SUN PIN

Read this article … saya suka sekali segala sesuatu yang berhubungan dengan filsafat china, kebudayaan china bahkan makanan china … hehehe… banyak hal yang bisa dipelajari dari kehidupan masyarakat china salah satunya dari sejarah dan buku-buku mereka…. kalau kamu suka bergabunglah dengan saya di article-article berikutnya … saya tunggu … please send your email if you want to publish your writing in my blog … send to aero_caesar@yahoo.com

Seseorang berkata, “Bayarlah sebuah luka dengan kebaikan.”
Sang guru berkata, “Jika kamu membalas luka dengan kebaikan, lalu dengan apa kamu membalas kebaikan? Kamu seharusnya membayar sebuah luka dengan keadilan dan kebaikan dengan kebaikan.
~KONFUSIUS

Selama periode negara-negara berperang dalam sejarah China sekitar 2.500 tahun yang lampau, ilmu militer adalah topik yang sangat berguna untuk dipelajari. Ketika sejumlah besar negara-negara dan kerajaan-kerajaan tidak pernah berhenti berperang satu sama lain, pengetahuan akan strategi dan taktik militer sangatlah dibutuhkan.

Berikut ini adalah cerita mengenai ahli strategi ternama yang bernama Sun Pin yang merupakan turunan langsung dari Sun Tzu, pengarang Seni Berperang, sebuah buku terkenal mengenai strategi dan taktik militer yang telah dibahas dalam bab yang sebelumnya. Ini adalah sebuah cerita tentang persahabatan yang dinodai oleh pengkhianatan, iri hati berubah menjadi upaya untuk membunuh. Sebuah cerita yang melukiskan upaya seorang Sun Pin untuk bertahan dan balas dendam melalui gabungan antara kecerdikan dan kemauan dengan penyiksanya.

REKAN SEJAWAT

Sun Pin adalah seorang penduduk asli negara Qi, dan Pang Juan, penduduk asli dari Negara Wei, berteman dan menjadi rekan sejawat dalam mempelajari Ilmu militer di bawah bimbingan mentor yang sama. Pang Juan kemudian menjadi jenderal yang sukses di negara Wei.

Namun, Pang Juan percaya bahwa kemampuannya dalam ilmu militer tidak sebaik Sun Pin. Pang Juan khawatir bahwa jika Sun Pin bekerja untuk negara lain, dia akan membahayakan keamanan negara Wei. Tetapi jika dia bekerja untuk raja negara Wei, dia tentu akan menjadi ancaman serius bagi posisinya sebagai tangan kanan raja. Pang memikirkan masalah ini secara terus menerus sehingga suatu hari dia mendapatkan sebuah ide.

Dia mengundang Sun Pin untuk datang ke negara Wei dan merekomendasikannya kepada raja dari Negara Wei. Raja sangat tertarik akan pengetahuan Sun Pin dan menunjuknya sebagai seorang penasehat senior. Sun sangatlah gembira dan menjadikan Pang Juan sebagai temannya yang paling dipercaya.

“Bagaimana keadaan keluargamu di Qi?” suatu hari Pang Juan bertanya. “Kenapa tidak membawa mereka kemari untuk berkumpul denganmu disini?”

“Sebenarnya,” kata Sun Pin sambil menghela nafas.
“Orang tuaku meninggal ketika saya masih sangat kecil. Saya dibesarkan oleh paman saya. Saya mempunyai dua orang sepupu, tetapi saya kehilangan kontak dengan mereka beberapa tahun yang lalu karena perang.”

Sekitar setengah tahun kemudian, seorang pria dengan logat Qi datang untuk menemui Sun Pin. Orang itu membawa sepucuk surat dari kedua sepupu Sun Pin. Surat itu mengatakan bahwa pamannya telah meninggal dan menyuruhnya untuk kembali ke negara Qi. Berita kematian pamannya membuat Sun Pin sedih, tetapi karena dia telah mendapatkan pekerjaan di Wei, dia tidak dapat pergi. Maka dia menulis surat dan meminta orang itu menyampaikannya kepada sepupunya. Pang Juan telah mengatur supaya surat itu jatuh ke tangannya dan memberikannya kepada raja.

