MENJADI SURAT KRISTUS DI MASA MODERN

2 Korintus 3:1 – 18

Pendahuluan

Saya yakin, Anda setuju dengan pendapat bahwa, “kesaksian yang paling hidup (baca: efektif) dari orang Kristen terhadap orang yang belum percaya adalah hidup orang Kristen itu sendiri.” Hidup seseorang yang telah diubahkan karena kasih dan kuasa Kristus berbicara jauh lebih “keras” daripada ribuan kata-kata. Jadi, hidup orang Kristen yang telah diubahkan adalah “senjata” yang ampuh untuk menjangkau orang-orang yang belum diselamatkan. Namun sayang, kenyataannya justru sebaliknya. Tidak sedikit orang yang tidak tertarik atau bahkan antipati kepada kekristenan justru karena hidup orang Kristen itu sendiri. Sebut saja misalnya, Mahatma Gandhi, di depan ribuan mahasiswa Kristen di Colombo pernah berujar, “seandainya kekristenan hanyalah kotbah di bukit, maka saya telah menjadi orang Kristen. Tetapi karena hidup orang-orang Kristenlah maka saya tidak mau menjadi Kristen.”

Pengalaman yang menyakitkan dialami oleh Gandhi adalah ketika ia ditolak untuk masuk ke dalam gereja oleh orang-orang kulit putih dengan alasan kulitnya tidak berwarna sama dengan mereka. Friedrich Nietzche, seorang filsuf atheis, pernah menjawab pertanyaan mengapa ia sangat membenci kekristenan. Dia menjawab, “saya akan percaya pada jalan keselamatan mereka (orang Kristen), apabila mereka sedikit lebih terlihat seperti orang yang sudah diselamatkan.”

Ada lagi kisah tentang Anton Szandor LaVey sang pendiri gereja Setan. Pada mulanya LaVey adalah seorang yang taat beribadah bahkan melayani di gereja. Di dalam pengalamannya, LaVey melihat banyak pria kristen yang hidup dalam kemunafikan. Pada hari Minggu mereka ini terlihat sebagai orang-orang yang saleh di gereja, tapi di hari-hari lain mereka berkanjang di dalam berbagai dosa dan kenistaan. Pengalaman itu mendorong LaVey untuk mendirikan gereja (setan) di mana para anggotanya bebas mengumbar nafsu tanpa dibungkus kemunafikan.

Masih banyak lagi orang-orang seperti Gandhi, Nietzche dan LaVey di sekitar kita. Mungkin mereka adalah orangtua, anggota keluarga, sahabat-sahabat atau orang-orang yang mengenal kita yang urung menjadi Kristen karena melihat hidup kita. Betapa sering kita tidak mampu menampakkan diri sebagai “surat pujian” dari Allah, karena dalam prakteknya kita lebih banyak menebarkan benih kebencian, pikiran jahat, percabulan, perzinahan, keserakahan, kelicikan, iri hati, hujat, kesombongan dan seribu macam rupa keduniawian di antara sesama manusia.

Surat pujian dan surat Kristus dalam 2 Korintus 3:1-18

Di 2 Kor 3:2 rasul Paulus mengungkapkan suatu pujian kepada jemaat Korintus, dari pernyataan rasul Paulus tersebut, sangat jelas bahwa jemaat di Korintus disebutnya sebagai “surat pujian” (letter of recommendation). Kita tahu pengertian surat rekomendasi pada prinsipnya menunjuk suatu sikap “dukungan” atau “persetujuan” (endorsement) dan “pujian” kepada seseorang dengan tujuan agar dia dapat dikenal oleh publik secara positif. Itu sebabnya rasul Paulus menyatakan bahwa jemaat Korintus sebagai surat pujian yang tertulis dalam hatinya, yang dikenal dan dapat dibaca oleh semua orang. Karena itu pengertian surat rekomendasi bukan hanya sekedar “surat kelakuan baik” yang umumnya di Indonesia dapat kita peroleh dari kantor polisi untuk mengurus sesuatu. Sebab surat kelakuan baik dalam pengertian ini hanya menunjuk bahwa kita tidak pernah terlibat perbuatan kriminal atau tindakan-tindakan yang dianggap melawan hukum.
Sebaliknya “surat rekomendasi” di 2 Kor. 3:2 tersebut digunakan secara sejajar dengan pengertian “surat Kristus” (2 Kor. 3:3) sehingga kehidupan Kristus dinyatakan melalui kehidupan jemaat di Korintus. Ini berarti kita dapat menjadi surat pujian manakala kita secara nyata menghadirkan dan menyatakan Kristus di tengah-tengah persekutuan dan kehidupan sesama kita. Jadi makna menjadi surat Kristus ketika kita menebarkan benih-benih kasih, penghargaan, perdamaian, dan pengampunan; bukan sebaliknya menggunakan persekutuan dan pelayanan gerejawi justru untuk menebarkan benih-benih kebencian dan permusuhan kepada pihak lain.

