Yan Ying – Perdana Menteri Qi ( Age Of Warring States )

Orang yang sangat mulia adalah orang yang mempelopori suatu gerakan moral yang berguna bagi generasinya dan juga generasi berikutnya; selanjutnya adalah orang yang memberikan jasa besar bagi masyarakat pada umumnya; dan selanjutnya lagi adalah orang yang kata-katanya memberikan pencerahan dan isnpirasi bagi orang lain. Ini adalah tiga pencapaian yang tak akan mati dalam kehidupan.

– The Tso Chuan (Abad ke- 5 S.M)

Yan Ying

Nama Yan Ying dikenal hampir oleh semua orang di China. Dia, yang hidup semasa Konfucius, adalah perdana menteri dari Qi, yang sekarang ini di Shandong utara dan Propinsi Hebei bagian tenggara, di bawah Bangsawan Jing. Saya ingat, bahkan ketika saya masih bocah, saya selalu kagum dengan cerita mengenai kecerdikan dan humornya.

PENGHARGAAN DAN TIDAK ADA PENGHARGAAN

Sebelum terpilih menjadi perdana menteri, Yan Ying adalah seorang gubernur dari Propinsi Dong’e. Pada akhir tiga tahun masa pemerintahannya, protes terhadapnya begitu gencar dan terakhir sampai ke telinga Bangsawan Jing. Bangsawan itu bermaksud untuk mencopot Yan Ying dari posisinya sebagai gubernur Dong’e. “Yang Mulia,” kata Yan Ying. “Sekarang saya sudah tahu kesalahan saya. Jika anda membiarkan saya untuk tinggal di Dong’e selama tiga tahun lagi, saya jamin bahwa saya akan lebih baik.”

Bangsawan Jing memberikan kesempatan baginya.
Adalah telah tiga tahun kemudian…

Ada banyak sekali pengakuan atas Yan Ying. Berita itu terus saja bergulir dan sang bangsawan sangat senang sebab pengharapannya telah berhasil. Dia mengundang Yan Ying ke istana untuk diberi penghargaan atas pelayanannya yang bagus di Dong’e. Tetapi di luar dugaan, Yan Ying malah menolak penghargaan tersebut.

“Ketika saya pergi ke Dong’e pertama kali,” katanya.
“Saya membangun jalan, melaksanakan pekerjaan untuk masyarakat, dan membasmi korupsi di pemerintahan. Dengan begitu, saya menciptakan lawan di sekitar saya. Saya mendorong supaya orang hidup hemat dan mendorong mereka untuk menghormati orang tua mereka. Saya menghukum para kriminal. Sebagai hasilnya, saya membuat orang-orang yang melanggar hukum membenci saya. Saya memberlakukan perlakuan yang sama kepada setiap orang dan tidak memberi perlakuan khusus bagi yang kaya dan yang berpengaruh, maka saya dimusuhi oleh mereka.

Ketika orang-orang di sekeliling saya meminta sesuatu kepada saya, saya hanya memberikan apa yang boleh secara legal. Tidak heran jika mereka juga memusuhi saya. Ada beberapa hal peristiwa ketika saya harus menyenangkan atasan saya. Saya tidak melampaui batas standar normal. Karena itu, mereka jelas tidak senang kepada saya. Itulah sebabnya mengapa semua orang berkumpul untuk menjatuhkan saya. Akhirnya, pernyataan palsu dan jahat mereka sampai ketelinga Yang Mulia.”

“Dan kemudian saya mengubah cara saya memerintah selama tiga tahun terakhir ini. Tidak ada pekerjaan untuk masyarakat. Tidak ada kontrol terhadap korupsi. Tidak ada omongan tentang hidup hemat. Tidak ada hukuman berat bagi mereka yang melanggar hukum. Apa pun yang diminta oleh orang di sekeliling saya, saya berikan dengan senyuman. Perlakuan khusu diberikan bagi mereka yang kaya dan berpengaruh. Dan saya memperlakukan atasan saya dengan keramahan yang luar biasa. Sebagai hasilnya,

Mereka semua mulai mengatakan hal-hal yang baik tentang saya. Dan akhirnya anda mendengar hal ini.” Yan Ying kemudian melanjutkan kata-katanya kembali. “Sejujurnya dan terus terang. Saya seharusnya diberi penghargaan atas apa yang telah saya lakukan pada masa tiga tahun pertama saya dan dihukum atas apa yang saya lakukan selama tiga tahun terakhir ini. Jadi saya tidak pantas untuk dihargai sama sekali kali ini.”