“Ternyata Sun Pin sangat rindu dengan kampung halamannya, apa yang seharusnya kita lakukan?” tanya Raja yang telah membaca surat dari Sun Pin yang diberikan Pang Juan.

“Adalah sesuatu hal yang wajar jika dia ingin kembali ke Qi, karena dia memang berasal dari Negara Qi.” kata Pang Juan. “Tetapi jika dia kembali dan menjadi jenderal pasukan mereka, dia dapat membahayakan kita. Izinkan saya berbicara dengannya. Mungkin kita dapat menaikkan gajinya dan memintanya untuk tinggal.”

Pang kemudian bertanya kepada Sun mengenai orang yang mengunjunginya itu, yang berasal dari negara Qi.
“Kenapa tidak meminta izin cuti kepada raja untuk beberapa bulan?” Pang Juan mengusulkan.
“Sudah lama sekali sejak terakhir kamu bertemu dengan keluargamu sendiri.”

“Saya juga berpikir begitu, tetapi apakah tidak terlalu lancang untuk meminta izin pulang ke kampung halaman?”

“Tidak masalah, saya akan menjaminnya.” tutur Pang Juan.

Pada dasarnya, raja dari Negara Wei tidak menyukai Sun Pin yang masih melakukan kontak dengan negara Qi. Apalagi setelah dipanas-panasi oleh Pang Juan dengan licin. Ketika Sun memberikan surat permohonan cuti kepada raja untuk pulang kampung halamannya, raja sudah yakin bahwa pikiran Sun Pin sudah tidak ada lagi di Negara Wei.
Raja memerintahkan untuk menahan Sun Pin dan diserahkan kepada Pang Juan untuk ditanyai.

Pang berpura-pura menenangkan Sun Pin dan berjanji untuk mewakilinya berbicara dengan raja. Ketika dia kembali dari menghadap raja, Pang kelihatan susah. Dia memberitahu Sun bahwa raja berpikir beliau telah memperlakukan Sun dengan baik tetapi Sun telah mengkhianati kepercayaannya. Dia menginginkan Sun Pin untuk dihukum mati. Pang berkata bahwa melalui perantaraan-nya, raja dapat dibujuk untuk tidak menghukum mati Sun, tetapi sebagai gantinya, raja menjatuhkan hukuman berat— Mentato wajah Sun dan mencopot tempurung lututnya. Sun juga dilarang meninggalkan negara Wei.

ORANG GILA

Hukuman badan membuat Sun Pin tercabik-cabik. Sebagai kriminal yang bertato di wajah, dia tidak dapat menemukan pekerjaan atau tampil di depan umum. Pang menampungnya di dalam rumahnya sendiri dan mengupahi seorang pelayan tua untuk melayaninya. Sun sangat berterima kasih kepada Pang.

Pang Juan mengetahui bahwa Sun Pin sedang menulis buku tentang seni berperang seperti yang pernah ditulis oleh moyangnya, Sun Tzu. Dia menanyakan hal itu kepada Sun Pin. Sun Pin ingin membalas budi Pang Juan, maka dia menawarkan mendedikasikan buku itu kepada Pang Juan.

Aktivitas menulisnya sangatlah berjalan lambat, sebagian karena dia tidak dapat duduk dengan benar karena cacatnya dan sebagian lagi karena dia sering mengalami depresi. Dari waktu ke waktu, Pang selalu menanyai orang tua yang melayani Sun mengenai perkembangan pekerjaannya. Ketika dia mendengar bahwa Sun hanya menulis beberapa baris sehari, dia kelihatannya tidak senang.

“Kapan dia baru akan menyelesaikan bukunya jika tiap hari dia hanya menyelesaikan beberapa baris saja? Suruh dia untuk lebih cepat!”

