Apakah Ada Kontradiksi di dalam Alkitab?

Notes : Adalah sebuah kesempatan emas ketika kita masih bisa mempelajari Firman Tuhan secara mendalam dan benar. Janganlah menjadikan diri kita orang Kristen yang ” malas ” dalam belajar Firman Tuhan. Sudah banyak orang-orang ” malas ” di luar sana …. mari keluar !!! mulai sekarang belajar … belajar … dan belajar sampai Tuhan Yesus datang dan ia mendapati kita terus mengasah diri.

Selain doktrin tentang Kristus (Kristologi), doktrin dalam Alkitab yang paling banyak diserang adalah doktrin tentang Alkitab itu sendiri (Bibliologi). Baik orang liberal maupun non-Kristen berlomba meruntuhkan keagungan firman Tuhan. Salah satu serangan yang dilancarkan terhadap otoritas Alkitab berkenaan dengan “kontradiksi” di dalamnya. Apa yang ingin dicapai dalam serangan ini sudah sangat jelas dan tepat. Jika Alkitab mengandung kontradiksi, maka itu sudah menjadi bukti yang cukup untuk menunjukkan kesalahan Akitab, karena tidak ada kontradiksi yang semuanya benar (kontradiksi hanya memberi dua pilihan: salah satu benar atau semuanya salah). Jika Alkitab mengandung kesalahan, maka Alkitab bukanlah firman Tuhan (Tuhan tidak dapat melakukan kesalahan). Pendeknya, jika ada satu kontradiksi saja di dalam Alkitab maka doktrin tentang pengilhaman Alkitab (2Tim 3:16; 2Pet 1:20-21) pasti akan gugur.

Walaupun orang liberal dan non-Kristen berusaha meruntuhkan otoritas Alkitab, mereka tidak bisa melakukan apapun terhadapnya. Firman Tuhan bagaikan palu yang menghancurkan gunng batu (Yer 23:29b); apalah artinya kesombongan intelektual manusia di hadapan firman Allah? “Kebodohan” Allah saja sudah cukup memalukan orang bijak dan “kelemahan” Allah selalu berhasil meniadakan orang yang kuat, seperti yang dikatakan dalam 1Korintus 1:25 “karena kebodohan Allah lebih berhikmat daripada hikmat manusia dan kelemahan Allah lebih kuat daripada kekuatan manusia” (ASV/KJV/NIV/NASB/RSV).

Dalam makalah ini kita tidak mungkin membahas semua teks yang dipersoalkan oleh orang liberal dan non-Kristen. Upaya ini pasti akan menuntut beberapa buku yang khusus memberikan jawaban detil. Saya hanya akan memaparkan dua hal: (1) prinsip teologis yang penting; (2) jawaban umum terhadap problem kontradiksi.

Prinsip teologi yang penting

Sebelum memberikan jawaban rasional terhadap tuduhan adanya kontradiksi dalam Alkitab, kita perlu memberikan jawaban iman. Jawaban ini tidak dimaksudkan sebagai pembelaan yang membabi-buta. Hal ini justru perlu ditegakkan sejak awal. Kita mengakui Alkitab sebagai firman Tuhan bukan karena kita sudah menyelidiki semua isinya dan tidak menemukan kontradiksi di dalamnya. Kita percaya lebih dahulu (atau lebih tepatnya, Allah membuat kita percaya) bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, setelah itu kita baru menyelidiki seluruh isinya dan akhirnya menemukan bahwa memang tidak ada kontradiksi di dalamnya.

Pemikir Kristen jaman skolastik yang bernama Anselmus mengajarkan “aku percaya supaya aku mengerti”. Dalam tradisi Reformed juga diajarkan hal yang mirip dengan itu, yaitu “Kesaksian Roh Kudus dalam Hati Kita” (The Inner Testimony of the Holy Spirit). Kita menerima otoritas Alkitab bukan karena pencapaian intelektual, tetapi pekerjaan Roh Kudus dalam diri kita. Sebaliknya, tidak peduli sebagus apapun argumen yang kita berikan, hal itu tetap akan dipandang sebagai kebodohan oleh orang liberal dan non-Kristen (1Kor 2:14 “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”).

