YESUS DI LUAR PERJANJIAN BARU 1

Beberapa abad yang lalu para sarjana Alkitab hanya bergantung pada catatan Perjanjian Baru (PB) ketika mereka menyelidiki tentang kehidupan Yesus. Walaupun pada saat itu sebagian catatan non-kanonikal tentang Yesus sudah ada, namun mereka umumnya menganggap catatan itu kurang bermanfaat. Semua catatan tersebut benar-benar dianggap sekunder jika dibandingkan dengan PB.

Situasi di atas perlahan mulai berubah. Seiring dengan perkembangan arkheologi Alkitab dan penelitian biblika, para sarjana menganggap catatan-catatan non-kanonikal memiliki nilai signifikan (bahkan kadangkala dianggap lebih bernilai). Catatan tersebut dinilai lebih objektif dalam menampilkan kehidupan Yesus yang sebenarnya.

Ada beberapa faktor yang turut membawa perubahan di atas. Pertama, para sarjana liberal meragukan otentisitas catatan Alkitab tentang Yesus. Mereka berpendapat bahwa Yesus yang ada di dalam sejarah berbeda dengan yang ditampilkan para penulis PB. Beberapa di antara mereka bahkan meyakini bahwa tokoh Yesus sebenarnya tidak pernah ada. Tokoh ini murni jasil imajinasi/perenungan teologis dari para penulis PB.

Kedua, penemuan arkheologis yang sangat penting pada abad ke-20, yaitu Naskah Laut Mati dan Tulisan-tulisan Nag Hammadi. Dua penemuan ini berhasil menarik perhatian para sarjana terhadap catatan-catatan di luar Alkitab. Sebagai imbasnya, mereka mulai memfokuskan pada catatan-catatan non-kanonikal lain di luar dua penemuan ini.

Mengapa hanya ada sedikit catatan dari penulis non Kristen?

Yesus ternyata juga muncul dalam tulisan para penulis kafir pada abad permulaan. Sayangnya, rujukan tentang Yesus dalam tulisan-tulisan tersebut relatif sedikit dibandingkan dengan pengaruh Yesus yang menurut Alkitab sangat besar. Apakah jumlah rujukan yang sedikit ini membuktikan bahwa para penulis PB terlalu melebih-lebihkan kehidupan dan pengaruh Yesus padahal Dia tidak terlalu penting?

Minimnya rujukan tentang Yesus dalam catatan-catatan non-kanonik bisa dmaklumi seandainya kita memahami cara pandang masyarakat waktu itu. Para penulis sejarah kuno lebih tertarik pada tokoh politik maupun filsafat daripada tokoh keagamaan. Contoh: Apollonius dari Tyana berprofesi sebagai guru dan pembuat mujizat, tetapi hidupnya hanya disinggung di Roman History karya Dio Cassius, itu pun lebih pendek daripada catatan ahli sejarah Yahudi Flavius Josephus tentang Yesus.

Selain itu, lokasi pelayanan dan figur Yesus tidak menarik bagi penulis Romawi. Lokasi pelayanan Yesus (Galilea dan Yudea) letaknya sangat jauh dari pusat kekaisaran Romawi dan kurang signifikan secara politik maupun militer. Figur Yesus sebagai “tokoh revolusioner Yahudi yang gagal” juga merupakan fenomena yang umum (bandingkan Kis 5:36), sehingga tidak perlu dituliskan secara khusus, apalagi Yesus mati dengan cara yang paling tidak terhormat menurut perspektif orang Romawi.

Kita juga harus memikirkan kemungkinan hilangnya sumber-sumber kuno abad ke-1 yang berkaitan dengan Yesus. Hal ini tidak berlebihan, karena para sarjana sudah melihat indikasi hilangnya berbagai kitab kuno yang dikutip dalam kitab lain yang sekarang ditemukan. Alkitab pun memberikan bukti ke arah sana (2Taw 9:29; 1Kor 5:9; Kol 4:16).

