuk membela dia biarlah dia maju ke depan dan membelanya”. Namun, tidak ada satu pun yang ditemukan untuk membela dia dan mereka menggantungnya pada hari sebelum Paskah.

Dari pembacaan sekilas saja kita bisa melihat bahwa teks itu memang merujuk tentang penyaliban Yesus: nama Yesus muncul dalam teks ini, waktu penyaliban sekitar pelaksanaan Paskah dan hukuman dengan cara digantung. Keaslian dari catatan ini juga bisa dilihat dari keterangan di dalamnya yang sangat bertolak-belakang dengan catatan Alkitab. Seandainya ada orang Kristen yang memasukkan atau mengubah teks ini, maka ia pasti akan menyesuaikannya dengan Alkitab. Perhatikan perbedaan antara catatan ini dengan Alkitab:

b. Sanhedrin 43a Kitab-kitab injil
Proses pengadilan Yesus berjalan lama Proses pengadilan hanya satu malam
Yesus diadili secara terbuka (utusan berjalan keliling
mengumumkan tuduhan dan mengundang siapa
saja untuk membela Yesus) Yesus diadili secara sembunyi-sembunyi
Tidak ada saksi yang membela Yesus Semua saksi adalah saksi palsu

Poin penting apa yang kita bisa dapatkan dari catatan para rabi ini? Terlepas dari perbedaan yang ada antara catatan ini dan Alkitab, kita mendapati beberapa hal yang sama. (1) Yesus disalib pada waktu sekitar Paskah (band. Mat 26:2, 17-19; Mar 14:1, 12-16; Luk 22:1, 7-8, 11-15; Yoh 18:28); (2) Tuduhan terhadap Yesus berkaitan dengan tindakan ajaib yang Ia lakukan; (3) tuduhan itu juga berkaitan dengan keberhasilan Yesus mendapatkan pengikut dari antara bangsa Israel; (4) kesalahan yang dituduhkan kepada Yesus layak untuk dirajam batu atau digantung; (5) pada waktu Yesus diadili tidak ada orang Yahudi satu pun yang memberikan pembelaan bagi Dia. Ini juga sesuai dengan catatan Alkitab bahwa murid-murid-Nya sekalipun tidak berani mengikuti Dia,apalagi memberikan pembelaan bagi-Nya.

Konklusi

Setelah mempelajari semua catatan kafir kuno tentang Yesus, sekarang kita akan menarik beberapa konklusi yang sangat penting. Pertama, Yesus benar-benar pernah hidup di Palestina pada abad ke-1 M. Dia bukanlah tokoh mitos atau rekaan para penulsi Alkitab. Dia adalah manusia biasa dari kalangan orang Yahudi. Beberapa perjalanan hidup-Nya yang diajarkan Alkitab bahkan cocok dengan catatan kafir, misalnya ibunya bernama Maria, Ia pernah tinggal di Mesir, hidupnya berakhir tragis di kayu salib. Semua ini merupakan pukulan telak bagi beberapa teolog liberal yang menganggap Yesus tidak pernah ada di Palestina.

Kedua, selama hidup-Nya Yesus melakukan banyak perbuatan yang ajaib. Selain itu, Ia juga adalah seorang guru yang memiliki banyak pengikut. Dua hal ini – melakukan mujizat dan mengajar – merupakan aktivitas utama Yesus selama Dia hidup di dunia (Mat 4:23; 9:35). Fakta ini juga merupakan pukulan telak bagi teolog liberal, terutama pengikut Jesus Seminar yang menganggap tindakan ajaib dan mayoritas ucapan Yesus hanyalah karangan para penulis Alkitab.

Ketiga, penyaliban Yesus melibatkan campur tangan para pemimpin Yahudi dan Pilatus. Tuduhan yang dialamatkan kepada-Nya dianggap layak untuk diganjar hukuman mati, karena Dia dianggap telah menyesatkan bangsa Israel. Hal ini sesuai dengan catatan Alkitab dan situasi politik abad ke-1 M. Alkitab memang mencatat bahwa Yesus disalib karena klaim sebagai Anak Allah (Mat 26:63-65). Catatan sejarah juga menunjukkan bahwa para pemimpin Yahudi tidak diperkenankan untuk menghukum mati seseorang. Mereka harus melakukannya dengan persetujuan perwakilan kekaisaran Romawi di daerah itu.

Keempat, kekristenan semakin berkembang setelah Yesus mati. Perkembangan ini bahkan sudah mencapai kota Roma pada sekitar tahun 40 M. Fakta ini sangat mencengangkan. Seandainya Yesus hanyalah manusia yang mati tanpa bangkit dari kematian, untuk apa para pengikut-Nya memuja Dia sedemikian rupa? Bukankah kematian (tanpa kebangkitan) akan membuktikan bahwa semua ajaran-Nya palsu belaka? Kekuatan apa yang membuat injil – sebuah batu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi bangsa Yunani (1Kor 1:22-23) – bisa mempengaruhi banyak orang pada waktu itu?

Perenungan (C. S. Lewis, Josh McDowell)

Seperti sudah disinggung sebelumnya, Yesus mati karena Dia dituduh telah menyesatkan bangsa Yahudi. “Kesesatan” yang Dia timbulkan dianggap layak untuk dihukum mati. Mempertimbangkan hal ini, klaim Yesus sebagai Allah tampaknya sangat tepat untuk dijadikan dasar bagi tuduhan para pemimpin Yahudi (dosa apa yang lebih ebsar bagi bangsa Yahudi selain menolak monoteisme, band. Ulangan 6:4?).

Sekarang mari kita pikirkan beberapa pertanyaan berikut ini secara logis.

Apakah Yesus mengklaim diri sebagai Allah? YA
Apakah Dia benar-benar Allah atau tidak?
jika benar-benar Allah maka Alkitab bisa dipercaya

jika bukan Allah maka Alkitab tidak bisa dipercaya

Seandainya Yesus bukan Allah, apakah Dia tahu tentang hal itu?
Kalau Dia tahu, maka Dia seorang penipu ulung yang berhasil memperdayai banyak orang sekaligus
orang bodoh yang mau mati bagi sebuah kebohongan yang Dia ciptakan sendiri.

Kalau Dia tidak tahu, maka Dia adalah orang gila.

Sekarang mari kita menanyakan beberapa pertanyaan yang hampir sama sehubungan dengan para murid-Nya.

Apakah mayoritas murid Yesus mati martyr? Ya, Alkitab dan tradisi mengatakan hal itu.
Apakah sebabnya mereka dibunuh? Memberitakan kebangkitan Yesus dan keilahian-Nya.
Apakah mereka menyaksikan sendiri kebangkitan Yesus?
jika menyaksikan sendiri berarti Alkitab bisa dipercaya

jika tidak menyaksikan sendiri berarti Alkitab berdusta

Seandainya mereka tidak menyaksikan sendiri, maka mereka adalah orang-orang bodoh yang mau memberitakan dan mati bagi suatu rumor yang tidak benar. Karena itu Kristus ada dan Ia adalah Allah sebab Firman Allah yang menjamin hal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s