Apa saja yang perlu kita pahami? Pertama, seluruh bagian Alkitab adalah diilhamkan oleh Allah (2Tim 3:16 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk…). Kata pasa grafh (“segala tulisan”) merupakan istilah teknis (technicus terminus) untuk kitab-kitab PL. Hal ini sesuai dengan pemakaian kata grafh dalam PB yang memang sering dipakai untuk merujuk pada suatu kitab atau teks tertentu dalam PL. Di samping itu Paulus jelas tidak mungkin mengatakan kalau “segala tulisan” apapun yang ditulis manusia adalah diilhamkan Allah. Dia pasti sedang memikirkan tulisan-tulisan PL.

Selanjutnya, kita perlu mengetahui ketidaktepatan terjemahan dalam bagian ini. Penerjemah LAI:TB membedakan fungsi kata sifat “diilhamkan Allah” (qeopneustos) dan “bermanfaat (wfelimos) di ayat ini. Kata qeopneustos dipahami sebagai kata sifat attributif (“yang diilhamkan Allah”), sedangkan kata wfelimos dipahami sebagai kata sifat predikatif (“[adalah] bermanfaat”). Terjemahan seperti ini mengandung dua kesalahan: secara tata bahasa maupun teologis. Dari sisi tata bahasa, terjemahan ini jelas tidak konsisten. Walaupun kata qeopneustos bisa menerangkan pasa grafh, namun kata sambung kai (“dan”) yang menghubungkan qeopneustos dan wfelimos seharusnya mendorong kita memahami qeopneustos dan wfelimos sebagai dua kata yang sejajar (hampir semua versi Inggris – kecuali ASV – memilih ini). Dari sisi teologis, terjemahan LAI:TB bisa memberikan kesan yang salah. Jika pasa graph = tulisan PL, maka terjemahan LAI:TB “segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat” dapat memberi kesan bahwa ada tulisan PL tertentu yang tidak diilhamkan.

Doktrin tentang inspirasi Alkitab ini hanya dapat diterima dengan iman. Semua agama yang mengakui otoritas kitab sucinya juga mengambil sikap seperti ini. Tidak ada cara apapun untuk membuktikan proses pengilhaman. Proses ini bersifat supranatural dan tidak kasad mata. Tidak seorang pun mampu membuktikan adanya proses pengilhaman. Kita hanya bisa menunjukkan bahwa suatu kitab suci memiliki sifat-sifat tertentu yang sesuai dengan pengilhaman, misalnya ketidakbersalahan, penggenapan semua nubuat di dalamnya, kesatuan di antara semua tulisannya (tidak ada kontradiksi), dsb. Semua ini tidak membuktikan adanya inspirasi, tetapi mendukung konsep tersebut. Jadi, kita harus memahami bahwa masalah inspirasi Alkitab adalah masalah iman, sedangkan masalah “kontradiksi” dalam Alkitab adalah masalah teologis-rasional. Kita bisa menjelaskan bahwa suatu teks tidak berkontradiksi dengan teks yang lain, tetapi hal itu tidak secara otomatis membuktikan bahwa Alkitab adalah firman Allah.

Kedua, sebagai sebuah kumpulan tulisan yang diilhamkan oleh Allah, maka Alkitab pasti tidak mengandung kesalahan (inerrant and infallible) dalam bentuk apapun (kontradiksi, kebohongan) dan dalam bidang apapun (iman, etika, sejarah, sains), seperti yang dinyatakan sendiri oleh para penulis “supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi” (Mzm 51:6; Rom 3:4). Mazmur 33:4a memberikan kesaksian yang serupa “sebab firman TUHAN itu benar”.

Ketiga, sebagai kumpulan tulisan yang diilhamkan oleh Allah, maka Alkitab pasti memiliki kesatuan dalam taraf tertentu. Hal ini dapat dibenarkan, karena Penulis Utama Alkitab adalah satu, yaitu Allah, walaupun Ia memakai beragam orang untuk menuliskan firman-Nya. Dengan demikian, kita perlu menghidupkan kembali slogan lama “Biarlah Kitab Suci menafsirkan dirinya sendiri” (Let the Scriptures interpret themselves). Setiap kali kita melihat suatu “kontradiksi”, maka sikap pertama yang kita ambil adalah “hal itu bukan kontradiksi”. Kitalah yang belum mampu memahami hal tersebut. Setelah mengambil sikap ini, kita kemudian berusaha menyelidiki secara seksama untuk mencari solusi bagi “kontradiksi” tersebut.