Sang bangsawan amat terkesan sehingga dia menunjuk Yan Ying sebagai perdana menterinya untuk membantunya memerintah negara. Dalam tiga tahun, Qi menjadi negara yang sangat makmur kemudiannya.

BANTUAN SAAT KELAPARAN

Pada suatu waktu di Qi, ada masa kelaparan. Yan Ying meminta izin kepada Bangsawan Jing untuk membuka lumbung negara untuk membantu orang yang tertimpa bencana kelaparan. Tetapi permintaannya ditolak. Pada saat yang bersamaan, sang bangsawan sedang membangun istana yang baru untuk dirinya. Dalam kapasitasnya sebagai perdana menteri, Yan Ying diam-diam memerintahkan pejabat yang berwenang atas proyek itu untuk melipatduakan gaji para pekerja, memperbesar lingkup proyek dan melambatkan laju pekerjaan konstruksi itu. Konstruksi itu telah selesai dalam tiga tahun dimana dalam periode tersebut orang-orang yang seharusnya mati kelaparan dapat lolos dari bencana itu karena bekerja untuk proyek tersebut. Sang bangsawan sangat bergembira melihat istananya selesai. Pada saat pekerjaan itu selesai, maka bahaya kelaparan pun sudah usai.

KUSIR YANG ANGKUH

Sebagai perdana menteri Qi, Yan Ying mempunyai kusir pribadi. Pada suatu hari, isteri kusir tersebut mengawasi suaminya dari balik pagar ketika dia pergi. Cambuk kuda di tangan, kusir yang mempunyai tinggi badan delapan kaki itu duduk di bawah naungan atap di depan kereta pejabat, terlihat sangat angkuh. Ketika dia telah sampai di rumah, isterinya berkata bahwa dia ingin bercerai. Kusir itu sangat terkejut dan memohon penjelasan dari isterinya.

“Lihatlah Yan Ying. Meskipun tingginya hanya lima kaki, dia dihormati dan dihargai seluruh dunia! Tetapi dia kelihatan lembut dan tidak menonjol – tidak seperti kamu! Kamu mempunyai tinggi delapan kaki. Kamu bukanlah siapa-siapa tetapi hanya kusir seseorang. Tetapi lihatlah sikapmu! Apa yang membuatmu menjadi demikian angkuh? Itulah alasan aku ingin meninggalkanmu.”

Kusir tersebut memohon supaya isterinya memaafkannya. Maka dia mulai berubah dan bersikap lebih rendah hati dan baik. Kapan pun dia mempunyai waktu senggang, dia menyempatkan dirinya untuk belajar. Yan Ying menyadari perubahan akan diri kusirnya. Ketika kusir tersebut memberitahukan hal yang sebenarnya. Yan Ying sangat terkesan. Kemudian dia menunjuknya sebagai pejabat pemerintahan, karena dia sadar betapa seorang isteri yang baik dapat membantu dan memberi inspirasi kepada suaminya.

MENEBUS SEORANG BUDAK

Dalam perjalanannya menuju ke negara bagian Jin, Yan Ying melihat seorang pria yang beristirahat di tepi jalan dengan seikat kayu bakar di sampingnya. “Siapa namamu? Kenapa kamu memotong kayu bakar?” tanya Yan Ying ketika melihat bahwa pria itu tidak kelihatana seperti buruh pada biasanya.

“Nama saya Yue Shifu. Saya menjadi budak karena saya harus menghidupi keluarga saya.”

Yan Ying merasa kasihan kepadanya dan menebusnya dari tuan-nya dengan harga seekor kuda dari keretanya. Dia juga mengajak orang itu untuk berkuda dengannya. Ketika dia sudah sampai di rumah, Yan Ying langsung masuk tanpa berkata sepatah katapun, meninggalkan orang tersebut di gerbang. Dia tidaklah muncul setelah beberapa saat kemudian. Yue Shifu marah dan mengumandangkan bahwa dia hendak melawan Yan Ying.

Yan Ying menjadi terkejut. “Saya tidak pernah mengenal anda,” katanya kepada Yue Shifu. “Tetapi saya membebaskan anda. Bukankah itu sudah cukup bagus? Kenapa kamu berbicara hendak berseteru dengan saya?”

“Seorang pria sejati bisa mentolelir orang-orang yang tidak memahaminya tetapi berharap untuk diperlakukan sejajar oleh mereka yang mengenalnya,”jawab Yue. “Selama tiga tahun saya bekerja sebagai budak. Tidak ada orang yang mengenal saya dan tidak ada orang yang memperhatikan saya. Karena anda menebus saya, saya pikir anda adalah teman saya. Tetapi anda tidak memperlakukan saya sebagai layaknya seorang pria sejati. Anda tidak sopan ketika kita sedang mengendarai kereta. Saya pikir anda hanya menjaga pamor anda. Namun anda dengan kasarnya membiarkan saya menunggu seperti ini. Saya lebih suka menjadi budak seseorang daripada diperlakukan seperti budak oleh seseorang yang saya anggap sebagai teman.”