Pelayan tua itu menjadi bingung. Salah satu dari asisten Pang Juan memberitahunya bahwa jika Sun dibiarkan hidup hanya karena Jenderal Pang tertarik dengan apa yang ditulisnya. Begitu dia selesai menulis buku, Jenderal Pang pasti akan menyuruh orang untuk membunuhnya. Orang tua itu menjadi waspada, dia merasa kasihan kepada Sun dan memberitahukannya semua yang telah didengarnya itu. Berita itu bagai sebuah bom bagi Sun. Dia sangat terperanjat sampai hampir pingsan. Ketika dia tenang kembali, dia membakar semua yang telah ditulisnya ke dalam api. Dia merasa bahwa dia telah terbangun dari sebuah mimpi yang buruk sekali. Dia berharap andaikata dia mengetahui karakter Pang Juan sejak dulu.

Ketika Pang datang untuk melihatnya. Sun tiba-tiba tertawa tidak terkontrol dan menangis berlebihan. Dia tertawa lagi dan menangis lagi.

“Tolong! Tolong!” teriaknya kepada Pang.

“Ini saya. Pang Juan.”

Tetapi Sun sepertinya tidak mengenali temannya itu. Dia bertingkah sungguh aneh.

“Apakah dia menjadi gila?” pikir Pang. Tetapi dia tetap curiga bahwa sebenarnya Sun berpura-pura gila. Maka dia menyeret Sun ke kandang babi. Sun jatuh di tengah kubangan kotoran babi, kemudian dia menutupi dirinya dengan kotoran babi tersebut, dan kemudian tidak sadarkan diri.

Masih curiga, Pang secara diam-diam mengirim seseorang untuk membawakan sedikit minuman anggur dan makanan untuk menengok Sun di dalam kandang babi. Tetapi Sun malah membuang semua makanan enak itu ke tanah dan mengambil kotoran babi dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia sepertinya terlihat makan dengan lezat sekali.

“Enak!!!” teriaknya berulang-ulang.

Ketika mata-matanya melaporkan apa yang dia lihat, Pang menjadi yakin bahwa Sun telah benar-benar gila dan pengawasannya terhadap Sun menjadi berkurang. Sejak saat itu, Sun menjadikan kandang babi sebagai rumahnya. Di siang hari, dia pergi dan berkeliaran di jalan. Di malam hari, dia kembali dan tidur dengan babi-babi. Kadang kala dia tidur di jalan juga. Setiap orang tahu bahwa dia adalah orang gila. Bagaimanapun, kelakuan Sun tetap masih diamati oleh Pang.

Pada suatu malam ketika dia sedang tidur di jalan, Sun dibangunkan oleh seorang pria. Sun mengenalinya sebagai teman lamanya di negara Qi. Dia memberitahu Sun bahwa perwakilan dari negara Qi sedang mengunjungi negara Wei. Ketika perwakilan dari negara Qi mendengar apa yang terjadi pada dirinya, dia ingin menyeludupkannya keluar dari negara itu.

Sun berkata bahwa dia masih di bawah pengawasan ketat dari orang-orang Pang Jun. Temannya kemudian menyuruh salah satu anak buahnya mengenakan pakaian Sun dan menggantikan Sun di jalan itu.

Pada keesokan harinya Sun menyembunyikan dirinya di dalam kereta dari perwakilan negara Qi dan dibawa keluar dari negara Wei. Dua hari kemudian, orang yang menyamar sebagai Sun itu hilang. Pang memerintahkan untuk melakukan pencarian menyeluruh, tetapi gagal menemukan Sun.

PACUAN KUDA

Ketika Sun kembali ke negara Qi, Jenderal Tian Ji memintanya untuk tinggal di rumahnya. Jenderal itu memperlakukan Sun dengan penuh hormat dan mengagumi pengetahuannya yang luar biasa dalam strategi militer.
Jenderal Tian sangat suka judi pacuan kuda dengan raja dari negara Qi dan kaum bangsawan lainnya. Dia hampir selalu kalah dalam perjudian itu. Sun mengamati bahwa kuda dalam pacuan itu dibagi menjadi tiga kelas dan kualitas kuda dalam kelas yang sama tidak banyak berbeda.