Penyebab munculnya “kontradiksi”

Dalam bagian sebelumnya kita sudah membahas bahwa tidak ada kontradiksi di dalam Alkitab. Dalam kenyataannya kita kadangkala menemukan dua teks yang tampaknya mengajarkan hal yang bertentangan. Sebagai contoh: apakah pencobaan itu harus dihindari (Mat 6:13a; 26:41) atau disyukuri (Yak 1:2)? Apakah Allah bisa menyesal (Kej 6:6) atau tidak (Bil 23:19)? Kasus semacam ini masih bisa kita perpanjang lagi. Inti permasalahannya adalah “jika Alkitab tidak mungkin salah, mengapa kta menemukan hal-hal semacam ini?”

Ternyata jika kita menyelidiki semua kasus yang selama ini dianggap kontradiksi, maka kita akan menemukan beberapa penjelasan umum yang dapat dijadikan dasar untuk menjelaskan semua problem teks tersebut. Pertama, kontradiksi kadangkala hanya terjadi pada level terjemahan, bukan dalam naskah asli Alkitab. Dengan kata lain kesalahan terletak pada penerjemah, bukan pada Alkitabnya. Contoh paling baik untuk kasus seperti ini adalah isu tentang pencobaan (Mat 6:13; 26:41; Yak 1:2). Dalam LAI:TB kata peirasmos di Yakobus 1:2 secara salah telah diterjemahkan “pencobaan”, padahal kata ini sebenarnya bisa berarti “ujian”. Sesuai dengan konteks Yakobus 1:2-4, terutama ayat 3 “ujian terhadap imanmu”, peirasmos di sini seharusnya diterjemahkan “ujian”. Hampir semua versi Inggris modern (RSV/NASB/NIV) memakai kata “trials” (ujian). Jika demikian, maka kita langsung dapat melihat bahwa tidak ada kontradiksi antara Yakobus 1:2 dan Matius 6:13/26:41: kita harus mensyukuri ujian [dari Tuhan], tetapi kita perlu menghindari pencobaan [dari iblis].

Kedua, kontradiksi seringkali terjadi karena belum ditemukan data historis atau arkheologis yang cukup. Dalam beberapa kasus suatu teks yang dulu dianggap salah ternyata menurut penemuan arkheologi terbaru dapat dijelaskan dengan baik. Sebagai contoh, Alkitab mencatat raja terakhir Babel adalah Belsyazar (Dan 5:30), padahal menurut penemuan arkheologi pada jaman dulu raja terakhir adalah Nabonidus, ayah Belsyazar. Setelah ditemukan penemuan arkheologi yang lebih baru lagi maka diketahuilah bahwa sekalipun Nabonidus adalah pemegang kekuasaan secara legal (de jure) namun secara praktis (de facto) kekuasaan itu dijalankan oleh Beltsyazar, karena Nobonidus tidak berdomisili di Babilonia untuk kepentingan lain. Tentang hal ini pun Alkitan sebenarnya sudah memberi petunjuk implisit. Dalam Daniel 5:29b dijelaskan bahwa Belsyazar mengangkat Daniel menjadi orang ketiga di kerajaannya.

Contoh lain tentang hal ini adalah posisi Yesus ketika Ia menyembuhkan orang buta di Yerikho: apakah orang ini disembuhkan pada saat Yesus masuk ke kota Yerikho (Mar 10:46) atau keluar dari kota itu (Luk 18:35)? Ada banyak alternatif solusi bagi hal ini. Orang buta ini memohon kesembuhan sejak Yesus masuk ke Yerikho, tetapi Yesus sengaja menguji iman orang ini sampai Ia keluar dari Yerikho. Solusi lain yang lebih masuk akal adalah dengan memperhatikan penemuan arkheologis yang ada. Pada waktu itu memang ada Yerikho lama dan baru yang letaknya memang berdekatan dan sedikit overlapping. “Masuk” dan “keluar” dalam peristiwa ini harus dipahami sebagai rujukan pada kota lama dan baru.

Ketiga, kontradiksi kadangkala terjadi karena pembaca modern tidak mengetahui bagaimana suatu kitab kuno ditulis. Para penyerang Akitab paling senang membandingkan kitab-kitab injil untuk menunjukkan kontradiksi di dalamnya, karena kitab-kitab injil seringkali menuliskan peristiwa yang sama namun pencatatannya berbeda. Ada beberapa kasus yang sering dipermasalahkan: apakah perwira di Kapernaum datang sendiri kepada Yesus (Mat 8:5) atau dia menyuruh utusan-utusannya (Luk 7:3)? apakah Yesus menyucikan bait Allah di awal pelayanan-Nya (Yoh 2:13-22) atau beberapa waktu sebelum Dia disalibkan (Mat 21:12-13; Mar 11:15-17; Luk 19:45-46)? Kasus-kasus semacam ini dengan mudah kita perbanyak. Orang yang tidak mengetahui cara penulisan kitab kuno pasti mudah terjebak pada kesalahan seperti ini.

