BE FRUITFUL ! Galatia 5:22-23

Dalam nasihatnya kepada jemaat di Galatia, Rasul Paulus memaparkan dua macam kehidupan yang ada di dalam dunia, yaitu kehidupan berdasarkan keinginan daging dan kehidupan berdasarkan keinginan Roh. Dua jenis kehidupan ini sangat bertentang satu dengan yang lain (bnd. ay.7). Paulus menunjukkan kepada orang-orang Kristen di Galatia bahwa mereka harus hidup berdasarkan pimpinan Roh Kudus. Istilah “Roh” (Yun. Pneuma) dipakai oleh penulis mula-mula yang berarti angin, udara, nafas atau hidup. Kata “Roh” ini juga menunjuk kepada “nafas hidup” yang diberikan Allah kepada manusia. Namun di dalam terminologi PB, khususnya dalam tulisan Paulus, kata ini memiliki arti yang baru, yaitu menyangkut “hidup setelah memperoleh keselamatan” yang dianugerahkan oleh Allah. Jadi pada waktu Rasul Paulus berbicara tentang “keinginan Roh,” Paulus mendasari hidup yang baru itu setelah mendapatkan keselamatan. Maka hidup itu akan menghasilkan buah Roh (ay. 22-23) yang akan menjadi berkat serta memuliakan Allah. Buah Roh ini merupakan sifat yang serupa Kristus (Christlikeness) sebagai hasil karya Roh Kudus dalam diri setiap orang yang telah percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Atau dengan kata lain, setiap orang yang tetah memiliki Kristus, maka ia memiliki buah Roh Kudus.

Kesembilan sifat buah Roh Kudus ini menurut kebanyakan penafsir Alkitab dapat digolongkan menjadi 3 bagian yaitu: Tiga sifat yang pertama menyatakan aspek kehidupan orang Kristen yang berkaitan dengan hubungan kita dengan Allah. Yaitu kasih, sukacita dan damai sejahtera. Tiga sifat kedua menyatakan aspek kehidupan orang Kristen yang berkaitan dengan hubungan kita dengan sesama manusia. Yaitu kesabaran, kemurahan dan kebaikan. Dari tiga sifat terakhir berkaitan dengan hubungan dengan diri sendiri. Yaitu kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Kita dapat mengolongkan bagian-bagian dari Buah Roh dari Galatia 5: 22-23 menjadi 3 bagian, sebagai berikut :

Bagian 1: Aspek kehidupan yang berkaitan dengan hubungan kita dengan Allah.

Yaitu kasih, sukacita dan damai sejahtera.

Kasih
Yohanes 13: 35 berkata: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (lihat juga Roma 13: 8). Apapun yang kita lakukan untuk memberikan kesaksian tentang Tuhan Yesus, tanpa kasih semua itu tidak ada artinya.
“Kasih” sebenarnya cakupannya luas sekali, dengan mengacu pada 1 Korintus 13:4-8 akan kita dapatkan hal-hal yang berkaitan dengan kasih.

Sukacita
Sukacita yang Roh Kudus berikan di hidup kita mengangkat kita dari segala keadaan. Sukacita ini tetap kita rasakan walaupun kita berada dalam kesulitan. Jaman sekarang di dunia ini tidak ada sukacita dan penuh dengan kegelapan, ilusi dan ketakutan. Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa sukacita dari Roh Kudus tidak tergantung dari keadaan. Damai sejahtera

Damai sejahtera di dalam Kristus adalah kedamaian yang mendalam dan kekal yang hanya Tuhan Yesus dapat berikan di dalam hati, seperti tertulis di Yohanes 14: 27 – ”Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.” Ini adalah damai sejahtera yang berasal dari Roh Kudus semata.

Bagian 2: Aspek kehidupan yang berkaitan dengan hubungan kita dengan sesama manusia. Yaitu kesabaran, kemurahan dan kebaikan.  

Kesabaran
Kata ’kesabaran’ di ayat ini dalam bahasa Yunani menggambarkan ketegaran biarpun di-provokasi. Ini tidak dapat dipisahkan dari kesabaran jika kita diperlakukan tidak benar tanpa menjadi marah atau ingin balas dendam. Kesabaran adalah pengampunan, belas kasih, dan pengertian atas kesalahan orang lain.