Dia meminta Jenderal Tian untuk bertaruh banyak pada pertandingan berikutnya.
“Saya janji kamu akan menang.” katanya.

Tian mengambil 1000 ons emas untuk memasang taruhan melawan raja. Pada ronde pertama, Sun memberitahu Tian untuk menggunakan kuda kelas ketiganya untuk bertanding dengan kuda kelas satu raja. Di ronde kedua, kuda kelas pertama Tian digunakan untuk melawan kuda kelas kedua raja. Kemudian, di final kuda kelas kedua Tian digunakan untuk melawan kelas ketiga raja.

Akhirnya, Tian kalah pada ronde pertama tetapi menang pada ronde kedua dan ketiga. Raja kalah seribu ons emas. Setelah perlombaan, Tian Ji memperkenalkan Sun Pin kepada raja dan menjelaskan bagaimana Sun Pin telah membantunya untuk memenangi pertandingan tersebut. Raja sangat kagum akan strategi Sun Pin dan menunjuknya menjadi penasehat senior militernya.

Setelah dia menetap di Qi, Sun selalu berusaha mencari paman dan kedua sepupunya, tetapi mereka tidak ditemukan dimanapun. Sun menyadari bahwa orang yang berbicara dengan logat Qi adalah penipu. Ia pasti orang upahan Pang Juan. Surat kematian pamannya adalah bagian dari taktik Pang Juan juga tentu untuk menyingkirkannya.

Pada tahun 354 S.M. Pang Juan memimpin pasukan sebanyak 8 laksa (80.000) orang untuk menyerang Handan, ibukota dari negara Zhao. Zhao kemudian meminta bantuan kepada Qi. Raja dari negara Qi bermaksud menunjuk Sun Pin menjadi kepala komandan pemimpin pasukan untuk menyelamatkan negara Zhao tetapi Sun Pin menolak karena menurutnya dia seharusnya menjadi tawanan di negara Wei sehingga tidak pantaslah baginya untuk menjadi kepala komandan pasukan Qi. Maka Tian Ji menjadi kepala komandan dan Sun Pin menjadi kepala stafnya.

Tian Ji ingin langsung menuju ke Zhao, namun Sun Pin mempunyai ide lain yang lebih baik.
“Untuk menguraikan sebuah simpul, kamu perlu kesabaran untuk menemukan ujung tali itu. Untuk menghentikan pertempuran, kamu seharusnya tidak terjun ke dalamnya terlebih dahulu. Sekarang ini, seluruh pasukan terbaik dari Wei ada di negara Zhao. Hanya yang lemah yang tinggal di Wei untuk mempertahankan negaranya. Maka jika kita menyerbu Wei, memotong jalur persediaan makanannya, mengambil alih kedudukan militernya dimana pertahanannya lemah, maka pasukan Pang Juan juga akan dipaksa kembali untuk mempertahankan negara-nya sendiri. Kemudian kita tidak hanya menyingkirkan blokade ibukota Zhao, tetapi juga mempermalukan Wei.”

Tian berpikir bahwa itu adalah sebuah ide cemerlang.
Pasukan dari negara Wei hampir menduduki ibukota Zhao ketika mereka mendengar kabar bahwa tentara dari negara Qi sedang menyerbu negaranya dengan hebat dan ibukota mereka sendiri dalam ancaman yang besar. Pang Juan segera memerintahkan pasukannya untuk kembali sesegera.”