Jika kita diperhadapkan pada persoalan di atas, maka kita harus mengetahui bahwa penulisan kitab sejarah kuno pasti melibatkan seleksi data dan peredaksiannya sesuai dengan tujuan yang akan diraih. Penulisan sejarah modern pun masih memegang prinsip yang sama. Kita tidak mungkin menuliskan semua fakta, karena tidak semua data merupakan sesuatu yang penting. Para ahli sejarah biasanya membedakan antara fakta (“apa yang terjadi”) dan peristiwa (“fakta yang signifikan karena membawa pengaruh”). Selain itu, penulis sejarah juga akan menyeleksi peristiwa-peristiwa yang sesuai dengan tujuan mereka. Mereka memang tidak harus menuliskan semua peristiwa. Tentang hal ini salah seorang penulis sejarah kuno bahkan secara eksplisit menyatakan dalam pendahuluan bukunya.

Dalam konteks kitab-kitab injil kita perlu memahami bahwa masing-masing penulis memiliki tujuan penulisan yang khusus dan unik, sekalipun mereka semua menampilkan Yesus yang sama. Tujuan yang khusus ini tentu saja mempengaruhi cara mereka menulis. Suatu peristiwa sangat mungkin mengajarkan beragam hal yang berbeda, tetapi masing-masing penulis kitab injil hanya menyoroti salah satu aspek di dalamnya. Dalam kasus perwira di Kapernaum, Matius ingin menekankan iman perwira ini sehingga beberapa bagian yang berpotensi menghalangi pembaca menangkap inti akan sebisa mungkin dihilangkan, misalnya kedatangan para tua-tua Yahudi yang menceritakan kebaikan perwira tersebut. Di sisi lain Lukas ingin menekankan kerendahhatian dari perwira ini sehingga dia merasa perlu menceritakan perkataan para tua-tua yang menggambarkan hal tersebut. Di antara dua catatan ini, catatan Lukas tampaknya lebih mendekati peristiwa aslinya. Bagaimanapun hal ini tidak berarti bahwa Matius telah membohongi pembacanya. Siapa pun yang datang kepada Yesus – baik perwira itu secara langsung atau melalui tua-tua Yahudi – intinya tetap sama, yaitu permohonan ini datang langsung dari si perwira. Sama seperti seorang lurah yang menyampaikan keputusan gubernur: pengumuman ini dapat dipahami sebagai perintah langsung dari gubernur, sekalipun yang membacakannya adalah seorang lurah.

Untuk memperjelas keterangan di atas, saya akan memberikan sebuah ilustrasi: suatu kecelakaan terjadi di depan mata empat orang pemuda (sebut saja pemuda A, B, C, dan D). Masing-masing mereka diberi sebuah kertas untuk menuliskan apa yang mereka lihat. Apakah mereka akan menuliskan setiap detil yang ada? Tentu saja tidak! Mereka hanya akan menceritakan apa yang menurut mereka menarik. Dengan demikian apakah keterangan mereka akan sama? Pasti berbeda! Apakah hal ini berarti bahwa mereka tidak setia terhadap historisitas dari kejadian tersebut? Tentu saja tidak, sejauh apa yang mereka tuliskan tidak berkontradiksi dengan fakta yang ada. Mereka berhak menuliskan kejadian yang sama dengan cara yang berbeda. Begitu pula dengan para penulis kitab injil.

Keempat, kontradiksi biasanya hanya dilihat oleh mereka yang kurang teliti dalam membaca Alkitab. Penyelidikan yang cermat akan membawa kita pada keyakinan yang lebih kuat terhadap kebenaran Alkitab. Mereka yang kurang teliti membaca Alkitab seringkali mempersoalkan beberapa hal berikut ini: apakah Allah bisa menyesal (Kej 6:6) atau tidak (Bil 23:19)? Di manakah Yesus naik ke surga: Betania (Luk 24:50-51) atau Bukit Zaitun (Kis 1:9, 12)? Apakah hamba perwira di Kapernaum disembuhkan Yesus seketika (Mat 8:13) atau setelah suruhan perwira itu sampai ke rumah (Luk 7:10)? Apakah pohon ara yang dikutuk Yesus langsung mati (Mat 21:19-20) atau baru keesokan harinya (Mar 11:13-14, 20-21)?