Yesus dalam tulisan para sejarawan kafir kuno

Sebelum membahas secara detil, kita perlu menyadari bahwa beberapa rujukan tentang Yesus yang muncul dalam tulisan para sejarahwan kafir ternyata menimbulkan perdebatan di kalangan para sarjana. Perdebatan ini berkaitan dengan dua hal: (1) arti yang tidak terlalu jelas; (2) tambahan yang mungkin berasal dari orang Kristen. Dua hal ini harus menjadi pegangan setiap kali kita menyelidiki catatan yang ada.

Thallos: Gerhana Matahari Waktu Yesus Mati

Pada pertengahan abad ke-1 M seorang sejarahwan bernama Thallos menulis 3 jilid buku tentang daerah Mediterania. Buku-buku ini sekarang sudah musnah, tetapi sempat dikutip oleh seorang penulis Kristen bernama Sextus Julius Africanus (160-240 M) dalam bukunya yang berjudul History of the World (220 M). Buku ini juga sudah tidak ada lagi, tetapi kutipan dari Thallos tetap dicatat oleh George Syncellus dalam Chronicle (800 M). Dalam buku ini Syncellus mencatat kutipan Julius Africanus dari Thallos tentang kegelapan pada saat kematian Yesus sebagai berikut: “dalam jilid yang ke-3 dari tulisan sejarahnya, Thallos menyebut kegelapan ini sebagai gerhana matahari, yang menurut saya salah”.

Satu hal yang kita harus pahami adalah konteks kutipan Julius Africanus. Dia sedang membantah pandangan Thallos yang menganggap kegelapan pada saat kematian Yesus sebagai fenomena alam belaka, yaitu gerhana matahari. Africanus berpendapat bahwa pada momen Paskah selalu ada bulan purnama, sehingga tidak mungkin terjadi gerhana matahari.

Dari konteks di atas, terlihat bahwa Julius Africanus dan Thallos sama-sama menyebutkan satu momen, yaitu kegelapan pada saat kematian Yesus, walaupun keduanya memiliki penjelasan yang berbeda terhadap hal itu. Terlepas dari pandangan mana yang benar (alasan Africanus tampaknya lebih masuk akal), catatan kuno ini sesuai dengan Matius 27:45.

Pliny the Younger: Kristus dalam Ibadah Orang-orang Kristen

Pliny (61-113 M) adalah seorang senator dan ahli hukum ternama di Roma. Ia memegang posisi penting dalam administrasi. Ia menerbitkan 9 buku yang terdiri dari sekitar 100 surat. Salah satu surat tersebut adalah surat yang ia kirim kepada Kaisar Trajan ketika ia menjadi gubernur di Pontus-Bythinia (111-113 M). Salah satu bagian dari surat ini menyinggung tentang sikap yang harus ia ambil terhadap orang-orang Kristen. Pliny menganggap agama Kristen sebagai tahayul, namun ia mengakui moralitas orang Kristen yang luar biasa.

Sejak aku mulai menangani masalah ini, tuduhan-tuduhan telah menjadi semakin biasa dan meningkat secara beragam, sebagaimana sering terjadi. Sebuah pamflet tanpa nama telah beredar berisi nama-nama banyak orang. Aku memutuskan untuk membebaskan siapa saja yang menyangkal bahwa dia adalah atau pernah menjadi orang Kristen ketika mereka mengikuti aku memanggil nama dewa-dewa dan memberikan persembahan anggur dan wewangian kepada patungmu – yang telah aku perintahkan untuk dibawa ke ruang pengadilan- dan ketika mereka menghujat Kristus. Aku menyadari bahwa tidak ada seseorang yang sungguh-sungguh Kristen dapat melakukan hal-hal ini.
Orang-orang lain – yang namanya diberikan kepadaku oleh seorang pemberi info – pertama mengatakan bahwa mereka dulu Kristen tetapi selanjutnya menyangkalinya. Mereka mengatakan bahwa mereka telah berhenti menjadi orang Kristen dua tahun yang lalu atau lebih, beberapa bahkan lebih dari 20 tahun. Mereka semua mendirikan patungmu dan dewa-dewa lain sebagai yang dilakukan orang lain serta menghujat Kristus. Mereka juga mengakui bahwa kesalahan total mereka dahulu tidak lebih dari yang berikut: mereka berkumpul secara teratur sebelum fajar pada hari yang ditentukan dan menyanyikan pujian secara bergantian kepada Kristus seolah-olah kepada dewa. Mereka juga mengambil sumpah, bukan untuk kejahatan tetapi menjaga dari barang curian, perampokan dan perzinahan, tidak melanggar janji serta tidak mempertahankan harta ketika diminta