Yan Ying memohon maaf dengan segera, dan memperlakukan Yue Shifu layaknya seorang tamu kehormatan. Yue Shifu terbukti sebagai seorang yang mempunyai kemampuan dan integritas yang hebat.

PENAFSIRAN MIMPI

Bangsawan Jing dari Qi jatuh sakit dengan tubuh membengkak karena kelebihan cairan. Dia sudah sakit selama sepuluh hari. Pada suatu malam dia bermimpi bahwa dia dikalahkan oleh dua matahari dalam satu pertempuran.

Keesokan harinya dia menceritakan mimpinya kepada Yan Ying dan bertanya apakah itu pertanda kematiannya.

“Anda sebaiknya berkonsultasi dengan seorang yang dapat mengartikan mimpi.” jawab Yan Ying.
“Saya akan mengirimkan seseorang kepada anda.”

Maka dia mengirim orang yang dapat mengartikan mimpi. Ketika orang itu datang, Yan Ying menemuinya di pintu masuk istana dan memberitahu. “Kemarin malam bangsawan bermimpi bahwa dia dikalahkan oleh dua matahari. Dia pikir bahwa dia akan meninggal. Maka akmu dipanggil untuk menceritakan arti sebenarnya dari mimpi tersebut.”

“Saya harus pulang dan mempelajari buku saya,” jawab penafsir mimpi itu.

“Tidak perlu,” larang Yan Ying.
“Bangsawan sakit karena terlalu banyak cairan di tubuhnya dan di dalam mimpinya, dia dikalahkan oleh dua matahari. Cairan tubuh adalah air, dan air mewakili Yin. Matahari mewakili Yang, karena dia adalah sumber dari cahaya dan panas. Satu Yin tidak dapat melawan dua Yang. Maka saya pikir sang bangsawan akan segera sembuh. Kamu harus memberitahu beliau begitu.”

Penafsir mimpi menjelaskan kepada raja seperti apa yang diusulkan oleh Yan Ying. Tiga hari kemudian, sang bangsawan benar sembuh. Dia ingin memberi si penafsir mimpi itu hadiah.

“Saya tidak layak mendapat penghargaan, Yang Mulia. Anda seharusnya memberi penghargaan kepada Yan Ying, karena dialah yang memberitahu saya bagaimana menafsirkan mimpi anda.”

Bangsawan Jing mengirim hadiah kepada Yan Ying, tetapi Yan tidak menerimanya juga, dan berkata, “Meskipun yang menafsirkan mimpi itu adalah saya, tetapi anda tidak akan percaya jika bukan penafsir mimpi profesional yang memberitahukannya kepada anda. Jika saya sendiri yang memberitahu, anda tidak akan mempercayainya. Maka saya pikir saya tidak layak menerimanya.”

Sang bangsawan memutuskan untuk memberikan hadiah kepada mereka berdua.

KEKUATAN JAWABAN YANG CERDIK

Yan Ying mempunyai tinggi badan kurang dari lima kaki. Dia dikirm ke Kerajaan Chu sebagai utusan. Ketika dia sampai di Istana kerajaan, beberapa pejabat Chu mempermainkannya. Mereka membawanya menuju pintu kecil di samping pintu masuk kerajaan biasanya. Yan Ying menolak untuk masuk.

“Hanya kalau saya mengunjungi kerajaan anjing, saya akan masuk melalui pintu anjing. Tetapi saya datang untuk menemui raja Chu. Haruskah saya masuk negara anda melalui pintu ini?” Kesemua pejabat langsung malu mendengar kata-kata Yan Ying. Dia lantas dipersilakan masuk melalui pintu utama. “Apakah sungguh sedikit orang di Qi, sehingga mereka mengirim anda sebagai utusan?” tanya Raja Ling dari Chu ketika dia melihat Yan Ying.

“Ada demikian banyak orang di negara kami dan ibukota begitu padatnya sehingga kelihatan seakan-akan sedang hujan ketika orang menghapus keringat dari wajah mereka.”

“Kalau demikian, kenapa mereka mengirim anda?”

“Kami mempunyai kebijakan untuk mengirim orang yang berharga untuk mengunjungi negara yang berharga, orang yang lebih berharga untuk negara yang lebih berharga dan orang yang kurang berharga ke negara yang kurang berharga. Saya adalah yang paling tidak berharga di antara semua orang. Itu sebabnya saya adalah orang yang paling tepat untuk dikirim ke Chu.”