Pasukan yang menyerbu ibukota Wei, Daliang yang sekarang adalah Kaifeng di propinsi Henan hanyalah sebagian dari pasukan tentara Qi saja. Pasukan utamanya adalah sedang menunggu dalam persembunyian rute yang dituju Pang Juan untuk mundur dari Zhao. Pang kehilangan 20.000 orang pasukannya dalam pertempuran sergapan dari pasukan Qi dan negara Wei dipaksa berdamai dengan negara Zhao.

Mulai saat itu, Pang Juan belajar dan terkejut bahwa Sun Pin sebenarnya masih hidup dan bekerja untuk pasukan negara Qi.

OPERASI PENYELAMATAN

Beberapa tahun kemudian, negara Wei bermaksud menduduki negara Han. Han adalah negara yang lemah yang tidak mampu mempertahankan dirinya dari serangan pasukan Wei yang kuat dan tentunya dipimpin oleh Pang Juan. Rajanya memohon bantuan dari negara Qi.

Raja negara Qi segera melakukan rapat istimewa untuk membahas penyerangan Wei ke Han. Beberapa menteri dan penasehat mengatakan bahwa tidak perlu Qi berperang melawan Wei, lebih baik memperkuat pertahanan sendiri saja. Tetapi jenderal Tian Ji berpendapat lain. “Jika tidak mendapat bantuan dari pihak luar, Han pasti terkalahkan. Jika itu terjadi maka negara Wei akan menjadi terlalu kuat untuk negara Qi.”

Sun Pin mendukung pendapat Jenderal Tian Ji tetapi menyarankan untuk tidak terjun langsung ke medan perperangan dengan tergesa-gesa.

“Pasukan Qi berperang adalah untuk kepentingan negara Qi, bukan negara Han. Jika kita pergi ke sana terlalu dini, kita akan berperang untuk negara Han. Kita memang akan membantu Han, tetapi hanya untuk kepentingan kita sendiri. Tindakan yang terbaik adalah membiarkan Han tahu bahwa kita akan menolong mereka. Begitu mendengar jaminan dari kita, dia akan berperang dengan segala genap kekuatannya. Setelah kedua pihak berperang dengan dahsyat beberapa lama, kita dapat mengirimkan pasukan kita untuk memenangkan pertempuran akhir. Maka, kita dapat mencapai hasil maksimum dengan usaha yang minimum.”

Jaminan dari negara Qi segera membangkitkan moral pasukan Han seperti yang diperkirakan oleh Sun Pin sebelumnya. Tetapi mereka bukanlah tandingan dari negara Wei yang memiliki pasukan yang ganas. Situasi telah berubah genting.

Pada titik itu, pasukan negara Qi segera menyerang Wei seperti yang telah terjadi dulu. Pengalaman pahit Pang Juan memang betul masih membekas di hatinya. Saat ini, dia menarik pasukan terbaiknya yang sejumlah 10 laksa (100.000) dari Wilayah negar Han untuk bertempur melawan pasukan negara Qi. Maka, pengepungan di negara Han otomatis telah berakhir.

Sun Pin dapat membaca pikiran Pang Juan dengan sangat baik, dan dia juga tahu bahwa pasukan negara Wei selalu berpikir bahwa mereka adalah yang terbaik di dunia dan cenderung untuk meremehkan lawan mereka. Maka dia menyusun sebuah rencana dengan sangat seksama.

Pasukan Qi tidak akan berperang di garis depan dengan pasukan Wei yang masih penuh semangat. Ketika Pang Juan bergegas kembali untuk mengepung Han, Sun Pin memerintahkan untuk mundur. Seperti yang telah diantisipasi oleh Sun, Pang Juan membalasnya dengan melakukan pengejaran. Ketika pasukan Qi mundur, Sun Pin memerintahkan untuk membangun sebuah markas yang dapat menampung 100.000 orang dalam perjalanan mereka pada hari pertama. Dan untuk hari kedua berkurang menjadi 50.000 orang, begitu pada hari ketiga jumlahnya terus berkurang menjadi 30.000 orang.