Berdasarkan sikap Pliny yang negatif terhadap kekristenan yang dia tunjukkan dalam suratnya, kita bisa meyakini otentisitas catatan di atas. Dari catatan di atas kita bisa mengambil tiga kesimpulan: (1) tidak ada orang Kristen sejati yang menghujat Kristus (band. 1Kor 12:3); (2) orang Kristen menyembah Kristus dalam pujian mereka (band. Flp 2:5-11; Kol 1:15-20; Why 5:11, 13); (3) Pliny menganggap Kristus hanyalah seorang manusia tetapi dipuja bagaikan dewa.

Gaius Suetonius Tranquillus: Penghasut Bernama Chrestus

Suetonius (70-140 M) adalah penulis Romawi terkenal, ahli hukum, sahabat Pliny the Younger dan pernah menjadi sekretaris Kaisar Hadrian (120 M). Tulisannya yang paling penting adalah Lives of Caesars (De vita Caesarum) yang membahas kehidupan para kaisar Romawi mulai dari Julius Caesar sampai Domitian. Dalam pembahasannya tentang Kaisar Klaudius ia menjelaskan beberapa tindakan yang diambil Klaudius sehubungan dengan orang-orang yang ia kuasai. Salah satu dari tindakan ini berkaitan dengan orang Kristen. Ia mencatat “ia [Klaudius] mengusir orang-orang Yahudi dari Roma, karena mereka sering membuat keributan berkaitan dengan penghasut [bernama] Chrestus”.

Kutipan di atas hampir dapat dipastikan berasal dari Suetonius sendiri atau sumber yang non-Kristen, karena kalau berasal dari orang Kristen maka kemungkinan besar tidak akan ada pelafalan nama Kristus yang salah (band. “Chrestus”) mauapun penyebutan Kristus sebagai penghasut. Sebelum membahas pentingnya catatan kuno ini, kita perlu menyelidiki apakah yang dimaksud Chrestus di sini adalah Kristus. Sebagian sarjana menganggap Chrestus ini bukan Kristus, tetapi argumentasi berikut ini tampaknya cukup kuat untuk membuktikan bahwa Suetonius kemungkinan besar telah salah mengeja nama “Christus” menjadi “Chrestus”.

1. Nama “Christus” tidak pernah dipakai oleh orang Yahudi abad ke-1 maupun orang Romawi, sedangkan nama “Chrestus” merupakan nama umum dalam masyarakat Romawi. Suetonius yang tidak terlalu akrab dengan pelafalan “Christus” kemungkinan besar menyamakannya dengan “Chrestus” yang lebih umum.

2. Bagi orang Romawi arti nama “Christus” (= “yang diurapi”) tampak sangat janggal dan tidak wajar untuk dijadikan nama orang. Arti nama “chrestos” (= “berharga” atau “baik”) jauh lebih masuk akal untuk dijadikan nama orang.

3. Pelafalan huruf Yunani i dan h pada masa itu memang tidak berbeda, sehingga orang terpelajar atau tidak terpelajar bisa bingung memastikan pelafalan yang benar. Poin ini dibuktikan dengan sebuah batu nisan Kristen yang bertuliskan “cristianoi untuk crestianoisj”. Selain itu, sebuah salinan PB kuno abad ke-4 M (Codex Sinaiticus) juga memakai h untuk kata “Kristen”(crhstianos, seharusnya cristianos). Salinan PB abad ke-3 M (p72) justru memakai cristos untuk crestos (“baik”).

4. Beberapa bapa gereja juga menyinggung kesalahan umum yang banyak ditemukan waktu itu berkenaan dengan pelafalan untuk Kristus: crestos atau cristos.

Seandainya “Chrestus” dalam catatan Suetonius adalah “Kristus”, maka kita dapat mengambil beberapa kesimpulan penting. (1) kekristenan sudah mencapai Roma pada jaman Kaisar Klaudius (41-54 M); (2) jumlah orang Kristen di sana sudah cukup banyak sampai berpotensi menimbulkan kerusuhan serius dalam hubungan mereka dengan orang-orang Yahudi di Roma; (3) catatan ini sesuai dengan Kisah Rasul 18:2.