Berikut ini adalah jawaban sederhana terhadap persoalan di atas. Allah tidak mungkin menyesal karena Dia mahatahu dan mahakuasa sehingga apapun yang Dia rencanakan pasti akan terjadi (Ay 42:2). Tindakan “menyesal” harus dipahami sebagai cara Allah mengekspresikan diri-Nya dalam perasaan manusia (Bil 23:19 “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal”). Contoh yang paling jelas tentang hal ini adalah 1Samuel 15, karena dalam pasal ini dikatakan bahwa Allah menyesal (ayat 11, 35) sekaligus tidak menyesal (ayat 29). Penulis pasal ini jelas bukan orang bodoh yang tidak tahu kalau catatannya dalam satu pasal dan letak ayat yang berdekatan adalah kontradiktif. 1Samuel 15:29 merupakan kuncinya “Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal”. Posisi persis ketika Yesus naik ke surga adalah di desa Betania, namun desa ini memang terletak di Bukit Zaitun (Luk 19:29). Hamba perwira di Kapernaum memang langsung sembuh seketika (Mat 8:13 “maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya”), tetapi para utusan tidak bisa menyaksikan hal ini. Mereka baru melihat kesembuhan itu setelah mereka sampai ke rumah (Luk 7:10 “dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali”). Solusi untuk kasus pohon ara yang dikutuk sama persis dengan kasus hamba perwira di atas: pohon itu memang langsung kering, tetapi Markus sengaja menceritakannya secara terpisah untuk mengapit kisah penyucian bait Allah guna menekankan bahwa dua peristiwa tersebut memiliki makna yang sama, yaitu penghukuman.

Kelima, kontradiksi juga seringkali terjadi karena pembaca tidak mengetahui konteks budaya, keagamaan atau historis Alkitab. Sebagian orang seringkali mempermasalahkan tentang siapa yang menyebabkan Daud menghitung rakyatnya dan akhirnya dihukum oleh Tuhan: iblis (1Taw 21:1) atau Tuhan sendiri (2Sam 24:1)? Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa yang bertanya tidak memahami konteks jaman dulu. Bagi orang waktu itu maupun bangsa Israel secara khusus, Allah berada di balik semua peristiwa yang terjadi, baik yang buruk maupun yang baik. Tindakan Daud bisa dikatakan berasal dari Tuhan karena tidak ada satu peristiwa apapun di dunia ini yang dapat terjadi tanpa kehendak-Nya, namun bukan Allah yang langsung menyebabkan Daud berdosa. Iblislah yang melakukan hal itu. Contoh yang paling jelas tentang hal ini adalah kisah pencobaan yang dialami oleh Ayub. Sekalipun yang mendatangkan musibah kepadanya adalah iblis (melalui peristiwa alam dan orang-orang jahat), namun Ayub berkata “Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil” (Ay 1:21) dan “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (ay 2:10).

Terakhir, kontradiksi seringkali diciptakan sendiri oleh mereka yang memang tidak mempercayai Alkitab. Mereka memutarbalikkan kebenaran menurut kefasikan mereka (2Pet 3:16). Terhadap orang-orang seperti ini, kita tidak perlu berbantah-bantah dengan dia karena mereka tidak serius mencari kebenaran (Ams 26:4). Mereka justru ingin melawan kebenaran itu. Kita hanya perlu memberitakan kebenaran seperti yang kita yakini.

Penutup

Semua jawaban di atas jelas bukanlah jawaban tuntas atas semua kesulitan yang ada. Bagaimanapun jawaban ini diharapkan dapat memberikan pedoman yang komprehensif dalam menyelesaikan teks-teks yang tampak kontradiktif. Pembahasan lebih detil dan mendalam dapat dilihat dalam seri buku “Hard Sayings of…” (diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit SAAT, Malang; “Ucapan-ucapan Yang Sulit…”) atau “Encyclopedia of Bible Difficulties” (Gleason L. Archer, diterjemahkan dan diterbitkan oleh Gandum Mas). Tuhan memberkati kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s