Manakala rasul Paulus menyebut jemaat Korintus sebagai surat pujian bahkan juga sebagai surat Kristus, tentu didasari oleh perjumpaan dan pengenalannya lebih lanjut kepada para pribadi dari anggota jemaat tersebut. Padahal kita tahu bahwa jemaat Korintus pernah memiliki banyak persoalan dan kasus, yaitu perselisihan yang pro Apolos dan yang pro Paulus, percabulan, orang-orang yang memegahkan karunia Roh tertentu; bahkan beberapa orang ada yang meragukan kebangkitan Kristus. Tetapi bagaimana mungkin kini di 2 Kor. 3:2-3 rasul Paulus menyebut mereka sebagai surat pujian dan surat Kristus? Tentu pujian rasul Paulus tersebut bukan sekedar ingin menyenangkan hati jemaat Korintus. Tetapi yang kemungkinan yang kuat adalah mereka pernah berdosa dan jatuh dalam berbagai bermasalah, tetapi tidak berarti jemaat Korintus tidak terbuka kepada pintu pertobatan. Betapa sering kita memberi stigma yang tetap kepada seseorang, padahal mungkin dia telah banyak berubah; sedangkan kita sendiri yang justru masih terus bermasalah dan berdosa. Kita tidak mungkin mampu memberitakan kabar baik tentang karya keselamatan manakala kita gemar menghakimi dan memberi stigma negatif kepada sesama kita. Kabar baik tentang Kristus harus dimulai dari diri kita, sehingga apakah sesama kita juga dapat membaca “Injil” di dalam diri kita, yaitu kualitas kehidupan dan spiritualitas iman serta kasih kita kepada Kristus. Jadi makin jelaslah bagi kita bahwa tugas pemberitaan Injil bukan sekedar kumpulan kata-kata saleh dan rohani agar orang-orang di sekitar kita mengenal Kristus sebagai Juru-selamatnya. Tetapi pemberitaan Injil secara esensial menyangkut kualitas hidup kita di hadapan Allah dan sesama, yaitu apakah hidup kita sungguh-sungguh telah menjadi surat pujian dan surat Kristus ?

Menjadi surat Kristus DI MASA MODERN

Di era digital saat ini kata menjadi “Surat Kristus” harusnya diubah menjadi email Kristus, facebook Kristus, twitter Kristus, handphone Kristus, sms Kristus, televisi Kristus, internet Kristus dan lain sebagainya. Hal ini melihat bahwa sudah jarang orang menggunakan surat yang diposkan di kantor pos sebagai sarana komunikasi utama.

Lihatlah, ada perbedaan nyata bahwa kertas sebagai media surat saat ini berubah menjadi layar sebagai media komunikasi. Jika kertas memberi informasi melalui tulisan dengan media goresan tinta, maka layar memberi informasi dalam bentuk visual melalui proyeksi cahaya elektronik. Tingkat kecepatan informasi yang tinggi dalam media komunikasi layar telah mempersempit ruang media surat sebagai alat komunikasi. Namun demikian tahukah kita bahwa ada persoalan besar dalam pencitraan media layar modern saat ini sebagai alat komunikasi? Persoalan besar itu adalah bahwa eksistensi komunikasi layar (layar komputer, televisi, handphone, ATM, dll) adalah sebuah eksistensi yang eksklusif karena berada pada ruang-ruang yang eksklusif pula. Penikmatan layar komputer dan televisi lebih banyak berada di ruang tamu, kantor, ruang belajar; dan handphone telah menjadi sarana privat yang sangat terjaga kepemilikannya; apalagi layar ATM yang sangat khusus dengan kode-kode yang hanya diketahui oleh pemilikinya. Akibatnya psikologi layar telah membawa orang pada sikap individualisme dan privatisasi.

Surat itu sendiri meskipun telah menjadi bagian yang dianggap kuno saat ini tetapi masih memiliki kekuatan inklusif (terbuka) karena kehadirannya yang berada pada ruang yang tak terbatas. Ia bisa di baca di ruang tamu, dipinggir-pinggir jalan, di hotel berbintang, di kolong jembatan, atau di tempat sampah sekalipun. Jika surat Kristus adalah kita, maka kehadiran-Nya harusnya berada dalam ruang-ruang yang tak terbatas dan memberitakan kabar baik bagi sesama. Namun susahnya orang Kristen masa kini (termasuk juga penulis) kebanyakan lebih senang menjadi email Kristus, facebook Kristus, twitter Kristus, handphone Kristus, sms Kristus, televisi Kristus, internet Kristus, yang senang dan nyaman berada di ruang-ruang eksklusif, dinding-dinding gereja yang megah dan kekristenan yang sempit serta eksklusif. Karena itu sekali lagi marilah kita terus-menerus belajar menjadi Surat Kristus yang terbaca … yang terbuka!

2 thoughts on “MENJADI SURAT KRISTUS DI MASA MODERN

  1. Surat is an amazing city that has a great potential in developing as a major travel destination in India. Personally i enjoy reading articles about “The Diamond City”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s