Cornelius Tacitus: Kristus Yang Dihukum Mati

Tacitus (sekitar 56-120 M) dikenal sebagai sejarahwan Romawi yang terbesar. Dia menghasilkan dua karya sejarah yang terkenal: Annals (dari 14-68 M) dan Histories (69-96 M). Annals diakui sarjana modern sebagai tulisan sejarah terbaik tentang periode tersebut. Pasal 38-45 dari buku ini membahas tentang kebakaran hebat yang melanda kota Roma. Tacitus sendiri melihat kecelakaan atau kesengajaan kaisar sebagai dua kemungkinan penyebab timbulnya tragedi ini.

Pada pasal 44 memuat catatan penting tentang tragedi di atas dalam kaitannya dengan orang-orang Kristen:

Tetapi tidak ada usaha manusia atau kebaikan kaisar atau pendamaian dengan dewa-dewa bisa mengakhiri keyakinan yang memalukan bahwa kebakaran itu telah diatur. Karena itu, untuk meredam rumor, Nero mencari kambing hitam dan menghukum dengan cara yang paling luar biasa mereka yang dibenci karena tindakan-tindakan mereka yang memalukan, yang oleh orang banyak disebut “Chrestian”. Pendiri dari nama ini, Christus, dihukum mati pada jaman Tiberius oleh wali negeri Pontius Pilatus. Walaupun sempat ditekan selama beberapa saat, tahayul yang mematikan ini muncul lagi, bukan hanya di Yudea, tempat asal kejahatan ini, tetapi juga di kota [Roma]…

Walaupun beberapa sarjana menduga catatan ini telah diubah oleh orang-orang Kristen, namun mayoritas sarjana tetap mengakui keaslian catatan ini. Sebutan negatif terhadap kekristenan (misalnya “tahayul yang jahat”, “kejahatan”) harusnya menjadi bagian pertama yang diubah seandainya orang Kristen mengadakan perubahan. Catatan di atas juga tidak bernada membela orang-orang Kristen. Teks tersebut hanya menjelaskan orang-orang Kristen yang menjadi kurban untuk meredam rumor yang ada.

Seandainya catatan tersebut asli, maka kita mendapatkan tambahan poin penting tentang Kristus dan kekristenan. (1) nama “chrestian” yang berkembang di kalangan orang Roma sebenarnya tidak tepat (band. Tulisan Suetonius), karena pendiri kekristenan adalah “Christus” (bukan “Chrestus”); (2) Yesus dihukum mati pada jaman Kaisar Tiberius (14-37 M) oleh Pontius Pilatus (26-36 M). Ini sesuai catatan kitab-kitab Injil (Mat 27; Mar 15; Luk 23); (3) kekristenan berasal dari Yudea; (4) kekristenan sempat ditekan beberapa saat, tetapi kemudian justru berkembang sampai ke Roma (band. Kis 1:8; 6:8-8:1; 11:19, dsb).

Mara bar Serapion: Raja Yahudi Yang Bijaksana

Ada sebuah penemuan surat kuno yang ditulis oleh Mara bar Serapion kepada anaknya yang juga bernama Serapion. Konteks surat ini adalah ketika kota Mara bar Serapion dikalahkan oleh Roma. Berdasarkan isi surat yang ada, surat ini kemungkinan besar ditulis pada pertengahan abad ke-2. Walaupun ditulis pada pertengahan abad ke-2, namun surat ini memiliki kaitan dengan peristiwa di abad ke-1 yang melibatkan Yesus (walaupun nama “Yesus” atau “Kristus” tidak muncul dalam surat ini). Bunyi sebagian surat tersebut adalah sebagai berikut:

Apalagi yang bisa kita katakan ketika orang-orang bijaksana diusir dengan paksa oleh penguasa, hikmat mereka dikuasai oleh cemooh dan pikiran mereka ditekan serta tanpa pembelaan? Apakah untung yang diperoleh Athena dengan membunuh Socrates, yang karena hal ini mereka dibalas dengan kelaparan dan wabah penyakit? Atau orang-orang Samos dengan membakar Pythagoras, karena negeri mereka seluruhnya terkubur oleh pasir dalam tempo satu jam? Atau orang-orang Yahudi [dengan membunuh] raja mereka yang bijaksana, karena kerajaan mereka diambil dari mereka pada saat itu? Allah dengan adil membalas hikmat tiga orang ini: orang-orang Athena mati karena kelaparan; Orang-orang Samos seluruhnya diterjang laut; orang-orang Yahudi, terkucilkan dan diusir dari kerajaan mereka dan sekarang tersebar ke setiap negara. Socrates tidak mati, karena Palto; begitu pula Pythagoras, karena patung Juno; atau raja yang bijaksana itu, karena hukum-hukum yang baru yang ia letakkan.

Seperti biasa, kita perlu menunjukkan lebih dahulu bahwa catatan di atas benar-benar berasal dari Mara bar Serapion sendiri dan tidak ada tambahan dari pihak orang Kristen. Pertama, seandainya catatan ini berasal dari atau ditambah oleh orang Kristen maka ia tidak akan menyejajarkan Yesus dengan Socrates atau Pythagoras, bagi orang Kristen Yesus adalah Allah. Kedua, nama Yesus tidak muncul secara eksplisit, sedangkan nama pemikir Yunani lain justru disebut. Seandainya catatan ini dari orang Kristen, maka ia pasti akan menyebutkan nama Yesus, Kristus atau dua-duanya. Ketiga, Yesus dalam bagian ini hanya disebut sebagai orang yang bijaksana. Keempat, penyebutan Yesus sebagai raja orang Yahudi sebenarnya sangat mungkin berasal dari orang non-Kristen, sebagaimana Pilatus juga menyebut Yesus demikian (Luk 23:38). Kelima, catatan tentang kematian Yesus tidak bernuansa teologis, misalnya ia mati untuk menebus dosa, dsb.

Seandainya catatan di atas semuanya berasal dari Mara bar Serapion sendiri, maka ada beberapa konklusi yang kita bisa tarik. (1) kematian Yesus adalah fakta sejarah, sebagaimana kematian Socrates dan Pythagoras, karena dikaitkan dengan konsekuensi dari kematian tersebut yang juga bersifat historis; (2) kematian Yesus terkait dengan sebutannya sebagai raja orang Yahudi (band. Mar 15:26 par); (3) kematian Yesus berhubungan dengan penghukuman terhadap orang Yahudi (band. Mat 23:37-39; 24:2; 27:25; Mar 13:1-2; Luk 19:42-44; 21:5-6, 20-24; 23:28-31); (4) hukuman mati yang dialami Yesus melibatkan orang-orang Yahudi; (5) pengaruh Yesus tidak berhenti setelah Ia mati.

Lucian Samosata: Orang Bijaksana Yang Disalib

Lucian (115-200 M) adalah pengajar keliling dan ahli membuat sindiran. Lebih dari 80 karya tulis diterbitkan dengan namanya. Salah satu karyanya adalah The Death of Peregrinus yang ditulis segera setelah tahun 165 M. Dalam buku ini diceritakan tentang seorang yang bernama Peregrinus. Ia diusir dari kota asalnya karena membunuh ayahnya sendiri. Dalam perjalanan hidupnya selanjutnya ia “bertobat” ke kekristenan dan bertumbuh di dalamnya. Selanjutnya ia meninggalkan kekristenan demi ajaran Cynicisme dan revolusi politik. Akhirnya ia bunuh diri dengan cara membakar tubuhnya di atas kayu bakar sekitar waktu perlombaan Olympic tahun 165. Melalui tulisan ini Lucian ingin menasehati agar pembacanya tidak mengikuti cara hidup Peregrinus yang tidak bijaksana. Berikut ini adalah beberapa cuplikan dari karya tersebut yang berhubungan dengan kekristenan.

