Character Building dan Pendidikan Kita

Ungkapan character building kini sudah klise kosong, nyaris tidak bermakna. Diucapkan para politisi, birokrat pendidikan, pemimpin organisasi pendidikan, ungkapan ini tidak meninggalkan bekas apa-apa.

Ketika ungkapan ini diucapkan oleh Bung Karno dulu, oleh Mohamad Said dari Taman Siswa, oleh St Takdir, oleh Soedjatmoko, ungkapan ini meninggalkan bekas yang mendalam di hati saya. Ungkapan ini
menghidupkan harapan besar dalam hati saya.

Kini, kalau saya mendengar orang mengucapkan kata-kata ini, ia berlalu begitu saja, tidak mampir di otak atau hati saya. Apakah character building atau pembinaan watak kini sudah bukan masalah lagi di Indonesia?

Ketika Bung Karno mengucapkan kata-kata ini, rasanya diucapkan dalam konteks politik. Jadi yang dimaksud ialah watak bangsa harus dibangun. Tetapi ketika kata-kata ini diungkapkan oleh para pendidik, dari Ki Hajar Dewantara hingga Mohammad Said, konteksnya adalah pedagogik. Yang dimaksudkan ialah pendidikan watak untuk para siswa, satu demi satu. Bagaimana cara mendidik anak di sekolah agar selain
menjadi pintar juga menjadi manusia berwatak?

Pendidikan watak

Jika diuraikan seperti ini, masalah character building masih merupakan suatu isu besar, bahkan amat besar. Semua kebobrokan yang kita rasakan kini lahir dari tidak adanya watak yang cukup kokoh pada diri kita bersama. Watak bangsa rapuh dan watak manusia Indonesia mudah goyah. Saya kira jumlah orang yang jujur masih cukup banyak di Indonesia, tetapi mereka tidak berdaya menghadapi kelompok kecil manusia Indonesia yang korup, yang mempunyai kekuasaan atau membonceng pada kekuasaan.

Jadi apa yang salah dengan pendidikan watak kita? Banyak sekali! “Pendidikan watak” diformulasikan menjadi pelajaran agama, pelajaran kewarganegaraan, atau pelajaran budi pekerti, yang program utamanya ialah pengenalan nilai-nilai secara kognitif semata. Paling-paling mendalam sedikit sampai ke penghayatan nilai secara afektif.

Padahal, pendidikan watak seharusnya membawa anak ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Dari gnosis sampai ke praksis, istilah pedagogiknya.

Untuk sampai ke praksis, ada satu peristiwa batin yang amat penting yang harus terjadi dalam diri anak, yaitu munculnya keinginan yang sangat kuat (tekad) untuk mengamalkan nilai. Peristiwa ini disebut
conatio. Dan langkah untuk membimbing anak membulatkan tekad ini disebut langkah konatif. Jadi dalam pendidikan watak, urut-urutan langkah yang harus terjadi ialah langkah pengenalan nilai secara kognitif, langkah memahami dan menghayati nilai secara afektif, dan langkah pembentukan tekad secara
konatif. Ini trilogi klasik pendidikan. Oleh Ki Hajar diterjemahkan dengan kata-kata cipta, rasa, karsa.

Berdasar analisis ini pendidikan watak pada dasarnya adalah membimbing anak untuk secara sukarela mengikatkan diri pada nilai. Rumusan Profesor Phenix ialah “voluntary personal commitment to
values”. Dilihat dari sudut ini tidak akan terlalu sukar untuk mengetahui kesalahan-kesalahan kita dalam menyelenggarakan pendidikan watak.

Pelaksanaan

Kini, lihatlah cara kita melaksanakan pendidikan watak, terutama dari segi evaluasi. Mengetahui kemajuan anak dalam aspek kognitif relatif itu mudah. Nilai-nilai apa saja yang dikenal dan dipahami anak mengenai berbagai hal dalam kehidupan? Nilai-nilai tentang pergaulan sosial, tentang etos kerja, tentang kejujuran? Apa saja yang telah diketahui dan dipahami anak tentang berbagai jenis nilai tadi? Bagaimana mengevaluasi keberhasilan anak dalam mengenali dan memahami nilai-nilai ini?

Jelas tidak dengan tes multiple choice (pilihan ganda) semata. Bagaimana menilai kemajuan aspek afektif anak? Observasi dan catatan hasil observasi adalah cara terbaik. Dan menilai kemajuan anak dalam aspek praksis juga harus dilakukan dengan observasi yang sistematis.

Dilihat dari segi ini, kita tidak dapat menghindari kesan, pendidikan watak di sekolah kita benar-benar amburadul. Saya mendapat kesan, kita tidak sungguh-sungguh berusaha melaksanakan pendidikan watak.
Rupanya tidak ada tempat dalam kurikulum sekolah Indonesia untuk melaksanakan pendidikan watak yang sebenarnya. Para guru bertanya, untuk apa menghabiskan waktu dan tenaga untuk pendidikan watak? “Soal
watak kan tidak akan ditanyakan dalam ujian nasional!”

Kesan ini diperkuat cara penyelenggaraan ujian nasional. Hanya tiga mata pelajaran yang diujikan, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Ketiga hal ini memang penting, tetapi siapa berani
mengatakan pendidikan watak tidak penting? Kiranya tidak ada! Namun, ketentuan atas ketiga pelajaran menentukan lulus-tidaknya seorang siswa dari ujian nasional berarti pemerintah memandang pendidikan
watak sama sekali tidak penting. Ujian nasional telah mengubur pendidikan watak.

Mungkin ada yang mengatakan, mengevaluasi hasil pendidikan watak dengan baik tidak mungkin dilakukan secara nasional, tetapi harus secara lokal. Saya setuju! Tetapi kenyataannya, penilaian lokal tidak diperhitungkan sama sekali. Kesimpulan saya, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menganggap pendidikan watak tidak penting. Itu hanya suatu komoditas politik yang tidak perlu dianggap terlalu
serius. Selain itu, Depdiknas menganggap para guru yang tiap hari mendampingi anak tidak memiliki informasi yang sah tentang perkembangan murid, termasuk perkembangan wataknya.

Kini kita harus menentukan secara definitif, pendidikan watak di sekolah itu penting atau tidak bagi masa depan bangsa dan negara? Kalau penting, mari ditangani bersama dengan baik. Kalau kita menganggapnya tidak penting lagi, karena sudah ada pelajaran agama, kewarganegaraan, dan budi pekerti, ya sudah! Jangan ngomong lagi tentang pendidikan watak. Jangan ngomong tentang nation and character building. Mochtar Buchori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s