Pada jamuan makan malam yang diadakan untuk menjamu Yan Ying, seorang dengan borgol, di bawa oleh kedua penjaga dan berjalan melalui pintu menuju ke ruang makan malam.

“Siapakah dia?” tanya raja dari Chu.

“Orang dari Qi,” kata penjaga tersebut.

“Apa yang dilakukannya?”

“Dia dituduh mencuri.”

Raja berpaling ke arah Yan Ying. “Orangmu mencuri. Sungguh memalukan!”

Yan Ying berdiri dengan hormat, kemudian dia menjawab.
“Mereka berkata pohon jeruk akan menghasilkan buah yang asam dan kering ketika mereka tumbuh di utara tetapi buah yang manis dan berair ketika mereka tumbuh di selatan. Daun-daun mereka serupa tetapi rasanya berbeda. Kenapa demikian? Karena lingkungan-nya berbeda.
Sewaktu hidup di Qi, dia tidak mencuri. Tetapi ketika dia datang kemari, mereka menjadi pencuri. Kemungkinan besar, lingkungan di Chu membuat orang itu berlaku demikian.”

KONFUCIUS MALU

Ketika Konfucius sedang mengunjungi Qi, dia mengunjungi bangsawan Jing. Tetapi tidak mengunjungi perdana menteri dari Qi yaitu Yan Ying.

“Kenapa kamu tidak ingin bertemu dengan perdana menteri saya?” tanya sang Bangsawan.

“Saya mendengar bahwa Yan Ying telah melayani tiga penguasa Qi,” kata Konfucius.
“Tetapi saya tidak yakin akan kesetiaannya. Tiga penguasa pasti punya agenda yang berbeda. Bagaimana mungkin dia dapat melayani mereka semua dengan kesetiaan yang sama? Saya tidak tahu apakah saya mempercayainya. Maka saya tidak ingin bertemu dengannya.”

Bangsawan Jing memang memberitahukan apa yang dikatakan Konfucius kepada Yan Ying.

“Apa?” teriak Yan Ying dengan terkejut.
“Konfucius menuduh saya tidak setia? Bagaimana dia bisa menarik kesimpulan begitu cepat? Saya biasanya menghargai dia dan murid-muridnya. Sekarang saya tidak yakin apakah saya telah menilai mereka dengan benar. Saya melayani tiga orang bangsawan bukan karena saya mudah berpindah kesetiaan, tetapi karena ketiga bangsawan itu mempunyai pikiran dan tujuan yang sama — kedamaian dan kesejahteraan.
Itu sebabnya saya mampu melaksanakan kewajiban saya dengan penuh pengabdian. Jika saya berpindah-pindah kesetiaan dengan begitu cepatnya, saya mungkin malah tidak dapat bekerja untuk satu bangsawan, apalagi bekerja untuk tiga bangsawan.”

Pernyataan Yan Ying tersebar dengan cepat.

“Saya memohon maaf karena telah berprasangka buruk terhadap Yan Ying,” kata Konfucius kepada sang bangsawan, setelah menyadari bahwa dia salah menilai.
“Saya berlaku tidak adil terhadapnya. Sekarang Yan Ying telah menunjukkan kesalahan saya, maka dia seharusnya menjadi guru saya.”

Maka dia segera pergi menemui Yan Ying dan memohon maaf kepadanya.

MEMANAH TIGA BURUNG DENGAN SATU BATU

Ada tiga ksatria berani di Qi : Gongsun Jie, Tian Kaijiang, dan Ge Yuzi.
Mereka sangatlah angkuh dan congkak. Para menteri pemerintahan merasa sangat sulit sekali bergaul dengan mereka. Dan Bangsawan Jing sendiri pun terganggu oleh perilaku mereka.

Suatu hari ketika Yan Ying mengunjungi mereka, mereka tidak peduli untuk menyambutnya. Yan Ying memutuskan untuk melakukan sesuatu.

“Yang Mulia, tiga orang ksatria itu terlalu angkuh dan bangga diri. Sebagai prajurit, mereka seharusnya menghargai penguasa mereka dan pejabat seniornya. Sekarang mereka memberikan contoh yang buruk bagi para juniornya. Tentara semacam ini tidak dapat anda andalkan ketika anda membutuhkan mereka untuk berperang demi negara dan membela rakyat. Cepat lambat ketiganya bakal menjadi masalah bagi negara.”

