TIDAK ADA GAGANG PADA SALIB

Banyak sekali cerita terkenal di seputar kisah penyaliban Yesus. Adegan-adegan yang dilakukan, dengan cepat membuat para tokohnya menjadi sangat terkenal bak selebritis ( yang pasti lebih populer daripada yang baca ). Adegan yang dimainkan terekam dan tersusun dengan rapi, seperti kisah penghianatan mas Yudas, penyangkalan bang Petrus, opung Hanas dan Kayafas sebagai pengadil, om Pilatus yang menjatuhkan eksekusi mati, para eksekutor yang bukan main kejamnya serta masih banyak lagi adegan menarik yang sering kali dikotbahkan pendeta kita setiap hari paskah. Dari banyaknya rangkaian kisah yang terjadi, ada satu adegan cerita yang sering dilupakan. Bahkan seumur hidup penulis ( ± 25 tahun ) adegan ini belum pernah dikotbahkan di gereja atau diceritakan di sekolah minggu.

( Terdengar suara lagu ) Oh … oh … siapa dia ? bolehkah aku melihat sari wajahmu. Oh … oh … siapa dia ???
Dia adalah Simon dari Kirene, “ siapakah dia ??? “ ( ikutilah kisahnya ). Simon dari Kirene, lahir dan dibesarkan di Afrika Utara, sudah beberapa generasi. Dia adalah seorang Yahudi asli bukan campuran, sampai ke hati yang terdalam. Sejak kecil, beliau menaati semua hukum agama tanpa kecuali meskipun ia fasih berbahasa Yunani. Ia memiliki sebuah pengalaman pribadi yang sangat indah. Pengalaman yang telah mengubah seluruh jalan hidupnya, dan jalan hidup anda, bila anda mau.

Tahun itu, hari jumat. Ia baru tiba di Yerusalem dengan anak dan istrinya untuk bersiap merayakan hari paskah. Setiap tahun ia melakukannya, sebagai orang Yahudi tulen. Beberapa saat kemudian ia melihat begitu banyak orang yang berkerumun dan menimbulkan kegaduhan yang besar. Pikirnya, “ ah pasukan penjajah yang sok pamer kuasa. “ Karena ingin tahu, ia mendekat. Ternyata ada tiga orang yang penjahat yang akan disalib hari itu, pasti mereka penjahat kelas berat.

Simon masih bingung ? ada apa sebenarnya. kok massa menyebut-nyebut nama Yesus. Yang mana orang bernama Yesus itu, apa yang berada di baris depan sendirian. “ pasti Dia “ batin Simon, karena orang banyak itu memanggil sambil melampiaskan kekerasan kepada-Nya. Memang cuma menduga-duga, tetapi Simon benar. Ia satu-satunya orang yang dipanggil di situ. Orang yang bernama Yesus itu berpostur tidak terlalu besar, rambut-Nya terurai, kepala-Nya lekat dengan darah. Tubuh-Nya biru legam bekas pukulan, punggung serta dada-Nya terkoyak-koyak oleh cambuk, Ia berjalan tertatih-tatih. Sangat melelahkan. Massa yang sangat marah memukul, menendangi, meludah, memaki, mencemooh penjahat yang bernama Yesus itu. Tapi kok, ada juga orang yang simpati dengan Yesus ! Simon mengambil sikap tegas, “ saya setuju Dia diperlakukan seperti itu, wong Ia penjahat kok ! “

Tiba-tiba tubuh-Nya terjatuh, serdadu-serdadu kasar itu memukul serta melecut Dia dengan cambuk. Tetapi, Ia diam tidak bergerak, mungkin sudah tidak sanggup lagi karena terlalu kelelahan. Belum selesai kebingungan Simon, tiba-tiba seorang laskar yang berpakaian preman menarik serta membawa Simon kedepan. Katanya, “ ayo kamu angkat salib itu ! “

Tanpa membuang waktu mereka meletakkan sebuah salib yang bertuliskan INRI dipundak Simon, ia dekat sekali dengan penjahat yang bernama Yesus itu. Simon bisa melihat-Nya dari dekat, mencium bau amis darah, serta nafas-Nya yang berat. Yesus tidak berkata apa-apa, diam seribu bahasa. Tetapi mata-Nya, Oi mata-Nya. Terpancar kedamaian, memberikan kesejukan, seperti samudra biru yang tenang. Simon tidak kuat menatap mata itu.

Simon memanggul salib yang kasar itu, berat sekali. Oh … sangat berat !!! Pundaknya mulai luka karena gesekan kayu yang kasar, ia mulai kelelahan. Simon berkata dalam hati, “ jika saja aku yang membuat salib ini, pasti aku akan membuat gagang padanya. Sehingga setiap orang yang memanggul salib ini tidak akan luka dan keletihan seperti diriku. “

Simon terkejut, karena ada sebuah tangan yang memegang pundaknya. Ternyata itu tangan Yesus yang berdarah. Simon terpana, pikirnya “ orang ini memang lain, Dia tidak seperti penjahat. “ Simon kemudian melanjutkan jalannya bersisian dengan Yesus. Ia melalui sisa perjalanan ke Golgota bersama dengan Yesus, mengikuti peristiwa demi peristiwa. Ketika sampai di Golgota, Simon merasakan bahwa perjalanan bersama Yesus sangatlah mengesankan. Ia yang baru melihat Yesus merasa mengenal-Nya begitu dekat, begitu akrab. Tanpa bicara, hanya mata dengan mata … oh

Ada satu hal yang ingin Simon sampaikan kepada kita melalui cerita ini. Ia berkata, “ kadang-kadang kita memang tidak dapat memilih salib kita sendiri. Begitu salib itu diletakkan di atas pundak kita. Kita harus siap mengangkatnya. Memang sulit dan meletihkan, andaikata ada gagang pada salib itu mungkin akan jauh lebih
mudah. “ Tapi jika kita mau memanggulnya dan berjalan bersama Yesus, menatap mata-Nya, kita akan merasa mengenal Dia begitu dekat dan begitu akrab. Maka salib itu tidak akan begitu terasa menekan pundak. Tiba-tiba saja kita sudah sampai di Golgota.

Di Golgota barulah Simon tahu apa makna semua itu. Salib kasar, keras, dan tidak mempunyai gagang tersebut sesungguhnyalah telah dipanggul oleh Yesus. Ialah yang memikul seluruh salibku. Salib semua umat manusia. Karena salib yang tidak bergagang itulah, maka seluruh hidup Simon diubahkan. Bukan hanya hidupnya, tetapi juga Anak-anaknya, Rufus dan Aleksander. Termasuk istrinya, yang dianggap ibu sendiri oleh Paulus, rasul besar itu. Mereka sekeluarga memilih mengikut Yesus yang telah mati dan bangkit itu. Haleluyah …

Akhir kata Simon dari Kirene bahagia, anak dan istrinya bahagia. Penulis bahagia, pembaca bahagia, kita semua bahagia, iblis yang sewot.

About these ads

2 thoughts on “TIDAK ADA GAGANG PADA SALIB

  1. Puji Tuhan..
    membaca tulisan Bung Xaesar di atas..
    sungguh membawa dampak luarbiasa menenangkan bagi diri ini..
    pas pula, gundah sedang menyelubungi kalbu..
    dan seketika sirna oleh hikmah yang luarbiasa tentang seorng Simon

    Terima kasih, Tuhan..
    kasihmu demikian mulia, telah menyentuh kalbuku siang ini..

    salam pelangi nusantara buat semua

    ,, (^_^) ,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s