RELASI VERTIKAL DAN HORIZONTAL

Trilogi film The Lord of The Rings adalah sebuah film yang memenangkan 17 Academy Awards ( piala Oscar ) dan 11 penghargaan sendiri untuk film ketiganya. Salah satu penghargaan tertinggi dunia perfilman Hollywood yang diterimanya adalah untuk kategori “ Penyuntingan Terbaik “ ( Best Editing ). Produksi awal ketiga film ini menghasilkan 1.828.800 meter film, dan disunting menjadi 11 jam 23 menit dalam DVD “ extended version. “ Versi yang ditampilkan di bioskop menjadi lebih singkat lagi yaitu hanya 9 jam. Bagian yang telah disunting yang disuguhkan kepada penonton tidak menghilangkan inti dari cerita film itu. Ini berarti kualitas edit yang dimiliki tim pembuat film itu adalah luar biasa sehingga bagian yang dipotong tidak mengurangi arti film itu yang sesungguhnya.

Mari sekarang kita bandingkan dengan bacaan Alkitab kali ini. Orang Farisi dan para Ahli Taurat telah menciptakan 613 hukum untuk menjelaskan 10 Hukum Taurat yang diberi Allah kepada Musa. Beberapa dari hukum ini memiliki prioritas yang berbeda, artinya ada beberapa hukum yang lebih utama daripada yang lain, dan ada hukum yang harus lebih dulu dilaksanakan dari yang lainnya. Sejumlah 365 hukum adalah larangan dan 248 adalah petunjuk hidup. Hukum Taurat yang diberikan Allah melalui Musa telah dikembangkan ke dalam jumlah yang luar biasa sehingga kesan legalisme sangat kuat terdapat di agama Yahudi. Berangkat dari pemahaman akan jumlah hukum yang luar biasa dan keinginan untuk menjebak Yesus, mereka bertanya kepada Yesus, “ Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat ? ”

Yesus adalah seorang Rabi yang juga menguasai Kitab Suci orang Yahudi. Dia tahu akan jumlah hukum tersebut. Tetapi apa yang dikatakan Yesus kemudian adalah sebuah ringkasan, sebuah hasil edit yang mengagumkan, yang tidak bisa dibantah oleh para orang Farisi. Yesus menyimpulkan bahwa hukum yang terutama adalah kasih. Yesus mengutip Ulangan 6:5 dan berkata, “ Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu ( di Kitab Ulangan tertulis: kekuatanmu ) ”. Tidak berhenti di sini Yesus berkata bahwa hukum kedua yang sama dengan itu adalah “ Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri ” ( Imamat 19:18b ). Dalam kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

            Apa yang diberitakan oleh Yesus bukanlah soal peraturan yang berupa hukuman dan hadiah. Hubungan antara orang percaya dengan Kristus adalah dalam suatu hubungan kasih. Kita mengasihi Allah bukan karena Ia menakutkan, tetapi karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita dan memberi kita karunia sebagai anak yang dikasihiNya. Allah kita adalah Allah yang sangat aktif dan proaktif mencari manusia serta senantiasa menunjukkan kasihNya. Kasih terutama yang ditunjukkan Allah adalah dengan memberikan Kristus kepada kita, karena itu adalah hal yang masuk akal bagi manusia untuk membalas kasih Allah yang tiada terukur. Kita mengasihi Allah bukan karena ingin merebut hati Allah melainkan reaksi akibat kasih Allah yang telah kita rasakan dalam hidup kita. Dengan mengasihi Allah, reaksi otomatis selanjutnya adalah kita menjadi orang yang mengasihi sesama. Memiliki kasih Allah di dalam kita akan membuat kita mengasihi sesama kita juga. Semua peraturan Taurat adalah soal kasih kepada Allah dan kepada manusia. Sebuah ringkasan yang sempurna yang tidak menghilangkan arti dari hukum yang lain. 

            Perkataan Yesus ini mengingatkan kita untuk mendasarkan semua tindakan kita atas kasih terhadap Allah dan sesama manusia. Ringkasan sederhana tapi tepat sasaran. Melaksanakan kedua hukum ini terbukti tidak semudah mengatakannya. Tetapi hendaklah kita selalu mengingat apa yang telah diucapkan oleh Yesus, bahwa kasih harus menjadi dasar kita bertindak, bukan keinginan untuk mendapat hadiah atau menghindari hukuman. Dengan melaksanakan kedua perkataan ini, kita telah merefleksikan kasih Allah kepada kita. 

            Kahlil Gibran sebagai salah satu penulis yang menginspirasi banyak orang ( termasuk penulis ), dalam salah satu Triloginya : Raja Yang Terpenjara, melalui mulutnya, Gibran menggambarkan kasih kepada Allah dan sesama manusia sebagai berikut :           

 

Engkau saudaraku, dan kita berdua adalah putra Roh Suci Yang Esa. Engkaulah kawananku di jalan kehidupan, penolongku dalam memahami kenyataan yang tersembunyi di balik kabut. Engkau manusia, maka aku mencintaimu, saudaraku ( Khalil Gibran adalah seorang Kristen Maronit ). ”

 

Bagi Gibran relasi kasih bukan hanya kepada Allah yang adalah segalanya ( relasi vertikal ), tetapi juga kepada sesama manusia ( relasi horizontal ) yang hidup di bumi ini sebagai teman seperjalanan dalam mengarungi kehidupan. Janganlah kita berlomba-lomba untuk menjadi orang-orang yang merasa puas karena telah memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Namun kemudian tidak terlalu memperdulikan keadaan sesama.

            Karena itu marilah kita dengan kesungguhan hati belajar untuk dapat menunjukkan perasaan kasih kita dengan tulus. Sebab, kasih yang diajarkan Tuhan, adalah kasih yang tanpa pamrih. Kita mengasihi orang lain bukan karena motivasi tertentu, tapi karena Allah telah lebih dulu mengasihi hidup kita dan Ia sendiri solider dengan manusia. Jadi, terapkanlah kasih yang sesungguhnya, seperti yang diajarkan Kristus.  

 

One thought on “RELASI VERTIKAL DAN HORIZONTAL

  1. Vertikal = kasih kepada “Tuhan”
    Horizontal= kasih kepada sesama “Manusia”

    Terima kasih atas penjelasanya.
    Berarti dalam salib,lebih pendek vertikal,daripada horizontal.
    Yang artinya
    Vertikal = 45% =kasih kepada “Tuhan”
    Horizontal = 55%=kasih terhadap sesama “manusia”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s