“Tetapi apa yang dapat kita lakukan?” tanya sang bangsawan.
“Ketiga orang ini sangat kuat dan mempunyai kemampuan bertarung tinggi. Bagaimana anda dapat mengalahkan mereka? Ditembak, akan meleset. Berkelahi, kamu pasti kalah.”

“Jadi?” jawab Yan Ying. “Apa yang mereka punya? Hanya kekuatan fisik belaka?”

Suatu hari, Bangsawan Zhao, penguasa Lu mengunjungi Qi. Bangsawan Jing dari Qi mengadakan jamuan makan malam untuk menghormatinya. Dan Yan Ying terlihat duduk di ujung meja dengan kedua bangsawan ini.
Setelah menu utama, buah peach dihidangkan. Buah peach adalah makanan mewah yang sangat langka pada saat itu.

Dan disini hanya ada lima buah. Satu untuk bangsawan Zhao dari Lu, satu untuk bangsawan Jing dari Qi yang memberikan buah ketiga pada Yan Ying.
Dengan izin dari Bangsawan Jing, Yan Ying bersiap-siap untuk memberikan dua buah peach yang masih tersisa kepada ketiga prajurit angkuh nan gagah yang juga menghadiri perjamuan makan malam.

“Saya seharusnya memberikan satu buah peach kepada salah seorang yang paling hebat di antara anda sekalian. Sekarang tolong beritahu, siapa yang layak untuk mendapatkannya?” kata Yan Ying sambil menatap sekilas ke arah tiga orang ksatria ini.

“Saya layak mendapatkannya…” jawab Gongsun Jie. “Saya pernah menyelamatkan nyawa Yang Mulia saat dia diserang babi hutan ketika berburu di gunung.”

Yan Ying setuju, terlihat dia menganggukkan kepala dan menghargainya dengan satu buah peach serta segelas anggur.
Kemudian, Ge Yuzi berdiri.
“Saya juga layak mendapatkannya.” katanya. “Pernah suatu ketika saya mengawal Yang Mulia ketika menyeberangi sungai. Tiba-tiba penyu raksasa muncul dari bawah air. Kapal kami hampir terbalik. Saya melompat ke air, dan bertarung dengan binatang itu dan membunuhnya. Saya hampir tenggelam ketika menyelamatkan nyawa Yang Mulia.”

Yan Ying setuju. Dia segera menghargainya satu buah peach juga dan segelas anggur.

Pada saat itu, orang yang terakhir dari ketiga orang berani itu, Tian Kaijiang berdiri.
“Yang Mulia, saya menyelamatkan nyawa anda dengan pedang saya ketika anda diserang oleh musuh. Masih ingatkan anda?”

“Ya”, jawab bangsawan Jing. “Reputasimu jelas melebihi kedua rekanmu. Kamu paling pantas menerima buah peach itu juga. Tetapi kamu berbicara terlalu lambat. Sekarang saya hanya dapat menawarimu segelas anggur dan akan memberikan buah peach tahun depan.”

Tian Kaijiang sangat marah. “Membunuh babi hutan atau penyu itu baik. Tetapi saya bertempur dengan musuh di pertempuran untuk menyelamatkan negara. Sekarang saya bahkan tidak mendapatkan buah peach, saya akan menjadi bahan tertawaan negara.” Dengan tiba-tiba, dia mencabut pedangnya dan segera bunuh diri.

Ge Yuzi terkesiap.
“Pengalamanku tidak sehebat pengalaman Tian Kaijiang. Sekarang dia meninggal karena saya mengambil buah peach ini darinya. Saya membenci apa yang telah saya perbuat. Saya juga menjadi pengecut jika saya tidak mati.”
Dengan demikian, dia pun membunuh dirinya dengan pedang.

Gongsun Jie terlihat amat terpukul dan takut.
“Kami bertiga selalu bersama-sama. Sekarang dua di antara kami meninggal, dimana saya meletakkan muka saya kalau saya tetap hidup?”

Dia juga mencabut pedangnya dan bunuh diri juga.
Bangsawan Jing memerintahkan pemakaman kenegaraan untuk menghormati ketiga ksatria tersebut.

*****************************

KOMENTAR :

Yan Ying adalah salah satu politikus paling besar dalam sejarah China. Waktu yang berlalu tidak memudarkan kehebatannya.

Setelah mempelajari biografi ratusan politikus dari permulaan awal sejarah China sampai saat zamannya, sejarahwan hebat dari China, Sima Qian (145 – 90 S.M.), saking kagumnya pada Yan Ying, menyatakan jika Yan Ying masih hidup, dia akan berbakti untuk melayaninya sebagai kusirnya.

Sangat aneh, kebijaksanaan kita kelihatannya tidak banyak maju semenjak zaman Yan Ying.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s