Selama periode ini [Peregrinus] berkumpul dengan imam-imam dan ahli-ahli kitab orang Kristen di Palestina dan belajar hikmat mereka yang menakjubkan. Tentu saja, dalam waktu yang pendek ia menjadikan mereka tampak seperti anak-anak; ia adalah nabi, pemimpin, kepala rumah ibadat [synagoge] dan setiap hal bagi mereka, semua dilakukannya sendiri. Ia menjelaskan dan menafsirkan beberapa dari kitab suci mereka dan bahkan beberapa ditulisnya sendiri. Mereka melihat dia sebagai dewa, menjadikan dia sebagai pemberi hukum, memilih dia sebagai pola resmi dari kumpulan mereka, atau paling tidak sebagai wakil pola. Dia hanya menjadi orang kedua jika dibandingkan dengan dia yang mereka sembah sekarang: orang dari Palestina yang disalibkan karena ia membawa bentuk ajaran baru ke dalam dunia.

Ketika Peregrinus dipenjara orang-orang Kristen datang memberikan bantuan berupa makanan dan uang. Lucian menjelaskan motivasi di balik kebaikan orang-orang Kristen ini.

Karena yakin dalam diri mereka bahwa mereka tidak akan mati dan akan hidup selamanya, orang-orang celaka yang miskin ini mengabaikan kematian dan sangat rindu memberikan diri mereka untuk hal ini. Lebih lagi, pemberi hukum mereka yang pertama meyakinkan mereka bahwa mereka semua adalah saudara pada saat mereka melanggar dan menyangkal dewa-dewa Yunani dan mulai menyembah orang berhikmat yang disalib itu dan hidup menurut hukum-hukumnya.

Berdasarkan beberapa ungkapan negatif terhadap orang-orang Kristen dalam catatan ini (misalnya “orang-orang celaka”) dan ketidakakuratan yang ada dalam catatan ini (gelar “imam” atau “kepala rumah ibadat” dalam lingkup kekristenan), kita bisa meyakini bahwa catatan ini tidak ditulis atau berasal dari orang Kristen. Sekarang kita akan mengambil beberapa konklusi penting dari sana. (1) Yesus adalah manusia (orang dari Palestina) tetapi juga disembah sebagai Allah (dewa); (2) Yesus disalibkan di Palestina; (3) Yesus adalah seorang yang bijaksana (band. Mara bar Serapion); (4) Yesus adalah pemberi hukum (band. Mat 5:17-48; Gal 6:2; Rom 3:27; Yak 2:8, 12); (5) orang-orang Kristen memiliki kepercayaan yang kuat tentang kehidupan kekal (band. 1Kor 15:13-19) yang sangat mempengaruhi cara hidup mereka sekarang; (6) orang-orang Kristen hidup menurut hukum Kristus, terutama hukum persaudaraan (Mat 23:8); (7) orang-orang Kristen memiliki kitab-kitab suci yang mereka baca dan pelajari secara teratur; (8) orang-orang Kristen mengunjungi mereka yang ada dalam penjara (Mat 25:35).

Celsus: Kristus Ahli Sihir

Pada tahun 175 M seorang pengikut Neo-Platonisme yang bernama Celsus menulis sebuah serangan terhadap orang Kristen. Karya ini diberi judul True Doctrine. Buku ini merupakan serangan terlengkap terhadap berbagai aspek kekristenan. Walaupun buku ini telah musnah, tetapi banyak bagian dalam buku ini (60-90%) dikutip oleh bapa gereja Origen dalam bukunya Contra Celsus (250 M).

Dari tulisan Origen kita bisa mengetahui bagaimana Celsus mengatur topik-topik dalam bukunya.
Bagian 1 Ketidakaslian ajaran Kristen
Bagian 2 Argumen melawan orang-orang Yahudi yang menjadi Kristen
Bagian 3 Perbandingan antara kekristenan dengan filsafat/agama Yunani-Romawi
Bagian 4 Kritik terhadap doktrin Kristen, khusus nubuat tentang mesias.
Bagian 5 Perbandingan antara kekristenan dan agama Yahudi (Yudaisme)
Bagian 6 Serangan terhadap beberapa doktrin Kristen, selanjutnya ajaran tentang Allah, kebangkitan dan eksklusivitas kekristenan

Walaupun rujukan tentang Yesus dalam tulisan Celsus cukup banyak, namun kali ini kita hanya akan meneliti sebagian kecil dari catatan tersebut.