Kemurahan
Kemurahan atau kelembutan adalah bagian kedua dari Buah Roh yang mengarah keluar. Kata ’kemurahan’ di ayat ini dalam bahasa Yunani berarti kemurahan yang mendalam di dalam karakter kita. Kata ini dipakai beberapa kali di Alkitab dan mengarah ke Trinitas (Mazmur 18: 36, 2 Korintus 10: 1 dan Galatia 5: 23). 2 Timotius 2: 24 berkata bahwa pelayan-pelayan Tuhan tidak boleh berselisih tetapi harus ramah terhadap semua orang.

Kebaikan
Diambil dari bahasa Yunani yang menunjuk ke sifat seseorang yang diatur oleh kebaikan dan yang selalu berusaha untuk berbuat baik (Efesus 5: 9). Dari hati yang baik selalu mengalir kebaikan keluar.

Bagian 3: Aspek kehidupan yang berkaitan dengan hubungan kita dengan diri sendiri. Yaitu kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.

Kesetiaan
Karakter ini sangat dipuji di dalam Alkitab. Kesetiaan dalam hal-hal kecil adalah ujian karakter yang paling dapat dipercaya, seperti yang Bapa sebutkan di dalam perumpamaan talenta: ”Engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar” (Matius 25: 21).
Orang yang setia, bila dalam berbagai cobaan, ia bertahan dalam imannya dan dengan demikian mengungkapkan keyakinannya akan kesetiaan Allah dalam janji-janji-Nya.

Kelemahlembutan
Yesus berkata: ”Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi” (Matius 5: 5). Kelemahlembutan adalah memberi perhatian kepada sesama dan selalu peka terhadap hak-hak sesama. Bagaimanakah kita dapat mempraktekkannya? Yesus berkata di Matius 11: 29 bahwa kita hendaknya bersikap ”lemah lembut dan rendah hati”.

Penguasaan diri

Diambil dari bahasa Yunani yang berarti: kuat, berkuasa. Secara konseptual bermakna mampu memiliki kuasa atau otoritas untuk mengarahkan, memerintah atau melarang diri sendiri terutama terhadap nafsu, keinginan besar, kegemaran, amarah, hasrat, emosi, kecanduan, egoisme dll. Semua pemikiran kita yang mementingkan daging dari pengertian ini adalah tidak baik (Roma 8:5). Baca juga 1 Korintus 9: 25-27.  

Setiap orang Kristen yang menyadari tujuan hidupnya adalah untuk menyenangkan dan memuliakan Tuhan, maka ia akan rindu untuk menghasilkan buah Roh secara nyata dan berlimpah. Untuk itu ada langkah-langkah yang harus ia lakukan :

Pertama, ia harus tinggal di dalam Kristus (Yoh. 15:5).

Kedua, ia harus siap untuk diproses dan dibentuk oleh Tuhan (Yoh. 15:2, Ibr. 12:11).

Ketiga, ia harus senantiasa menyerahkan hidupnya untuk dipimpin dan berjalan bersama Roh Kudus ( Gal. 5:16-25 ).

Keempat, ia harus terus-menerus memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Memiliki hati yang mengasihi sesama, pikiran yang positif, mengeluarkan kata-kata yang membangun, serta tindakan yang menjadi teladan bagi sesamanya.

            Konfucius pernah mengatakan: “Dahulu aku menilai orang, dari perkataannya lalu percaya perbuatannya. Kini aku menilai orang, mendengar perkataannya lalu memeriksa tindakannya.“ Bener banget. Alkitab sebenarnya sudah berkata, “sebab dari buahnya pohon itu dikenal” Matius 12:33. Buah apa ? Buah ROH. Alkitab tidak mengatakan “dari kata-katanya kamu mengenal dia”. Kata-kata itu bisa dihafal. Jawaban itu bisa dicontek. Cuman buah roh yang tidak pernah berbohong. Bagaimana dengan hidup Saudara? Apakah ada buah pertobatan dalam hidup kita ?! Sudahkah kita hidup menyenangkan hati Tuhan yang adalah pemilik hidup ini dengan menghasilkan buah Roh Kudus secara nyata sehingga memuliakan Dia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s