“Saya tahu bahwa pasukan Qi tidak kuat.” kata Pang Juan dengan congkaknya.
“Ketika mereka mendengar bahwa kita menyerang balik, lebih dari separuh prajurit mereka melarikan diri dalam waktu tiga hari.”

Untuk mempercepat aksinya, dia membentuk pasukan khusus yang lebih kecil untuk mengejar dan menyerang musuhnya.

Sun Pin sudah memperhitungkan bahwa Pang Juan akan sampai di suatu tempat yang bernama Ma ling pada sore hari keempat mereka melakukan pengejaran. Jalan menuju Ma Ling sangat sempit, dan diapit oleh dua buah gunung. Sun memerintahkan lima ratus pemanah untuk bersembunyi di kedua sisi jalan. Mereka diperintahkan untuk memanah jika telah melihat tanda api. Kemudian dia memerintahkan agar semua pohon, kecuali yang paling tinggi, ditumbangkan agar menghalangi jalan. Dia memerintahkan agar pohon yang belum ditebang itu dikupas sebagian kulit luarnya agar bisa menuliskan kata-kata berikut dengan tinta hitam:

“Pang Juan akan mati di bawah pohon ini.”

Sesuai harapan Sun Pin, Pang tiba di Ma Ling ada sore harinya. Pasukannya mendapati bahwa jalan cukup sempit dan di jalan ini hampir semua pohonnya telah ditebang habis untuk menghambat laju pergerakan pasukannya Pang. Pang tentu memerintahkan semua prajuritnya untuk menyingkirkan semua pohon-pohon dengan berpikir bahwa semua ini adalah upaya Qi untuk menghambat pengejaran mereka dengan menciptakan kendala di perjalanan.

Pang memperhatikan semua pohon telah ditebang habis dengan gundul kecuali sebuah pohon yang besar yang terletak di tengah itu. Dan ketika dia berjalan mendekat, dia melihat ada sesuatu tulisan di batangnya yang telah terkelupas kulit. Saat itu, sudah mulai gelap untuk dapat melihatnya dengan jelas, maka Pang menyalakan obor untuk dapat membacanya. Ketika dia sudah melihat tulisan itu, dia baru menyadari bahwa dia telah terjatuh dalam jebakan, tetapi sudah terlambat. Pada saat dia hendak memberikan perintah untuk mundur, anak panah berhamburan ke arahnya seperti hujan. Pasukan Wei menjadi panik luar biasa. Tidak ada jalan untuk melarikan diri.

Pang terluka di beberapa tempat, menyadari bahwa dia akhirnya dikalahkan oleh mantan rekan sejawatnya sendiri.
“Bajingan itu— aku seharusnya sudah membunuhnya sejak dulu,” teriaknya. “Dia menjadi termahsyur di atas penderitaanku!”

Dia mengucapkan sumpah serapah menghujat Sun Pin dan memotong lehernya sendiri dengan pedangnya.
Pasukan Qi menang mutlak dengan menggunakan strategi perang ini. Putera mahkota Wei ditawan oleh Qi dan sejak saat itu negara Wei tidak pernah pulih dari kekalahannya.

Setelah peperangan di Maling, Sun Pin pensiun dari kedudukannya. Dia telah berhasil membalas dendam. Ketika buku-nya tentang seni berperang selesai ditulisnya, dia mempersembahkan buku kepada raja negara Qi.

KOMENTAR :

Buku Sun Pin mengenai seni berperang ditemukan pada tahun 1972 ketika sejumlah arkeolog China menemukan kuburan dari zaman dinasti Han. Jika Sun Pin hanya mempunyai ketabahan tanpa kemauan yang sekuat baja, dia mungkin tidak dapat bertahan. Jika dia hanya mempunyai kemauan yang keras untuk hidup tetapi tidak mempunyai pengetahuan tentang seni perang, dia mungkin tidak dapat membalas dendam pada musuhnya.
Kombinasi dari kualitas yang disebut di atas itulah yang membuatnya menjadi figur paling hebat dalam sejarah China.

One thought on “SUN PIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s