Celcus menggambarkan seorang Yahudi sedang bercakap-cakap dengan Yesus sendiri, berusaha membuktikan mempersalahkan-Nya dengan berbagai tuduhan. Pertama, Celcus mengarang cerita tentang kelahiran-Nya dari seorang perawan; dan dia mengejek-Nya karena Dia berasal dari desa orang Yahudi dan dari seorang perempuan kampung miskin yang hidup dari usaha memintal pakaian. Dia berkata bahwa perempuan itu diusir oleh suaminya, yang adalah seorang pedagang kayu, ketika dia dihukum karena tuduhan perzinahan..Selanjutnya dia juga berkata bahwa setelah perempuan itu diusir oleh suaminya dan mengembara dengan cara memalukan tersebut, maka dia melahirkan Jesus. Dia berkata bahwa karena (Jesus) miskin, maka Dia bekerja sebagai orang upahan di Mesir dan di sana Dia belajar beberapa kekuatan sihir yang sangai dibanggakan oleh orang-orang Mesir karena mereka memilikinya. Dia menjadi sombong karena kekuatan-kekuatan tersebut dan menjuluki Diri-Nya sendiri sebagai Allah. (Against Celcus 1.28)…Selanjutnya Celcus mengembangkan tuduhannya tentang kepalsuan…Mari kita mengingat kembali pada perkataan orang Yahudi. Ibu Yesus digambarkan sebagai perempuan yang diusir oleh si tukang kayu yang telah bertunangan dengannya, karena dia dituduh berzinah dan memiliki anak hasil hubungannya dengan seorang tentara bernama Panthera. (Against celcus 1.32.)

Akhirnya Celcus berkata,

Apakah ibu Yesus cantik? Apakah Allah berhubungan seks dengannya karena dia cantik, meskipun secara natur-Nya Dia tidak dapat mencintai tubuh yang fana?Merupakan suatu hal yang tidak dapat dipercaya jika Allah jatuh cinta dengannya, karena dia bukanlah perempuan kaya atau berasal dari keturunan bangsawan. Tentu saja, dia bahkan tidak dikenal oleh sesamanya. Celcus hanya mengejek ketika dia berkata, ketika si tukang kayu membencinya dan mengusirnya, tidak ada kekuatan ilahi atau bakat membujuk yang berhasil menyelamatkan perempuan itu. Oleh karena itu Celcus berkata bahwa hal-hal ini tidak ada hubungannya dengan kerajaan Allah. (Against Celcus 1.39).

Dari motivasi dan isi pernyataan Celsus di atas kita dapat mengetahui bahwa catatan di atas kemungkinan besar sangat otentik (walaupun kita tidak bisa mengetahui secara pasti apakah Origen mengutip Celsus secara langsung kata per kata). Hal lain yang layak untuk dicermati adalah tuduhan-tuduhan Celsus yang terlihat sangat berlebihan, subjektif dan tanpa disertai bukti yang meyakinkan. Tuduhan tersebut lebih banyak bersifat filosofis, bukan didasarkan pada sejarah.

Meskipun demikian, ada tiga poin menarik yang kita bisa tarik dari catatan di atas: (1) doktrin kelahiran dari perawan sudah menjadi isu hangat sejak awal abad ke-2. Tuduhan Celsus bahwa ayah Yesus adalah tentara Romawi bernama Panthera kemungkinan besar berhubungan dengan kata Yunani parqenos (“perawan”); (2) selama hidupnya Yesus melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib (walaupun Celsus menganggap hal ini berasal dari ilmu sihir yang Yesus dapat dari Mesir). Dari catatan ini paling tidak kita mengetahui bahwa pada masa itu hal-hal yang supranatural bisa dan sering terjadi. Hal ini bertentangan dengan sarjana liberal yang menyangkal kesejarahan “mujizat” Yesus; (3) kedatangan Yesus ke dunia (inkarnasi) berkaitan erat dengan kerajaan Allah. Hal ini sesuai dengan tema pemberitaan Yohanes Pembaptis, Yesus dan para murid, yaitu datangnya kerajaan Allah (Mat 4:23; Mar 1:15; Luk 10:9, 11).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s